Claim Missing Document
Check
Articles

Gambaran komponen sindrom metabolik pada pasien kanker payudara di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tahun 2014 – 2015 Wowor, Kartika; Haroen, Harlinda; Pandelaki, Karel
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14561

Abstract

Abstract: Metabolic syndrome (MetS) is estimated to become an important factor for the development of certain types of cancer and their mortality inter alia breast cancer. This was a descriptive retrospective study based on secondary data of medical records of breast cancer patients at Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Hospital in 2014-2015. The results showed that the most common components of MetS in breast cancer cases were low level of HDL in 67 cases (68%). One component of MetS was found in 46 cases (64%); 3components of MetS in 6 cases (8%); and 4 components of MetS in 8 cases (11%). Family history of cancer was found in 3 cases with breast cancer (1%). Family history of MetS was found in 3 cases; 1 case of hypertension (0.25%) and 2 cases of hypertension and diabetes (0.50%). The most common clinical stage that had MetS components was stage IV in 27 cases (46%). Conclusion: Most breast cancer patients with MetS components had low level of HDL, only had 1 MetS component, family history of breast cancer and some components of MetS, and in clinical stage IV.Keywords: breast cancer, metabolic syndrome Abstrak: Sindrom metabolik diperkirakan menjadi faktor penting perkembangan jenis kanker tertentu dan mortalitasnya, termasuk peningkatan risiko kanker payudara. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif berdasarkan data sekunder dari catatan rekam medis pasien kanker payudara di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tahun 2014-2015. Hasil penelitian memperlihatkan komponen SM yang sering ditemukan ialah kadar HDL rendah berjumlah 67 kasus (68%). Kasus yang memiliki 1 komponen yang memenuhi kriteria SM berjumlah 46 data (64%), 3 komponen berjumlah 6 data (8%) dan 4 komponen berjumlah 8 data (11%). Riwayat penyakit keluarga yang menderita kanker didapatkan tiga kasus dengan kanker payudara (1%). Riwayat penyakit keluarga yang mengalami komponen sindrom metabolik pada tiga kasus; satu kasus dengan hipertensi (0,25%) dan dua kasus dengan hipertensi dan diabetes (0,50%). Stadium klinis yang paling sering memiliki komponen sindrom metabolik ialah stadium IV sebanyak 27 kasus (46%). Simpulan: pada sebagian besar pasien kanker payudara yang memiliki komponen SM ditemukan kadar HDL rendah, hanya memiliki 1 komponen SM, riwayat penyakit keluarga berupa kanker payudara dan beberapa komponen sindrom metabolik, serta stadium klinis IV. Kata kunci: kanker payudara, sindrom metabolik
HUBUNGAN LINGKAR PINGGANG DENGAN PROFIL LIPID PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 Simbar, Mentari; Pandelaki, Karel; Wongkar, M. C.P
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.1.2015.6428

