Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Simulasi pengaruh lunas terhadap stabilitas kapal purse seine yang berpangkalan di Pelabuhan Perikanan Pantai Tumumpa Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara Syamtiar Arfah; Heffry V. Dien; Revols D.Ch. Pamikiran
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 1: Edisi Khusus: November 2014
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.1.0.2014.6092

Abstract

Lunas kapal merupakan bagian konstruksi terpenting pada sebuah kapal. Lunas pada pembuatan kontruksi kapal hendaknya memiliki kriteria yang baik seperti terbuat dari bahan yang kuat, keras tidak mudah patah dan memiliki massa jenis yang lebih besar dari air. Stabilitas merupakan syarat utama sebuah kapal agar dapat berlayar dengan aman di laut. Stabilitas adalah kemampuan kapal untuk kembali keposisi semula setelah mendapatkan pengaruh gaya-gaya dari dalam maupun luar kapal seperti angin, ombak, arus dan sebagainya. Pada penelitian ini mempelajari pengaruh ketebalan lunas luar terhadp stabilitas kapal. Metode simulasi dengan menggunakan aplikasi multisurf7 digunakan pada penelitian ini. Dari hasil analisis stabilitas pada 3 kondisi kapal yang berbeda yaitu; kondisi 1 (tidak menggunakan lunas), kondisi 2 (lunas dengan ketebalan 0.20cm), dan kondisi 3 (lunas dengan ketebalan 0.40cm), maka didapatkan hasil bahwa penambahan ketebalan lunas luar dapat meningkatkan kestabilan kapal tetapi mempengaruhi sudut kemiringan kapal sehingga dapat mengurangi daya muat kapal tersebut.
Sebaran intensitas suara pada kapal pukat kecil bermesin tempel KM. Mitra Usaha Benyamin Rumbrawer; Revols D.Ch. Pamikiran; Fransisco P.T. Pangalila
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2: Edisi Khusus: Januari 2015
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.0.2015.6992

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sumber-sumber suara di kapal pukat cincin bermesin tempel Mitra Usaha, mengetahui dan mendeskripsikan pola sebaran nilai intensitas suara di atas kapal, dan membandingkannya dengan nilai ambang batas intensitas suara yang diperkenankan. Penelitian ini dilakukan berdasarkan pengamatan dan pengukuran langsung terhadap parameter pada berbagai kegiatan yang berhubungan dengan penangkapan ikan. Hasil penelitian adalah sebagai berikut: pola maupun distribusi nilai intensitas suara di kapal yang diterima anak buah kapal berbeda untuk setiap aktivitas penangkapan ikan dan nilai kisarannya adalah sebagai berikut: menuju ke fishing ground: 42,9–102,5 dB; menurunkan atau melepaskan alat tangkap: 30,0–100,9 dB; menarik atau menaikkan alat: 44,6–99,2 dB, dan kembali ke fishing base: 50,0–99,7 dB; dan titik kebisingan di kapal pada berbagai aktivitas: a. Saat menuju ke fishing ground pada posisi bagian belakang kapal, b. Saat pelepasan alat pada posisi bagian tengah belakang sampai pada tengah samping kanan kapal, c. Saat penarikan tali cincin pada posisi bagian tengah memanjang kapal yaitu pada posisi mesin winch, dan d. Saat kembali ke fishing base pada posisi bagian belakang kapal.
Kajian tentang stabilitas KM. Surya Prima yang dibuat di Desa Borgo, Kec. Tanawangko, Kab. Minahasa Gerry Willardoe Kayadoe; Heffry V. Dien; Revols D.Ch. Pamikiran
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 1: Juni 2015
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.1.2015.8330

