Claim Missing Document
Check
Articles

Perubahan Morfologi Rumah Sederhana dengan Mempertimbangkan Aspek Desain Pasif Anisa, Anisa; Prianto, Eddy
Arsitekta : Jurnal Arsitektur dan Kota Berkelanjutan Vol. 7 No. 01 (2025): Arsitekta: Jurnal Arsitektur dan Kota Berkelanjutan
Publisher : Program Studi Arsitektur Universitas Tanri Abeng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47970/arsitekta.v7i01.850

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji atau menganalisis perubahan morfologi rumah sederhana dengan mempertimbangkan aspek desain pasif. Rumah sederhana yang diteliti adalah rumah dengan luas bangunan awal 36m2 dan 45 m2. Karena adanya kebutuhan yang berkembang maka ruang-ruang pada rumah mengalami perubahan. Dalam melakukan perubahan, pengguna akan mempertimbangkan beberapa hal, salah satunya adalah desain pasif. Desain pasif pada rumah dapat mendukung kenyamanan bagi penggunanya. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif dengan cara pengambilan data melalui observasi langsung dan wawancara. Pengambilan data dilakukan pada 6 rumah di Kota Depok, Jawa Barat, Indonesia. Analisis kualitatif dilakukan bersamaan dengan proses pengambilan data dengan peneliti sebagai instrumen utama. Hasil dari penelitian ini adalah enam kasus penelitian memenuhi empat prinsip desain pasif yaitu orientasi bangunan, daerah pembayang, ventilasi udara alami, dan konfigurasi ruang. Sedangkan tema temuan pada penelitian ini adalah : (1) desain pasif yang diaplikasikan berkaitan dengan orientasi bangunan. Pada rumah menghadap timur-barat, kanopi panjang digunakan sebagai elemen pembentuk bayangan, sehingga panas matahari tidak masuk ke dalam rumah secara langsung; (2) elemen fisik yang digunakan untuk memasukkan cahaya dan pertukaran udara adalah pintu, jendela, dan roster. Walaupun pada beberapa kasus menjadi kurang maksimal minimnya ventilasi silang; (3) keberadaan halaman memberikan kontribusi positif berkaitan dengan kenyamanan penghuni baik secara visual maupun termal. Halaman dapat mengurangi panas yang masuk ke dalam rumah; (4) adanya pengaturan ruang disesuaikan dengan kebutuhan dan kenyamanan
Pengaruh Atap Transparan Terhadap Kinerja Termal Gedung Persipda Kota Salatiga Ruliyanto, Ruliyanto; Prianto, Eddy
PUBLIKASI RISET ORIENTASI TEKNIK SIPIL (PROTEKSI) Vol 5 No 2 (2023): Vol. 5 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/proteksi.v5n2.p67-83

Abstract

Gedung Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Persipda) Kota Salatiga memiliki tampilan arsitektural yang unik dan berbeda dengan bangunan sekitarnya, yaitu terdapat model atap transparan pada puncak atapnya. Hal ini dimaksudkan untuk memasukkan cahaya alami pada siang hari, sehingga dapat menghemat pemakaian energi. Konsep atap transparan tersebut membawa dampak pada ketidaknyamanan termal, sebab disamping memberikan sinar terang, cahaya alami dari sinar matahari juga membawa panas melalui proses radiasi. Kondisi tersebut menciptakan suhu ruang yang panas pada lantai 2. Berdasar dari permasalahan tersebut, dibutuhkan studi untuk mengevaluasi gedung Persipda sudah memenuhi kenyamanan termal atau belum dilihat dari indikator kinerja termalnya. Metode penelitian menggunakan metode kuantitatif, dengan cara melakukan pengukuran langsung indikator kinerja termal (temperatur & kelembaban) pada eksterior dan interior setiap lantai gedung ini. Sehingga kinerja termal pada bangunan ini dapat diketahui secara spesifik melalui indikator kinerja termal dari masing – masing selimut bangunannya.
Analysis of the Influence of Air Conditioning System on the Assessment Rating of Green Buiding Certification "Greenship Existing Building" Bakhtiar, Bakhtiar; Windarta, Jaka; Prianto, Eddy
Journal of Social Research Vol. 4 No. 11 (2025): Journal of Social Research
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/josr.v4i10.2828