Abstract

Abstract: Waist circumference is often used to evaluate abdominal fat mass. Waist circumference is correlated with abdominal mass and is a predictor of type 2 diabetes mellitus compared to BMI. Diabetes Mellitus Type 2 (T2DM) is more common in individuals with overweight and obesity. T2DM is not only occured due to carbohydrate metabolism disorder of lipid metabolism but also due to dyslipidemia. Dyslipidemia caused by substances called lipoprotein VLDL (Very Low Density Lipoprotein) or triglycerides, decreased HDL cholesterol (High Density Lipoprotein) and the formation of small dense LDL (Low Density Lipoprotein) which are atherogenic. This study aimed to determine the relationship of waist circumference with the lipid profile in T2DM patients Prof. R.D. Kandou Hospital Manado. This was a descriptive cross sectional analytic study. There were 53 respondents that met the inclusion criteria. This study was conducted for three months starting from September ? November 2013 in the Endocrine Clinic. Conclusions: There was no significant correlation between waist circumference and total cholesterol, LDL, and triglycerides levels. However, there is a significant correlation between waist circumference and HDL levels.Keywords: Waist circumference, total cholesterol, HDL, LDL, Triglycerides, T2DMAbstrak: Lingkar pinggang sering digunakan sebagai penilai massa lemak abdominal, karena lingkar pinggang berkorelasi dengan massa lemak abdominal dan merupakan prediktor Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) yang paling kuat dibandingkan dengan IMT. DMT2 lebih sering terjadi pada individu dengan berat badan lebih dan obesitas. Pada DMT2 bukan saja terjadi gangguan metabolisme karbohidrat melainkan juga terdapat metabolisme lipid, keadaan ini disebut dislipidemia. Dislipidemia terjadi akibat gangguan metabolisme lipoprotein yaitu Very Low Density Lipoprotein (VLDL), trigliserida, penurunan kolesterol High Density Lipoprotein (HDL), dan terbentuknya small dense Low Density Lipoprotein (LDL) yang bersifat aterogenik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lingkar pinggang dengan profil lipid pada pasien DMT2 di RSUP Prof. R.D. Kandou Manado. Jenis penelitian ini ialah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Responden penelitian sebanyak 53 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Penelitian ini dilakukan selama tiga bulan yaitu dari bulan September ? November 2013 di Poliklinik Endokrin Bagian/SMF Ilmu Penyakit Dalam RSUP. Prof. R.D. Kandou Manado. Simpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara lingkar pinggang dengan kadar kolesterol total, kadar LDL, dan trigliserida. Terdapat hubungan bermakna antara lingkar pinggang dan kadar HDL.Kata kunci: Lingkar Pinggang, Kolesterol Total, HDL, LDL, Trigliserida, DMT2
HUBUNGAN OBESITAS DENGAN GAYA HIDUP PADA PASIEN RAWAT JALAN DI BLU RSU Prof. Dr. R.D. KANDOU MANADO Destyana, Tuegeh; Langi, Yuanita; Pandelaki, Karel
e-CliniC Vol 1, No 2 (2013): Jurnal e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i2.3307

Abstract

Abstract: 65% of the world’s population live in countries where overweight. At least 2.8 million adults die each year due to obesity. The prevalence of obesity is associated with urbanization and changes in economic status in developing countries, including in Indonesia. The purpose of this research to determine the relationship between obesity and lifestyle at the Polyclinic of Internal Medicine section/SMF FK-UNSRAT BLU RSU Prof. Dr. R.D Kandou Manado. This research used a cross-sectional study. All outpatients who came in period of November 2012 at the Polyclinic of Internal Medicine section/SMF FK-UNSRAT BLU RSU Prof. Dr. R.D Kandou Manado. There are 58 people who met the inclusion criteria.The result there was no relation of physical activity with obesity. There is a relation of severe meal frequency > 3 times daily with obesity at 87% with a p value of 0.004 (p <0.005). There is a relation with the frequency of eating snacks often with obesity at 70.2% with p value 0.002 (p <0.005) found a significant relationship with OR 10.607 times the risk of obesity. There is a relation of not exercising with obesity at 73.2% with p value 0.003 (p <0.005) found a significant relationship with OR 6.545 times the risk of obesity. There was no relation of smoking with obesity. As the conclusion the frequency of  severe meal  > 3 times a day, eating snacks often and not exercising can increase the risk of obesity. Keywords: obesity, lifestyle.   Abstrak: Populasi dunia sebesar 65% di negara dimana kelebihan berat badan. Setidaknya 2.8 juta orang dewasa meninggal setiap tahun akibat obesitas. Prevalensi obesitas ini berhubungan dengan urbanisasi dan perubahan status ekonomi di negara-negara berkembang termasuk di Indonesia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara obesitas dengan gaya hidup pada pasien rawat jalan di Poliklinik Penyakit Dalam BLU RSU Prof. Dr. R.D. Kandou Manado. Metode penelitian menggunakan rancangan potong lintang. Semua pasien rawat jalan yang datang di Poliklinik Penyakit Dalam BLU RSU Prof. Dr. R.D. Kandou Manado periode bulan November 2012. Jumlah sampel 58 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Hasilnya tidak terdapat hubungan aktifitas fisik dengan obesitas. Terdapat hubungan frekuensi makan berat > 3 kali sehari dengan obesitas yakni 87% dengan nilai p 0.004 (p < 0.005). Terdapat hubungan hubungan frekuensi makan cemilan sering dengan obesitas yakni 70.2% dengan nilai p 0.002 (p < 0.005) didapatkan hubungan bermakna dengan OR 10,607 kali berisiko obesitas. Terdapat hubungan tidak berolahraga dengan obesitas yakni 73.2% dengan nilai p 0.003 (p < 0.005) didapatkan hubungan bermakna dengan OR 6,545 kali berisiko obesitas. Tidak ditemukan hubungan riwayat merokok dengan obesitas. Kesimpulan bahwa frekuensi makan berat > 3 kali sehari, frekuensi makan cemilan yang sering dan tidak berolahraga dapat meningkatkan resiko obesitas. Kata Kunci : obesitas, gaya hidup.
Gambaran hematologi rutin dan hubungannya dengan rerata gula darah pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Poliklinik Endokrin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Kekenusa, Gita C.; Pandelaki, Karel; Haroen, Harlinda
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14769