Abstract

ABSTRACT The stability of a ship is one of the important technical factors in supporting successful fishing operations, and ultimately improving the welfare of fishermen; therefore a study on the stability of KM. Surya Prima had been done in the village of Borgo, District of Tanawangko, Minahasa Regency. Dynamic stability is the stability of the vessel measured by giving a force at the boat to form a certain rocking angle. This stability is expressed as an area under the curve of static stability. Dynamic ship stability calculation results will be compared with the stability criteria according to the International Maritime Organization (IMO) as in Fyson (1985) through the GZ curve. From the comparison it will get the level of dynamic stability of the vessel under study. Dynamic stability parameter values of Surya Prima purse seine vessel were: A (0-300) = 0.1179 m-rad., B (0-400) = 0.1935 m-rad., C (30-400) = 0.07552 m-rad., D (Angle GZmax) = 48 097, E (GZmin) = 0.475 m, F (GM) = 0965 m. Keywords: stability, curve, purse seiner   ABSTRAK Kestabilan kapal adalah salah satu faktor teknis penting dalam menunjang sukses operasi penangkapan ikan, dan pada akhirnya akan membantu meningkatkan kesejahteraan nelayan; oleh karena itu telah diadakan penelitian stabilitas KM. Surya Prima di Desa Borgo, Kecamatan Tanawangko, Kabupaten Minahasa. Stabilitas dinamis adalah stabilitas kapal yang diukur dengan jalan memberikan suatu usaha pada kapal sehingga membentuk sudut oleng tertentu. Stabilitas dinamis dinyatakan dalam luas area di bawah kurva stabilitas statis. Hasil perhitungan stabilitas dinamis kapal yang diukur dibandingkan dengan nilai kriteria kestabilan kapal oleh International Maritime Organization (IMO) dalam Fyson (1985) melalui kurva GZ. Dari perbandingan itu akan didapatkan tingkat kestabilan dinamis dari kapal yang diteliti. Nilai parameter kestabilan dinamis kapal pukat cincin Surya Prima adalah sebagai berikut: A (0-300) = 0.1179 m-rad., B (0-400) = 0.1935 m-rad., C (30-400) = 0.07552 m-rad., D (Sudut GZmax) = 48.097, E (GZmin) = 0.475 m, F (GM) = 0.965 m. Kata-kata kunci: stabilitas, kurva, pukat cincin
Komposisi hasil tangkapan lobster dengan alat tangkap jerat di perairan Kampung Amdui, Distrik Batanta Selatan, Kabupaten Raja Ampat Thimotius M. Womsiwor; Meta S. Sompie; Revols D.Ch. Pamikiran
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 1: Juni 2015
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.1.2015.8335

Abstract

Perairan Kabupaten Raja Ampat dikenal memiliki hamparan terumbu karang yang cukup luas dan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Salah satu sumberdaya perikanan yang dihasilkan dari perairan tersebut adalah udang barong (Panulirus sp.). Alat tangkap tradisional yang umum digunakan nelayan menangkap udang di perairan Kampung Amdui, Distrik Batanta Selatan, Kabupaten Raja Ampat adalah jerat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis lobster yang tertangkap dan komposisi ukurannya. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei yang didasarkan pada studi kasus. Hasil tangkapan jerat selama penelitian adalah empat jenis lobster; yaitu lobster batik (Panulirus homorus), lobster batu (Panulirus spenicillatus), lobster bambu (Panulirus versicolor), dan lobster mutiara (Panulirus ornatus); dengan kisaran panjang karapaks adalah 11,3–18,0 cm. Analisis hubungan panjang berat menunjukkan bahwa lobster mutiara, lobster bambu dan lobster batu memiliki nilai b lebih besar 3, sedangkan lobster batik memiliki nilai b lebih kecil dari 3. Kata-kata kunci: lobster, alat tangkap jerat, komposisi ukuran, Raja Ampat
Asosiasi ikan pada terumbu buatan di Teluk Tahuna Kabupaten Kepulauan Sangihe Wenseslaus Fransiscus Makawaehe; Lefrand Manoppo; Revols D.Ch. Pamikiran
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 2: Desember 2015
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.2.2015.9236

