Claim Missing Document
Check
Articles

Zeolit Alam Termodifikasi Logam Fe sebagai Adsorben Fosfat (PO43-) pada Air Limbah Marwan Faisal; Suhartana Suhartana; Pardoyo Pardoyo
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 18, No 3 (2015): Volume 18 Issue 3 Year 2015
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (577.991 KB) | DOI: 10.14710/jksa.18.3.91-95

Abstract

Penelitian tentang zeolit alam termodifikasi logam Fe sebagai adsorben fosfat (PO43-) pada air limbah telah dilakukan. Zeolit alam diaktivasi menggunakan HCl 2M. Kemudian zeolit teraktivasi dimodifikasi menggunakan FeCl3.6H2O dengan perbandingan massa precursor 10:90, 25:75, 50:50, 75:25, 90:10. Metode modifikasi yang digunakan adalah impregnasi ion logam Fe3+. Pada zeolit-Fe yang diperoleh kemudian dilakukan untuk mengadsorpsi fosfat dengan konsentrasi awal 0,9883 ppm. Hasil yang diperoleh dianalisis dengan FTIR, dan Spektrofotometer UV-Vis. Hasil analisis FTIR terhadap zeolit-Fe menunjukkan adanya puncak pada bilangan gelombang 474,5 cm-1 yang mengindikasikan vibrasi Fe-O. Fosfat (PO43-) yang terserap oleh zeolit-Fe paling banyak diperoleh pada variasi 10:90 yaitu sebesar 30,54% dengan konsentrasi teradsorpsi sebesar 0,3019 mgL-1.
Dealuminasi Zeolit Alam Menggunakan Asam (HCl dan H2SO4) untuk Katalis pada Proses Sintesis Biodiesel Sugiarti Norvia; Suhartana Suhartana; Pardoyo Pardoyo
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 19, No 2 (2016): Volume 19 Issue 2 Year 2016
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.079 KB) | DOI: 10.14710/jksa.19.2.72-76

Abstract

Telah dilakukan dealuminasi zeolit alam menggunakan asam (HCl dan H2SO4) untuk katalis pada proses sintesis biodiesel. Zeolit dianalisis dengan AAS dan FTIR serta uji aktivitas katalis pada sintesis biodiesel dengan metode GC-MS. Didapatkan bahwa H2SO4 lebih efektif mendealuminasi zeolite dibandingkan dengan HCl. Hasil spektrogram FTIR menunjukkan bahwa proses dealuminasi asam mengakibatkan perubahan bilangan gelombang dan rasio Si/Al yang cukup signifikan, di mana pada rasio Si/Al zeolit meningkat dari 4,57 menjadi 5,41 pada zeolit alam dealuminasi HCl dan menjadi 6,42 pada zeolit alam dealuminasi H2SO4. Zeolit terdealuminasi mampu bekerja sebagai katalis dalam sintesis biodiesel di mana katalis zeolit dealuminasi H2SO4 menghasilkan metil ester dengan senyawa dominan asam 9-oktadekenoat dengan persentase luas area sebesar 63,21% lebih banyak dibandingkan pada katalis zeolit dealuminasi HCl dan zeolite belum didealuminasi.
Sintesis dan Karakterisasi porous carbon dari Sukrosa dengan Menggunakan Asam Sulfat dan Asam Nitrat Istiqomah Istiqomah; Pardoyo Pardoyo; Taslimah Taslimah
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 14, No 2 (2011): Volume 14 Issue 2 Year 2011
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1106.203 KB) | DOI: 10.14710/jksa.14.2.37-42

