Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

HUBUNGAN RIWAYAT BBLR DAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 24-59 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS DADOK TUNGGUL HITAM Ochy Putri; Arni Amir; Henni Fitria; Desmawati; Erda Mutiara Halida; Fitrayeni
JUBIDA- Jurnal Kebidanan Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Yayasan Rahmatan Fidunya Wal Akhirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58794/jubida.v5i1.1919

Abstract

Latar belakang: Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis yang terjadi dalam 1.000 hari pertama kehidupan. World Health Organization (WHO) tahun 2023 menyatakan tahun 2022 terdapat 148,1 juta anak di bawah usia lima tahun yang mengalami stunting. Faktor risiko utama yang berkontribusi dengan kejadian stunting yaitu riwayat BBLR dan pemberian ASI eksklusif. Tujuan penelitian: Untuk menganalisis hubungan antara riwayat BBLR dan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada balita. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional yang dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Dadok Tunggul Hitam Kota Padang pada bulan Desember 2024 - Maret 2025. Sampel penelitian terdiri dari 103 ibu yang memiliki anak usia 24–59 bulan. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square dan Fisher exact test dengan tingkat signifikansi p<0,05. Hasil: Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan antara riwayat BBLR dengan kejadian stunting dianalisis menggunakan uji Fisher exact test (p=0,03) karena pada uji chi-square diperoleh nilai expected count <5. Terdapat hubungan antara riwayat pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting (p=0,029). Terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat BBLR dan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting (p<0,05). Simpulan: Terdapat hubungan antara riwayat berat badan lahir rendah dan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan.  
EDUKASI PENILAIAN STATUS GIZI UNTUK OPTIMALISASI PERTUMBUHAN ANAK BAGI SISWA SD NEGERI 22 ANDALAS KOTA PADANG Yulizawati Yulizawati; Ulfa Farrah Lisa; Laila Rahmi; Uliy Iffah; Erda Mutiara Halida; Fitrayeni Fitrayeni; Aldina Ayunda Insani; Feni Andriani; Henni Fitria; Hindun Mila Hudzaifah; Dina Taufia; Laila Laila
BULETIN ILMIAH NAGARI MEMBANGUN Vol. 7 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM (Institute for Research and Community Services) Universitas Andalas Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/bina.v7i3.578

Abstract

A nutritional status assessment is a process undertaken to facilitating optimal development. Normal growth is defined as the optimal nutritional and health status, as indicated by conformity with the parameters set forth in growth charts. The objective of this activity is to gather data pertaining to the nutritional status of all students in grades IV, V, and VI of SDN 22 Andalas Padang, while concurrently imparting health education related to menarche as part of the students' overall growth and development. The assessment of nutritional status was conducted through the measurement of height and weight, with the calculation of the Body Mass Index and Age, of 110 students in grades IV, V, and VI of SDN 22 Andalas Padang. Additionally, health education about menarche was provided through presentations and the distribution of booklets. The results of the activity demonstrated a high level of acceptance and positive response from the teachers and leaders. The nutritional status of the students was found to be generally good, with only 4% of students having poor nutritional status, 80% having good nutritional status, 11% having overweight status, and 5% having obese nutritional status. Furthermore, the students displayed enthusiasm during the educational sessions. It can be concluded that the majority of SDN 22 Andalas Padang students have a normal nutritional status. Hopefully, this activity will form the basis for schools to carry out monitoring interventions for the nutritional status of school-age children and the continuation of regular activities by involving cross-sectoral partners.