Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Semantik

ANALISIS KINERJA SISTEM INTERFACE MSOAN V5.2 MENGGUNAKAN METODE AVERAGE DAILY PEAK HOUR DI PT TELKOM PURWOKERTO Wahyu Pamungkas; Eka Wahyudi; Kukuh Krismanto
Semantik Vol 1, No 1 (2011): Prosiding Semantik 2011
Publisher : Semantik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.352 KB)

Abstract

Multi Service Optical Access Node (MSOAN) merupakan salah satu layanan multi service pada Next Generation–Digital Loop Carrier (NG-DLC) yang mampu meringkas jaringan telekomunikasi antara Local Exchange (LE) dengan Access Network (AN) menjadi lebih sederhana. Teknologi ini didukungdengan interface V5.2 yang bersifat dinamis dengan menggunakan maximum 16 link E1 atau 480 kanal komunikasi sesuai aturan Pulse Code Modulation-30 (PCM-30). Dengan kondisi pelanggan yang terus bertambah, merlu adanya analisis trafik untuk menentukan berapa jumlah interface V5.2 ataupun modul link E1 untuk memenuhi layanan yang disediakan kepada pelanggan. Model analisis traffic yang digunakan adalah Average Daily Peak Hour (ADPH). Analisis trafik pada jaringan yang sudah dibangun bisa dijadikan pedoman untuk menambah, mengurangi atau memindah interface V5.2 maupun modul link E1 guna mendapat performansi yang diinginkan. Dari hasil analisis yang dilakukan untuk interface V5.2 milik PT TELKOM,Tbk Area Network Purwokerto yang menangani beberapa lokasi (ring: PWT 503, PWT 505, PWT 506) ditemukan bahwa seluruh interface membutuhkan tambahan link E1 dengan jumlah yang bervariasi.Kata kunci: MSOAN, NG-DLC, V5.2, ADPH, Access Network.
ANALISIS PENGARUH WARNA ANTENA PARABOLA TERHADAP PARAMETER C/N PADA APLIKASI DVB-S Wahyu Pamungkas; Eka Wahyudi; Achmad Nasuha
Semantik Vol 2, No 1 (2012): Prosiding Semantik 2012
Publisher : Semantik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (802.439 KB)

Abstract

Digital Video Broadcasting (DVB) merupakan salah satu sistem yang digunakan untuk mentransmisikan siaran televisi hingga ke pengguna akhir (end user). Salah satu jenis DVB adalah Digital Video Broadcasting via Satelit (DVB-S) yang menggunakan satelit sebagai repeater sinyal dari pengirim ke penerima. Karena menggunakan satelit sebagai repeater sinyal, maka di sisi pengirim dan penerima menggunakan antena jenis parabola. Secara sederhana alur penerimaan sinyal pada aplikasi DVB-S yaitu sinyal yang dikirim melalui satelit diterima oleh antena parabola, selanjutnya dipantulkan ke LNB untuk ditransmisikan ke receiver. Pada hipotesis awal, warna akan berpengaruh pada banyaknya gelombang elektromagnetik yang mampu dipantulkan oleh suatu antena. Semakin gelap warna yang digunakan pada antena parabola,idealnya akan semakin sedikit gelombang elektromagnetik yang dipantulkan antena parabola ke arah LNB, begitu pula sebaliknya semakin cerah atau mendekati warna putih, idealnya akan semakin banyak gelombang elektromagnetik yang mampu dipantulkan oleh antena parabola ke arah LNB. Pada penelitian ini dibahas mengenai pengaruh warna antena parabola di sisi penerima terhadap parameter C/N untuk komunikasi satelit, khususnya untuk aplikasi DVB-S dengan hasilwarna kuning yang paling berpengaruh menentukan nilai C/N tertinggi.Kata kunci : Komunikasi Satelit, DVB-S, Spektrum Warna, Parameter C/N
Analisis Kualitas Jaringan Tembaga Terhadap Penerapan Teknologi Annex M Pada Perangkat MSAN Studi Kasus Di PT.Telkom Purwokerto Solichah Larasati; Wahyu Pamungkas; Eka Wahyudi
Semantik Vol 4, No 1 (2014): Semantik 2014
Publisher : Semantik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (686.037 KB)

Abstract

Perkembangan teknologi telekomunikasi, khususnya jaringan kabel  semakin  lama semakin berkembang pesat. Ini  ditandai dengan berkembangnya  layanan yang ditawarkan  oleh operator yang  meliputi voice,  ADSL, Internet Protokol Television (IPTV), dan  wifi.  Berkembangnya layanan tersebut membawa dampak terhadap kenaikan kebutuhan bandwidth.  PT. Telkomsebagai salah satu operator telekomunikasi di Indonesia  melakukan upaya untuk memenuhi kebutuhan bandwidth yang semakin besar dengan melakukan moderinasi jaringan menggunakan perangkat Multi Service Access Node (MSAN).  Salah satu  jenis teknologi MSAN adalah Annex M.  Annex M adalah ADSL2+ yang mempunyai nilai upstream sampai 3 Mbps dan downstream sampai 24 Mbps.  Teknologi ini membutuhkan kualitas jaringan tembaga yang baik.  Penelitian ini menggunakan metode analisis dengan membandingkan dua variabel sebelum dan sesudah menggunakan Annex M dalam persen rasio. Variabel yang dibandingkan diantaranya adalah SNR, Attenuation dan Attainable Rate.  Berdasarkan perhitungan sampel sebelum dan sesudah menggunakan  Annex M maka didapatkan bahwa parameter Signal to Noise Ratio (SNR) mengalami perbaikan kualitas jaringan upstream sebesar 10,306% dan downstream sebesar 3,048%. Parameter Attenuation sebelum dan sesudah menggunakan Annex M mengalami perbaikan kualitas jaringan upstream sebesar 13,491% dan downstream sebesar 2,797%. Parameter Attainable Rate upstream sebelum dan sesudah menggunakan Annex M mengalami kenaikan sebesar 3,9106% dan Attainable Rate downstream sebelum dan sesudah menggunakan Annex M mengalami pen urunan sebesar 3%