Putu Ayu Sisyawati Putriningsih
Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Bali, Indonesia

Published : 32 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Macroconidia of Dermatophytes Fungi on Direct Microscopic Examinations Putu Ayu Sisyawati Putriningsih; I Putu Gede Yudhi Arjentinia
Journal of Veterinary and Animal Sciences Vol 1 No 1 (2017)
Publisher : Institute for Research and Community Service, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JVAS.2017.v01.i01.p10

Abstract

Dermatophytosis (ringworm) caused by dermatophytes fungi is one of the cattle diseases that can infect Bali cattle. Ringworm significantly cause economic loss to farmers and at the same time is zoonotic disease. Diagnosing dermatophytosis based on the clinical signs in the animals, followed by direct microscopic examination of skin scrapings and hair samples and confirmed by laboratory tests. On direct microscopic examination of skin scrapings and hair samples, generally detected the elements of the fungi such as arthrospores or hyphae. In this study, skin scrapings and hair samples from Bali cattle that clinically suffered ringworm were collected. Samples were then placed on an object glass, added drops of 10% KOH, covered with a cover glass, and after 10-15 minutes were examined under a microscope with a magnification of 100X and 400X. We were able to detect macroconidia as well as arthrospores of the fungi. Macroconidia were detected on two of seven samples tested (28.57%). Normally, macroconidia will not be detected prior culturing on agar media and staining with Lactophenol Cotton Blue (LPCB). Dermatophytes fungi produces two types of asexual propagule: the saprophytic conidia and parasitic conidia, depending on the environment where they grow. Macroconidia that were detected in this study are saprophytic conidia possibly from the soil and/or from broken or hair loss. This macroconidia might be a potential source of infection.
Laporan Kasus Laporan Kasus: Urolitiasis akibat Kristal Struvit pada Kucing Anggora Jantan Khadafi, Gde Erwin Ali; Soma, I Gede; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (4) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.4.597

Abstract

Urolitiasis merupakan adanya urolit di dalam saluran perkencingan. Penyakit urolitiasis dapat menyebabkan hewan mengalami retensi urin. Kucing kasus adalah ras anggora jantan umur lima tahun dengan bobot badan 4,1 kg, datang dengan keluhan sulit urinasi selama dua hari, urin bercampur darah, anoreksia dan muntah. Pemeriksaan fisik kucing terlihat lemah, dehidrasi ringan, vesika urinaria mengalami distensi. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan dalam kasus ini yaitu pemeriksaan darah rutin, ultrasonografi, dan pemeriksaan sedimentasi urin. Hasil pemeriksaan darah kucing mengalami leukositosis [total WBC: 34,73x10^9/L (normal: 5,5-19,5x10^9/L)], neutrofilia [GRA: 31,36x10^9/L (normal: 2,1-15x10^9/L)], limfositopenia [LYM%: 6,7% (normal: 12-45%)], dan anemia makrositik hipokromik [MCV: 53,6 fL (normal: 39-52 fL), MCHC: 25,5 g/dL (normal; 30-38 g/dL)]. Pada Pemeriksaan ultrasonografi vesika urinaria terlihat endapan partikel-partikel kristal (hyperechoic) terlihat seperti pasir (sand-like). Pada pemeriksaan sedimentasi urin didapatkan kristal magnesium ammonium phosphate (struvite). Kucing kasus didiagnosis menderita urolitiasis. Terapi yang diberikan yaitu terapi cairan NaCl 0,9% 357 mL/hari diberikan selama tiga hari. Flushing mengunakan cairan infus NaCl 0,9% menggunakan kateter ukuran 1.3x130 mm, antibiotik Cefotaxime Sodium 80 mg/kg bb secara intramuskuler sekali sehari selama tiga hari, antiradang Tolfenamic Acid 4 mg/kg bb secara intramuskuler sekali sehari selama tiga hari, terapi suportif diet pakan khusus urinary care. Pada hari ketiga setelah diterapi kucing menunjukkan perbaikan kondisi ditandai dengan nafsu makan meningkat dan urin normal tidak terjadi hematuria.
Laporan Kasus: Dermatofitosis pada Anjing Peranakan Scottish Terrier di Kota Denpasar, Baliatofitosis pada Anjing Peranakan Scottish Terrier Distira, Luh Ayu Yasendra; Batan, I Wayan; Erawan, I Gusti Made Krisna; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (5) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.5.678