Abstract

Abstract: Diabetes mellitus (DM) is a group of metabolic diseases characterized by hyperglycemia due to a defect in insulin action, insulin secretion by pancreatic beta cells or both. In patients with type 2 diabetes (T2DM), trombopoiesis acceleration and increased turnover and increased hematocrit occur resulting in impaired blood flow velocity. This increased blood viscosity causes vasoconstriction due to thickening of blood vessel walls.This study was aimed to obtain the profile of hematology and its correlation with average blood glucose in type 2 DM patients. This was a descriptive analytical study using patients’ medical record in the Endocrine Clinic of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from August to October 2016. The results of Spearman’s correlation test were as follows: correlation between average blood glucose and hemoglobin concentration with r = 0.083 and p = 0.272; correlation between average blood glucose and levels of hematocrit with r = 0.123 and p = 0.184; correlation between the average glucose blood and levels of erythrocyte with r = 0.121 and p = 0.187; correlation between average blood glucose and platelet with r = 0.052 and p = 0.353; and correlation between average blood glucose and levels of leukocytes with r = 0.247 and p = 0.033. Conclusion: Among type 2 DM patients, there were no significant correlations between average blood glucose level and hemoglobin, hematocrit, and erythrocyte levels, as well as platelet levels. However, there was a significant correlation between average blood glucose and leukocyte level.Keywords: T2 DM, average blood glucose, hemoglobin, hematocrit, platelets Abstrak: Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik yang ditandai oleh hiperglikemia akibat defek pada kerja insulin, sekresi insulin oleh sel beta pancreas, atau keduanya. Pada pasien DM tipe 2 (DMT2) terjadi percepatan trombopoiesis serta peningkatan pergantian trombosit dan hematokrit yang dapat berakibat terhadap kecepatan aliran darah. Viskositas darah yang meningkat dapat menyebabkan terjadinya vasokonstriksi akibat penebalan dinding pembuluh darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran hematologi dan hubungannya dengan rerata gula darah pada pasien DM tipe 2. Jenis penelitian ini deskriptif analitik dengan menggunakan data rekam medik pasien di Poliklinik Endokrin Bagian/SMF Ilmu Penyakit Dalam RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Agustus-Oktober 2016. Hasil uji korelasi Spearman memperlihatkan nilai hubungan antara rerata gula darah dan kadar hemoglobin r = 0,083 dan p = 0,272; nilai hubungan antara rata-rata gula darah dan kadar hematocrit r = 0,123 dan p = 0,184; nilai hubungan antara rata-rata gula darah dan kadar eritrosit r = 0,121 dan p = 0,187; nilai hubungan antara rata-rata gula darah dan trombosit r = 0,052 dan p = 0,353, serta nilai hubungan antara rata-rata gula darah dan kadar leukosit r = 0,247 dan p = 0,033. Simpulan: Pada pasien DMT 2 tidak dijumpai hubungan bermakna antara rerata gula darah dengan kadar hemoglobin, kadar hematokrit, kadar eritrosit, dan kadar trombosit namun terdapat hubungan bermakna antara rerata gula darah dan leukosit.Kata kunci: DMT2, rerata gula darah, hemoglobin, hematokrit, trombosit
HUBUNGAN KADAR GULA DARAH PUASA DENGAN JUMLAH LEUKOSIT PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DENGAN SEPSIS Chodijah, Siti; Nugroho, Agung; Pandelaki, Karel
e-Biomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i1.4606