Abstract

This study aims to analyze the influence of the air conditioning system on achieving the Green Building certification rating for Greenship Existing Building PT Pamapersada Nusantara Head Office. The air conditioning system is a key aspect in assessing green building performance, particularly in the categories of energy efficiency, indoor air quality, and thermal comfort. The research method used was a descriptive quantitative approach with secondary data analysis in the form of energy audit documents, electricity consumption measurements, and technical data from the HVAC system installed in the building. The results show that the air conditioning system significantly contributes to points earned in the Energy Efficiency and Conservation (EEC) and Indoor Health and Comfort (IHC) categories. The implementation of an energy-efficient HVAC system, the use of high-efficiency equipment, and sound operational management can increase the efficiency of electrical energy consumption to the required limit. Indoor air quality is maintained according to standards, which positively impacts the comfort and productivity of building occupants. The results confirm that the air conditioning system is a strategic factor in achieving green building certification and serves as an important foundation for energy management and environmental sustainability efforts in existing buildings.
KINERJA TERMAL FASAD DINDING KAYU PADA RUMAH VERNAKULAR DESA SLAGI, KOTA JEPARA Shofie, Athia Maulida Tsania; Prianto, Eddy
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 14, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2024.v14i2.06

Abstract

Rumah dengan konsep vernakular menjadi pilihan yang umum digunakan di pedesaan Indonesia. Konsep ini dinilai paling cocok karena tidak membutuhkan orang dengan keahlian arsitektur dan menggunakan material tradisional yang sudah ada. Selain itu, rumah vernakular juga menyesuaikan dengan iklim setempat sehingga dirasa dapat memberikan kenyamanan. Hal ini juga berlaku di Desa Slagi, Kota Jepara yang sebagian besar rumahnya menggunakan kayu karena merupakan bahan tradisional. Namun, pada kenyataannya rumah vernakular di Desa Slagi justru terasa lebih panas dari suhu di luar dan menimbulkan ketidaknyamanan bagi penggunanya. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian terhadap fasad dinding kayu rumah vernakular apakah memiliki kinerja termal yang baik agar memberi kenyamanan pada penghuni. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja termal fasad dinding kayu rumah vernakular. Menggunakan metode penelitian in-situ dengan mengumpulkan data kuantitatif menggunakan alat ukur data logger untuk mengetahui variabel suhu dan kelembaban udara di dalam rumah. Akibatnya, fasad dinding kayu rumah vernakular tidak memiliki kinerja termal suhu yang baik dengan nilai -1,33°C tetapi memiliki kinerja termal kelembaban yang baik sebesar 3,4%. Hal ini sejalan dengan salah satu penelitian yang menyebutkan bahwa material kayu menyerap dan menyimpan panas sehingga suhu di dalam ruangan menjadi lebih panas.
Trees Configuration Model for Hot Humid Tropic Urban Parks Wardoyo, Jono; Budihardjo, Eko; Prianto, Eddy; Nur, Muh
RUAS Vol. 9 No. 2 (2011)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2011.009.02.2

Abstract

Main climatic thermal problems in urban park in hot humid tropic area are how to minimize high solar radiation and to optimize the wind. Trees have potentials in ameliorating urban park microclimate. Trees configuration is one of determining factors to get benefit of vegetation potential in hot humid urban park.Microclimate simulation of 3 (three) different tree configurations in selected urban park model is carried out with three-dimensional numerical model, ENVI-Met V.3.1 which simulates the microclimatic changes within urban environments in a high spatial and temporal resolution. The simulation results show that an east – west orientation tree line configuration model has a higher temperature reduction compared with the base case model.Keywords: Urban park, hot humid tropic, tree configuration model
Redesain Ruang Ibadah Masjid Agung Pati Berdasarkan Performa Kenyamanan Termal, Visual, Dan Akustik furqoni, ashim; Prianto, Eddy; Sardjono, Agung Budi; Hardiman, Gagoek
RUAS Vol. 20 No. 2 (2022)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2022.020.02.4

