Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Quasi-experimental study on Aloe Vera Gel As A Phytotherapy to Accelerate Perineal Wound Regeneration In Postpartum Mothers At Bpm Pera basaria; Retno Wahyuni; Hariati Eliana Purba; Isyos Sari Sembiring; Eva Ratna Dewi; Nopalina Suyanti Damanik; Titis Jernih Wati Gea
Jurnal Teknokes Vol. 18 No. 4 (2025): Desember
Publisher : Jurusan Teknik Elektromedik, Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35882/jteknokes.v18i4.110

Abstract

Perineal wounds are one of the most common complications in postpartum women, causing pain, increasing the risk of infection, and delaying recovery. The lack of effective, safe, affordable, and easily accessible therapies highlights a gap in perineal wound care practices, particularly in primary care. Aloe vera, which contains anti-inflammatory compounds and regenerative bioactives, has the potential to serve as an alternative phytotherapy, but clinical evidence of its effectiveness in perineal wounds remains limited. This study aimed to evaluate the effectiveness of aloe vera gel in accelerating perineal wound healing in postpartum women. The contribution of this research is to strengthen the practice of phytotherapy-based wound care that is safe, affordable, and applicable in primary health care facilities. The study used a quasi-experimental pre-post study design with a control group. Thirty postpartum women with grade I–II perineal wounds were divided into a treatment group (Aloe vera) and a control group (standard care). Healing was evaluated using the REEDA scale, and pain intensity was assessed using a Visual Analogue Scale (VAS) over seven days. Analysis was performed using an independent t-test with a significance level of 0.05. The results showed a significant difference between the two groups. The average healing time for the Aloe vera group was 4.20 days (SD 0.95), faster than the control group, which took an average of 7.00 days (SD 1.20). Statistical tests showed a p-value = 0.001, indicating significant effectiveness of Aloe vera application in accelerating tissue healing. In addition, REEDA and VAS scores on the seventh day were consistently lower in the treatment group, indicating a faster reduction in inflammation and pain. Implicitly, these findings provide a clinical contribution to strengthening safe and affordable phytotherapy-based wound care practices for postpartum mothers, particularly in primary healthcare facilities. This study concluded that aloe vera gel is an effective complementary therapy for accelerating perineal wound healing and improving maternal comfort.
CEGAH STUNTING SEJAK DINI: EDUKASI PENCEGAHAN KEK PADA IBU HAMIL Eva Ratna Dewi; Ingka Kristina Pangaribuan; Nur Azizah; Eka Purnamasari; Siska Suci Triana Ginting; Kiki Miftasari
Jurnal Pengabdian Masyarakat 360 Derajat Vol 2 No 1 (2025): Pengabdian Masyarakat 360 Derajat
Publisher : Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35328/c9qa0988

