Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISA PERBANDINGAN SUHU PERMUKAAN DINDING RUMAH VERNAKULAR PANTAI DAN GUNUNG Hermawan, Hermawan; Prianto, Eddy; Setyowati, Erni
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 2 No 3 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2018
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Research on thermal performance will have implications for building energy savings. The method of discussing thermal performance is varied. In this study will look at the performance of the building envelope in creating thermal comfort of buildings. The study used a field study by comparing the temperature of wall surfaces in vernacular houses in coastal and mountain areas. Measurements were carried out for 5 days in three different periods, namely the dry season to rain, the rainy season and the rainy season to the dry season. The results showed differences in wall surface temperature between vernacular houses on mountains and beaches. This is in accordance with the conditions of climate variables at different locations in height. The location of the beach has a higher tendency than the location of the mountain.Keyword: wall surface temperature, vernacular house, thermal performance  Abstrak: Penelitian tentang kinerja termal akan berimplikasi pada penghematan energi bangunan. Metode pembahasan kinerja termal banyak ragamnya. Pada penelitian ini akan melihat kinerja selubung bangunan dalam menciptakan kenyamanan termal bangunan. Penelitian menggunakan studi lapangan dengan membandingkan suhu permukaan dinding pada rumah vernakular di daerah pantai dan gunung. Pengukuran dilakukan selama 5 hari pada tiga periode yang berbeda yaitu musim peralihan kemarau ke hujan, musim hujan dan musim peralihan hujan ke kemarau.  Hasil penelitian menunjukkan perbedaan suhu permukaan dinding antara rumah vernakular di gunung dan pantai. Hal ini sesuai dengan kondisi variabel iklim pada lokasi yang berbeda ketinggiannya. Lokasi pantai mempunyai kecenderungan lebih tinggi dibanding lokasi gunung.Kata Kunci: suhu permukaan dinding, rumah vernakular, kinerja termal
KAJIAN PENCAHAYAAN ALAMI RUANG BACA PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS INDONESIA Dewantoro, Fajar; Budi, Wahyu Setia; Prianto, Eddy
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 1 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: An architectural work can be seen in terms of benefits for the community where it can provide something to support life and advance the development of the surrounding environment. In this case the case study raised was at the University of Indonesia Library, where the library was very supportive of students on campus and outside the campus.The problem discussed in this study is reviewing a tropical architectural work applied to the library, and want to know how the concept affects natural lighting in the University of Indonesia's library reading room. The study also aims to evaluate how much light intensity is in the reading room of the University of Indonesia library. In this study the method used describes and reviews all other data and information, from direct or indirect observation. This analysis uses quantative analysis by comparing the existing conditions in the field with the study and information obtained from the literature. Based on the research, it was found that in some reading room areas that had natural enlightenment, there were recommendations that were in accordance with the standards and were not yet appropriate. Therefore some additional studies are needed in designing lighting. This research is expected to provide input on natural lighting of a building that is calculated using assisted software or measuring instruments in the field.Keyword: UI Library, Reading Room, Natural Lighting.Abstrak: Suatu karya arsitektur itu dapat dilihat dari segi manfaat bagi masyarakat dimana dapat memberikan sesuatu untuk menunjang kehidupan dan memajukan pembangunan lingkungan sekitar. Dalam hal ini studi kasus yang diangkat adalah pada Perpustakaan Universitas Indonesia, dimana perpustakaan ini sangat menunjang mahasiswa dalam kampus maupun luar kampus.Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini yaitu mengkaji sebuah karya arsitektur tropis diterapkan pada perpustakaan, serta ingin diketahui bagaimana pengaruhnya konsep tersebut terhadap pencahayaan alami di ruang baca perpustakaan Universitas Indonesia tersebut. Penelitian ini juga bertujuan mengevaluasi seberapa besar intensitas cahaya pada ruang baca perpustakaan Universitas Indonesia. Pada penelitian ini metode yang digunakan menguraikan dan mengkaji semua data dan informasi lain, dari observasi langsung maupun tidak langsung. Analisa ini menggunakan analisa kuantatif dengan membandingkan antara keadaan yang ada dilapangan dengan kajian dan informasi yang didapat dari literatur. Berdasarkan penelitian didapatkan hasil bahwa pada beberapa area ruang baca yang mendapatkan pencahyaan alami, terdapat penchayaan yang sudah sesuai dengan standar dan belum sesuai. Oleh sebab itu diperlukan beberapa pengkajian tambahan dalam mendesain pencahayaan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan mengenai pencahayaan alami sebuah bangunan yang dihitung menggunakan software berbantu atau alat ukur di lapangan.Kata Kunci: Perpustakaan UI, Ruang Baca, Pencahayaan Alami.
