Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

The Substitution of Different Concentration of Okara Flour in Brownies Formulation Added of Flaxseed (Linum usitatissimum) as Low-Gluten Healthy Food Walgiyanti, Immas; Mahardika, Anggara; Murti, Paulus Damar Bayu
Journal Akademik Universitas Swiss German Vol 5. No. 2 (Feb 2024)
Publisher : Swiss German University & Perhimpunan Penggiat Pangan Fungsional dan Nutrasetikal Indonesia (P3FNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33555/jffn.v5i2.127

Abstract

A tofu factory produces relatively 500 kg of pulp which which have not been widely used. Therefore, this research was conducted with the aim of utilizing the remaining processed waste in the form of dregs from the harmonious processing of tofu which is quite abundant in Bandungan District, Semarang Regency. Tofu/okara waste contains various nutrients such as minerals, calcium, potassium, iron, antioxidants, and isoflavones. Substitution of okara flour mixed with flaxseed, which is a grain that contains biologically active nutrients, including omega-3, fatty acids, dietary fiber, and protein, will produce a food product in the form of low-gluten and high-fiber brownies. Consumer acceptance of color, unpleasant fragrance, soybean fragrance, sweet taste, texture, and preference was measured using an experimental research method using a RAL method with four treatments to get the best formulation. Determination of the best formulation was carried out by organoleptic test on 20 panelists and analyzed by a One-way ANOVA test followed by a DMRT test. The results of the scoring test showed that variations in wheat flour formulations and okara flour substitution had a significant effect (p<0.05) on the organoleptic value aspect. Brownies F2 (1:2) is the best formulation with the highest average value (4.75), which contains 12% wet gluten, 4.3% dry gluten, 0.07% protein, and 47.46% fiber. The product brownies with okara flour substitution and additional flaxseed can be an alternative for healthy food that is lower in gluten and high in fiber and can be developed into souvenirs typical of Bandungan.
KAROTENOID DARI LAUT SEBAGAI PEWARNA ALAMI MAKANAN: TELAAH PUSTAKA Paulus Damar Bayu Murti; Bambang Dwiloka; James Ngginak; Anggara Mahardika
Science Technology and Management Journal Vol. 1 No. 1 (2021): Januari 2021
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Nasional Karangturi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53416/stmj.v1i1.8

Abstract

Pewarna makanan menjadi fakt or penting untuk menambah estetika dari suatu produk pangan. Sumber pewarna makanandapat diperoleh baik dari alam maupun sintetik. Namun, pewarna sintetik memiliki efek samping yang buruk bagikesehatan tubuh bila dikonsumsi dalam kurun waktu yang lama. Di sisi lain, pewarna alami dapat menjadi sumber alternatifyang menjanjikan untuk digunakan sebagai pewarna makanan karena mudah diperoleh dari berbagai sumberdaya baik didaratan maupun lautan. Karotenoid merupakan suatu senyawa yang disintesis oleh organisme yang mengekspresikan warnapigmen kuning, oranye, hingga merah muda. Warna alami dari karotenoid selain digunakan sebagai pewarna juga memilikiaktivitas biologi yang mampu menunjang kesehatan. Penelitian dalam mengeksplorasi sumberdaya kelautan kini semakindiminati oleh para peneliti guna mencari senyawa bioaktif, sumber bahan pangan fungsional maupun pewarna alami yangdapat disintesis oleh biota laut yang tidak dijumpai pada organisme di darat. Review ini akan membahas tentang bagaimanamendapatkan senyawa karotenoid dari laut yang ramah lingkungan dari beberapa penelitian yang sudah dilakukan penelitidan potensi penggunaannya sebagai pewarna makanan alami di masa yang akan datang
PERMEN JELLY DENGAN PENAMBAHAN IKAN CAKALANG GUNA MENGATASI STUNTING: Sebuah Tinjauan Pustaka Paulus Damar Bayu Murti; Angela Putri Hartono; Divina Elaine Purwanto; Anggara Mahardika; Martina Widhi Hapsari; Novia Anggraeni; Windy Rizkaprilisa
Science Technology and Management Journal Vol. 2 No. 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Nasional Karangturi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53416/stmj.v2i2.96