Abstract

Architecture is a place to move comfortably. The mosque is the four worshippers of muslims who should have an optimal level of comfort. This study aims to examine the comfort performance of the prayer room of the Great Mosque of Pati based on applicable theories and standards, then design based on the results of a comfort study to get a prayer room design that meets the comfort criteria for its users. The research was conducted by dividing the prayer room into 16 points. At each point, 3 measurements are carried out, namely thermal, lighting, and noise measurements both in the morning, afternoon, afternoon, and evening. From the measurement results, it is known that the average temperature in the worship room is 27.4 °C, meaning that the temperature is hotter than the standard of comfort (<27 °C). The average exposure is 103.5 lux, meaning the lighting is darker than required (200 lux). The average noise is 61.7 dB, meaning that the situation inside the worship room is noisier than the maximum noise level allowed for the worship space (55 dB).
Dialectics of Low Energy Design, Accessibility, and Materiality in Tropical Urban Crisis Young, Hepi Duchovny; Setyowati , Erni; Prianto, Eddy; Dwiyanto, Agung
ASTONJADRO Vol. 14 No. 4 (2025): ASTONJADRO
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/astonjadro.v14i4.21183

Abstract

This research examines the development of tropical buildings that address the challenges of climate change and population growth by integrating accessibility for all and designing buildings that consume less energy. This research aims to assess the social and technical conflicts between accessibility and energy efficiency, and to develop an evaluation framework based on optimization algorithms that finds a balance between the two. Testing phase change materials (PCMs), energy modelling using Energy Plus, and critical policy analysis employing Critical Discourse Analysis (CDA) are all integral components of the mixed-methods approach. The primary result is that PCMs can help maintain more stable temperatures without requiring significant insulation; however, issues with regulations and design persist. Standard designs may exceed energy limits, but generally make it more challenging to achieve places. Research indicates that to create inclusive and sustainable tropical architecture, it is essential to establish integrated criteria and employ a transdisciplinary approach.
TRANSFORMASI MATERIAL PELINGGIH MERAJAN/SANGGAH DI BALI PERIODE TAHUN 1970 SAMPAI DENGAN 2024 Gunawan, I Gusti Ngurah Anom; Prianto, Eddy
NALARs Vol. 25 No. 1 (2026): NALARs Vol 25 No 1 Januari 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji transformasi material pada pelinggih Merajan/Sanggah di Bali dari tahun 1970 hingga 2024, dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, faktor ekonomi, dan perubahan sosial-budaya. Pada periode 1970-1990, material tradisional seperti batu alam, kayu, dan ijuk mendominasi pembangunan pelinggih, dipilih karena nilai spiritual serta estetika yang melekat pada material tersebut. Namun, pada akhir periode ini, modernisasi mulai memperkenalkan material seperti beton dan bata press, yang lebih efisien dan mudah diakses. Pada periode 1991-2000, penggunaan material modern seperti beton cetakan dan genteng keramik meningkat seiring perkembangan teknologi konstruksi yang mempermudah proses pembangunan. Material modern ini menawarkan daya tahan dan efisiensi lebih tinggi, meskipun mengurangi keaslian nilai spiritual bangunan. Memasuki periode 2001-2024, muncul tren keberlanjutan yang mendorong penggunaan material ramah lingkungan, seperti bata daur ulang dan genteng berkelanjutan. Kesadaran terhadap pelestarian lingkungan semakin terintegrasi dalam proses pembangunan, dengan revitalisasi material lama yang berfokus pada pengurangan limbah konstruksi dan menjaga nilai budaya.Faktor-faktor yang mendorong perubahan material ini termasuk inovasi teknologi, pertimbangan ekonomi, dan globalisasi yang mempengaruhi preferensi masyarakat Bali. Kesimpulannya, perubahan material pada pelinggih Merajan/Sanggah mencerminkan adaptasi terhadap modernisasi dan upaya untuk menjaga keseimbangan antara efisiensi, keberlanjutan lingkungan, serta pelestarian nilai budaya. Penelitian ini memberikan wawasan penting bagi pengembangan arsitektur tradisional yang mampu beradaptasi dengan zaman tanpa mengabaikan aspek keberlanjutan dan spiritualitas.   