Abstract

Minimnya pengetahuan tentang ekologi terumbu buatan merupakan inti masalah perdebatan penggunaannya dalam manajemen sumberdaya perikanan; dan membatasi aplikasi habitat buatan tersebut sebagai alat mitigasi pada berbagai kerusakan lingkungan. Pemahaman ekologi yang lebih baik akan menuntun pada pembuatan desain dan penggunaan struktur buatan secara lebih efektif dan efisien. Hal ini juga akan menjawab pertanyaan tentang manfaat konstruksi habitat buatan pada berbagai kondisi lingkungan. Asosiasi ikan di terumbu buatan bervariasi, namun perlu dilakukan perbandingan jenis ikan yang berasosiasi pada saat air pasang dan air surut. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk Membandingkan struktur asosiasi ikan di terumbu buatan pada saat air pasang naik dan pasang surut di perairan Teluk Tahuna. Penelitian ini dilakukan di perairan Teluk Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe pada bulan April–Juni 2015; yang didasarkan pada metode deskriptif. Asosiasi ikan di terumbu buatan diamati dengan teknik Underwater visual census (UVC) oleh dua orang SCUBA divers sebanyak 4 kali. Kelimpahan spesies ikan di terumbu buatan dianalisis dengan indeks keragaman dan indeks dominansi. Berdasarkan jumlah individu total ikan yang berasosiasi dengan terumbu buatan, maka nilai tertinggi terdapat pada bulan purnama saat pasang tertinggi (156 ekor), kemudian diikuti bulan kuartir pasang tertinggi (120 ekor), bulan purnama surut terendah (107 ekor) dan bulan kuartir surut terendah (103 ekor). Keanekaragaman spesies ikan, baik pada bulan kuartir maupun pada bulan purnama masih tergolong sedang dan dominansi spesies tergolong rendah
Pelaksanaan monitoring, controlling, surveillance kapal pengangkut ikan di atas 30 GT di Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung (Implementation monitoring, controlling, surveillance on fish transport vessels above 30 GT in oceanic fishery harbor Bitung) Aprililian E. Supit; Revols D. Ch. Pamikiran; Fransisco P.T. Pangalila
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 4: Desember 2016
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.4.2016.14029

Abstract

ABSTRAK Direktorat Jenderal Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan melalui Pangkalan Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Bitung bertugas memastikan kegiatan kapal perikanan yang pemberangkatan dan pendaratannya di Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung sebagai pelabuhan pangkalan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Penelitian lebih ditujukan pada pengawasan terhadap kepatuhan kapal perikanan dan juga terhadap kegiatan-kegiatan illegal yang menyalahi peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan juga penerapan sanksi terhadap kapal-kapal tersebut sebagai konsekuensi atas pelanggaran yang dilakukan. Penelitian ini dilakukan berdasarkan metode deskriptif. Sanksi terhadap pelanggaran dilakukan berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu petunjuk teknis pengawasan operasional kapal perikanan no Kep.143/DJ.PSDKP/2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase tingkat kepatuhan terhadap aturan, berada pada tingkat kepatuhan yang tinggi (76%-100%), dimana aturan yang dilaksanakan yaitu kesesuaian pelabuhan pangkalan, kesesuaian dokumen kapal, jumlah hari operasi dan kesesuaian jumlah ikan dengan kapasitas penyimpanan. Penerapan sanksi telah dilakukan terhadap kapal yang tidak patuh, dan hal ini telah menunjukkan efek yang baik bagi pelaku perikanan yang berpangkalan di Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung. Kata –kata kunci : kapal pengangkut ikan, pengawasan, kepatuhan. ABSTRACT The Directorate General of Marine Resources and Fisheries through the Marine and Fisheries Resources Supervision Base Bitung charge of making sure that the departure of fishing boats and catch landing in the Oceanic Fishing Port Bitung as their port corresponding Indonesia n Law. This research aimed at monitoring the compliance of fishing vessels and also against illegal activities that violate laws and regulations in force and also to the application of sanctions against the ships as a consequence of the violation. This research was conducted by descriptive method. Penalties for violations carried out by the legislation in force, namely the technical manual operational control of fishing boats no Kep.143 / DJ.PSDKP / 2012. The results showed that the percentage of degree of compliance with the rules on a high compliance rate (76% -100%), where the rules are implemented, namely the suitability of the base port, the suitability of the ship documents, the number of operation days and suitability of the number of fish with the storage capacity. The application of sanctions has been committed against non-compliant ships, and it has shown a good effect for the fishery based in Port of Bitung Ocean Fisheries. Key words : fish transport vessels, surveillance, compliance [1] Penulis untuk penyuratan; email: supitapril@gmail.com
Kajian Kecepatan Dan Kestabilan Pada Beberapa Bentuk Kapal Pukat Cincin (Small Purse-Seiner) Di Sulawesi Utara (Study on the boat speed and stability of several Small Purse-seiner in North Sulawesi) Revols D. Ch. Pamikiran; Frangky E. Kaparang; Heffry V. Dien
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 5: Juni 2017
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.5.2017.14746