Abstract

Permen jelly mempunyai ciri dengan rasa yang manis dan juga tekstur yang kenyal yang kebanyakan disukai oleh anak-anak bahkan hingga orang dewasa. Tekstur kenyal dari pemen jelly ini disebabkan oleh penambahan bahan pembentuk gel seperti karagenan, agar-agar, gum arab dan gelatin. Adapun terdapat efek samping jika terlalu banyak mengkonsumsi permen adalah terjadinya malnutrisi yang dapat menyebabkan seseorang tidak mendapatkan cukup nutrisi pada tubuhnya. Asupan gula yang terlalu tinggi juga dapat merampas nutrisi lain seperti kalsium karena tubuh harus menggunakannya untuk mereduksi kadar gula tersebut. Ini lah yang dapat menyebabkan seseorang dapat mengalami gejala stunting pada anak-anak. Penderita anak stunting sangat memerlukan protein dalam jumlah seimbang guna mendukung daya tahan tubuh dalam menjaga kesehatan. Review ini membahas tentang pangan fungsional yang merupakan perpaduan dari pemen jelly dengan penambahan ikan cakalang yang mengandung komponen bioaktif seperti asam lemak omega-3 dan karbohidrat yang tinggi. Permen jelly ikan cakalang dapat dikonsumsi sebagai cemilan makanan sehari-hari yang sehat dalam upaya mengatasi permasalahan stunting di Indonesia.
POTENSI PANGAN LOKAL SEBAGAI SNACK BAR MPASI BALITA: SYSTEMATIC REVIEW: INDONESIA Windy Rizkaprilisa; Rhema Alicia; Martina Widhi Hapsari; Novia Anggraeni; Paulus Damar Bayu Murti; Anggara Mahardika
Science Technology and Management Journal Vol. 3 No. 1 (2023): Januari 2023
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Nasional Karangturi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53416/stmj.v3i1.119

Abstract

Asupan gizi yang tidak terpenuhi akan menyebabkan stunting pada anak. Selain Air susu ibu (ASI) dan makanan utama, salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menambah asupan pada balita adalah memberikan makanan tambahan berupa snack. Kebutuhan balita yang tercukupi dapat mencegah terjadinya stunting. Salah satu makanan tambahan yang dapat diberikan pada balita yaitu snack bar. Jurnal ini akan menjelaskan produk – produk makanan tambahan MPASI dalam bentuk snack bar untuk mengatasi stunting pada balita. Snack bar dapat dibuat dari berbagai macam bahan pangan lokal antara lain kacang kedelai, pisang raja nangka, tepung beras, kacang merah, ubi jalar, biji nangka, kacang tunggak, tepung ikan patin, tepung ikan teri, tepung jagung, ubi kuning dan lain sebagainya. Kandungan gizi dari snack bar tersebut memiliki kandungan energi (126,935 g), karbohidrat (71,75 g) dan protein (19,928 g) yang tinggi. Kandungan gizi inovasi snack bar dari pangan lokal tersebut berpotensi memenuhi kebutuhan gizi hariannya balita sebagai makanan selingan balita.
Karakterisasi Organoleptik dan Kimia Sosis Ikan Kembung (Rastrelliger Kanagurta L.) dengan Penambahan Ampas Tahu Untuk Meningkatkan Gizi Anak: INDONESIA Jayanti Usman, Jienny; Rizkaprilisa, Windy; Murti, Paulus Damar Bayu
Journal Akademik Universitas Swiss German Vol 6. No. 1 (Aug 2024)
Publisher : Swiss German University & Perhimpunan Penggiat Pangan Fungsional dan Nutrasetikal Indonesia (P3FNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33555/jffn.v6i1.162

Abstract

Salah satu upaya pencegahan stunting pada anak adalah dengan memberikan asupan gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan anak seperti makanan yang mengandung protein dan kalsium. Ikan kembung (Rastrelliger kanagurta L.) tinggi protein, kalsium, dan fosfor yang dibutuhkan untuk pertumbuhan anak. Salah satu pemanfaatan ikan kembung adalah diolah menjadi sosis dengan menambahkan ampas tahu untuk meningkatkan nutrisi pada sosis. Ampas tahu masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan karena memiliki kandungan protein tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakterisasi kimia (kadar air, abu, lemak, protein, dan kalsium) dan organoleptik (parameter warna, aroma, tekstur, rasa, dan tingkat kesukaan) sosis ikan kembung dengan penambahan ampas tahu. Desain penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga kali ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah proporsi ikan kembung, ampas tahu, dan tepung taipoka yang meliputi F0 (45:0:20), F1 (45:5:15), F2 (45:10:10), dan F3 (45:15:5). Berdasarkan hasil analisis sensori, formula sosis terbaik adalah formula F1 dengan nilai rata-rata berdasarkan parameter warna 3.70, aroma 3.95, tekstur 3.8, rasa 3.9, dan keseluruhan 4. Hasil uji kandungan gizi formula terbaik (sosis F1) adalah kadar air 63.07%, kadar abu 2.59%, lemak 1.48%, protein 10.09%, dan kalsium 75.02 mg. Mengkonsumsi beberapa porsi sosis F1 dapat membantu memenuhi gizi balita stunting.
Difficulties Experience of Halal Product Process Assistant During Halal Certification Process Rizkaprilisa, Windy; Paramastuti, Ratih; Anggraeni, Novia; Nurvita, Silvia; Hapsari, Martina Widhi; Murti, Paulus Damar Bayu
Journal of Digital Marketing and Halal Industry Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jdmhi.2024.6.2.20335