This study examines the transformation of materials in Merajan/Sanggah shrines in Bali from 1930 to 2024, influenced by technological developments, economic factors, and socio-cultural changes. During the 1930-1990 period, traditional materials such as natural stone, wood, and ijuk (palm fibre) dominated shrine construction due to their spiritual and aesthetic values. However, modernisation introduced materials such as concrete and pressed bricks, which were more efficient and accessible. In the 1991-2000 period, the use of modern materials like cast concrete and ceramic roof tiles increased as construction technology advanced. Entering the period of 2001-2024, sustainability trends encouraged the adoption of eco-friendly materials, such as recycled bricks and sustainable roof tiles. The primary factors driving these material changes included technological innovation, economic considerations, and globalisation, which have influenced the preferences of Balinese communities. To conduct the study, a qualitative descriptive research design with the case study approach was adopted. Data were collected through field observations, interviews with Balinese traditional architects (undagi) and local communities, and document analysis. The analysis techniques applied included thematic, comparative and sustainability analyses to assess the impact of material transformation on cultural values and environmental sustainability. Findings of the study denote the material changes in Merajan/Sanggah shrines that reflect an adaptation to modernisation while striving to maintain a balance between efficiency, environmental sustainability, and cultural preservation.
OPTIMALISASI DESAIN RUANG TERBUKA UNTUK MENINGKATKAN KENYAMANAN TERMAL (STUDI KASUS: TAMAN ALUMNI ARSITEKTUR UNIVERSITAS DIPONEGORO) Tsani, Nauvaldy Amru; Prianto, Eddy; Setyowati, Erni
NALARs Vol. 25 No. 1 (2026): NALARs Vol 25 No 1 Januari 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kenyamanan termal merupakan salah satu aspek krusial dalam desain ruang terbuka, terutama di wilayah berklim tropis lembab seperti Kota Semarang. Kenyamanan termal saat ini sulit didapatkan manusia saat berada di ruang luar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kenyamanan termal dengan dilakukannya pengoptimalan desain ruang terbuka di Taman Alumni Departemen Arsitektur, Universitas Diponegoro. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif melalui observasi lapangan, analisis elemen-elemen desain yang mempengaruhi kenyamanan termal seperti vegetasi, elemen air, material, dan orentiasi taman, serta faktor-faktor kenyamanan termal. Hasil penelitian menunjukkan hasil pengukuran dan analisis data berupa penggunaan elemen vegetasi sebagai peneduh alami, elemen air berfungsi menurunkan suhu, material dengan albedo tinggi dan orientasi untuk mendapatkan pergerakan angin yang optimal. Hal-hal tersebut memberikan kesimpulan bahwa Pada Taman Alumni ini belum mendapatkan kenyamanan termal yang sesuai dengan standar Lippsmeier. Hal ini dikarenakan kurang optimalnya pada desain ruang terbuka, yaitu kurangnya elemen desain berupa air. Dengan adanya elemen air, temperatur atau suhu dalam taman tersebut akan mendapatkan efek pendinginan atau pengurangan suhu. Pengurangan suhu ini akan membantu meningkatkan kenyamanan termal di taman.Thermal comfort is one of the crucial aspects in open space design, especially in humid tropical climates like Semarang City. Thermal comfort is currently difficult for humans to obtain when in outdoor spaces. This study aims to analyze the level of thermal comfort with the optimization of open space design in the Alumni Park of the Department of Architecture, Diponegoro University. The method used is a quantitative method through field observations, analysis of design elements that affect thermal comfort such as vegetation, water elements, materials, and garden orentiation, as well as thermal comfort factors. The results showed the results of measurements and data analysis in the form of the use of vegetation elements as a natural shade, water elements serve to reduce temperature, materials with high albedo and orientation to get optimal wind movement. These things lead to the conclusion that the Alumni Park has not gotten thermal comfort in accordance with Lippsmeier standards. This is due to the less than optimal design of open space, namely the lack of design elements in the form of water. With the water element, the temperature or temperature in the park will get a cooling effect or temperature reduction. This temperature reduction will help improve thermal comfort in the park.
A Comparative Analysis of Conventional and Hybrid Simulation in Tropical Hotel Energy Modeling Young, Hepi Duchovny; Setyowati , Erni; Prianto, Eddy; Dwiyanto, Agung
ASTONJADRO Vol. 15 No. 1 (2026): ASTONJADRO
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/astonjadro.v15i1.21182