Abstract

Dermatofitosis pada anjing adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh kapang dermatofita yang terdiri atas genus Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton. Dermatofitosis dapat menyerang anjing semua umur. Biasanya agen kapang muncul karena tempat yang lembab. Tujuan dari penulisan laporan kasus ini adalah untuk dapat meneguhkan diagnosis dari pemeriksaan klinis dan penunjang, serta untuk dapat memberikan terapi yang tepat sesuai penyakit yang ditemukan. Seekor anjing jantan peranakan scottish terrier berumur satu tahun dengan bobot badan 12 kg dibawa ke Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, dengan keadaan alopesia dan eritema hampir di sekujur tubuhnya. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya krusta, pustula pada bagian ekstremitas kranial dan kaudal, papula pada bagian dorsal, hiperpigmentasi pada dorsal tubuh, dan sisik. Anjing kasus menunjukkan tingkat pruritus yang tinggi. Hasil pemeriksaan hematologi menunjukkan tidak adanya perubahan yang berarti pada parameter darah. Pemeriksaan histopatologi biopsi kulit menunjukkan adanya infiltrasi sel radang. Pada pemeriksaan dengan wood’s lamp terlihat adanya pendaran berwarna hijau kekuningan pada hampir seluruh bagian tubuh. Anjing kasus didiagnosis menderita dermatofitosis dan diterapi dengan menggunakan oclacitinib (5,6 mg/ekor, PO, q12h), amoxicillin trihydrate (10 mg/kg BB, PO, q24h) dan dexaharsen (0,2 mg/kg BB, IM, q24h) diberikan selama lima hari. Ketoconazole 2% diberikan dua kali sehari dengan cara dioles secara langsung pada bagian spot-spot yang terlihat. Pasca terapi hari ke-14, anjing kasus menunjukkan hasil yang baik, eritema sudah mulai berkurang dan rambut sudah mulai tumbuh dengan baik. Hal ini juga diamati dengan adanya perubahan lesi makroskopik dan pengamatan dari histopatologi biopsi kulit yang dilakukan pasca terapi.
Laporan Kasus Laporan Kasus: Urolithiasis Magnesium Ammonium Phosphate dengan Cystitis pada Kucing Lokal maulana, Ibrahim; Soma, I Gede; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (6) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.6.840

Abstract

Urolithiasis adalah penyakit yang disebabkan karena adanya urolith, kalkuli, kristal, ataupun sedimen yang berlebihan dalam saluran urinaria. Cystitis merupakan peradangan pada kandung kemih yang sering terjadi pada hewan peliharaan sebagai bagian dari infeksi pada saluran kemih. Laporan kasus ini membahas mengenai urolithiasis magnesium ammonium phosphate dengan cystitis pada kucing domestik. Kucing kasus merupakan ras kucing domestik jantan, berumur lima tahun dengan bobot badan 5 kg dengan keluhan kesulitan urinasi dan tiga hari sebelumnya ditemukan urin bercampur darah, kucing kelihatan merejan saat urinasi dan mengalami penurunan nafsu makan. Pemeriksaan klinis kucing terlihat postur tidak tegap, cenderung diam dan kebanyakan duduk, menjilat daerah genital, dan berbau pesing. Hasil pemeriksaan darah menunjukkan bahwa kucing mengalami leukositosis dan monositosis, pemeriksaan USG terlihat penebalan dinding vesica urinaria, dan hasil sedimen urin didapatkan kristal magnesium ammonium phosphate (struvite). Kucing kasus didiagnosis menderita urolithiasis magnesium ammonium phosphate dan cystitis dengan prognosis fausta. Terapi yang diberikan yaitu antibiotik cefixime 10mg/kg BB diberikan dua kali dalam sehari selama enam hari, antiinflamasi dexamethasone 0,1mg/kg BB diberikan satu kali dalam sehariselama tiga hari. Pemberian obat herbal Kejibeling® satu kapsul satu kali sehari selama tujuh hari. Terapi suportif diet Royal Canin® urinary care formula selama tiga bulan. Kucing kasus setelah diterapi selama tujuh hari terlihat tidak mengalami kesulitan urinasi dan tidak menunjukkan rasa nyeri serta tidak ditemukan urin bercampur darah pada saat urinasi.
Laporan Kasus: General Demodekosis disertai Temuan Jamur Curvularia sp. yang Bersifat Saprofit pada Anjing Lokal Resman, Martin Pedro Krisenda; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (4) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.4.606