Abstract

Latar Belakang: Ibu hamil merupakan kelompok yang rentan terhadap masalah gizi, khususnya Kekurangan Energi Kronis (KEK). Pada tahun 2020 tercatat ibu hamil yang mengalami KEK sebanyak 1.200 orang, kemudian menurun menjadi 1.000 orang pada tahun 2021 dan turun lagi menjadi 800 orang pada tahun 2022. Penurunan ini menunjukkan adanya perbaikan dalam pelayanan kesehatan bagi ibu hamil di wilayah tersebut. Namun demikian, prevalensi KEK di wilayah kerja Puskesmas Atu Lintang masih tergolong tinggi. Metode: Peralatan utama yang digunakan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini antara lain leaflet untuk memberikan edukasi kepada ibu hamil terkait Kekurangan Energi Kronik. Kegiatan pengabdian ini difokuskan pada pencegahan KEK yang dapat berdampak  Stunting Pada Anak di Wilayah Kerja Puskesmas Atu Lintang, Aceh. Hasil: Sebelum pelaksanaan edukasi, mayoritas ibu hamil masih memiliki tingkat pemahaman yang rendah sebesar 31 responden(56,7%) serta kesadaran yang minim terhadap pentingnya pemantauan status gizi selama masa kehamilan. Namun, setelah dilakukan penyuluhan secara interaktif dengan metode yang mudah dipahami, terjadi peningkatan pengetahuan yang signifikan sebesar 41 Responden (68,3%), yang tercermin dari pergeseran kategori pengetahuan ke tingkat yang lebih baik. Kesimpulan: Kegiatan ini menegaskan pentingnya intervensi promotif dan preventif di wilayah yang rentan terhadap masalah gizi. Pelaksanaan edukasi secara langsung dan partisipatif dengan melibatkan kader dan tenaga kesehatan terbukti efektif dalam menumbuhkan kesadaran serta membentuk perilaku hidup sehat pada ibu hamil. Oleh karena itu, program edukasi serupa perlu dijalankan secara berkelanjutan untuk menurunkan angka KEK dan mencegah stunting sejak masa kehamilan.  
PEMBERDAYAAN REMAJA: EDUKASI TRIAD KRR UPAYA PENCEGAHAN MASALAH KESEHATAN REPRODUKSI" Ingka Kristina Pangaribuan; Eva Ratna Dewi; Rosmani Sinaga; Dewi Sartika Hutabarat; Feny Febrianti
Jurnal Pengabdian Masyarakat 360 Derajat Vol 2 No 1 (2025): Pengabdian Masyarakat 360 Derajat
Publisher : Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35328/e4k93z73

Abstract

Latar Belakang: Remaja merupakan kelompok usia yang sedang berada dalam fase perkembangan fisik, psikologis, dan sosial yang kompleks. Dalam masa transisi ini, mereka sangat rentan terhadap berbagai permasalahan kesehatan reproduksi, terutama yang dikenal sebagai Triad Kesehatan Reproduksi Remaja (Triad KRR), yaitu seksualitas pranikah, infeksi menular seksual termasuk HIV/AIDS, dan penyalahgunaan Napza. Kurangnya pengetahuan dan sikap yang kurang tepat terhadap isu-isu tersebut dapat meningkatkan risiko perilaku yang membahayakan masa depan remaja. Metode: kegiatan pengabdian masyarakat ini menggunakan pendekatan edukatif-partisipatif melalui penyuluhan interaktif, diskusi kelompok terarah. Evaluasi dilakukan sebelum dan sesudah kegiatan untuk mengukur peningkatan pengetahuan dan perubahan sikap terhadap Triad KRR. Hasil: Sebelum pelaksanaan edukasi, mayoritas remaja masih memiliki tingkat pemahaman yang rendah sebesar 34 responden(41,0%) dan pengetahun baik sebesar 49 (59,0%). Setelah dilakukan edukasi secara interaktif dengan metode yang mudah dipahami, terjadi peningkatan pengetahuan yang signifikan sebesar 77 Responden (92,7%), yang tercermin dari pergeseran kategori pengetahuan ke tingkat yang lebih baik. Kesimpulan: Kegiatan edukasi kesehatan reproduksi dengan pendekatan partisipatif terbukti efektif meningkatkan pengetahuan remaja terhadap Triad KRR. Setelah intervensi, terjadi peningkatan signifikan dalam pemahaman, dari 59,0% menjadi 92,7%. Metode penyuluhan interaktif dan diskusi kelompok terbukti relevan untuk membentuk pengetahuan dan sikap remaja yang lebih positif terhadap isu kesehatan reproduksi.
Comparison of Labor Duration by Parity Among Mothers at Rizki Clinic, Medan Tembung District Ribur Sinaga; Sari Khowajan Tondang; Eva Ratna Dewi; Marliani; Ali Imran Sirait; Butarbutar, Dyanti SR
Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 5 No. 1 (2026): Februari: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Asosiasi Dosen Muda Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56127/jukeke.v5i1.2599