ANALISA APLIKASI KONSEP ARSITEKTUR BIOKLIMATIK PADA SASANA KRIDA RAGA SATRIA PURWOKERTO Rusmaharani, Diyah; Prianto, Eddy
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 7 No 1 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2023
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Sasana Krida Raga Satria is a sports building located in the GOR in Purwokerto. The building is a multifunctional building, because apart from being functioned as a building that accommodates sports activities, this building is also used as a place for art activities and various other major events. In this study, an analysis of the principles and integrated design strategies of the bioclimatic design will be carried out which is applied to the Sasana Krida Raga Satria building. Based on the results of the analysis, it was found that Sasana Krida Raga Satria has fulfilled the principles and strategies of integrated bioclimatic design as evidenced by the green design approach in the tropics by utilizing solar energy as natural light for the room through skylights, the design of a room with many openings near the roof that functions as a dust filter, sunscreen and natural air circulation. The method used in this research is descriptive qualitative analysis method by collecting data from literature review and field review. The porpuse of this study is to find out the implementation of bioclimatic principles and bioclimatic design strategies in the Sasana Krida building and it can be used as design inspiration that is more aware of the welfare and health of users, integrates with the environment and creates energy-efficient designs.Abstrak: Sasana Krida Raga Satria merupakan gedung olahraga yang terdapat di dalam GOR Kota Purwokerto. Gedung termasuk gedung yang multifungsi, karena selain difungsikan sebagai bangunan yang mewadahi kegiatan olahraga, gedung ini juga dimanfaatkan sebagai tempat kegiatan kesenian dan berbagai acara besar lainnya. Dalam penelitian ini akan dilakukan analisis mengenai prinsip-prinsip beserta strategi desain terpadu dari desain bioklimatik yang diaplikasikan ke dalam bangunan Sasana Krida Raga Satria. Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa Sasana Krida Raga Satria telah memenuhi prinsip dan strategi desain terpadu bioklimatik yang dibuktikan dengan pendekatan desain hijau di daerah tropis dengan memanfaatkan energi matahari sebagai cahaya alami ruangan melalui skylight, desain ruangan yang banyak bukaan didekat atap yang berfungsi sebagai filter debu, sunscreen dan tempat sirkulasi udara alami. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis diskriptif secara kualitatif dengan melakukan pengumpulan data dari kajian pustaka literatur serta tinjauan lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana prinsip dan desain terpadu bioklimatik diterapkan dan diharapkan dapat dijadikan inspirasi desain yang lebih memperhatikan kesejahteraan dan kesehatan pengguna, terintegrasi dengan ligkungan dan menciptakan desain hemat energi.
