Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Andragogical Curriculum Orientation, Self-Regulated Learning, and Career Readiness in Nonformal Vocational Training Rofik Jalal Rosyanafi; Yatim Riyanto; I Ketut Atmaja Johny Artha; Widodo Widodo; Heryanto Susilo; Wiwin Yulianingsih; Edwin Jaimes Villaflor
Journal of Mathematics Instruction, Social Research and Opinion Vol. 5 No. 2 (2026): June
Publisher : MASI Mandiri Edukasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58421/misro.v5i2.1474

Abstract

Nonformal vocational training is increasingly required to prepare learners not only with technical competence but also with career readiness. However, limited empirical evidence explains how adult-oriented curriculum practices and learners’ self-regulation contribute to career readiness in nonformal vocational training institutions. This study aimed to examine the association between andragogical curriculum orientation, self-regulated learning, and career readiness among learners at LKP Lussy Surabaya. A quantitative ex post facto correlational design was applied using questionnaire data from 65 valid learners. Andragogical curriculum orientation was measured through self-concept, experience, readiness to learn, learning orientation, and learning motivation; self-regulated learning was measured through forethought, performance, and self-reflection; and career readiness was measured through concern, control, curiosity, and confidence. The results showed that andragogical curriculum orientation and self-regulated learning were positively and significantly associated with career readiness, with self-regulated learning emerging as the stronger predictor. Simultaneously, both variables explained 70.7% of the variance in career readiness. These findings indicate that career readiness in nonformal vocational training is shaped by adult-oriented learning experiences and learners’ regulatory capacity. This study provides an empirical basis for rethinking curriculum orientation beyond technical skill delivery toward stronger support for career readiness.
Implementasi Program Double Track Kursus Tata Rias untuk Menumbuhkan Jiwa Kewirausahaan Siswa di SMAN 1 Kedungadem Ruri Amalia Andriani; Widodo Widodo
J+PLUS UNESA Vol. 15 No. 1 (2026): J+PLUS, Juni 2026
Publisher : Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka pengangguran lulusan SMA yang disebabkan oleh minimnya keterampilan kerja dan jiwa kewirausahaan. Program double track hadir sebagai solusi dengan mengintegrasikan pendidikan akademik dan pelatihan keterampilan vokasional, salah satunya di bidang tata rias. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi program double track kursus tata rias dalam menumbuhkan jiwa kewirausahaan siswa di SMAN 1 Kedungadem, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi program double track tata rias di SMAN 1 Kedungadem meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang berjalan cukup baik. Pelaksanaan program menekankan pada pembelajaran praktik langsung (learning by doing) yang mampu meningkatkan keterampilan teknis sekaligus membentuk sikap kewirausahaan seperti percaya diri, kreatif, mandiri, dan berani mengambil risiko. Faktor pendukung program meliputi dukungan sekolah, kompetensi instruktur, ketersediaan sarana prasarana, serta kerja sama dengan dunia usaha dan industri. Sementara itu, faktor penghambat meliputi keterbatasan fasilitas, waktu pelatihan yang terbatas, serta perbedaan motivasi siswa.
Women's Empowerment Based on Entrepreneurial Skills in Adult Equality Education Program Heryanto Susilo; I Ketut Atmaja Jhony Artha; Widodo Widodo; Monica Widyaswari; Desika Putri Mardiani
Communautaire: Journal of Community Service Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : Al-Qalam Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61987/communautaire.v4i2.1248

Abstract

This community service aims to empower Package C students, particularly adult women at Anggrek Bulan Community Learning Center (CLC), Banyuwangi Regency, through entrepreneurship development training. The training focuses on business financial management, understanding market and business opportunities, and building business networks to support the development of agricultural businesses, specifically in cultivating golden dragon fruit. The implementation method involves several stages: first, socialization and discussion with the chairman of PKBM; second, identifying business development needs through the manager; third, training to enhance knowledge and skills in entrepreneurship; and fourth, mentoring, which is systematically conducted to assess the application of the training. The results of this initiative empower women by improving their entrepreneurial skills and addressing challenges they face in developing businesses. This training not only supports the personal growth of the participants but also strengthens local entrepreneurship, with a focus on agricultural business development. The research highlights the importance of continuous mentoring and skill enhancement for adults to overcome barriers to business success. Future recommendations suggest expanding similar programs to other regions to further empower marginalized communities and foster sustainable agricultural entrepreneurship.
Transmisi Bahasa dan Nilai-Nilai Budaya Antargenerasi melalui Ritual Adat: Studi Enkulturasi di Masyarakat Karampuang Indegen Andi Muh. Akbar; Gunarni Dwi Lestari; Widodo Widodo; Mardliyah Sjafiatul; Yulianingsih Wiwin
Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/obsesi.v10i4.8474