Abstract

Porous carbon merupakan suatu material serbaguna karena mempunyai luas permukaan yang besar dan porositas yang tinggi. porous carbon dapat dibuat dari berbagai zat yang memiliki susunan senyawa hidrokarbon seperti karbohidrat, batang kayu atau zat yang mengandung senyawa hidrokarbon lainnya dengan pemanasan temperatur tinggi serta proses aktivasi. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh porous carbon dari sukrosa serta menentukan karakteristik produk yang diperoleh. Produk sintesis dianalisis menggunakan spektrofotometer FTIR, X-Ray diffraction dan surface area analyzer. porous carbon yang diperoleh dari penggunaan asam nitrat meningkat luas permukaan dan volume pori berturut-turut sebesar 24%dan 25% relatif terhadap porous carbon yang dibuat dengan menggunakan asam sulfat. Adanya perlakuan kalsinasi, porous carbon yang dibuat dengan asam sulfat juga meningkatkan luas permukaan dan volume pori berturut-turut sebesar 97% dan 98%. porous carbon yang diperoleh dapat digunakan sebagai adsorben minyak goreng sisa pakai. porous carbon yang dibuat menggunakan asam nitrat mempunyai daya pemucatan terhadap minyak sisa pakai yang lebih tinggi daripada porous carbon yang lain.
Natural Zeolite Modification using Dithizone and Its Application as Adsorbent of Cu(II) Agnidian Setyorini; Suhartana Suhartana; Pardoyo Pardoyo
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 21, No 2 (2018): Volume 21 Issue 2 Year 2018
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.808 KB) | DOI: 10.14710/jksa.21.2.98-101

Abstract

Activation of zeolites with dithizone by reflux method was carried out at 50°C for 6 hours and the results were analyzed using FTIR and GSA. Furthermore, the modified zeolite dithizone was used to adsorb Cu2+ metal ions on variations of adsorption time of 5, 10, 15, 30 and 60 min, variation of adsorption pH 2, 3, 4, 5 and 6 as well as variations in concentrations of 250, 500, 1000, 1500 and 2000 ppm. The results showed that there was a vibrational shift and a new peak emerged on the FTIR zeolite activation spectrum and modified zeolite indicating that the dithizone was present in the zeolite. GSA analysis results show that the surface area of activated zeolite is greater than natural zeolite ie 4,205 m2/g and 5,459 m2/g respectively, whereas dithizone-zeolite had a much smaller surface area of 0.925 m2/g. The selectivity of adsorption of activated zeolite to Cu(II) was greater than of dithizone-zeolite. The optimum adsorption contact time was 10 min for dithizone-zeolite and 30 min for activated zeolite. The optimum adsorption pH was at pH 5 for both adsorbents, as well as the optimum adsorption concentration at 250 ppm for both adsorbents.
Pengaruh Temperatur dan Waktu Kabonisasi pada Sintesis Porous Carbon Berbahan Dasar Molase Asti Ayuk Putri Pertiwi; Pardoyo Pardoyo; Agus Subagio
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 12, No 3 (2009): Volume 12 Issue 3 Year 2009
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (812.654 KB) | DOI: 10.14710/jksa.12.3.93-97

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh temperatur dan waktu karbonisasi pada sintesis porous carbon berbahan dasar molase. Molase merupakan hasil samping pabrik gula yang memiliki kandungan sukrosa yang sudah tidak dapat dikristalkan lagi. Penelitian ini dilakukan menggunakan molase sebagai sumber karbon dan tetrametilamonium klorida sebagai pencetak pori dengan range temperatur karbonisasi pada 500 - 650°C, sedangkan range waktu karbonisasi adalah 30-180 menit. Untuk pengujian adsorptivitas porous carbon hasil variasi waktu digunakan gas benzena. Analisis permukaan dari porous carbon yang dihasilkan dilakukan dengan SEM (Scanning Electron Microscopy) untuk mengamati morfologi permukaan dan BET (Bruanuer Emmet Teller) untuk mengetahui luas permukaan dan volume pori. Dari hasil penelitian diperoleh porous carbon dengan jumlah dan morfologi molekul yang cenderung meningkat seiring dengan peningkatan temperatur, temperatur optimum diperoleh pada 600°C. Sedangkan waktu karbonisasi dan kemampuan adsorpsi terbaik diperoleh pada waktu 180 menit dengan luas permukaan 265,38 m2/gram, volume pori 187,65 x 10-3 cc/gram dan adsorptivitas sebesar 5,39 x 10-3 mol/gram.
Pemanfaatan Carbon Nanotube dan Karbon Aktif sebagai Elektroda Model Desalinasi Eko Agung Widagdo; Pardoyo Pardoyo; Agus Subagio
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 11, No 3 (2008): Volume 11 Issue 3 Year 2008
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.306 KB) | DOI: 10.14710/jksa.11.3.90-95