Abstract

Demodekosis merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau Demodex sp.. Dermatomikosis adalah penyakit kulit yang disebabkan infeksi jamur Curvularia sp. Tujuan penulisan artikel laporan kasus ini untuk mengetahui penyebab penyakit kulit yang terjadi pada anjing kasus dan efektivitas pengobatan yang dilakukan. Seekor anjing kacang (lokal) bernama Gembrong berumur satu tahun mengalami masalah kulit yang muncul sejak satu bulan sebelumnya. Nafsu makan anjing kasus masih dalam keadaan baik, defekasi dan urinasi normal. Anjing diberikan pakan nasi yang dicampur dengan rebusan tetelan ayam. Anjing kasus dipelihara dengan cara diikat di garasi belakang rumah. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan terdapat lesi pada kulit berupa eritema, krusta, alopesia, hiperpigmentasi, dan hiperkeratosis pada daerah wajah, daun telinga, leher, kaki depan, kaki belakang, punggung, dan ekor. Interdigit bengkak, eritema, dan hangat. Terdapat luka pada dahi, daun telinga, dan ekor. Pada bagian ventral abdomen mengalami alopesia, hiperkeratosis, dan krusta. Pada pemeriksaan kerokan dalam kulit (deep skin scrapping) ditemukan tungau Demodex sp., sedangkan pemeriksaan tape asetate ditemukan suspect kapang Curvularia sp.. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan anjing kasus mengalami anemia normositik hipokromik dengan jumlah RBC sebanyak 4,31 1012/L, Hemoglobin 7,0 (g/dL), MCV 63 fl, dan MCHC 25,8 g/dL. Tidak ditemukan adanya koloni jamur Curvularia sp. pada kultur jamur dengan menggunakan media Sabourd Dextrose Agar (SDA). Anjing didiagnosis demodekosis disertai dermatomikosis. Pengobatan dilakukan dengan pemberian ivermectin, ketoconazole, antihistamin (diphenhydramine dan CTM), vitamin B kompleks, dan sabun sulfur. Evaluasi setelah 14 hari menunjukkan perubahan pada lesi kearah yang lebih baik dan pruritus mulai berkurang. Berdasarkan perubahan lesi yang membaik pada kulit anjing kasus setelah diterapi, maka pengobatan yang dilakukan dapat disimpulkan berhasil.
Laporan Kasus: Enteritis Hemoragi karena Koinfeksi Ancylostomiosis dan Koksidiosis, Disertai Komplikasi Erlichiosis pada Anjing Kacang Caroline, Grace; Batan, I Wayan; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (6) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.6.807