Abstract

This study was aimed at analyzing theboat technical characteristics covering shape and size, analyzing the boat speed and stability-related capability, and evaluating the speed and stability values based on the present standard. Boat speed determination was done based on the speed length ratio (SLR), andits valuation was based upon the boat resistance value and the boat thrust estimation. The boat stability determination was based on inclining experiment system and the static and dynamic stability calculation. Results showed that three small pure-seiners from Bitung, Manado, and Molibagu had specific shapes, U-button (Bitung) and Round-Button (Manado and Molibagu). The best boat speed achievement, based on shape, resistance, and thrust, was recorded in Manado boat. All small purse seiners had stable balance condition, but only Manado and Bitung boats met the International Maritime Organisation (IMO) standard. Keywords: Speed, Stability, Purse Seiner, North Sulawesi Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk: menganalisis kharakteristik teknis yang mencakup bentuk dan ukuran kapal,menganalisis kemampuan  dalam hal kecepatan dan kestabilan kapal, dan mengevaluasi nilai kecepatan dan kestabilan kapal berdasarkan pada standart yang ada. Penentuan kecepatan kapal dilakukan berdasarkan SLR (speed length ratio), dan penilaiannya dilakukan berdasarkan nilai tahanan kapal dan estimasi daya dorong kapal.Penentuan kestabilan kapal dilakukan berdasarkan teknik momen system (inclining experiment) dan perhitungan stabilitas statis dan dinamis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Tiga kapal pukat cincin (small pure-seiner) dari daerah Bitung, Manado, dan Molibagu memiliki bentuk yang spesifik yaitu U-button (kapal Bitung) dan Round-Button (kapal Manado dan Molibagu); Capaian kecepatan kapal terbaik berdasarkan bentuk, tahanan, dan daya dorong kapal dicapai oleh kapal dari daerah Manado.Ketiga kapal objeksmall purse seiner memiliki kondisi keseimbangan yang stabil, namun demikian hanya kapal Manado dan Bitung memenuhi standard IMO (International Maritime Organisation). Kata-kata kunci : Kecepatan, Stabilitas, Kapal Pukat Cincin, Sulawesi Utara.
Studi perbandingan hasil penggambaran lambung kapal dengan menggunakan metode pantograf dan fotografi (Comparative study of hull depiction using pantograph and photography methodes) Evander Ch. Nelwan; Revold D. Ch. Pamikiran; Fransisco P.T. Pangalila
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 5: Juni 2017
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.5.2017.15945

Abstract

The depiction of the ship’s hull was made to determine it’s form, model and volume.  An experiment has been done to compare pantograph and photography technique in the drawing process. The research object is a multi-fungtional fishing vessel, owned by Dinas Perikanan dan Kelautan Manado, it has dimention lenght (L) 10,75m (Loa), width (B) 2,75m and depth (D) 1,3m. The time needed to transcrible the boat design using photography technique are 35-45 minutes, while the pantograph technique needs 85-150 minutes. In the drawing process, pantograph techniques require refinement to duplicate the hull shape, while the photography technique is easier to process the image because it uses digital image program.Key words: Hull, depiction of the hull ship used pantograph and photography technique. ABSTRAKPenggambaran lambung kapal dilakukan untuk mengetahui bentuk, model dan volume kapal.  Ujicoba dalam penelitian ini menggunakan teknik pantograf dan fotografi sebagai perbandingan secara experiment. Objek penelitian adalah Kapal Ikan prototype multi-fungsi milik Dinas Kelautan dan Perikanan Manado di Kecamatan Lolak Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.  Dimensi Utama kapal dengan Panjang (L) 10.75m (Loa), Lebar (B) 2.75m dan Tinggi lambung (D) 1.3m. Waktu kerja untuk menghasilkan gambar lambung kapal denganteknik fotografi memerlukan 35-45 menit, sedangkan dengan teknik pantograf memerlukan waktu 85-150 menit.  Dalam proses kerja untuk memperoleh hasil penggambaran, teknik pantograf memerlukan penghalusan menurut kecenderungan bentuk lambung kapal, sedangkan teknik fotografi lebih mudah dalam mengolah gambar karena menggunakan program gambar digital.Kata kunci: Lambung kapal, Teknik penggambaran dengan pantograf dan fotografi
Produksi dan produktivitas hasil tangkapan kapal tuna hand line yang berpangkalan di Kelurahan Mawali, Kecamatan Lembeh Utara, Kota Bitung (Production and productivity of the tuna hand line fishing boat at Mawali Village, North Lembeh District, Bitung City) Indra Lesmana; Revols D. CH. Pamikiran; Ivor L. Labaro
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 6 (2017): Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.6.2017.16968