Abstract

Abstrak: Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemi yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya. Meningkatnya kepekaan terhadap infeksi pada diabetes mellitus disebabkan oleh berbagai faktor (multifaktorial), baik yang disebabkan oleh hiperglikemia maupun gangguan imunitas. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan desain cross sectional, yang mengambil data pasien secara prospektif di ruang rawat inap bagian penyakit dalam Irina C1 sampai C4, IMC, instalasi gawat darurat medik RSUP Prof.Dr.R.D Kandou Manado pada bulan November sampai desember 2012. Subjek dalam penelitian berjumlah 27 orang. Pengukuran variabel kadar gula darah puasa dan kadar leukosit yang diambil dengan selang waktu 3 hari selama pasien di rawat dari pertama terdiagnosis DM dengan sepsis sampai pasien pulang atau sepsis sudah hilang. Berdasarkan analisis koefisien korelasi Pearson antara GDP dengan jumlah leukosit diperoleh r = -0,429 dengan p = 0,013.  Simpulan: Terdapat hubungan antara kadar gula darah puasa dengan jumlah leukosit  pada pasien DM dengan sepsis dengan bentuk hubungan linear negatif, yang artinya makin tinggi kadar gula darah puasa maka makin rendah kadar leukosit. Kata kunci: GDP, leuksoit, DM dengan sepsis.     Abstract: Diabetes is one of group metabolic disease with characteristic hyperglycemia that happends because insulin disfungtion. Increasing of sensitivity to inflammation of diabetes mellitus cause by many factors. Both caused by by hyperglycemia and immunity disfunction. This research is study with analytic descriptive with cross sectional design, that taking data with prospective at interna department Irina C1 to C4, IMC, Intensif unit care at RSUP Prof.Dr.R.D Kandou Manado in November to December 2012. Total subject in this research are 27 people. The measurement of fasting blood sugar and total leukocyte that taken with time a gap 3 days as long patient still in unit care from the moment patient diagnosed with DM with sepsis until patient charge go home. Basic on analytic correlation koefisien Pearson between GDP with total leukosit found r = - 0,429 with p = 0,013. Conclutions: There is relationship between fasting blood sugar with total leukocyte in patient DM with sepsis with form linear negative means more higher fasting blood sugar, more lower total leukocyte. Keywords: GDP, leukocyte, DM with sepsis.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DEKUBITUS DI IRINA F NEUROLOGI BLU RSUP Prof dr DR R. D. KANDOU MANADO Taghulihi, Meibie M; Pandelaki, Karel; Hamel, Rivelino
e-NERS Vol 1, No 1
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ens.v1i1.1779

Abstract

Abstrak: Pemberian asuhan keperawatan merupakan aspek utama dalam mempertahankan integritas kulit. hal ini dapat tercapai dengan memberikan perawatan kulit yang terencana dan konsisten. dekubitus adalah luka tekan yang terlokalisir karena adanya kompresi jaringan bila hal ini berlangsung lama dapat meningkatkan hari rawat, dan biaya perawatan serta memperlambat program rehabilitasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian dekubitus. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode cross sectional, pemilihan sampel dengan purposive sampling. Sampel 30 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi. selanjutnya data diolah dengan menggunakan computer Spss versi 20, untuk dianalisa dengan uji Fisher exact test dengan tingkat kemaknaan (α) ≤0.05. Hasil penelitian menunjukan telah teridentifikasi pasien dengan dekubitus 18 orang, hasil uji menunjukan nilai p=0,020, dan pasien dengan kulit yang lembab beresiko 7kali lebih tinggi mengalami dekubitus, ada hubungan bermakna antara usia dengan dekubitus dengan nilai p=0.042 dan OR= 5,2 yang berarti bahwa pasien dengan usia ≥60 tahun beresiko 5,2kali lebih tinggi mengalami dekubitus. dan ada hubungan yang bermakna antara immobilisasi , nilai albumin dengan kejadian dekubitus dengan nilai p=0.000 dan pasien dengan immobilisasi ≥6 jam beresiko 88kali lebih tinggi mengalami dekubitus, dan pasien dengan nilai Albumin<3mg/dl beresiko 40 kali lebih tinggi mengalami dekubitus.Kesimpulan kelembaban, usia, immobilisasi, nutrisi(nilai albumin) merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian dekubitus. Kata Kunci: Dekubitus, immobilisasi, kelembaban, nutrisi (nilai albumin).
PENGARUH MOBILISASI DINI TERHADAP KECEPATAN PEMULIHAN PERISTALTIK USUS PASIEN PASCABEDAH SECTIO CAESAREA DENGAN ANESTESIUMUM DI RR CITO BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOUMANADO Karujan, Enjalita; Pandelaki, Karel; S. Hamel, Rivelino
e-NERS Vol 1, No 1
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ens.v1i1.1796

