Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

RUQYAH SYAR’IYYAH: ALTERNATIF PENGOBATAN, KESALEHAN, ISLAMISME DAN PASAR ISLAM Dony Arung Triantoro
Harmoni Vol. 18 No. 1 (2019): Januari-Juni 2019
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.55 KB) | DOI: 10.32488/harmoni.v18i1.354

Abstract

Abstrak: Studi ini menelisik tentang wacana kemunculan pengobatan alternatif Islam, utamanya pengobatan Ruqyah Syar’iyyah di Yogyakarta dan sekitarnya. Pengobatan Ruqyah Syar’iyyah telah menjadi bentuk ekspresi keislaman baru di kalangan Muslim Indonesia pasca Orde Baru. Tulisan ini akan menjelaskan tentang apa saja wacana yang menginisiasi kemunculan pengobatan Ruqyah Syar’iyyah dan mengapa Muslim Indonesia mengapresiasi kemunculan pengobatan Ruqyah Syar’iyyah? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, peneliti melakukan kerja lapangan di beberapa komunitas ruqyah di Yogyakarta, Sleman, Bantul dan Gunung Kidul. Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa kemunculan pengobatan Ruqyah Syar’iyyah diinisiasi oleh ketidakpastian (uncertainty) jaminan sosial kesehatan dari pemerintah, Islamisme, dan semangat kebangkitan Islam pasca Orde Baru. Kemudian pengobatan Ruqyah Syar’iyyah turut menyuplai produk-produk keislaman di Indonesia.
DAKWAH, KESENANGAN, DAN SENSE OF COMMUNITY: SAHABAT HIJRAH PEKANBARU Dony Arung Triantoro; M. Alam Zumiraj
Harmoni Vol. 20 No. 1 (2021): Januari-Juni 2021
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32488/harmoni.v20i1.472

Abstract

The topic of fun among Indonesian moslem youth has long been a serious concern for a some of scholars. In several academic studies, fun is often seen as a single variable that has not Islamic tendency, so that fun is considered to endanger the morality of youth. In short, fun culture of Indonesia’s youth is described as a moral panic discourse. This opinion is increasingly finding its momentum when previous studies discussing Islamist groups such as the Salafi managed to find an anti-fun narrative that was echoed by them. However, recent studies have shown that Salafis are also involved in pleasurable activities. This paper does not discuss about fun in the Salafi group, but criticizes previous views which always view fun as a moral panic discourse among youth. It is true that in some cases fun becomes a moral decay source for youths, but in other cases, fun also becomes an instrument for Moslem youth to disseminate Islamic discourse and others. Borrowing the concept of ‘Islamic fun’ from Asef Bayat, this paper explores about the culture of fun among moslem youth in Pekanbaru. This article aims to determine: First, to find out how the Sahabat Hijrah Pekanbaru community uses fun as an instrument of da’wah among moslem youth in Pekanbaru. Second, knowing how moslem youth in Pekanbaru negotiate their Islamic identity through fun activities. Third, knowing the extent to which fun is appropriated into youth da’wah activities such as Sahabat Hijrah community. Finally, this study aims to determine fun as social capital to strengthen the sense of community among moslem youth in Pekanbaru. Through fieldwork (ethnography) by studying data through observation, personal communication and documentation, this article shows that fun and Islam in the Sahabat Hijrah community are related with each other and are continuously negotiated by their followers.
STRATEGI DAKWAH BERBASIS MEDIA ELEKTRONIK DI PERSATUAN MUBALIGH DUMAI (PMD) KOTA DUMAI Perdamaian Perdamaian; Kodarni Kodarni; Dony Arung Triantoro
Idarotuna Vol 1, No 1 (2018): Oktober 2018
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/idarotuna.v1i1.6071