Abstract

The increase in the issuance of halal certificates will continue to occur every year. Not all business actors understand the halal certification process, so a Proses Produk Halal (PPH) assistant is needed to educate and guide them. PPH assistant experience many obstacles when assisting business actors in registering the halal status of their products. This study aims to analyze the difficulties faced by PPH assistants and formulate ways to overcome these difficulties. Methods of this research use descriptive research that aims to systematically describe or explain a phenomenon that is currently occurring with factual data. The result of this research are most respondents have been PPH assistants for less than 1 year (57%). Business actors apply for halal certification for their products after the products are marketed (47%) and when they are required to be halal certified (53%). The reason business actors apply for halal certification is to follow government regulations (50%). The biggest difficulty experienced by PPH assistants is that business actors need to learn the importance of halal certification for their products (53%). They think that halal certification is a halal product without registering halal (63%). 80% of business actors do not know how to register for halal certification. PPH assistants feel that many business actors do not know how to access the “Si Halal” website (67%). These difficulties result in PPH assistants having different times in the halal certification process, namely more than 3 months (77%), 1-3 months (17%), and less than 1 month (7%).
Pangan fungsional dari bahan pangan tradisional: tinjauan pustaka Sia Clarissa Eleora Setiawan; Arri Yuliantara; Paulus Damar Bayu Murti
AGROINTEK Vol 18, No 3 (2024)
Publisher : Agroindustrial Technology, University of Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrointek.v18i3.15464

Abstract

With the development of the times, most people often consume fast food or what is commonly referred to as junk food.  The long-term effect causes many people to experience degenerative diseases like heart disease, diabetes, hypertension, cancer, and osteoporosis.  Therefore, there is a need for solutions so that people can maintain a lifestyle to support their health. The solution is in the form of functional food derived from traditional ingredients, such as tempeh, tape, and also several types of spices.  Functional foods are food ingredients that can provide many additional benefits to the body, apart from the basic nutritional functions of these foods.  For example, such as consuming antioxidants derived from phytochemical compounds contained in some of these traditional ingredients.  Phytochemical compounds that can act as antioxidants are used to counteract free radicals that occur in the body.  These antioxidants can be obtained from tempeh, tape, and several spices.  The spices include ginger, kencur, turmeric, temulawak, galangal, and cinnamon. Processed functional food products from several spices are used as health drinks, herbs, teas, juices, syrups, and sweets. Functional food from traditional ingredients has the potential to be developed.  This is due to the sufficient production of raw materials and the community's need for functional food from these traditional ingredients.  Regulations regarding functional food from traditional ingredients are considered insufficient, even though the government has made regulations regarding foods that have special nutrition.  The aim of this study is to elaborate several traditional food ingredients and its function to help in maintaining the health in the body. As a results, this paper presents some research data that has been done previously related to some of the advantages of traditional food ingredients
Difficulties Experience of Halal Product Process Assistant During Halal Certification Process Rizkaprilisa, Windy; Paramastuti, Ratih; Anggraeni, Novia; Nurvita, Silvia; Hapsari, Martina Widhi; Murti, Paulus Damar Bayu
Journal of Digital Marketing and Halal Industry Vol. 6 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jdmhi.2024.6.2.20335