Abstract

Abstract: At any surgery is necessary to relieve pain called anesthesia. Once the surgery is completed, the digestive function is not immediately recovered. This can be known from the sound of an unheard of intestinal peristalsis. A patient who has not recovered his gut peristalsis is recommended not to eat and drink as they may suffer from ileus (obstruction or paralysis). This situation makes patients often complain about having to wait a long time to be able to eat and drink. Therefore, it is necessary to act to accelerate intestinal peristalsis recovery, one of which is through early mobilization. From the observation in RR Cito of BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Manado Kandou found the absence SOP mobilization Sectio Caesarea postoperative patients under general anesthesia. The research objective was to determine the effect of earlymobilization to the speed of recovery of intestinal peristaltic Sectio Caesarea postoperative patient under general anesthesia. Research is Pre-experiment design using Static-Group comparsion. Samples were taken with accidental sampling technique and obtained 30 respondan. Processing data using Independent Samplest-Test spaces at a confidence level = 0.05. The results showed an average recovery time of intestinal peristalsis in postoperative patients under general anesthesia Sectio Caesarea that early mobilization is 3,200 hours, while patients who did early mobilization is 4267 hours. Significance values ​​were obtained by T-Test Independent Samples are 0000 spaces smaller than the value of a = 0.05. Conclusion early mobilization affect the speed of recovery of intestinal peristaltic Sectio Caesarea post-surgery patient under general anesthesia in RR Cito BLU Prof Dr Dr. R. D. Kandou Manado. Keywords: early mobilization, recovery speed intestinal peristaltic.   Abstrak: Pada setiap pembedahan diperlukan upaya untuk menghilangkan nyeri yang disebut anestesi. Setelah pembedahan selesai, fungsi pencernaan tidak langsung pulih. Hal ini bisa diketahui dari bunyi peristaltik usus yang belum terdengar. Seorang pasien yang belum pulih peristaltikususnya dianjurkan untuk tidak makan dan minum karena dapat menderita ileus (obstruksi atau paralisis). Keadaan ini membuat pasien seringmengeluh karena harus menunggulama untuk dapat makan dan minum.Oleh karena itu perlu dilakukan tindakan untuk mempercepat pemulihan peristaltik usus, salah satunya yaitu melalui mobilisasi dini. Dari hasil pengamatan di BLU RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado menunujukkan belum adanya protap tentang mobilisasi pasien pasca bedah Sectio Caesarea dengan anestesi umum. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh mobilisasi dini terhadap kecepatan pemulihan peristaltik usus pasien pasca bedah Sectio Caesarea dengan anestesi umum. Penelitian bersifat Pra-Eksperimen menggunakan desain Static-Group Comparsion. Sampel diambil dengan teknik accidental sampling dan diperoleh 30 respondan. Pengolahan data menggunakan Uji-t Dua Sampel Bebas pada tingkat kepercayaan α=0.05. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata waktu pemulihan peristaltik usus pada pasien pasca bedah Sectio Caesarea dengan anestesi umum yang melakukan mobilisasi dini adalah 3.200 jam sedangkan pasien yang tidak melakukan mobilisasi dini adalah 4.267 jam. Nilai signifikansi yang diperoleh melalui Uji-t Dua Sampel Bebas adalah 0.000 lebih kecil dari nilai α=0.05. Kesimpulan mobilisasi dini berpengaruh terhadap kecepatan pemulihan peristaltik usus pasien pasca bedah Sectio Caesarea dengan anestesi umum di RR Cito BLU RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado. Kata kunci: Mobilisasi dini, kecepatan pemulihan peristaltik usus.
HUBUNGAN PENGETAHUAN KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT DENGAN STATUS KEBERSIHAN GIGI DAN MULUT PADA SISWA SMA NEGERI 9 MANADO K.K, Yohanes I Gede; Pandelaki, Karel; Mariati, Ni Wayan
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.2620