Abstract

Media elektronik sebagai media dakwah masih kurang diperhatikan oleh lembaga-lembaga dakwah. Persatuan Mubaligh Dumai (PMD) sebagai salah satu lembaga dakwah yang memanfaatkan media elektronik sebagai media dakwah juga kurang optimal. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana Strategi dakwah berbasis media elektronik di Persatuan Mubaligh Dumai (PMD) Kota Dumai. Informan penelitian ini berjumlah delapan orang. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi,dan dokumentasi. Dengan analisis kualitatif dapat disimpulkan bahwa strategi dakwah berbasis media elektronik di Persatuan Mubaligh Dumai (PMD) Kota Dumai yaitu; Pertama, melakukan kerjasama dengan radio Ar-Rahman 102,2 FM, Dumai Vision dan Dumai Dokumentasi TV untuk ceramah langsung dan peliputan kegiatan PMD; Kedua, Memetakan mad’u Ketiga, melakukan kegiatan workshop,  pelatihan kader,  muzakarah, sertifikasi da’i dan membiasakan da’i berdakwah secara langsung di radio dan televisi dengan dibimbing oleh para pakar dakwah; Keempat, perumusan materi dakwah di media elektronik, yaitu dengan membuat tim yang ditunjuk oleh pengurus harian PMD dengan dibantu oleh para pakar dakwah serta materi dakwah yang disusun adalah materi dakwah yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat; Kelima, pelaksanaan dakwah yang terkordinir, yaitu dakwah dilakukan sesuai dengan jadwal dan materi yang telah ditentukan, serta diawasi oleh Biro Pengembangan Dakwah (PMD), Kantor Urusan Agama Kota Dumai, Kementerian Agama Kota Dumai dan masyarakat.Akhirnya, bahwa strategi dakwah berbasis media elektronik di Persatuan Mubaligh Dumai (PMD) Kota Dumai sudah efektif, namun pelaksanaannya perlu dioptimalisasikan lagi. Keywords: Strategi, Dakwah, Media Elektronik.
Ekspresi Identitas Anak Muda Muslim dan Dakwah di Indonesia Pasca Orde Baru Dony Arung Triantoro
Idarotuna Vol 3, No 1 (2020): Oktober 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/idarotuna.v3i1.11357

Abstract

Ekspresi keislaman anak muda Islam di Indonesia sangat mengemuka pasca runtuhnya Orde Baru. Ihwal ini ditunjukkan dengan munculnya sejumlah aktivisme keislaman yang diinisiasi oleh anak muda Islam di Indonesia. Artikel ini mengkaji tentang bagaimana anak muda Islam mengartikulasikan identitas keislaman mereka di ruang publik Indonesia. Melalui kerja lapangan di sejumlah kota seperti Yogyakarta, Solo dan Pekanbaru dan didukung kerja netnografi serta sumber literatur terdahulu, artikel ini menunjukkan bahwa bentuk artikulasi identitas keislaman anak muda Islam di Indonesia di antaranya sebagai berikut; Pertama, anak muda Islam membentuk komunitas-komunitas dakwah yang berbasis di dalam maupun di luar masjid. Kedua, anak muda Islam menyukai musik-musik yang bergenre sholawat populer. Ketiga, anak muda Islam secara masif menggunakan media sosial untuk mengekspresikan identitas keislamannya. Terakhir, anak muda Islam mengekspresikan identitas keislamannya melalui gaya berpakaian yang syar’i dan trendi.
Pemberdayaan Muslim Muallaf Melalui Home Industry Kerupuk Ikan Lomek di Desa Selat Akar Masduki Masduki; Toni Hartono; Vera Sardila; Dony Arung Triantoro
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.9 KB) | DOI: 10.14421/jpm.2019.032-09