Abstract

Penelitian ini menganalisis peran tradisi massuro ade’ sebagai ruang enkulturasi bahasa dan nilai budaya lokal anak usia dini pada masyarakat adat Karampuang di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Pendekatan Kualitatif dengan desain etnografi digunakan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, dengan informan kunci meliputi pemangku adat, sesepuh kampung, tokoh pemuda, dan pihak pemerintah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Mekanisme pembelajaran bahasa berlangsung secara alami melalui kehadiran langsung, pengulangan tuturan, dan pemaknaan kontekstual. (2) Interaksi antargenerasi menciptakan ruang belajar yang dialogis dan partisipatif dalam mewariskan nilai, norma, dan identitas budaya lokal. (3) Faktor penghambat enkulturasi meliputi modernisasi, minimnya dukungan pemerintah, dan rendahnya minat generasi muda. Secara teoritis, penelitian ini memperkuat konsep enkulturasi sebagai proses pendidikan informal berbasis komunitas. Secara praktis, temuan ini menjadi landasan pengembangan model pembelajaran anak usia dini berbasis kearifan lokal untuk pelestarian bahasa daerah dan pembangunan karakter sejak dini.
Pengaruh Metode Sorogan Terhadap Peningkatan Kemampuan Membaca Kitab Kuning di Pondok Pesantren Putri Alfathimiyyah Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang Kivayatul Ursiyah; Widodo Widodo
J+PLUS UNESA Vol. 14 No. 2 (2025): J+PLUS, Desember 2025
Publisher : Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Metode sorogan merupakan metode pembelajaran tradisional yang menekankan interaksi langsung antara pendidik dan peserta didik secara individual dalam membaca dan memahami kitab kuning. Kemampuan membaca kitab kuning dalam lingkup pesantren mencakup ketepatan membaca tanpa harakat, memahami isi teks, serta mampu menerjemahkan kandungan isi secara tepat. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya penguasaan kitab kuning bagi peserta didik sebagai sumber belajar utama, serta tantangan pembelajaran akibat padatnya aktivitas santri yang juga mengikuti pendidikan formal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode sorogan terhadap peningkatan kemampuan membaca kitab kuning di Pondok Pesantren Putri Alfathimiyyah. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian korelasional, yang melibatkan 33 peserta didik kelas XI MAN sebagai sampel. Instrument penelitian terdiri dari angket untuk mengetahui penerapan metode sorogan dan tes lisan untuk menilai kemampuan membaca kitab kuning. Teknik analisis data yang digunakan meliputi uji validitas, reliabilitas, normalitas, linieritas, dan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode sorogan memiliki pengaruh signifikan terhadap kemampuan membaca kitab kuning, dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 dan koefisien regresi sebesar 0,553. Artinya pengaruh metode sorogan terhadap peningkatan kemampuan membaca kitab kuning meningkat sebesar 55,3%. Angka ini termasuk kategori kecil yang dapat disebabkan oleh kurangnya rasa percaya diri peserta didik saat menyetorkan kitab kuning di hadapan pendidik dan kurangnya motivasi peserta didik dalam mempelajari kitab kuning. Selain itu, kurangnya kedekatan antara peserta didik dan pendidik juga turut mempengaruhi hasil belajar peserta didik. Hal ini membuktikan bahwa semakin tinggi penerapan metode sorogan, semakin meningkat pula kemampuan membaca kitab kuning peserta didik. Penelitian ini memberikan implikasi penting bagi pondok pesantren dalam mempertahankan metode sorogan sebagai pendekatan yang efektif dalam pembelajaran kitab kuning, meskipun ditengah perubahan dan tantangan pendidikan modern.
Pengaruh Program Pendidikan Pelatihan Membatik Terhadap Keterampilan Life Skills Pemuda di LKP Neutral Kabupaten Ponorogo Wendy Satria Pradana Santoso; Widodo Widodo
J+PLUS UNESA Vol. 14 No. 2 (2025): J+PLUS, Desember 2025
Publisher : Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan pelatihan membatik merupakan salah satu bentuk kegiatan berbasis pendidikan non formal dan budaya yang  berkontribusi terhadap pembentukan keterampilan life skills pemuda. Dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan membatik mendorong pemuda untuk membentuk keterampilan berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking skills), keterampilan sosial dan komunikasin (social and communication skills) serta keterampilan vokasi (vocational skills), yang termasuk dalam komponen penting dari life skills. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh program pendidikan pelatihan membatik terhadap keterampilan life skills pemuda di LKP Neutral Kabupaten Ponorogo. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif. Sampel melibatkan seluruh peserta pelatihan membatik sejumlah 69 orang. Teknik pengumpulan data melalui kuesioner yang diuji validitas dan reliabilitas. Analisis data menggunakan uji regresi linier sederhana dan uji t. Hasil penelitian menemukan bahwa program pendidikan pelatihan membatik memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keterampilan life skills pemuda. Berdasarkan hasil Uji-T menghasilkan nilai t hitung 39,992 dengan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05), yang menegaskan adanya pengaruh signifikan. Kesimpulanya, pelatihan membatik terbukti tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga mempengaruhi aspek life skills seperti keterampilan berpikir kreatif dan kritis, sosial komunikasi, dan vokasional.
Construction of the Entrepreneurial Spirit of Package C at PKBM Al-Kayyis Indonesia Gresik Widodo Widodo; Gunarti Dwi Lestari; Heryanto Susilo; Widya Nusantara; Tri Qodriyati; Arif Firmansyah
Journal of General Education and Humanities Vol. 5 No. 4 (2026): August
Publisher : MASI Mandiri Edukasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58421/gehu.v5i4.2009

