Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

The Effect of Aaerobic Exercise on Functional Capacity Increase in Coronary Heart Disease Patients: A Narrative Review Khairullah, Rahmad Rizaldy; Norlinta, Siti Nadhir Ollin
FISIO MU: Physiotherapy Evidences Vol 4, No 1 (2023): PhysioTherapy Comunity
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/fisiomu.v4i1.5017

Abstract

The heart condition known as coronary heart disease (CHD) is brought on by the narrowing of the coronary arteries as a result of atherosclerosis, spasm, or a combination of both. This results in a disruption in the supply of oxygen and nutrients to the myocardial tissue due to a decrease in coronary blood flow and a reduction in functional capacity. Objective: The study aims to determine the effect of aerobic exercise on functional capacity increase in coronary heart disease patients. Method: The research employed a narrative review method with the PICO framework (Population/Patient/Problem, Intervention, Comparation, and Outcome). The journals were searched from 2 databases, namely Google Scholar with 15,700 articles and Pubmed 639 articles. The inclusion criteria in this study were national or international articles and full text about the effect of aerobic exercise on functional capacity decline in coronary heart patients published in 2012- 2022. Result: After reviewing the title, relevancy of the abstract, and full text of 16,334 papers from 2 databases, 10 journals demonstrated that aerobic exercise was effective to increase the functional capacity in coronary heart disease patients. Conclusion: There is an effect of aerobic exercise on functional capacity increase in coronary heart disease patients. Keywords: Aerobic Exercise, Coronary Heart Disease, Functional Capacity
Edukasi Resiko Jatuh Pada Lansia Sebagai Upaya Untuk Menjaga Fleksibilitas Tubuh Norlinta, Siti Nadhir Ollin; Irfan, M
Jurnal Abdidas Vol. 6 No. 3 (2025): June
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/abdidas.v6i3.1145

Abstract

Risiko jatuh pada lansia meningkat seiring bertambahnya usia karena penurunan kekuatan otot, keseimbangan, dan penglihatan, serta adanya masalah kesehatan seperti osteoporosis dan diabetes. Jatuh pada lansia dapat menyebabkan cedera serius, seperti patah tulang atau cedera kepala, yang berdampak besar pada kualitas hidup mereka. Prevelensi tertinggi cedera karena jatuh pada lansia di usia 50 keatas. Masalah tersebut menjadi serius karena dapat mengakibatkan kemunduran baik dari segi fisik, mental, maupun psikososial. Prevelensi lansia tertinggi di Indonesia berada di Yogyakarta (53,4)%. Gangguan keseimbangan dinamis merupakan Faktor yang dapat meningkatkan resiko jatuh. Resiko jatuh akan menyebabkan suatu masalah besar diantaranya timbulnya penyakit tidak menular, Penurunan Activity Daily dan Koordinasi Pada Lansia. Pengabdian masyarakat yang digunakan, yaitu: Observasi, edukasi, wawancara beserta pengisian kuesioner dan dokumentasi. Pengabdian yang dilakukan lansia mengalami peningkatan pengetahuan dan ketrampilan pada latihan aerobik low impact, sit and reach test dan pengisian skrining TUGT. Pengabdian ini telah berhasil memberikan sumbangsih terhadap upaya pencegahan resiko jatuh dengan menggunakan skrining TUGT serta edukasi yang mengganggu keseimbangan pada lansia.
Pemberdayaan Lansia Melalui Program ( SEHATI) Sehat Turunkan Stunting Norlinta, Siti nadhir ollin; Rosida, Luluk; Rohmadani, Zahro Varisna
Masyarakat Berdaya dan Inovasi Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33292/mayadani.v5i2.198