Abstract

This article discusses about economic empowerment based on home industry to enforce the faith of new Muslim converters in Desa Selat Akar Kepualaun Meranti, Riau. To understand the economic potential of this village, the faith enforcement seems to be more effective when it is done through economic empowerment based on home industry. This resesearch was founded, i.e. To support this, the empowerment uses community based research concept. This research founded i.e. first, doing an evaluation during observation and conducting identification before the empowerment done. Second, this empowerment finds that this a new Muslim group needs physical capital assistance to develop its enterprises. Third, making ‘Lomek’ fish crackers has become an instrument or media among the Muallafs to keep and improve their faith. Tulisan ini mendiskusikan pemberdayaan ekonomi berbasis home industry untuk penguatan akidah Muslim Muallaf di Desa Selat Akar Kepulauan Meranti, Riau. Memahami potensi ekonomi yang ada di desa tersebut, maka penguatan akidah para Muslim Muallaf tampak menjadi lebih efektif apabila dilakukan dengan penguatan sisi ekonomi rumahan atau berbasis home industry. Untuk mendukung keberhasilan kegiatan, pemberdayaan ini menggunakan konsep Community Based Research (CBR) dengan metode kualitatif. Penelitian ini menemukan beberapa program pemberdayaan antara lain; pertama, melakukan evaluasi pada saat observasi dan identifikasi sebelum pemberdayaan dilakukan. Kedua, menemukan bahwa kelompok Muslim Muallaf memerlukan bantuan modal fisik untuk pengembangan usaha mereka. Ketiga, membuat kerupuk Ikan Lomek benar-benar telah menjadi media sekaligus wadah tempat di mana para Muslim Muallaf dapat meningkatkan dan memperkokoh akidah mereka.    
Pebisnis Islam dan Muslim Kelas Menengah ke Atas di Indonesia: Kesalehan, Gaya Hidup, dan Pasar Dony Arung Triantoro
El Madani : Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 1 No. 02 (2020): El Madani: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam
Publisher : Dakwah Institut PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2215.206 KB) | DOI: 10.53678/elmadani.v1i02.123

Abstract

Diskusi mengenai Muslim kelas menengah ke atas di Indonesia telah menjadi kajian menarik di kalangan Sarjana dengan fokus kajian yang berbeda-beda. Alasannya, karena Muslim kelas menengah ke atas terus bergerak dinamis dan memainkan peran penting dalam lanskap sosial keagamaan di Indonesia. Tulisan ini berupaya menjelaskan wacana global yang menginisiasi munculnya gaya hidup baru di kalangan Muslim kelas menengah ke atas di Indonesia. Dengan mengamati fenomena yang berkembang baik secara offline maupun online, ekspresi keislaman yang ditampilkan Muslim kelas menengah ke atas di Indonesia menunjukkan persimpangan antara kesalehan, gaya hidup dan pasar. Oleh karena itu, ihwal tersebut membawa tulisan ini pada argumentasi bahwa meningkatnya ekspresi keislaman di kalangan Muslim kelas menengah ke atas pada gilirannya menginisiasi munculnya para aktor bisnis Islam yang memfasilitasi gaya hidup baru Muslim kelas menengah ke atas.
TikTok Islam: Ekspresi Anak Muda, Media Baru, dan Kreativitas di Masa Pandemi Fathayatul Husna; Dony Arung Triantoro; Raudhatun Nafisah
Idarotuna Vol 4, No 2 (2022): Oktober 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/idarotuna.v4i2.18177

Abstract

Artikel ini fokus membahas tentang ekspresi anak muda di tengah pandemi. Selama pandemi, aktivitas sosial dimediasi melalui teknologi komunikasi modern seperti media sosial. Kondisi ini mendukung munculnya berbagai ekspresi anak muda di media sosial, salah satunya dalam bentuk menyebarkan pesan-pesan keagamaan di TikTok. Untuk mengetahui lebih jauh terkait fenomena ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif yang menekankan pada kerja etnografi virtual dan dianalisis dengan literatur-literatur yang relevan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Husain Basyaiban, salah satu anak muda Muslim, aktif menggunakan TikTok melalui akun @basyasman00 untuk menyebarkan pesan-pesan keagamaan di masa pandemi. Meskipun secara sosiologis, TikTok menimbulkan polemik di satu sisi, tetapi di sisi lain menjadi peluang untuk membangun popularitas. Selain itu, sikap ekspresi di media sosial sejalan dengan upaya pembentukan identitas diri dan munculnya wacana narsistik.
Respecting the Red White Flag and National Commitment in the Perspective of Hadith Rahman Rahman; Zulfahmi Alwi; Darsul S. Puyu; Sawaluddin Sawaluddin; Dony Arung Triantoro
ADDIN Vol 16, No 1 (2022): ADDIN
Publisher : LPPM IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/addin.v16i1.13732