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang pemanfaatan carbon nanotube dan karbon aktif sebagai elektroda model desalinasi. Elektroda dibuat dari komposit carbon nanotubes/active carbon (CNT/AC). Lempeng elektroda dibuat menggunakan metode pressing dengan pengaturan suhu 180°C. Karakterisasi elektroda dilakukan dengan Scanning Electron Microscopy (SEM). Elektroda yang terbentuk digunakan pada prototipe sistem Flow Through Capasitor (FTC) dengan larutan NaCl dan MgCl2.6H2O sebagai larutan uji. Pemberian tegangan pada prototipe dengan melakukan variasi tegangan pada 1, 1,5, 2, dan 3 volt. Kapasitas serapan ion-ion ditentukan dengan melakukan waktu pengaliran larutan pada 20, 30, 40, 50, dan 60 menit. Hasil penurunan konsentrasi diketahui dari pengukuran konsentrasi ion-ion logamnya dengan instrumen AAS. Hasil penelitian yang diperoleh berupa elektroda model desalinasi dengan ukuran panjang, lebar, dan tebal masing-masing 115, 75, dan 1,5 mm. Nilai hambatan elektroda adalah 32,5 ohm, komposisi optimum karbon dan binder yaitu 80:20, dan tegangan optimum pada 1,5 volt. Jumlah elektroda model desalinasi adalah 7 pasang dan kapasitas serapan ion komposit elektroda terhadap ion Na+ dan Mg2+ selama 60 menit, masing-masing sebesar 58,51 dan 53,68%.
Pengaruh Variasi Jenis Asam terhadap Karakter Nanosilika yang Disintesis dari Abu Sekam Padi Dini Hayati; Pardoyo Pardoyo; Choiril Azmiyawati
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 20, No 1 (2017): Volume 20 Issue 1 Year 2017
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.409 KB) | DOI: 10.14710/jksa.20.1.1-4

Abstract

Abu sekam padi mengandung 80% silika sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam sintesis nanosilika. Pada penelitian ini dilakukan sintesis nanosilika dari abu sekam padi dengan variasi jenis asam yaitu HCl, H2SO4, dan H3PO4 dengan konsentrasi masing-masing 3M. Nanosilika diperoleh dengan mereaksikan natrium silikat yang diperoleh dengan melarutkan abu sekam padi dalam larutan NaOH 2,5 M kemudian proses sol gel dengan katalis asam hingga pH 7. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh nanosilika dengan katalis asam posfat dan diperoleh ukuran morfologi permukaan 40 sampai 60 nm. Nanosilika yang dihasilkan dengan katalis asam sulfat (H2SO4) menghasilkan luas permukaan dan volume total pori paling besar diantara ketiga variasi asam yang digunakan katalis asam klorida (HCl) dan asam posfat (H3PO4), yaitu luas permukaan 158,168 m2/g, volume total pori 0,2378 cc/g, dan diameter pori rata-rata 6 nm.
Sintesis Arang Aktif dari Tempurung Kelapa dan Aplikasinya Untuk Adsorpsi Asap Cair Feti Dwi Kurniati; Pardoyo Pardoyo; Suhartana Suhartana
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 14, No 3 (2011): Volume 14 Issue 3 Year 2011
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.296 KB) | DOI: 10.14710/jksa.14.3.72-76

Abstract

Sintesis arang aktif menggunakan bahan dasar tempurung kelapa telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan mensintesis arang aktif dari tempurung kelapa, menggunakan arang aktif untuk mengadsorpsi asap cair serta menentukan kondisi adsorpsi optimum berdasarkan warna, bau dan kuantitas senyawa fenolat dan asam. Aktivasi arang tempurung kelapa dilakukan menggunakan asam phospat dan natrium klorida dengan waktu perendaman 24 jam. Karakterisasi gugus fungsi dilakukan menggunakan FTIR. Adsorpsi asap cair dilakukan dengan waktu kontak 7, 30 dan 60 menit. Analisis senyawa penyusun asap cair dilakukan menggunakan GC-MS. Kadar total fenol dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan metode Follin Ciocalteau, sedangkan analisis kadar total asam menggunakan metode titrimetrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arang aktif mampu mengadsorpsi warna, bau dan menurunkan jumlah senyawa fenolat dan asam. Dan hasil terbaik untuk adsorpsi asap cair diperoleh dari arang aktif 3F (arang aktif yang diaktivasi oleh H3PO4 dengan adsorpsi selama 60 menit). Asap cair setelah adsorpsi berwarna jernih dan mempunyai bau yang tidak menyengat. Analisis gugus fungsi menunjukkan adanya gugus hidroksil dan karboksil. Analisis GC-MS menunjukkan kehilangan sejumlah senyawa pada asap cair setelah diadsorpsi. Senyawa-senyawa yang hilang umumnya didominasi oleh senyawa fenolat dan asam. Penurunan tertinggi terhadap senyawa fenolat sebesar 76,6% dan penurunan tertinggi terhadap asam sebesar 58,2%.
Sintesis dan Karakterisasi TiO2 Terdoping Nitrogen (N-Doped TiO2) dengan Metode Sol–Gel Slamet Karim; Pardoyo Pardoyo; Agus Subagio
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 19, No 2 (2016): Volume 19 Issue 2 Year 2016
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (676.007 KB) | DOI: 10.14710/jksa.19.2.63-67