Abstract

Stunting merupakan keadaan dimana anak mengalami keterlambatan pertumbuhan. Kondisi tersebut disebabkan kondisi kesehatan dan asupan gizi yang tidak optimal. Kalurahan Sidoagung adalah bagian dari wilayah kapanewon Godean, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pendampingan dilakukan berdasarkan hasil observasi terakhir bahwa pelaksanaan posyandu lansia selain pemeriksaan kesehatan fisik penting juga untuk berperan aktif dalam pola asuh sehari-hari. Melihat fenomena angka stunting di wilayah kerja Sidoagung masih di angka yang cukup tinggi. Salah satu upaya untuk menekan angka stunting dengan melibatkan peran orang terdekat di dalam keluarga yaitu Lansia. Metode pelaksanaan menggunakan teori Participatory Learning and Action (PLA). Metode ini digunakan sebagai pendekatan proses belajar dan berinteraksi dengan komunitas atau masyarakat yang sesuai dengan permasalahan mitra. Tujuan pengabdian meningkatkan peran lansia sebagai kader posyandu lansia dan balita,meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam mengelola kesehatan lansia dan balita. Simpulan dari pengabdian ini Peserta pengabdian masyarakat meraskan manfaat berupa hasil dari skrining kesehatan menjadikan lebih waspada dan sadar pentingnya menjaga kesehatan tubuh dari Penyakit Tidak Menular (PTM) dan melakukan Cek Lab secara berkala. Mereka juga telah menguasai ilmu pengetahuan tentang pembuatan MPASI dan Tata Cara Menyusui yang benar. Perubahan perilaku mengasuh balita membangkitkan motivasi dan semangat lansia untuk menjadikan cucu mereka sehat bebas dari Stunting.
The Relationship between Weight and Age on the Decline in Functional Activities in State Civil Apparatus at the Cirebon City Environmental Service Riswandani, Kahfi; Jafar, Muhammad Ali; Norlinta, Siti Nadhir Ollin
Symbiohealth Vol. 3 No. 1 (2025)
Publisher : Civiliza Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59525/symbiohealth.v3i1.659

Abstract

The decline in functional activities is a health problem that is increasing globally, especially among workers of productive age, including the State Civil Apparatus (ASN). Internal factors such as age and weight are known to contribute to an increased risk of musculoskeletal disorders, including low back pain. This study aims to determine the relationship between weight and age to the decrease in functional activity in ASN at the Cirebon City Environmental Service. The study used a correlational analytical design with a cross sectional approach. The sample was taken by purposive sampling with a total of 51 respondents who met the inclusion criteria. Data was collected through a Google Form-based questionnaire that included biodata, Numeric Pain Rating Scale (NPRS), and Oswestry Disability Index (ODI). Data analysis was carried out using the Shapiro-Wilk normality test and the hypothesis test with parametric correlation analysis. The results showed that both age and weight were significantly related to decreased functional activity. Respondents with older age and above-normal weight have a higher prevalence of experiencing low back pain complaints in the moderate to severe category. It was concluded that the increase in age and body mass index contributed to an increased risk of decreased functional activity in ASN.
Efektifitas Strengthening Exercise dan Balance Exercise Terhadap Functional Mobility dan Risiko Jatuh Pada Lansia Azzahra, Nazwa Noorsaluh; Faidullah, Hili Zadah; Ollin, Siti Nadhir
Jurnal Kesehatan Vol 13 No 2 (2026): In Press
Publisher : STIKES Bethesda Yakkum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Lansia sering mengalami penurunan kemampuan mobilitas fungsional yang membuat mereka lebih rentan terhadap risiko jatuh seiring dengan proses penuaan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini adalah melalui intervensi fisioterapi berupa strengthening exercise dan balance exercise, yang bertujuan meningkatkan kekuatan otot serta stabilitas tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas kedua jenis latihan tersebut dalam meningkatkan functional mobility dan menurunkan risiko jatuh pada lansia. Desain penelitian yang digunakan adalah randomized controlled trial dengan pendekatan double-blind dan rancangan two-group pretest-posttest. Sebanyak 40 lansia dipilih secara acak ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok intervensi yang mendapatkan strengthening exercise dan balance exercise, serta kelompok kontrol yang tidak mendapatkan intervensi. Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah intervensi selama empat minggu dengan menggunakan Timed Up and Go Test (TUGT) untuk menilai mobilitas fungsional, serta Morse Fall Scale (MFS) untuk menilai risiko jatuh. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada skor TUGT dan penurunan signifikan pada skor MFS pada kelompok intervensi dibandingkan kelompok kontrol (p < 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa latihan fisik yang dilakukan secara terstruktur mampu meningkatkan stabilitas, koordinasi, dan kekuatan otot pada lansia. Dengan demikian, strengthening exercise dan balance exercise terbukti efektif dalam meningkatkan functional mobility sekaligus menurunkan risiko jatuh. Intervensi ini dapat direkomendasikan sebagai strategi preventif dalam program kesehatan lansia.
Camera-Based Smart Mirror with Machine Learning for Postural Analysis: System Development and Reliability Evaluation Fitri Yani; Yoga Sahria; Siti Nadhir Ollin Norlinta; Riska Risty Wardhani
Advance Sustainable Science Engineering and Technology Vol. 8 No. 3 (2026): May - July
Publisher : Science and Technology Research Centre Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/asset.v8i3.3097