Abstract

Infeksi gastrointestinal pada anjing, salah satunya dapat diakibatkan karena parasit dan protozoa pada saluran pencernaan yang dapat menyebabkan enteritis hemoragi. Parasit berbahaya yang berada dalam saluran pencernaan adalah Ancylostoma spp. serta dari kelompok protozoa adalah Isospora spp., Kedua penyakit ini dapat menimbulkan penyakit yang menunjukkan tanda klinis yang hampir sama yakni diare hingga berdarah, penurunan nafsu makan, lemah, anoreksia, yang dapat diteguhkan oleh pemeriksaan feses. Hasil pemeriksaan klinis anjing kasus mengalami kepucatan pada membran mukosa dan konjungtiva, serta waktu pengisian kapiler yang bertambah lama. Hasil pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan anjing kasus mengalami anemia mikrositik hipokromik, leukositosis, monositosis, neutrofilia, dan trombositopenia. Hasil pemeriksaan mikroskopis feses menunjukkan adanya telur cacing Ancylostoma spp., dan ookista Isospora spp. Berdasarkan pemeriksaan tersebut, anjing kasus didiagnosis mengalami ancylostomiosis dan koksidiosis. Saat dilakukan pemeriksaan hematologi rutin, anjing kasus mengalami trombositopenia yang dicurigai terinfeksi juga oleh parasit darah. Dilakukan ulas darah dan uji serologi rapid test antibodi dan didapati hasil anjing kasus positif terinfeksi Ehrlichia sp. Terapi yang diberikan berupa anthelmintik dengan kandungan pyrantel secara peroral, 5 mg/kg BB diulangi pada hari ke-3, hari ke-7, dan hari ke-10. Terapi antibitoik berupa sulfamethoxazole-trimethroprim secara peroral 30 mg/kg BB, satu kali sehari selama 10 hari. Terapi antibiotik lainnya berupa doxycycline secara peroral, 10 mg/kg BB, satu kali sehari selama 28 hari. Antiparasit dengan kandungan sarolaner. Terapi suportif berupa hematopoietikum satu kapsul per hari, secara peroral satu kali sehari selama 10 hari. Pada hari ke-15 pengobatan, anjing kasus menunjukkan perbaikan kondisi ditandai dengan feses yang teramati tidak ada darah dan konsistensi feses yang memadat. Pada hari ke-28 kondisi anjing kasus semakin membaik, sangat aktif, dan mengalami penambahan bobot badan.
CASE REPORT: SCABIES WITH NORMOCYTIC NORMOCHROMIC ANEMIA AND ABNORMALITIES IN THE HAIR MEDULLA IN DOMESTIC CATS Wiadnyani, Kadek Ayu; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati; Erawan, I Gusti Made Krisna
VITEK : Bidang Kedokteran Hewan Vol. 14 No. 2 (2024): VITEK-Bidang Kedokteran Hewan
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30742/jv.v14i2.298

Abstract

Scabies is a common skin disease in cats caused by mite infestation, one of which is Sarcoptes scabiei. An unsterilized male domestic 4 years old cat, weighing 4.75 kg, with a history of hair loss and itching. On physical examination, lesions were found in the form of alopecia, papules, hyperkeratosis, erythema, crusting, scales, escoriation and ulcers on the skin of the cat's face, ears and neck. The mucosa of the cat's mouth and eyes is pale and swelling of the lymphnodes with a hard consistency and increased temperature of the overlying skin. Laboratory examinations showed the presence of Sarcoptes scabiei mites accompanied by normocytic-normochromic anemia and abnormalities in the cat's hair medulla. Treatment given includes administration of ivermectin (0.2 mg/kg BW subcutaneously), chlorphenamine maleate (2 mg/head orally once a day), gentamicin sulfate ointment, multivitamins and minerals 1 tab/head orally once a day), administration of one softgel of fish oil per day, application of Virgin Coconut Oil, and specific food for hair and skin (Royal Canin®). On the seventh day, the case cat showed clinical recovery with relief of disease symptoms such as itching and reduction of lesions.
Pneumonia Karena Migrasi Larva Toxocara sp.dan Ancylostoma sp. pada Kucing Domestik Br Sitepu, Dinda Meilinda; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati; Widyastuti, Sri Kayati
Jurnal Veteriner Nusantara Vol 8 No 2 (2025): Agustus, 2025
Publisher : Program Studi Kedokteran Hewan, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jvn.v8i2.23270