Abstract

Entrepreneurship education is increasingly important for Package C students, an equivalency program at the senior high school level, as graduates may face limited employment opportunities and need the capacity to create independent livelihoods. However, how an entrepreneurial spirit is developed among Package C students through non-formal education remains insufficiently understood. This study aims to explore the process through which entrepreneurial spirit is constructed among Package C students and how it encourages them to establish independent businesses. Using a qualitative phenomenological approach, data were collected through in-depth interviews, participant observation, and document analysis involving the head of a Community Learning Center (CLC), four tutors, and 12 Package C students at PKBM Alkayyis Indonesia. Data were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings show that entrepreneurial spirit is constructed through structured learning and guided practice in five interrelated stages: (1) developing self-awareness of socio-economic conditions and values rooted in culture, ethics, and religious morality; (2) building an understanding of entrepreneurship as a problem-solving activity aligned with personal interests; (3) strengthening entrepreneurial behavior through training and guided agribusiness practice; (4) habituating entrepreneurial activities through regular and independent hands-on practice; and (5) internalizing entrepreneurial qualities, including courage to experiment, initiative, innovation, creativity, self-confidence, and perseverance. These findings indicate that entrepreneurial spirit develops through a gradual process combining awareness, knowledge, reinforcement, and repeated practice. The study highlights the potential of structured, practice-oriented entrepreneurship learning in non-formal education to foster students’ independence and entrepreneurial action.
Reproductive Health Education Needs Among Adolescents and Young Adults: A Community-Based Survey Shobri Firman Susanto; Sjafiatul Mardliyah; Heryanto Susilo; Widodo Widodo; Monica Widyaswari
Journal of Nonformal Education Vol. 12 No. 2 (2026): Community Education, Adult Education and Community Empowerment
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jone.v12i2.58778

Abstract

Background – The need for reproductive health education among adolescents and young adults is influenced by social conditions, parenting styles and family communication, perceptions of reproductive health, peer relationships, as well as social and information environments. Research Urgency – Reproductive health education needs to be grounded in actual requirements to ensure that developed programs align with the characteristics and life contexts of the target group. Research Objectives – This study aims to analyze the reproductive health education needs of adolescents and young adults to serve as a basis for program development. Research Method – The study employed a quantitative approach using a descriptive survey design oriented towards a needs assessment. It was conducted in Babakan Sari Urban Village, Bandung City, involving 35 respondents aged 11–22 years selected through purposive sampling. Data were collected using a 20-item structured questionnaire with response formats tailored to the nature of the questions. Data were analyzed using frequencies, percentages, and a synthesis across components. Research Findings – The study produced a needs map covering social conditions, parenting styles and family communication, perceptions of reproductive health, peer relationships, and social and information environments. This synthesis was formulated into the Adolescent Reproductive Health Education Needs Framework (ARHENF), serving as an initial conceptual synthesis based on survey findings rather than an empirically validated framework. Research Conclusion – The needs analysis provides an empirical basis for understanding reproductive health education needs in alignment with the characteristics and life contexts of adolescents and young adults. Research Novelty/Contribution – The study's contribution lies in the integrated mapping of needs and their synthesis into the ARHENF, serving as a conceptual foundation for the development of reproductive health education programs.