Abstract

Early postural assessment using camera-based systems remains technically challenging due to variability in user positioning and limited evaluation of measurement repeatability. This study presents the development and repeatability evaluation of a smart mirror system for automated postural analysis using pretrained pose estimation and rule-based geometric classification. The system consists of a fixed camera mounted above a mirror and a connected computing device for real-time processing and visual feedback. Anatomical landmarks were detected from standardized anterior, posterior, and lateral views using an AI-based pose estimation model, and postural asymmetry was quantified using bilateral distance ratios and angular deviation thresholds derived from literature. Reliability was evaluated through repeated measurements to assess the consistency of landmark detection and postural classification outputs. Forty adolescents (age 12.8 ± 0.56 years; 28 males, 12 females) participated in present study. The system intra-rater reliability was evaluated by calculating Intraclass Correlation Coefficients (ICC) for the landmark data and Cohen's Kappa for posture classifications. The system demonstrated excellent reliability for key landmarks in scapula (ICC = 0.98, 95%CI 0.97-0.99) and hip-knee-ankle (ICC = 0.98, 95%CI 0.98-0.99). The classifications for scoliosis assessment also showed excellent agreement (κ = 0.90). These results indicate that the proposed system can produce repeatable posture measurements under controlled conditions; however, this study evaluates repeatability only and does not assess diagnostic accuracy or clinical validity. Further validation against clinical reference standards is required before broader application. 
Effects of handgrip strength training on menopausal symptoms among active and inactive elderly community women Arkana Shalihat Agraj&#039;ma; Siti Nadhir Ollin Norlinta; YuChuan Tsai; Suci Muqodimatul Jannah
JHeS (Journal of Health Studies) Vol. 10 No. 1 (2026): Maret
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31101/jhes.4704

Abstract

Menopausal symptoms can reduce quality of life in elderly women and their severity is influenced by physical activity levels. In European regions approximately 70-80% women experiencing menopausal symptoms, whereas in America the proportion is around 60% and in Asia, reports indicate that approximately 10% of women in Japan and Indonesia experience menopausal symptoms. Hand grip training as a form of resistance training has the potential to increase muscle strength and help reduce menopausal symptoms. This study aims to evaluate the effect of hand grip training on menopausal symptoms in active and inactive elderly women in the community. The study used a  quasi-experimental pre-test and post-test two-group design consisting of 34 elderly women aged 50–60 years who were divided into active and inactive groups based on their physical activity levels using the International Physical Activity Questionnaire Short Form (IPAQ-SF) questionnaire. The hand grip training intervention was given for 4 weeks with a frequency of 3 times per week for 12 training sessions. Menopausal symptoms were measured using the Menopause Rating Scale (MRS). Data were analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test for the active group and Paired Sample T-Test for the inactive group. In the active group, the median MRS scored decreased from 7.00 to 6.00 (p=0.001). In the inactive group, the mean MRS scored decreased from 12.24±3.80 to 8.53±3.52 (p=0.000). Hand grip training siginificantly reduces menopausal symptoms in both active and inactive elderly with greater improvement observed in the inactive group. This simple exercise can be effectively implemented in community-based settings to help manage menopausal symptoms among postmenopausal elderly women.
Efektivitas Latihan Aerobik Intensitas Sedang Terhadap Penurunan Nyeri Pada Remaja Dengan Premenstrual Syndrome (PMS) Andry Ariyanto; Tiura Salsabilah Noumi; Siti Nadhir Ollin Norlinta
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1635