Abstract

Energi celah pita yang lebar dari semikonduktor TiO2 yang setara dengan cahaya ultraviolet (l<380 nm) membatasi aplikasi fotokatalitik hanya terbatas pada daerah ultraviolet dan tidak pada daerah cahaya tampak (l = 400 nm–700 nm). Pada penelitian ini dilakukan sintesis TiO2 teremban nitrogen yang dipreparasi melalui metode sol-gel. Prekursor TiCl4 digunakan sebagai sumber titanium dioksida dan CO(NH2)2 sebagai sumber nitrogen dan divariasi pada jumlah konsentrasi N dengan variasi 20 g, 30 g, 40 g dan 50 g. Refluks dilakukan pada suhu 100oC selama 7 jam dilanjutkan dengan pengeringan selama 3 jam pada suhu 100oC, dan kalsinasi pada suhu 500oC selama 7 jam . Karakterisasi N-doped TiO2 dilakukan menggunakan X-ray Diffraction (XRD), Fourier Transform–Infra Red spectroscopy (FTIR), dan UV- Visible diffuse reflectance spectra (UV-Vis DRS). Berdasarkan data XRD diketahui bahwa kristal N- doped TiO2 berstruktur anatase dengan indeks Miller 101. Spektra FTIR menunjukkan pergeseran serapan vibrasi O-Ti-O pada bilangan gelombang 400-1050 cm-1, diperkirakan sebagai akibat terbentuknya ikatan N-Ti-O. Spektrum DRS-UV–tampak menunjukkan penurunan energi celah pita dari TiO2 yakni 3,2 eV. Dapat disimpulkan bahwa penambahan konsentrasi nitrogen mengakibatkan penurunan energi celah pita, pada variasi 20g sebesar 3,12 eV, 30 g sebesar 3,09 eV, 40 g sebesar 3,082 eV, dan 50 g sebesar 3,08 eV.
Sintesis dan Karakterisasi CNT (Carbon Nanotube) Berdopan Logam Kobalt Nur Dwi Lestari; Pardoyo Pardoyo; Agus Subagio
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 17, No 3 (2014): Volume 17 Issue 3 Year 2014
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (740.745 KB) | DOI: 10.14710/jksa.17.3.80-85

Abstract

Telah dilakukan penelitian sintesis dan karakterisasi CNT (Carbon Nanotube) dengan doping logam kobalt. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakter CNT sebelum dan setelah didoping dengan variasi konsentrasi logam 10%, 20%, 30%, 40% dan 50%. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah impregnasi basah yang meliputi perendaman pada larutan logam dan kalsinasi. Hasil impregnasi dianalisis menggunakan Fourier Transform-Infra Red (FT-IR), GSA (Gas Sorption Analysis), Scanning Electron Microscopy (SEM) dan Energy Dispersive X-Ray Spectroscopy (EDS). Analisis FT-IR menunjukkan adanya vibrasi ulur dari ikatan Co-C dan Co-O.  Hasil GSA menunjukkan bahwa CNT loading 30% mempunyai luas permukaan tertinggi yaitu 69,192 m2/g. Hasil SEM-EDS menunjukkan bahwa morfologi permukaan dinding CNT ditutupi aggregat-aggregat kobalt. Pada hasil EDS fraksi kobalt dihasilkan adalah 1,96 % yang nilainya tidak jauh berbeda dari fraksi Fe yaitu 1,49%. Hal ini menunjukkan bahwa CNT doping logam Co menggunakan metode impregnasi basah tidak efektif.