Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : PROSIDING SEMINAR NASIONAL

EMERGENCE RESISTANT UROPATOGEN Escherichia coli SETELAH PEMBERIAN SIPROFLOKSASIN DAN -MANGOSTIN SECARA in vitro Maya Dian Rakhmawatie; Afiana Rohmani
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2015: Prosiding Bidang MIPA dan Kesehatan The 2nd University Research Colloquium
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.253 KB)

Abstract

Emergence resistant on uropatogen Escherichia coli can occur shortly after the start of therapy using subtherapeutic doses of ciprofloxacin. Ciprofloxacin is an antibiotic that works depends on the level of concentration, higher ratio Cmax / MIC will give increases in effectiveness. When the ratio of Cmax / MIC <1, then the risk of emergence resistant will be increased. One of the herbs that are abundant in Indonesia and has anti-bacterial activity is mangosteen (Garcinia mangostana L.), which has an active compound -mangostin. Administration of the active compound α-mangostin is expected to help prevent the emergence resistant of uropatogen E. coli due to the use of subtherapeutic ciprofloxacin. This research was conducted by giving treatment to uropatogen E. coli in vitro. Bacterial strains used are uropatogen E. coli resistant to ciprofloxacin with MIC values of 128 μg / mL. Treatment is divided into (I) treatment groups using ciprofloxacin concentration Cmax at a dose of 750 mg (4.3 μg / mL), (II) treatment groups using ciprofloxacin concentration of 4.3 μg / mL and -mangostin 0.18 μg / mL, and (III) the negative control group. The study states that the administration of the combination of α-mangostin and ciprofloxacin delayed the growth of uropatogen E. coli resistant strains (MIC value of 128 μg / mL) compared to administration of ciprofloxacin alone (p 0.000). But the combination of α-mangostin and ciprofloxacin can not prevent an increased in resistance strain uropatogen E. coli, which is characterized by an increased in the value of the MIC to be 256 μg / mL after 2 hours of treatment.Keywords: ciprofloxacin, resistance, -mangostin, uropatogen E. coli
Evaluasi Penggunaan Obat Pada Pasien Demam Tifoid Di Unit Rawat Inap Bagian Anak dan Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah Sleman Periode Januari – Desember 2004 Maya Dian Rakhmawatie
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2008: CONTINUING MEDICAL AND HEALTH EDUCATION (CMHE) | Peran Biomolekuler dalam Penegakan Diagnosis
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.04 KB)

Abstract

Demam tifoid merupakan salah satu dari lima penyebab kematian diIndonesia. Pemakaian obat yang tidak rasional merupakan salah satu masalah pada pusat pelayanan kesehatan, oleh karena itu dilakukan penelitian untuk mengetahui angka prevalensi demam tifoid dan rasionalitas pengobatan pasien demam tifoid termasuk angka kejadian interaksi obat, serta keadaan farmakoterapi tidak rasional di unit rawat inap bagian anak dan penyakit dalam RSUD Sleman selama periode tahun 2004.Penelitian dilakukan dengan rancangan deskriptif non analitik yangbersifat eksploratif dengan pengumpulan data kualitatif dan kuantitatif secara retrospektif. Bahan yang digunakan adalah rekam medik pasien demam tifoid di RSUD Sleman selama periode Januari-Desember 2004. Analisis dilakukan dengan Epi Info 2002, data dibandingkan dengan standar pengobatan demam tifoid dari WHO.Hasil penelitian adalah sebagai berikut: pasien demam tifoid di RSUDSleman terdiri dari 48,1% laki-laki dan 51,9% perempuan. Pasien anak-anak usia < 15 tahun sebanyak 53,75% dan pasien dewasa usia ³ 15 tahun sebanyak 46,25%. Perincian hasil kriteria pengobatan rasional sebagai berikut: tepat indikasi 100%, tepat obat 81,9%, tepat dosis 35,8%, tepat pasien 93,1%. Analisis pengobatan berdasarkan kriteria peresepan tidak rasional adalah sebagai berikut:peresepan berlebih (over) sebesar 38,7%, peresepan kurang (under) sebesar 31,8%, peresepan majemuk (multiple) sebesar 61,875%, peresepan salah (incorrect) sebesar 53,8%, dan peresepan boros (extravagant) sebesar 46,2%. Persentase kemungkinan terjadinya interaksi sebanyak 15,6%. Kesimpulan yang didapat menyatakan bahwa pengobatan pasien demam tifoid di RSUD Sleman belum rasional.
EVALUASI PERILAKU PENGOBATAN SENDIRI TERHADAP PENCAPAIAN PROGRAM INDONESIA SEHAT 2010 Maya Dian Rakhmawatie; Merry Tiyas Anggraini
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2010: Bio Molekuler, Analis Kesehatan, Keperawatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.386 KB)