Abstract

A 2-year-old domestic cat named Simba presented with respiratory symptoms, including coughing and nasal discharge containing serous exudate. Additionally, the cat exhibited abdominal enlargement. During the physical examination, palpation of the trachea triggered a coughing reflex, and the cat appeared to be attempting to expel something from its throat. Fecal examination revealed the presence of Toxocara sp. and Ancylostoma sp. eggs. A routine hematology test showed leukocytosis, lymphocytosis, monocytosis, granulocytopenia. The cat was diagnosed with pneumonia caused by the migration of Toxocara sp. and Ancylostoma sp. larvae.Treatment was given with Pyrantel pamoate (Combantrin®) 125 mg/tab with a dose of 40 mg (1/3 tab) orally once a week for two weeks, repeating depending on the severity, Amoxyclav antibiotic 625 mg/tab with a dose of 64 mg (1/10) orally twice a day for 7 days, and fish oil (Tung-hai Fish Liver Oil®) orally one soft gel per day for 7 days. An evaluation on the seventh day showed that the cat’s condition had improved.
Malasseziosis dan otitis eksterna bersamaan pada seekor pug senior Adiari, Ni Made Santi Rahayu; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati; Widyastuti, Sri Kayati
ARSHI Veterinary Letters Vol. 9 No. 3 (2025): ARSHI Veterinary Letters - August 2025
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.9.3.71-72

Abstract

Dermatitis is a common skin disorder in dogs, caused by a variety of factors including fungi, ectoparasites, bacteria, and metabolic diseases. This case report describes a 7-year-old male pug with dermatitis associated with Malassezia infection and concurrent otitis externa caused by bacterial and Malassezia infections. The dog exhibited clinical signs, including pruritus, erythema, scaling, hyperpigmentation, lichenification, malodor, oily coat, and wet, malodorous ear discharge. Cytological analysis of skin and ear samples, performed using acetate tape preparation and otic swabs, revealed the presence of Malassezia yeast and cocci-shaped bacteria. Hematological evaluation revealed normocytic normochromic anemia. Based on these findings, the dog was diagnosed with Malasseziosis and bacterial-Malassezia otitis externa. A comprehensive therapeutic regimen was implemented, including oral antifungal ketoconazole, sebazole shampoo, oticon ear drops, anti-inflammatory methylprednisolone, antihistamine chlorpheniramine maleate, and supportive supplementation with multivitamins (Livron B-plex) and fish oil. After 21 days of treatment, significant clinical improvement was observed, demonstrating the efficacy of this multimodal therapeutic approach.
Toxocariosis accompanied with conjunctivitis, scabies, thrombocytopenia in a domestic cat Rate, I Made Bagi; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati; Jayanti, Putu Devi
ARSHI Veterinary Letters Vol. 8 No. 3 (2024): ARSHI Veterinary Letters - August 2024
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.8.3.51-52

Abstract

Toxocariasis, konjungtivitis, dan skabies adalah masalah kesehatan umum pada kucing yang disebabkan oleh infeksi cacing nematoda, virus atau bakteri, serta tungau. Artikel ini melaporkan kasus seekor kucing domestik betina berusia dua bulan bernama Jeni, yang dibawa ke dokter hewan dengan keluhan diare, keluarnya cairan dari mata, gatal, lesi kulit, dan kerontokan bulu. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya telur Toxocara cati melalui analisis feses dengan metode native dan flotasi, bakteri dari pemeriksaan sitologi apusan konjungtiva yang kemudian diidentifikasi sebagai Staphylococcus sp. melalui kultur bakteri, serta Sarcoptes scabiei dari kerokan kulit superfisial. Hitung darah lengkap menunjukkan leukositosis, limfositosis, monositosis, granulositosis, trombositopenia, dan anemia hipokromik. Pasien didiagnosis dengan toxocariasis, konjungtivitis, skabies, dan trombositopenia, dengan prognosis yang buruk. Pengobatan meliputi pemberian pyrantel pamoate, kaolin-pektin, tetes mata kloramfenikol dan deksametason, ivermectin, diphenhydramine HCl, dan sirup multivitamin. Meskipun telah diberikan perawatan selama empat hari, kucing tidak dapat bertahan dan akhirnya meninggal, setelah itu dilakukan autopsi. Perubahan patologis makroskopis meliputi perdarahan di usus dan paru-paru, sementara pemeriksaan histopatologi menunjukkan kongesti dan nekrosis pada bronkiolus, serta perdarahan dan edema di paru-paru. Nekrosis juga ditemukan pada vili usus dan kripta Lieberkühn, yang mendukung diagnosis toxocariasis dengan dugaan migrasi larva Toxocara cati ke paru-paru.