ANALISIS DESAIN BIOKLIMATIK PADA BANGUNAN RUMAH TINGGAL TROPIS (STUDI KASUS: RUMAH HEINZ FRICK SEMARANG) Utama, Hari; Prianto, Eddy
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6 No 2 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Global warming is one of the main causes of environmental quality deterioration. This phenomenon is closely related to the acceleration of industrialism and the increased of uncontrolled energy consumption. The building sector donates for 40% of global energy use and is responsible for 30% of the global greenhouse effect. This study discusses the implementation of bioclimatic design criteria in small buildings with Heinz Frick House in Semarang as the object of study. The research was conducted using a qualitative descriptive method. The data were analyzed using bioclimatic design theory in the book “Bioclimatic Housing – Innovative Design for Warm Climates” by Hyde (2012). The results showed that Heinz Frick House building has implemented the bioclimatic design criteria. This residential building applies 6 of 6 principles, 5 of 6 elements, and 2 of 3 bioclimatic design engineering strategies. The building concept “in harmony with the environment and able to support itself” is well realized through adaptive passive design and maximizing environmental conditions, as well as the fulfillment and independent resources processing.Abstrak: Pemanasan global merupakan salah satu penyebab utama penurunan kualitas lingkungan. Fenomena ini erat kaitannya dengan percepatan industrialisme dan konsumsi energi yang semakin tidak terkendali. Sektor bangunan menyumbang 40% dari penggunaan energi global dan bertanggung jawab atas 30% efek rumah kaca global. Penelitian ini membahas penerapan kriteria desain bioklimatik pada bangunan skala rendah dengan objek penelitian adalah Rumah Heinz Frick di Semarang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis menggunakan teori desain bioklimatik dalam buku “Bioclimatic Housing – Innovative Design for Warm Climates” karya Hyde (2012). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangunan Heinz Frick House telah memenuhi kriteria desain bioklimatik. Bangunan hunian ini menerapkan 6 dari 6 prinsip, 5 dari 6 elemen, dan 2 dari 3 strategi rekayasa desain bioklimatik. Konsep bangunan “selaras dengan lingkungan dan mampu menopang dirinya sendiri” diwujudkan dengan baik melalui desain pasif adaptif dan memaksimalkan kondisi lingkungan, serta pemenuhan dan pengolahan sumber daya secara mandiri. 
PENERAPAN PRINSIP BANGUNAN TROPIS PADA MASJID AL MANSHUR WONOSOBO Astuti, Margaretnaning Dyah; Prianto, Eddy
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6 No 3 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Indonesia is one of the regions that has a humid tropical climate. The humid tropics are located around the equator to approximately 15o north and south. One of the public buildings that must have good thermal comfort is the mosque. In this study, the object of the mosque is used because places of worship need to consider various aspects and one of them is thermal comfort. It is intended that users can perform worship solemnly. Meanwhile, this study aims to determine whether the mosque building which has a traditional Javanese design adequately responds to local climatic conditions where traditional Indonesian buildings should have taken into account the climatic conditions of the local area. From this research also resulted that the design of the Al Manshur Mosque building has responded to the surrounding climatic conditions. This is in terms of the shape of the roof, openings that have a solar heat barrier, crossing ventilation systems, and minimal openings in the west.Abstrak: Indonesia adalah salah satu wilayah yang memiliki iklim tropis lembab. Daerah Tropis lembab memiliki letak yaitu berada di sekitar khatulistiwa hingga kurang lebih 15o utara dan selatan. Salah satu bangunan publik yang harus memiliki kenyamanan termal yang baik adalah Masjid. Pada penelitian ini menggunakan objek masjid dikarenakan tempat ibadah perlu mempertimbangkan berbagai aspek dan salah satunya adalah kenyamanan termal. Hal ini bertujuan supaya pengguna dapat melakukan ibadah dengan khusyuk. Sedangkan dari penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui apakah bangunan Masjid yang memiliki desain tradisional Jawa ini cukup merespon kondisi iklim setempat yang mana bangunan tradisional asli Indonesia semestinya sudah mempertimbangkan kondisi iklim wilayah setempat. Dari penelitian ini pula dihasilkan bahwa bangunan Masjid Al Manshur ini desainnya sudah merespon kondisi iklim sekitar. Hal ini ditinjau dari Bentuk atap, Bukaan yang memiliki penghalang panas matahari, sistem ventilasi yang menyilang, dan bukaan yang minim pada arah barat.