Abstract

Latar belakang : Salah satu indikator tercapainya Indonesia Sehat 2010 adalah tercapainya Program Pembangunan Kesehatan. Salah satu upaya agar derajat kesehatan masyarakat lebih optimal adalah pengobatan sendiri. Pengobatan sendiri hanya boleh menggunakan obat yang termasuk golongan obat bebas dan obat bebas terbatas sesuai dengan keterangan yang tercantum pada kemasannya. Tujuan penelitian : Mengevaluasi perilaku pengobatan sendiri yang dilakukan oleh masyarakat. Evaluasi dilakukan untuk melihat apakah perilaku pengobatan sendiri oleh masyarakat sudah rasional atau masih irasional. Metoda: Metode penelitian survei deskriptif dengan menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada sampel terpilih dengan multistage random sampling yang dilakukan di Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Jumlah sampel 97 terbagi ke dalam lima kelurahan yang kemudian dari masing-masing kelurahan diambil sampel secara proporsional sesuai dengan jumlah penduduk. Hasil : Rata-rata angka kerasionalan penggunaan obat belum maksimal. Angka rasionalitas pengobatan masing-masing keluhan antara lain; penggunaan obat demam 76,3%; obat nyeri  43,3%; obat batuk kering dan berdahak 13,4%; obat pilek 32,0%; obat flu 93,8%; obat sesak nafas 14,4%; obat maag 70,1%; obat diare 85,6%; obat konstipasi 61,9%, obat jamur 50,5%, obat bisul 38,1%, obat haemoroid 36,1%. Dari hasil penelitian hanya 76,3% masyarakat yang menyatakan pergi ke dokter jika dalam dua hari gejala tidak membaik. Simpulan : Dilihat dari kerasionalitasan penggunaan obat, ternyata hasilnya belum memuaskan.Kata kunci : Pengobatan sendiri, Indonesia Sehat
EFFECTIVITY IN VITRO OF Averrhoa bilimbi L ETHANOLIC EXTRACT AGAINTS Escherichia coli AND Staphylococcus aureus GROWTH Erwin Kukuh Widhianto; Ransidelenta Vistaprila Elmarda; Maya Dian Rakhmawatie
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2017: Proceeding International Seminar of Occupational Health and Medical Sciences (I-SOCMED) 2017 “
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.662 KB)