Abstract

The hospitality industry in tropical climates faces significant challenges in managing energy use while trying to make buildings that are environmentally friendly in areas with high temperatures, humidity, and changing weather.  Hotels in places like Southeast Asia, the Caribbean, and sub-Saharan Africa usually use a lot of energy each year. This is mainly because they need heating, cooling, and lighting, which raises costs and harms the environment.  As tourism increases and climate change becomes more of a problem, energy-efficient hotel designs and sustainability metrics have become more critical in international policy frameworks. This systematic literature review assesses the efficacy of hybrid simulation methodologies, combining various modeling tools to evaluate climatic impacts on enhancing energy efficiency and sustainability in tropical hotels, in contrast to conventional standalone simulations.  Using a strict PRISMA-guided method, searches of databases found 95 records, which led to one relevant observational modeling study of medium-category Mexican hotels.  This study showed a statistically significant drop in CO2 emissions and energy use per room-year, with older guests seeing the most benefits. The review shows that hybrid simulation has a lot of potential to improve hotel energy systems and make operations more sustainable, even though the sample size is small, the data is simulated, and there is no meta-analysis.  Practical implications encompass the endorsement of pilot implementations, personnel training, and collaborations to mitigate financial obstacles.  The review also points out significant research gaps, like a lack of long-term data and a lack of representation for tropical regions. This shows that more empirical research is needed. In general, using hybrid simulation methods could make hotels in tropical climates more energy-efficient and better able to handle environmental changes, which would help the hospitality industry become more sustainable.
Co-Authors Abd. Rasyid Syamsuri Abdi kusuma, Abdi Abdul Malik Adela Carera Agung Budi Sardjono Agung Dwiyanto Almesa Yuli Hasyyati, Almesa Yuli Amalia Alifiani, Amalia Amalia, Alifiani, Amalia, Amat Rahmat Anisa Anisa Ansari, Vira Arman Susilo Arta Okta listiani, Arta Okta ashim furqoni Astuti, Margaretnaning Dyah Atiek Suprapti Bagus Wicaksono Baharrudin Purbahanggita Bakhtiar Bakhtiar Bambang Irawanto Bambang Setioko Bambang Sujono Bambang Supriyadi bambang suyono Bharoto Bharoto Carera, Adela desy ratna Dewantoro, Fajar Dewantoro, Fajar Dewi Murti Sari, Dewi Eddy Hermanto Eddy Indarto Edy Darmawan Eko Budihardjo Eko Budihardjo Erni Setyowati Furqoni, Ashim Gagoek Hardiman Gagoek Hardiman Gunawan, I Gusti Ngurah Anom Hardiman, Gagok Hari Utama Harianja, Bernard Hendro Trilistyo Henry Soleman Raubaba, Henry Soleman HERMAWAN Hermawan Hermawan Hidayatullah, Muhammad Irsyad Hilda, Syarifa ichsan ahmadi Ikhwanul Ahfadz, Ikhwanul Jono Wardoyo Jono Wardoyo jumratul akbar, jumratul Kusuma, Aditya Arya Margaretnaning Dyah Astuti Maria Carizza Pandora Raharjo MARIA ROSITA MAHARANI Mitsalina Ghoisanie Muh Nur Muh Nur Muhammad Sahid Indraswara Muhammad, Huda Pandora Raharjo, Maria Carizza Pratama, Riza Adi Putri, Paskalia Utari Raharja, Maria Carizza Pandora Rahmadhani, Arisca Dian Rahmat, Amat Ruliyanto Ruliyanto, Ruliyanto Rusmaharani, Diyah Sahid, M salsabella, Syeril Satrio Nugroho Septana Bagus Pribadi Septana, Septana Septana, Septana Setia Budi Sasongko Setyowati , Erni Shofie, Athia Shofie, Athia Maulida Tsania Sigit Ashar Setyoaji, Sigit Ashar Sinaga, Gabriela Maibana Siti Zahra Arafah sukawi sukawi Titien Woro Murtini Totok Roesmanto Tsani, Nauvaldy Amru Utama, Hari Vira Ansari Wahyu Setia Budi Widiastuti, Ratih Windarta, Jaka Yoga Pratama, Syndu Muhammad Young, Hepi Duchovny Zafira, Salma Hafni