Abstract

The purpose of this study is to analyze the phenomena that occur in the community related to respect for the Red and White Flag and national commitment in the perspective of hadith. This study uses a qualitative approach. Qualitative approach is the process of solving the problem under study by describing the object of research in detail. The data collection technique in this study uses library research in the form of documentation studies, namely books that are relevant to hadith texts. The analysis technique used is through three paths, namely: first, data reduction, which is defined as the process of selecting data; secondly, presenting data; thirdly, drawing conclusions. As for the results of this study, the opinion which says that respecting the flag as a shirk behavior does not have a strong argument. They consider that respecting the flag is not included in worship. so respecting the flag means respecting inanimate objects, respecting inanimate objects is including shirk. The implications of the results of this study can at least provide input to policy makers that normatively, mainly based on hadith, that respecting the flag as a symbol of the state is permissible. In general, this research has provided an understanding that respecting the red and white flag is a form of national commitment that must be preserved continuously.
Respecting the Red White Flag and National Commitment in the Perspective of Hadith Rahman Rahman; Zulfahmi Alwi; Darsul S. Puyu; Sawaluddin Sawaluddin; Dony Arung Triantoro
ADDIN Vol 16, No 1 (2022): ADDIN
Publisher : LPPM IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/addin.v16i1.13732

Abstract

The purpose of this study is to analyze the phenomena that occur in the community related to respect for the Red and White Flag and national commitment in the perspective of hadith. This study uses a qualitative approach. Qualitative approach is the process of solving the problem under study by describing the object of research in detail. The data collection technique in this study uses library research in the form of documentation studies, namely books that are relevant to hadith texts. The analysis technique used is through three paths, namely: first, data reduction, which is defined as the process of selecting data; secondly, presenting data; thirdly, drawing conclusions. As for the results of this study, the opinion which says that respecting the flag as a shirk behavior does not have a strong argument. They consider that respecting the flag is not included in worship. so respecting the flag means respecting inanimate objects, respecting inanimate objects is including shirk. The implications of the results of this study can at least provide input to policy makers that normatively, mainly based on hadith, that respecting the flag as a symbol of the state is permissible. In general, this research has provided an understanding that respecting the red and white flag is a form of national commitment that must be preserved continuously.
Communication Goes to School: Membangun Budaya Literasi Media di Kalangan Siswa Sekolah Fathayatul Husna; Dony Arung Triantoro; Raudhatun Nafisah; Mirza Adia Nova
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 13, No 4 (2022): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/e-dimas.v13i4.12092

Abstract

Berangkat dari prinsip irreversible dalam komunikasi dan penggunaan media sosial di kalangan anak muda yang meningkat signifikan dalam beberapa tahun belakangan ini, diperlukan pemahaman yang komprehensif tentang literasi media. Tujuannya agar siswa di sekolah dapat menggunakan media sosial secara bijak dan tidak terjebak dalam penyalahgunaan media sosial. Dengan menggunakan metode ceramah dan pemutaran video selama dua hari, program pengabdian ini berupaya menjelaskan tentang bagaimana konsep-konsep media sosial, bagaimana dampak negatif media sosial, sejauh mana media sosial memberikan peluang positif bagi anak muda untuk berkreativitas di dalamnya, dan bagaimana menggunakan media sosial yang bijak. Hasil pengabdian ini menunjukkan bahwa siswa sangat antusias memahami tentang literasi media sosial dan bagaimana memanfaatkan media sosial untuk hal-hal positif. Terakhir, berdasarkan hasil pengabdian di atas, penulis merekomendasikan bahwa perlunya kerjasama dari berbagai pihak, baik guru, akademisi, orang tua, masyarakat, dan siswa, untuk memberikan literasi media kepada siswa dan menciptakan kegiatan-kegiatan kreatif dan positif di media sosial.