SISTEM PENGHAWAAN PADA KAMAR HOTEL Pandora Raharjo, Maria Carizza; Budi, Wahyu Setia; Prianto, Eddy
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6 No 2 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Nowadays, development in urban areas is progressing very rapidly, accompanied by an increase in the number of residents and various kinds of activities carried out. Seeing this phenomenon, many developers are competing to build multi-layered high buildings. Air conditioning systems in high-rise buildings are generally carried out with artificial air arrangements. The Grand Edge Hotel Semarang building is one of the multi-layered high-rise buildings that will be the case study. This hotel building is located in Semarang on an area of 2860 m2, 7 floors above ground and 3 basement floors as deep as 9 meters from ground level, total floor area is 15,958 m2. The electricity used from PLN is 700 KVA, equipped with 1 generator unit with a capacity of 650 KVA. The ventilation system used in this building is in the form of an artificial air system, including: Direct Air Conditioning (AC) Fan Coil Unit with Split Ducting system, as many as 117 units, with capacities of 1.5 PK, 2 PK, 3.5 PK and 10 PK. The ventilation system used in terms of the specifications of the AC unit used is able to produce conditions according to the PERMENKES No. 1077/MENKES/PER/V/2011, especially in hotel rooms. The information obtained at this time is a prelude to obtaining quantitative-qualitative data about the existing problems, as well as the form of the solution, it is necessary to deepen and add cases in the project.Abstrak: Dewasa ini pembangunan di perkotaan melaju sangat pesat yang disertai dengan jumlah peningkatan penduduk dan berbagai macam aktivitas yang dilakukan nya. Melihat fenomena tersebut maka banyak dari para developer berlomba-lomba untuk membangun bangunan tinggi berlapis. Sistem penghawaan pada bangunan tinggi umum nya dilakukan dengan tatanan udara buatan. Bangunan Hotel Grand Edge Semarang adalah salah satu bangunan tinggi berlapis yang akan menjadi studi kasus ini. Bangunan hotel ini terletak di Semarang diatas lahan 2860 m2, berlantai 7 lapis diatas tanah dan 3 lantai basement sedalam 9 meter dari permukaan tanah, luas lantai total 15.958 m2. Tenaga listrik yang digunakan dari PLN sebesar 700 KVA, dilengkapi 1 unit genset dengan kapasitas 650 KVA. Sistem penghawaan yang digunakan bangunan ini berupa tatanan udara buatan, meliputi : Air Conditioning (AC) langsung Fan Coil Unit dengan sistem Split Ducting, sebanyak 119 buah, dengan kapasitas 1,5 PK, 2 PK, 3,5 PK dan 10 PK. Sistem penghawaan yang digunakan dari sisi spesifikasi unit AC yang dipakai mampu menghasilkan kondisi yang sesuai standar PERMENKES No. 1077/MENKES/PER/V/2011, khususnya pada kamar hotel.  Info yang didapatkan saat ini adalah sebuah awalan untuk mendapatkan data kuantitatif-kualitatif tentang permasalahan yang ada, serta bentuk solusinya perlu diadakan pendalaman dan penambahan kasus di proyek.