Abstract

Prolonged labor remains an important clinical issue because it can increase maternal fatigue and the risk of complications during delivery. Parity is known to influence the progress of labor, yet stage-specific evidence comparing primiparous and multiparous mothers in primary care settings is still limited. Understanding these differences is essential to improve intrapartum monitoring and maternal support. Objective: This study aimed to compare labor duration between primiparous and multiparous mothers at Rizki Clinic, Medan Tembung District, and to identify which stages of labor contribute most to the observed differences. Method: This study employed a quantitative observational analytic approach with a cross-sectional design conducted from April to July 2024. The sample consisted of 30 mothers (15 primiparous and 15 multiparous) selected using predetermined inclusion and exclusion criteria. Data on labor duration were obtained through direct observation and medical records. Descriptive analysis and the Mann–Whitney U test were used to examine differences between groups. Findings: The overall mean labor duration was longer in primiparous mothers (10.60 hours) compared with multiparous mothers (5.13 hours). Stage-specific analysis showed a significant difference in the first stage (Kala I), with primiparous mothers averaging 10.24 hours (7–11 hours 30 minutes) and multiparous mothers 6.5 hours (4–8 hours 45 minutes) (p = .000). No statistically significant differences were found in the second stage (mean 19 vs 15 minutes; p = .065) or the third stage (mean 10 vs 7 minutes; p = .086). Implications: The findings highlight the importance of focused monitoring and supportive care during the first stage of labor, particularly for primiparous mothers, to reduce anxiety and prevent prolonged labor. The results can inform clinical practice in primary care settings to improve labor management strategies. Originality/Value: This study provides stage-based comparative evidence on labor duration using clinic-level data, offering practical insight into parity-related differences and contributing to improved intrapartum care planning.
Pelaksanaan Pendidikan Kesehatan Status Gizi pada Ibu Hamil yang Mengalami Hiperemesis Gravidarum Di BPM Mesrida Eva Ratna Dewi; Ingka Kristina Pangaribuan; Lidya Natalia Br Sinuhaji; Siska Suci Triana Ginting; Eka Purnama Sari; Nur Azizah; Markus Doddy Simanjuntak
Keyboard Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2024): Keyboard Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Grace Berkat Anugerah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69688/keyboard.v1i2.145

Abstract

Menurut WHO hiperemesis gravidarum menyumbang 12,5% dari seluruh kehamilan di seluruh dunia, dengan insiden berkisar dari 0,3% di Swedia hingga 0,5% di California hingga 0% di Kanada hingga 10,8% Permasalahan yang terjadi di BPM Mesrida dari hasil survei di lapangan sekitar 30% ibu mengalami hyperemesis gravidarum sehingga Kesehatan ibu hamil menurun, dan mengalami penurunan berat badan. Kegiatan pengabdian, Metodenya pre dan post Pendidikan Kesehatan, Pelaksanaan berkoordinasi dengan pimpinan klinik, dan mahasiswa dalam pelaksanaan kegiatan ini. Jumlah sasaran pengabdian ini sebanyak 20 orang. Tempat pelaksanaan pengabdian di BPM Mesrida.  Hasil Kegiatan didapatkan hasil Pelaksanaan Pendidikan Kesehatan Status Gizi pada Ibu Hamil yang Mengalami Hiperemesis Gravidarum Di BPM Mesrida saat sebelum dilakukannya Penkes atau Pre-test mayoritas berpengetahuan kurang sebanyak 10 responden (50 %). Sedangkan setelah dilakukan Penkes mayoritas responden berpengetahuan baik sebanyak 11 responden (55%). Dalam pelaksanaan pengadian yang dilakukan masih ada 2 ibu hamil yang tidak memahami terkait dengan status gizi ibu hamil yang mengalami hyperemesis gravidarum, sehingga perlu antisipasi dari pimpinan klinik untuk mengontrol untuk Masalah status gizi ibu hamil tersebut.