Abstract

Averrhoa bilimbi L, or in Indonesian named belimbing wuluh has been widely used by the community as a complement to cuisine. From many studies, fruit or leaves of Averrhoa bilimbi L declared to have antibacterial activity. The activity is caused by the antibacterial content in Averrhoa bilimbi L,  such as flavonoids, saponins, and tannins. This research is conducted to test the effectiveness of ethanolic extractof Averrhoa bilimbi L as antibacterial. The bacteria used to tested are Gram + Staphylococcus aureus and Gram- Escherichia coli, both of which are pathogenic bacteria in humans. This research was a pure experimental design with posttest only control group design. Averrhoa bilimbi L was extracted using maceration method with 96% ethanol solvent. The thick extract of the Averrhoa bilimbi L was diluted using 2% DMSO solvent to concentration range 0,19%; 0,39%; 0,78%; 1,0%; 1,56%; and 3,12% (v/v).Extracts with various concentrations were then tested to S. aureus and E. coli bacteria, and each concentration was repeated four times. MIC and MBC test were conducted by dilution method using Mueller Hinton Broth and Mueller Hinton Agar. MIC values were minimal concentration of no bacterial test growth , as measured by observing the difference of absorbance before and after incubation oftreatment solution using spectrophotometer λ 625 nm. The MBC values are minimal concentration there is no bacterial colony growth after treatment.The statistical test showed that there was significant difference of absorbance value at each concentration of Averrhoa bilimbi L ethanolic extract test on both bacteria. Based on ANOVA analysis, p value was 0,001. In linear regression analysis, the relationshipbetween extract concentration and the absorbance of S. aureus bacteria, is generated with regression value y = 0,081x-0,181 and R  = 0,93 (p value 0,001). For the relationship between extract concentration and the log colony number of S. aureus, obtained regression value y = 2,250x- 1,521 and R2 = 0,72 (p value 0,001). In statistic test of E. coli, there was significant difference from six Averrhoa bilimbi L ethanolic concentration groups. Based on test Kruskal-Wallis analysis, p value was 0,003. In linearregression analysis, the relationship between extract concentration and the absorbance of E. coli bacteria, is generated with regression value y = 0,089x-0,212 and R = 0,89 (p value 0,001). For the elationship between extract concentration and the log colony number of E. coli, obtained regression value y = 0,526x + 6,998 value R2 = 0,79 (p value 0,001).Ethanolic extract of Averrhoa bilimbi L fruitwas effective against S. aureus and E. coli with MIC and MBC concentration of 1.56% (v/v). Increased concentration of Averrhoa bilimbi L ethanolic extract will increase the inhibition growth of S. aureus and E. coli bacteria Keywords : Averrhoa bilimbi L, belimbing wuluh, antibacterial, S. aureus, E. coli.
EVALUASI PERILAKU PENGOBATAN SENDIRI TERHADAP PENCAPAIAN PROGRAM INDONESIA SEHAT 2010 Maya Dian Rakhmawatie; Merry Tiyas Anggraini
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2010: PROSIDING SEMINAR NASIONAL HASIL-HASIL PENELITIAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.386 KB)

Abstract

Latar belakang : Salah satu indikator tercapainya Indonesia Sehat 2010 adalah tercapainya ProgramPembangunan Kesehatan. Salah satu upaya agar derajat kesehatan masyarakat lebih optimal adalahpengobatan sendiri. Pengobatan sendiri hanya boleh menggunakan obat yang termasuk golongan obatbebas dan obat bebas terbatas sesuai dengan keterangan yang tercantum pada kemasannya. Tujuanpenelitian : Mengevaluasi perilaku pengobatan sendiri yang dilakukan oleh masyarakat. Evaluasidilakukan untuk melihat apakah perilaku pengobatan sendiri oleh masyarakat sudah rasional atau masihirasional. Metoda: Metode penelitian survei deskriptif dengan menggunakan kuesioner yang disebarkankepada sampel terpilih dengan multistage random sampling yang dilakukan di Kecamatan Tembalang,Kota Semarang. Jumlah sampel 97 terbagi ke dalam lima kelurahan yang kemudian dari masing-masingkelurahan diambil sampel secara proporsional sesuai dengan jumlah penduduk. Hasil : Rata-rata angkakerasionalan penggunaan obat belum maksimal. Angka rasionalitas pengobatan masing-masing keluhanantara lain; penggunaan obat demam 76,3%; obat nyeri 43,3%; obat batuk kering dan berdahak 13,4%;obat pilek 32,0%; obat flu 93,8%; obat sesak nafas 14,4%; obat maag 70,1%; obat diare 85,6%; obatkonstipasi 61,9%, obat jamur 50,5%, obat bisul 38,1%, obat haemoroid 36,1%. Dari hasil penelitianhanya 76,3% masyarakat yang menyatakan pergi ke dokter jika dalam dua hari gejala tidak membaik.Simpulan : Dilihat dari kerasionalitasan penggunaan obat, ternyata hasilnya belum memuaskan.Kata kunci : Pengobatan sendiri, Indonesia Sehat