Abstract

Hand line is the simplest and easy fishing gear used by mostly tuna fisherman. These study goals are to see the development of production and productivity tuna catch by hand line of tuna fishing boat at Mawali village. The result shown that the production of tuna increased from 2011 and reached the top on 2013, and then decreased until 2015. Furthermore, the productivity of tuna fishing boats since 2011 to 2015 indicated only three boats are good and the others found unproductively. The decline of tuna productivities occurred due to the government policy to reduce the labor of foreign, especially in the field of capture fisheries.Keyword : tuna, hand line, production, productivity ABSTRAKHand line atau pancing ulur merupakan pancing yang sangat sederhana dan mudah digunakan oleh kebanyakan nelayan.  Penelitian ini bertujuan untuk melihat perkembangan produksi dan produktivitas hasil tangkapan kapal tuna yang menggunakan alat pancing hand line di Kelurahan Mawali.  Produksi ikan tuna mengalami peningkatan dari tahun 2011 hingga tahun 2013, dan selanjutnya mengalami penurunan hingga tahun 2015. Selanjutnya, produktivitas kapal tuna hand line sejak 2011 sampai 2015 menunjukkan hanya terdapat tiga kapal yang produktivitasnya baik dan yang lainnya menemukan produktivitas yang tidak baik. Penurunan produksi ikan tuna terjadi karena kebijakan pemerintah yang mengurangi tenaga kerja asing, terutama di bidang perikanan tangkap.Kata kunci : tuna, pancing ulur, produksi, produktivitas
Pengaruh jenis umpan terhadap hasil tangkapan pancing dasar di perairan Marore Kecamatan Kepulauan Marore Kabupaten Kepulauan Sangihe (The effect of different kind of baits on the catch of bottom hand line inMarore waters, Marore Islands District Sangihe Islands Regency) Jenly G. Onthoni; Lefrand Manoppo; Revols D. Ch. Pamikiran
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 2 No. 6 (2017): Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.6.2017.17005