Abstract

Abstrak: Pengetahuan tentang kebersihan gigi dan mulut sangat penting untuk terbentuknya tindakan dalam menjaga kebersihan gigi dan mulut. Kebersihan gigi dan mulut dilakukan untuk mencegah penyakit gigi dan mulut, meningkatkan daya tahan tubuh, dan memperbaiki fungsi mulut untuk meningkatkan nafsu makan. Menjaga kebersihan gigi dan mulut pada usia sekolah merupakan salah satu cara dalam meningkatkan kesehatan pada usia dini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan kebersihan gigi dan mulut siswa SMA Negeri 9 Manado sudah cukup baik yang mencapai hasil 95,00%. Status kebersihan gigi dan mulut siswa SMA Negeri 9 Manado dilihat melalui pemeriksaan OHI-S dengan siswa yang memiliki OHI-S baik (48,75%), OHI-S sedang (51,25%) dan tidak ada yang memiliki OHI-S yang buruk. Kata kunci: pengetahuan, kebersihan gigi dan mulut, usia sekolah.     Abstract: Knowledge about oral hygiene is essential for the formation of action in maintaining oral hygiene. Oral hygiene to prevent gum disease, increase endurance, and improve the function of the mouth to enhance appetite. Maintain oral hygiene at school age is one way to improve health at an early age. Results of this study indicate that the level of knowledge of oral hygiene 9 Manado State high school students has been good enough to reach the result 95.00%. Dental and oral hygiene status of students of SMA Negeri 9 Manado seen through examination OHI-S with the majority of students have a good OHI-S (48.75%) and moderate (51.25%) and no one has a bad OHI-S. Key words: knowledge, oral hygiene, school age.
GAMBARAN PENYAKIT PERIODONTAL PADA PENDERITA DIABETES MELITUS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT PROF. DR. R. D KANDOU MANADO Tambunan, Ezra G. R.; Pandelaki, Karel; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10399