Abstract

The increase in the issuance of halal certificates will continue to occur every year. Not all business actors understand the halal certification process, so a Proses Produk Halal (PPH) assistant is needed to educate and guide them. PPH assistant experience many obstacles when assisting business actors in registering the halal status of their products. This study aims to analyze the difficulties faced by PPH assistants and formulate ways to overcome these difficulties. Methods of this research use descriptive research that aims to systematically describe or explain a phenomenon that is currently occurring with factual data. The result of this research are most respondents have been PPH assistants for less than 1 year (57%). Business actors apply for halal certification for their products after the products are marketed (47%) and when they are required to be halal certified (53%). The reason business actors apply for halal certification is to follow government regulations (50%). The biggest difficulty experienced by PPH assistants is that business actors need to learn the importance of halal certification for their products (53%). They think that halal certification is a halal product without registering halal (63%). 80% of business actors do not know how to register for halal certification. PPH assistants feel that many business actors do not know how to access the “Si Halal” website (67%). These difficulties result in PPH assistants having different times in the halal certification process, namely more than 3 months (77%), 1-3 months (17%), and less than 1 month (7%).
Analisis Kandungan Gula Minuman Kemasan Menggunakan Pendekatan Refraktometri Sebagai Dasar Evaluasi Mutu Pangan Hapsari, Martina Widhi; Anggraeni, Novia; Novianingrum , Milka Putri; Murti, Paulus Damar Bayu
Science Technology and Management Journal Vol. 5 No. 2 (2025): Agustus 2025
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Nasional Karangturi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53416/stmj.v5i2.487

Abstract

Konsumsi minuman kemasan berpemanis semakin meningkat dan berkontribusi signifikan terhadap asupan gula harian masyarakat. Evaluasi kandungan gula pada produk minuman kemasan umumnya dilakukan melalui analisis laboratorium yang relatif kompleks dan memerlukan biaya tinggi, sehingga diperlukan pendekatan alternatif yang lebih sederhana dan cepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan gula minuman kemasan menggunakan pendekatan pengukuran total padatan terlarut (°Brix) sebagai dasar evaluasi mutu pangan. Penelitian dilakukan dengan desain deskriptif-analitik terhadap beberapa kategori minuman kemasan, meliputi teh kemasan, minuman berperisa, minuman isotonik, minuman buah, dan minuman susu. Pengukuran nilai °Brix dilakukan menggunakan refraktometer genggam dengan tiga kali ulangan, sedangkan data kandungan gula diperoleh dari label informasi gizi produk dan dikonversi ke satuan gram per 100 mL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai °Brix minuman kemasan berada pada kisaran 6,2–14,8°Brix, dengan minuman berperisa memiliki nilai tertinggi dan minuman isotonik terendah. Analisis hubungan antara nilai °Brix dan kandungan gula pada label menunjukkan adanya kecenderungan hubungan positif, meskipun pada beberapa kategori minuman ditemukan deviasi akibat kontribusi komponen terlarut lain selain gula. Hasil ini menunjukkan bahwa pengukuran total padatan terlarut menggunakan refraktometer berpotensi digunakan sebagai metode awal yang cepat dan sederhana untuk mengevaluasi kandungan gula minuman kemasan. Penelitian ini menyediakan data dasar yang dapat dimanfaatkan sebagai landasan pengembangan metode uji cepat dan riset lanjutan di bidang mutu pangan.
Effects of Caffeine Consumption on Blood Glucose Regulation: A Systematic Review Bayu Murti, Paulus Damar; Ngginak , James; Rizkaprilisa, Windy
Science Technology and Management Journal Vol. 6 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Nasional Karangturi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53416/stmj.v6i1.507

Abstract

Caffeine, a principal constituent of coffee and other beverages, has been extensively examined for its influence on metabolism, including its effect on glycemic control. This systematic review synthesizes the current evidence on the impact of caffeine on blood glucose levels in both healthy individuals and those with diabetes. The review examines the underlying mechanisms, including the reduction in insulin sensitivity and the stimulation of catecholamine release that result from caffeine consumption, which ultimately lead to a transient increase in blood glucose levels. Furthermore, the review addresses the acute and chronic effects of caffeine, emphasizing the dose-dependent nature of its impact. Although acute caffeine intake has been linked to impaired glucose tolerance and elevated blood glucose levels, habitual coffee consumption has been associated with a reduced risk of Type 2 diabetes. This suggests that other bioactive compounds in coffee may counteract the negative effects of caffeine. Nevertheless, for individuals with Type 1 and Type 2 diabetes, caffeine's potential to exacerbate glycemic control remains a concern. This review highlights the necessity for further research to elucidate the long-term consequences of caffeine consumption on glucose metabolism, particularly in diabetic populations, and to provide guidance for the safe consumption of caffeine.