KETANGGUHAN TERMAL: MENGANALISIS BENTUK ATAP VERNAKULAR DALAM MENGATUR SUHU DAN KELEMBAPAN Shofie, Athia; Prianto, Eddy
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Vernacular architecture is still used today, especially in rural areas because almost all residents do not have expertise in the field of architecture. In theory, this concept is worthy of use because it can respond to surrounding conditions. However, in reality, many residents of vernacular houses feel as hot as the residents of Slagi Jepara Village feel. Moreover, coastal areas have higher temperatures than other types of areas. This causes the house to be more adaptable by providing maximum thermal performance. The roof will receive the most heat from outside, so the role of the roof in regulating building temperature is important. Therefore, this research was carried out with the aim of knowing the thermal performance of several types of vernacular roofs so as to obtain the form of vernacular roof that has the best thermal performance. Using quantitative methods with the help of data loggers to record the temperature and humidity of the under-roof and exterior spaces. As a result, the roof of Limasan Lawakan has better thermal performance than the roof of Limasan Maligi Gajah. This is in accordance with research which states that the height and air circulation on the roof affect the thermal performance values.Keyword: Kinerja Termal, Atap, Arsitektur VernakularAbstrak: Arsitektur vernakular masih digunakan hingga sekarang terlebih di pedesaan karena hampir semua warganya tidak memiliki keahlian di bidang arsitektur. Dalam teorinya, konsep ini memang layak digunakan karena dapat merespon kondisi sekitar. Namun, pada kenyataannya banyak penghuni rumah vernakular yang merasa panas seperti yang dirasakan warga Desa Slagi Jepara. Terlebih wilayahnya berupa pesisir memiliki suhu lebih tinggi daripada tipe wilayah yang lain. Hal ini menyebabkan rumah harus lebih bisa beradaptasi dengan memberikan kinerja termal yang lebih maksimal. Panas dari luar akan diterima paling banyak oleh atap sehingga peran atap dalam mengatur suhu bangunan menjadi penting. Maka dari itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui kinerja termal beberapa tipe atap vernakular sehingga didapatkan bentuk atap vernakular yang memiliki kinerja termal paling baik. Menggunakan metode kuantitatif dengan bantuan alat data logger untuk mencatat suhu dan kelembapan ruang bawah atap dan eksterior. Hasilnya, atap limasan lawakan memiliki kinerja termal lebih baik daripada atap limasan maligi gajah. Hal ini sesuai dengan penelitian yang menyebutkan bahwa ketinggian dan sirkulasi udara pada atap mempengaruhi nilai kinerja termal.Kata Kunci: Kinerja Termal, Atap, Arsitektur Vernakular
PENGARUH BESARAN RASIO BUKAAN TERHADAP KENYAMANAN TERMAL PADA KAMAR KOS DI SALATIGA Kusuma, Aditya Arya; Prianto, Eddy
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i2.3915

Abstract

Abstract: The aperture ratio is one of the important factors for the thermal comfort of a space. The size of the opening affects natural ventilation besides the influence of building location, orientation, and local climate. This study aims to determine the influence of the aperture ratio on thermal comfort. The research was conducted in one of the boarding houses in the city of Salatiga. The building studied is one that requires natural ventilation to reduce the cost of artificial ventilation consumption. This research used a quantitative research method by measuring indoor and outdoor air temperature and humidity. The study shows that the room conditions in the boarding house, which has an opening ratio of 38,89% to the floor area, still meet the humidity comfort standard. However, in terms of temperature, it has exceeded the comfort standard due to the research being conducted during extreme weather conditions. Keyword: Aperture ratio, thermal comfort, ventilation Abstrak: Rasio bukaan merupakan salah satu faktor yang penting terhadap kenyamanan termal sebuah ruang. Besaran bukaan