Abstract

Marore Island is one of the northernmost outermost islands in the territorial waters of Indonesia. The problems that often hamper the development of outer islands are the low ability of the community to manage the potential of marine resources and the lack of production facilities and infrastructure. Characteristic of an archipelagic region is to have relatively high fishery resources, but very susceptible to environmental degradation with very dynamic and unpredictable meteorological conditions. Bottom hand line is one of the many fishing gear used by fishermen in Marore Island to catch bottom fish; but it is not yet known which bait is most effective for catching the fish. Therefore this study aims to study the effect of different kind of bait on the catch of bottom hand line, and to identify the catch. This research was conducted in November until December 2016 with experimental method. The baits used consist of mackerel fish (Decapterus macarellus), selar (Selaroides sp.), frigate tuna (Auxixrochei.) and squid (Loligo sp.); the data were analyzed using randomized block design.  Total catch of 136 fish; which consists of 6 families, 14 genera and 24 species.  Analysis of variance show that the use of mackerel bait is no different from frigate tuna, but significantly different from selar; the use of frigate tuna bait is not significantly different from selar.Keywords: Outer Island, Marore Island, coral fishes, bottom hand lineABSTRAKPulau Marore adalah salah satu pulau terluar paling utara di wilayah perairan Indonesia. Permasalahan yang sering menghambat perkembangan pulau-pulau terluar seperti Pulau Marore adalah masih rendahnya kemampuan masyarakat untuk mengelola potensi sumberdaya laut dan minimnya sarana dan prasarana produksi. Ciri khas suatu wilayah kepulauan adalah memiliki sumberdaya perikanan yang relative tinggi, tetapi sangat rentan terhadap degradasi lingkungan dengan kondisi meteorologis yang sangat dinamis dan sulit diprediksi. Pancing dasar merupakan salah satu alat tangkap yang banyak di gunakan oleh nelayan di PulauMarore untuk menangkap ikan-ikan dasar; tetapi belum diketahui umpan mana yang paling efektif untuk menangkap ikan-ikan tersebut. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh jenis umpan terhadap hasil tangkapan pancing dasar; dan mengidentifikasi jenis-jenis ikan yang tertangkap.  Penelitian ini dilakukan pada bulan November-Desember 2016 dengan metode eksperimental. Umpan yang digunakan terdiri dari ikan layang (Decapterusmacarellus), selar (Selaroides sp.), tongkol (Auxix rochei.) dan cumi-cumi (Loligo sp.).dan data dianalisis menggunakan rancangan acak kelompok.  Hasil tangkapan total sebanyak 136 ekor; yang terdiri dari 6 famili, 14 genus dan 24 spesiesikan. Analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perbedaan jenis umpan pada pancing dasar memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap hasil tangkapan. Hasil uji BNT untuk perlakuan menunjukkan bahwa penggunaan umpan cumi berbeda sangat nyata dengan ketiga umpan lainnya. Penggunaan umpan laying tidak berbeda dengan umpan tongkol tetapi berbeda sangat nyata dengan umpan selar. Penggunaan umpan tongkol tidak berbeda nyata dengan umpan selar.Kata-kata kunci: PulauTerluar, PulauMarore, ikan-ikankarang, pancing dasar
Co-Authors Akira W.R. Masengi Alfret Luasunaung Alfret Luasunaung Alfret Luasunaung Ali, Isti Utami Indah Sari Alsen Siadadi Alsen Siadadi Alva Ridel Manopo Amos, Christianti Triagneriauly Aprililian E. Supit Asrul Libuon Bella S.M. Marpaung Benyamin Rumbrawer Benyamin Rumbrawer Bill Bright Cavin Manoppo Christian Risky Pandeirot Dalegi, Jefry Dien, Heffry Veibert Dyan F.D. Sitanggang Effendi P Sitanggang Evander Ch. Nelwan Fanny Silooy Fanny Silooy Flora F. Kalalo Frangky E. Kaparang Frangky E. Kaparang Frangky E. Kaparang Frangky Erens Kaparang Franky E. Kaparang Fransisco P. T Pangalila Fransisco P. T. Pangalila Fransisco P.T. Pangalila Fransisco P.T. Pangalila Fransisco W. Prasetyo Gerry Willardoe Kayadoe Gerry Willardoe Kayadoe, Gerry Willardoe Ginting, Jebry Yanta Hariyani Sambali Hariyani Sambali, M.Sc. Henry James Kumajas, Henry James Hernita Paputungan Indra Lesmana Indra Lesmana Isrojaty J. Paransa Ivor L. Labaro Ivor L. Labaro Ivor L. Labaro Ivor Lembondorong Labaro Ivor Lembondorong Labaro Ivor Lembondorong Labaro Ixchel F Mandagi Janny F. Polii Janny Franka Polii Jenly C. Marinding Jenly G. Onthoni Johnny Budiman Johnny H Tumiwa K. W.A. Masengi Kawilarang W. A. Masengi Kawilarang W. A. Masengi Kawilarang W.A. Masengi Kawilarang W.A. Masengi Kumajas†, Henry J. Labaro, Ivor Lembondrong Lang, Abigail Emylia Febricristiani Lefrand Manoppo Lefrand Manoppo Lefrand Manoppo Lembo, Liliyana Levandri Alski Lumi Lusia Manu Lusia Manu Manopo J. H. Manu, Lusia Mariana Kayadoe Masengi, K. W. A. Masengi, Kawilarag W. A Masengi, Kawilarang W. A. Mervin Lestaluhu Meta S. Sompie Meta S. Sompie Meta Sonja Sompie Modaso, Vivanda O. J. Nelwan, Evander Ch. Onthoni, Jenly G. Patrice N.I. Kalangi Prasetyo, Fransisco W. Robertus Cyrillus Manengkey Rompis, Jendra Salsabila Yunus Saragih, Mariana Senewe, Gray S. Singale, Aleks Rafid Supit, Aprililian E. Suryadi Halim Syamtiar Arfah Syamtiar Arfah Thamin, Arman Thimotius M. Womsiwor Thimotius M. Womsiwor, Thimotius M. Vivanda O. J. Modaso Vivanda O. J. Modaso Vivanda O.J. Modaso Wenseslaus Fransiscus Makawaehe Wenseslaus Fransiscus Makawaehe, Wenseslaus Fransiscus Wilhelmina Patty