Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PREDIKSI CURAH HUJAAN MENGGUNAKAN METODE E. J. GUMBEL UNTUK RENCANA SISTEM PENYALIRAN TAMBANG Nurfajar, Ilham Rifki; Purwana, Rachmadhi; Soelarno, Soemarno W.
Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Vol 21 No 1 (2025): Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Edisi Januari 2025
Publisher : Balai Besar Pengujian Mineral dan Batubara tekMIRA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30556/jtmb.Vol21.No1.2025.1526

Abstract

The Tailings Storage Facility (TSF) is one of the largest constructions in mining activities involving sediment ponds that is an important and common facility used in mining activities. This study aims to recommend safe and environmentally friendly water management in settling ponds. This research is done by analyzing rainfall using E. J. Gumbel Method and designing a mine drainage system. The prediction results produce a maximum rainfall of 20.99 mm/day and a rain intensity value of 7.28 mm/hour. The catchment area is 380,355 m2 and the total runoff water discharge is 0.64 m3/second. Runoff water enters the settling pond with a volume of 2,438 m3/day. The capacity of the 3 (three) compartments of settling ponds is 4,500 m3 and an area of 500 m2.
PREDIKSI CURAH HUJAAN MENGGUNAKAN METODE E. J. GUMBEL UNTUK RENCANA SISTEM PENYALIRAN TAMBANG Nurfajar, Ilham Rifki; Purwana, Rachmadhi; Soelarno, Soemarno W.
Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Vol 21 No 1 (2025): Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Edisi Januari 2025
Publisher : Balai Besar Pengujian Mineral dan Batubara tekMIRA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30556/jtmb.Vol21.No1.2025.1526

Abstract

The Tailings Storage Facility (TSF) is one of the largest constructions in mining activities involving sediment ponds that is an important and common facility used in mining activities. This study aims to recommend safe and environmentally friendly water management in settling ponds. This research is done by analyzing rainfall using E. J. Gumbel Method and designing a mine drainage system. The prediction results produce a maximum rainfall of 20.99 mm/day and a rain intensity value of 7.28 mm/hour. The catchment area is 380,355 m2 and the total runoff water discharge is 0.64 m3/second. Runoff water enters the settling pond with a volume of 2,438 m3/day. The capacity of the 3 (three) compartments of settling ponds is 4,500 m3 and an area of 500 m2.
Evaluasi Pengukuran IKD 71 Indikator Tentang Penanggulangan Bencana di Wilayah Kota Tangerang Selatan Hapsari, Meiladyastrinda; Purwana, Rachmadhi; Bisri, Mizan Bustanul Fuady
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 31, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.110769

Abstract

Sejak tahun 2015, Indeks Ketahanan Daerah menggunakan IKD 71 Indikator telah diperkenalkan untuk digunakan secara nasional sebagai alat ukur ketahanan daerah menghadapi bencana. Hasil dari pengukuran ini juga ditargetkan menjadi acuan pembuatan program pengurangan risiko bencana. Namun pengukuran ketahanan dan manfaatnya belum banyak diketahui staf BPBD dan stakeholder di kabupaten kota meskipun pengukuran ketahanan membantu daerah untuk mengidentifikasi program prioritas yang dibutuhkan untuk kesiapsiagaan terhadap bencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengukuran ketahanan bencana yang menggunakan IKD 71 Indikator dengan melihat perangkat IKD 71 Indikator dari konteks pengukuran, proses, input, dan produk yang dihasilkan dari pengukuran ketahanan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan teori evaluasi yang digunakan adalah CIPP (Context, Input, Process, Product) dari Stufflebeam. Proses pengambilan data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam di tahun 2023 dengan informan yang berasal dari BNPB, BPBD, dan stakeholder daerah. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa konteks ketahanan dipahami oleh sebagian petugas BPBD dan stakeholder di Kota Tangerang Selatan namun pemahaman terhadap mekanisme pengukuran sangat terbatas sehingga pengukuran yang dilakukan belum menjadi prioritas kerja daerah dan penelitian merekomendasi perlunya upaya peningkatan pemahaman dan pemanfaatan nilai IKD 71 Indikator bagi OPD dan petugas BPBD agar pengukuran ketahanan dipahami dan dilakukan di Kota Tangerang Selatan.
THE RELATIONSHIP BETWEEN CLIMATE VARIABILITY AND INFANT DIARRHEA IN A COASTAL AREA OF JAKARTA Dharmayanti, Ika; Purwana, Rachmadhi; Tjandrarini, Dwi Hapsari; Soesilo, Tri Edhi Budhi
Jurnal Ilmiah Ilmu Terapan Universitas Jambi Vol. 10 No. 1 (2026): Volume 10, Nomor 1, February 2026
Publisher : LPPM Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jiituj.v10i1.53419

Abstract

This study examines climatic patterns and the delayed relationship between climate factors and diarrheal cases in this age group. This ecological panel study uses secondary data on monthly diarrhea cases in Penjaringan Subdistrict, North Jakarta, Indonesia. Diarrhea cases obtained from the DKI Jakarta Provincial Health Office between 2013 and 2024 (144 months). Climate factors included temperature, rainfall, relative humidity, and El Niño–Southern Oscillation (ENSO) index. The analysis of climatic patterns was examined descriptively. Associations were analyzed using a negative binomial mixed-effects model with distributed lags to account for delayed effects and spatial heterogeneity. The results indicate that infant diarrhea cases varied significantly by season. An increase of 1°C in temperature at lag 1 increased the case rate by 35% (IRR = 1.35; p = 0.038). Rainfall at lags 0 and 1 showed a small but substantial positive relationship with diarrhea. Higher relative humidity was associated with a lower risk, while ENSO conditions were positively associated with diarrhea. The study found that local meteorological conditions and large-scale climate variability influence the incidence of infant diarrhea in coastal areas. The novelty of this study lies in integrating a distributed lag model with ENSO effects on vulnerable populations. These findings support the development of climate-sensitive monitoring and early warning systems, and strengthening water, sanitation, and hygiene interventions during periods of high climate risk may help reduce the burden of diarrheal disease among high-risk groups.