berpengaruh terhadap penghawaan alami selain dari pengaruh letak bangunan, orientasi, dan iklim setempat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh besaran rasio bukaan terhadap termal. Lokasi penelitian berada di salah satu bangunan kos yang ada di Kota Salatiga. Bangunan yang menjadi obyek penelitian ini adalah bangunan yang benar-benar membutuhkan penghawaan alami untuk mengurangi biaya konsumsi penghawaan buatan. Penelitian yang dilakukan ini menggunakan metode penelitian kuantiatif dengan melakukan pengukuran suhu udara dan kelembapan pada dalam ruangan dan luar ruangan. Penelitian ini  menunjukkan bahwa kondisi ruangan pada bangunan kos tersebut yang memiliki rasio bukaan sebesar 38,89% terhadap luas lantai masih ada pada standar kenyamanan pada aspek kelembapan. Sedangkan pada aspek suhu sudah melewati batas standar kenyamanan yang disebabkan oleh pelaksanaan penelitian dilakukan pada saat cuaca yang tergolong ekstrem. Kata Kunci: rasio bukaan, kenyamanan termal, penghawaan
ANALISIS PERBANDINGAN EFEKTIVITAS VEGETASI DAN NAUNGAN BUATAN DALAM MENINGKATKAN KENYAMANAN TERMAL RUANG TERBUKA KAMPUS salsabella, Syeril; Prianto, Eddy
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i2.3955

Abstract

Abstract: Global warming and massive urbanization have created significant challenges in managing thermal comfort in campus open spaces, particularly in tropical climate regions. This research analyzes the comparative effectiveness of vegetation and artificial shading in improving thermal comfort in campus open spaces, with case studies in three different locations at Diponegoro University: S3 Garden (with artificial shading), S2 Garden (with dense vegetation), and Building A Front Garden (with minimal natural shading). Through a quantitative approach with 24-hour temperature and humidity observations, the research reveals significant differences in thermal performance across the three locations. The S2 Garden with dense vegetation demonstrates the best performance in creating balanced thermal comfort, maintaining an average temperature of 28.5°C with approximately 78% humidity through evapotranspiration processes. Meanwhile, artificial shading in the S3 Garden, although effective in controlling temperature increases up to 34.5°C, shows limitations in regulating humidity, which drops to 41.9% during daytime. The area with minimal shading experiences the most extreme conditions, with temperatures reaching 36.9°C and the largest humidity fluctuations. Research findings indicate that vegetation integration is the most effective strategy in creating sustainable thermal comfort in tropical campus environments, capable of combining temperature control and humidity regulation through natural processes. This research contributes to the development of design guidelines for thermally comfortable and sustainable campus open spaces. Keyword: Vegetation, Artificial Shading, Thermal Comfort, Campus Open Spaces, Abstrak: Pemanasan global dan urbanisasi yang masif telah menciptakan tantangan signifikan dalam pengelolaan kenyamanan termal di ruang terbuka kampus, terutama di kawasan beriklim tropis. Penelitian ini menganalisis perbandingan efektivitas antara vegetasi dan naungan buatan dalam meningkatkan kenyamanan termal di ruang terbuka kampus, dengan studi kasus di tiga lokasi berbeda di Universitas Diponegoro: Taman S3 (dengan naungan buatan), Taman S2 (dengan vegetasi padat), dan Taman Depan Gedung A (dengan naungan alami minim). Melalui pendekatan kuantitatif dengan pengamatan suhu dan kelembaban selama 24 jam, penelitian mengungkapkan perbedaan signifikan dalam kinerja termal di ketiga lokasi tersebut. Taman S2 dengan vegetasi padat menunjukkan kinerja terbaik dalam menciptakan kenyamanan termal yang seimbang, mampu mempertahankan suhu rata-rata 28,5°C dengan kelembaban sekitar 78% melalui proses evapotranspirasi. Sementara itu, naungan buatan di Taman S3, meskipun efektif dalam mengendalikan kenaikan suhu hingga 34,5°C, menunjukkan keterbatasan dalam mengatur kelembaban yang turun hingga 41,9% pada siang hari. Area dengan naungan minim mengalami kondisi paling ekstrem, dengan suhu mencapai 36,9°C dan fluktuasi kelembaban terbesar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi vegetasi merupakan strategi paling efektif dalam menciptakan kenyamanan termal berkelanjutan di lingkungan kampus tropis, mampu mengombinasikan pengendalian suhu dan pengaturan kelembaban melalui proses alami. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan pedoman desain ruang terbuka kampus yang nyaman secara termal dan berkelanjutan. Kata Kunci: Vegetasi, Naungan Buatan, Kenyamanan Termal, Ruang Terbuka Kampus  
Kajian Literatur Sistematis (SLR): Bentuk Facade Bangunan terhadap Kenyamanan Termal Young, Hepi Duchovny; Prianto, Eddy
Arsitekta : Jurnal Arsitektur dan Kota Berkelanjutan Vol. 7 No. 01 (2025): Arsitekta: Jurnal Arsitektur dan Kota Berkelanjutan
Publisher : Program Studi Arsitektur Universitas Tanri Abeng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47970/arsitekta.v7i01.813

Abstract

Mengingat pentingnya efisiensi energi dan adaptasi terhadap perubahan iklim di seluruh dunia, penelitian ini menyelidiki literatur sistematis (SLR) tentang bagaimana bentuk facade bangunan dalam memengaruhi kenyamanan termal. Tujuannya adalah untuk mempelajari teori, metodologi, dan hasil penelitian sebelumnya serta elemen facade yang memengaruhi kenyamanan termal. Selain itu, penulis ingin menyelidiki hubungan antara geometri, material, dan kinerja termal facade. Analisis artikel dilakukan dengan metode SLR dan diambil dari basis data seperti jurnal internasional (Scopus, Google Scholar, Researchgate, dll) dan jurnal nasional berindeks SINTA 1-3. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk facade yang sederhana dan simetris, penggunaan bahan insulatif dan reflektif, dan penggunaan teknologi baru seperti fasad hijau dan pintar, semua berkontribusi pada kenyamanan termal. Selain itu, orientasi bangunan, rasio jendela-dinding (WWR), dan iklim lokal sangat penting. Facade yang dapat disesuaikan dengan lingkungan dapat meningkatkan efisiensi energi. Hasil penelitian ini akan membangun suatu pondasi untuk desain facade yang ramah lingkungan, hemat energi, keberkelanjutan dan tentunya juga kenyamanan termal.
Co-Authors Abd. Rasyid Syamsuri Abdi kusuma, Abdi Abdul Malik Adela Carera Agung Budi Sardjono Agung Dwiyanto Almesa Yuli Hasyyati, Almesa Yuli Amalia Alifiani, Amalia Amalia, Alifiani, Amalia, Amat Rahmat Anisa Anisa Ansari, Vira Arman Susilo Arta Okta listiani, Arta Okta ashim furqoni Astuti, Margaretnaning Dyah Atiek Suprapti Bagus Wicaksono Baharrudin Purbahanggita Bakhtiar Bakhtiar Bambang Irawanto Bambang Setioko Bambang Sujono Bambang Supriyadi bambang suyono Bharoto Bharoto Carera, Adela desy ratna Dewantoro, Fajar Dewantoro, Fajar Dewi Murti Sari, Dewi Eddy Hermanto Eddy Indarto Edy Darmawan Eko Budihardjo Eko Budihardjo Erni Setyowati Furqoni, Ashim Gagoek Hardiman Gagoek Hardiman Gunawan, I Gusti Ngurah Anom Hardiman, Gagok Hari Utama Harianja, Bernard Hendro Trilistyo Henry Soleman Raubaba, Henry Soleman HERMAWAN Hermawan Hermawan Hidayatullah, Muhammad Irsyad Hilda, Syarifa ichsan ahmadi Ikhwanul Ahfadz, Ikhwanul Jono Wardoyo Jono Wardoyo jumratul akbar, jumratul Kusuma, Aditya Arya Margaretnaning Dyah Astuti Maria Carizza Pandora Raharjo MARIA ROSITA MAHARANI Mitsalina Ghoisanie Muh Nur Muh Nur Muhammad Sahid Indraswara Muhammad, Huda Pandora Raharjo, Maria Carizza Pratama, Riza Adi Putri, Paskalia Utari Raharja, Maria Carizza Pandora Rahmadhani, Arisca Dian Rahmat, Amat Ruliyanto Ruliyanto, Ruliyanto Rusmaharani, Diyah Sahid, M salsabella, Syeril Satrio Nugroho Septana Bagus Pribadi Septana, Septana Septana, Septana Setia Budi Sasongko Setyowati , Erni Shofie, Athia Shofie, Athia Maulida Tsania Sigit Ashar Setyoaji, Sigit Ashar Sinaga, Gabriela Maibana Siti Zahra Arafah sukawi sukawi Titien Woro Murtini Totok Roesmanto Tsani, Nauvaldy Amru Utama, Hari Vira Ansari Wahyu Setia Budi Widiastuti, Ratih Windarta, Jaka Yoga Pratama, Syndu Muhammad Young, Hepi Duchovny Zafira, Salma Hafni