Abstract

Gangguan kesehatan reproduksi pada usia remaja adalah Premenstrual Syndrome (PMS). Masalah ini sering dialami oleh remaja perempuan, ditandai dengan gejala fisik, emosional, dan perilaku selama fase luteal siklus menstruasi. Gejala fisik ditandai dengan munculnya nyeri yang mengganggu aktivitas sehari-hari pada sekitar area perut abdominal. Bentuk macam jenis pengobatan non-farmakologis adalah latihan aktifitas fisik, jenis latihan aktifitas fisik yang dilakukan adalah Latihan aerobik dengan intensitas sedang, intervensi latihan fisik ini membantu mengurangi tingkat perubahan tingkat nyeri terkait PMS dengan meningkatkan aktivitas fisik,sirkulasi darah, dan respons fisiologis tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh efektivitas latihan aerobik intensitas sedang dalam mengurangi tingkat nyeri pada remaja mengalami PMS. Desain penelitian dengan kuasi-eksperimental, pretest-posttest satu kelompok digunakan. Sampel terdiri dari 30 siswi sekolah menengah atas di Yogyakarta, terdiri dari 16 siswi (53,3%) berusia 15–16 tahun dan 14 siswi (46,7%) berusia 1718 tahun. Jenis intervensi aktifias fisik dengan latihan aerobik intensitas sedang diberikan waktu latihan selama empat minggu, frekuensi dua kali seminggu, dengan lama waktu sesi berlangsung 30–45 menit pada intensitas 50–70% dari denyut jantung maksimal. Tingkat nyeri diukur menggunakan Skala Analog Visual (VAS). Analisis data dilakukan menggunakan uji Shapiro-Wilk diikuti oleh uji Wilcoxon Signed Rank. Skor nyeri rata-rata adalah 2,03 ± 0,809 sebelum intervensi dan 2,73 ± 0,450 setelah intervensi. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan Z = −4,001 dengan nilai p 0,000 (p &lt; 0,05). Perubahan signifikan pada tingkat nyeri diamati setelah intervensi latihan aerobik intensitas sedang. Latihan aerobik intensitas sedang dapat berfungsi sebagai pilihan intervensi non-farmakologis untuk mengurangi nyeri pada remaja dengan PMS.
Efektivitas Progressive Muscle Relaxation (PMR) Terhadap Penurunan Nyeri Pada Remaja Dengan Premenstrual Syndrome (PMS) Tiura Salsabilah Noumi; Andry Ariyanto; Siti Nadhir Ollin Norlinta
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2b (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2b.1649

Abstract

Premenstrual Syndrome (PMS) merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi yang sering dialami remajaperempuan dan ditandai dengan munculnya berbagai gejala fisik, emosional, dan perilaku pada fase luteal siklusmenstruasi. Salah satu keluhan fisik yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari adalah nyeri. ProgressiveMuscle Relaxation (PMR) merupakan salah satu intervensi nonfarmakologis yang dilakukan melalui prosesmenegangkan dan melemaskan kelompok otot secara bertahap sehingga membantu menghasilkan kondisirelaksasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas PMR terhadap penurunan nyeri pada remajadengan PMS. Penelitian menggunakan desain quasi experimental one group pretest-posttest design. Sampelberjumlah 30 siswi SMA di Yogyakarta yang dipilih menggunakan purposive sampling. Intervensi PMRdiberikan selama 4 minggu dengan frekuensi 2 kali per minggu dan durasi 10–15 menit setiap sesi. Tingkat nyeridiukur menggunakan Visual Analog Scale (VAS). Analisis data dilakukan menggunakan Shapiro-Wilk Test dandilanjutkan dengan Wilcoxon Signed Rank Test karena data tidak berdistribusi normal. Rata-rata skor nyerisebelum intervensi sebesar 2,03 ± 0,809 dan setelah intervensi menjadi 2,67 ± 0,479. Hasil uji Wilcoxonmenunjukkan Z = −3,934 dengan p-value = 0,000 (p &lt; 0,05). Terdapat perubahan tingkat nyeri yang signifikansetelah pemberian PMR. Berdasarkan sistem pengkodean tingkat nyeri yang digunakan dalam penelitian,perubahan skor menunjukkan penurunan tingkat nyeri. PMR dapat menjadi salah satu intervensinonfarmakologis untuk membantu mengurangi nyeri pada remaja dengan PMS.