Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Eksplorasi Media Pembelajaran Bahasa: Implikasi pada Siswa Setyawan Pujiono; Maman Suryaman; Sulis Triyono
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.3773

Abstract

Learning media is one of the important factors determining the success of the language learning process. The media will facilitate the work of teachers in carrying out the transfer of knowledge to students. In this regard, this study aims to (1) describe the suitability of the use of media in planning (RPP) with the implementation of language learning in the classroom, and (2) describe students' responses to the use of language learning media. Indonesian language learning media in public junior high schools in Sleman Regency. Qualitative and quantitative descriptive is research methods. Qualitative methods are carried out through observation instruments, interviews, and document analysis. The quantitative method is carried out through a questionnaire instrument. The research population is teachers and students of public junior high schools in Sleman Regency. The sampling technique used purposive sampling with strata technique (high, medium, low). The data analysis technique was descriptive qualitative and quantitative. The results of the study show that: first, the use of instructional media in planning and implementation is not appropriate. The learning media used by the teacher during learning are visual, conventional, and audio visual media. Second, students' responses to the use of learning media are categorized as good. The use of learning multimedia by teachers serves to stimulate thoughts, feelings, attention, and motivate students to learn so that language learning becomes more meaningful. AbstrakMedia pembelajaran merupakan salah satu faktor penting penentu keberhasilan proses pembelajaran bahasa. Media akan mempermudah kerja guru dalam mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa. Terkait dengan hal itu, penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan kesesuaian penggunaan media di perencanaan (RPP) dengan pelaksanaan pembelajaran bahasa di kelas dan (2) mendeskripsikan tanggapan siswa terhadap penggunaan media pembelajaran bahasa. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif dilakukan melalui instrumen pengamatan, wawancara, dan analisis dokumen. Adapun metode kuantitatif dilakukan melalui instrumen angket. Populasi penelitian adalah guru dan siswa SMP Negeri di Kabupaten Sleman. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan teknik strata (tinggi, sedang, dan rendah). Teknik analisis data dengan cara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, penggunaan media pembelajaran pada perencanaan dan pelaksanaan tidak sesuai. Media pembelajaran yang digunakan guru saat pembelajaran adalah media visual, konvensional, dan audio visual. Kedua, tanggapan siswa terhadap penggunaan media pembelajaran berkategori baik. Penggunaan multimedia pembelajaran oleh guru berfungsi untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan memotivasi peserta didik untuk belajar sehingga pembelajaran bahasa menjadi lebih bermakna. 
Women as Guardians of Nature’s Fertility in the Legend of Dewi Sri: An Ecofeminist Study Cahni Cahni; Ari Kusmiatun; Setyawan Pujiono
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 15, No 1 (2026): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v15i1.8615

Abstract

This study aims to describe the representation of women, the representation of nature, and the relationship between women and nature in the legend of Dewi Sri based on an ecofeminist analysis. This study is motivated by the importance of literary studies that explore the relationship between women and the environment in the folklore of the Indonesian archipelago. The legend of Dewi Sri was chosen because it presents women as symbols of fertility and guardians of the survival of agrarian communities. This study employs a qualitative approach using a descriptive-analytical method. The data sources consist of the text of the Dewi Sri legend obtained through literature review. Data collection was conducted using the observe-and-record technique, while data analysis utilized an interactive analysis model encompassing data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study indicate that women in the legend of Dewi Sri are represented as symbols of life, fertility, and protectors of agrarian communities. Nature is represented as a source of life, a spiritual space, and a symbol of community well-being. The relationship between women and nature in the legend of Dewi Sri demonstrates a harmonious connection built upon the values of fertility, protection, care, and the sustainability of life. The ecofeminist perspective in this legend demonstrates that women and nature are two interrelated elements crucial to maintaining the balance of life in the agrarian communities of the Nusantara. This study is expected to contribute to the development of ecofeminist studies in Indonesian oral literature, particularly in Nusantara folklore. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi perempuan, representasi alam, serta relasi perempuan dan alam dalam legenda Dewi Sri berdasarkan kajian ekofeminisme. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya kajian sastra yang mengungkap hubungan antara perempuan dan lingkungan dalam folklor Nusantara. Legenda Dewi Sri dipilih karena menghadirkan perempuan sebagai simbol kesuburan dan penjaga keberlangsungan hidup masyarakat agraris. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitis. Sumber data penelitian berupa teks legenda Dewi Sri yang diperoleh melalui studi pustaka. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik simak dan catat, sedangkan teknik analisis data menggunakan model analisis interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan dalam legenda Dewi Sri direpresentasikan sebagai simbol kehidupan, kesuburan, dan pelindung masyarakat agraris. Alam direpresentasikan sebagai sumber kehidupan, ruang spiritual, dan simbol kesejahteraan masyarakat. Relasi perempuan dan alam dalam legenda Dewi Sri menunjukkan hubungan harmonis yang dibangun melalui nilai kesuburan, perlindungan, kepedulian, dan keberlanjutan hidup. Perspektif ekofeminisme dalam legenda ini memperlihatkan bahwa perempuan dan alam merupakan dua unsur penting yang saling berkaitan dalam menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat agraris Nusantara. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian ekofeminisme dalam sastra lisan Indonesia, khususnya pada folklor Nusantara.
Struktur Perasaan dan Dinamika Budaya Digital dalam Film Budi Pekerti: Kajian Cultural Studies Raymond Williams Meiliana Sirait; Else Liliani; Setyawan Pujiono
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 14, No 2 (2026)
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jbs.v14i2.138349

Abstract

The rapid growth of social media has transformed communication practices, social interactions, and the formation of public opinion in contemporary society. Phenomena such as virality, digital shaming, and public judgment have become integral to digital life and are prominently represented in Wregas Bhanuteja’s film Budi Pekerti. This study investigates the representation of the structure of feeling and digital cultural dynamics in the film through Raymond Williams’s Cultural Studies framework. A qualitative approach was employed using cultural textual analysis. The data comprised 40 purposively selected scenes analysed through the concepts of structure of feeling and the categories of dominant, residual, and emergent culture. Data were analysed through data reduction, data display, and conclusion drawing following the model of Miles, Huberman, and Saldaña. The findings reveal that the structure of feeling is the most dominant category (42.5%), encompassing social anxiety, fear of digital stigma, powerlessness, and emotional alienation. Dominant culture is reflected in virality, public judgment, the influence of netizen opinion, and digital social control. Residual culture appears through social ethics, respect for teachers, deliberation, and family solidarity. Emergent culture is represented by digital literacy, critical awareness, digital empathy, mental health awareness, and resistance to cancel culture. The study concludes that Budi Pekerti portrays social media virality as a new form of social power that shapes affective experiences, identity, legitimacy, and social relations in contemporary digital society.