Abstract

Abstract: Diabetes mellitus (DM) is a group of metabolic diseases with characteristic hyperglycemia that occurs due to insulin secretion, insulin action or both. This disease affects many societies and continuously growing in Indonesia. Periodontal disease is an oral health problem which has a relatively high prevalence in the community where periodontal disease in all age groups in Indonesia.The purpose of this study was to determine the periodontal disease in patients with diabetesmellitus in RSUP Prof. dr. R. D. Kandou Manado. This descriptive study has 68 sample taken with total sampling technique. The sample is examined using evaluation criteria gingival index and CPITN index. The result show that subjects with periodontitis with a score of 4 is the highest as many as 18 people (44%) and subject with a score of 2 is that at least as many as 8 people (19.5%). And subjects with bad gingivitis is the highest as many as 10 people (52.6%) and subject with the good gingivitis is the at least as many as 5 people (26.3%). Based on the result of this study, periodontal disease in patients with diabetes mellitus in RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou most that periodontitis with the number of 41 people (68.3%) compared to gingivitis which is just as many as 19 people (31.7%)Keywords: diabetes mellitus, periodontitis, gingivitis, periodontalAbstrak:Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Penyakit ini merupakan penyakit yang banyak diderita kalangan masyarakat dan terus berkembang di Indonesia. Penyakit periodontal merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut yang memiliki prevalensi cukup tinggi di masyarakat dimana penyakit periodontal pada semua kelompok umur di Indonesia.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penyakit periodontal pada penderita diabetes mellitus di RSUP Prof. dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan jumlah sampel 60 orang yang diambil dengan teknik total sampling. Sampel diperiksa dengan menggunakan kriteria penilaian indeks gingiva dan indeks CPITN. Hasil menunjukkan bahwa yang mengalami periodontitis dengan skor 4 adalah yang paling tinggi yaitu sebanyak 18 orang (44%), dan subjek yang mengalami skor 2 adalah yang yang paling sedikit yaitu sebanyak 8 orang (19.5%). Sedangkan yang mengalami gingivitis yang paling tinggi yaitu gingivitis buruk sebanyak 10 orang (52.6%) dan yang paling sedikit adalah yang mengalami gingivitis ringan yaitu sebanyak 5 orang (26.3%). Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penyakit periodontal yang paling banyak ditemui pada penderita diabetes melitus di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado adalah penyakit periodontitis yaitu sebanyak 41 orang (68.3%) dan yang paling sedikit adalah gingivitis yaitu sebanyak 19 orang (31.7%)Kata kunci: diabetes melitus, periodontitis, gingivitis, periodontal
PERBANDINGAN JUMLAH TROMBOSIT PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 YANG MENGGUNAKAN ASPIRIN DAN TIDAK MENGGUNAKAN ASPIRIN Palimbunga, Dwi P.; Pandelaki, Karel; Mongan, Arthur E.; Manoppo, Firginia
eBiomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.1.1.2013.1618

Abstract

Abstract: Patients with type-2 diabetes mellitus are characterized by an acceleration thrombopoiesis, an increased platelet turnover and a decreased platelet survival time which affect platelet count, that cause the increasing of proportion of large and reactive platelets, and hence more thrombogenic. People with diabetes have a two- to fourfold increase in the risk of dying from the complications of cardiovascular disease. Aspirin therapy is recommended for the primary and secondary prevention of cardiovascular events in most people with diabetes. This study was an descriptive analytic method with cross sectional study design. The subjects in this study involve 112 people, 56 people treated with aspirin, and the 56 others were not who signed in endocrine metabolic department of RSUP Prof. Dr. R. D Kandou Manado. Data were taken from medical record. The Mann-Whitney test showed that there was no significant difference between the platelet count in patients with type-2 diabetes mellitus treated with aspirin and patients who were not. Conclusion: There was no significant difference between the platelet count in patients with type-2 diabetes mellitustreated with aspirin and patients who were not. Key word:Aspirin, Type-2 Diabetes Mellitus, Platelet Count  Abstrak: Pada pasien diabetes melitus tipe-2 terjadi percepatan trombopoiesis, peningkatan pergantian trombosit dan penurunan waktu hidup trombosit yang mempengaruhi jumlah trombosit, yang menyebabkan terjadinya peningkatan ukuran trombosit yang lebih besar dan reaktif, sehingga bersifat trombogenik. Risiko kematian karena komplikasi penyakit jantung meningkat dua sampai empat kali lipat. Aspirin digunakan sebagai pencegahan primer dan sekunder terhadap kejadian kardiovaskular pada pasien diabetes. Tujuan penelitian ini untuk melihat perbedaan jumlah trombosit pada pasien diabetes melitus tipe-2 yang menggunakan aspirin dan tidak menggunakan aspirin. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan rancang penelitian cross sectional. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 112 orang, 56 orang yang menggunakan aspirin dan 56 orang lainnya tidak menggunakan aspirin yang terdaftar di Poliklinik Endokrin Metabolik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Data diambil dari catatan rekam medik. Hasil penelitian menggunakan uji Mann-Whitney,menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara jumlah trombosit pada pasien diabetes melitus tipe-2 yang menggunakan aspirin dan tidak menggunakan aspirin (p=0,059). Simpulan: Tidak terdapat perbedaan signifikan antara jumlah trombosit pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang menggunakan aspirin dan tidak menggunakan aspirin. Kata Kunci: Aspirin, Diabetes Melitus Tipe-2, Jumlah Trombosit