Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

THE MEANING OF HEALING ACCORDING TO COUNSELES EXPERIENCING DRUG ADDICTION (Qualitative Study with Narrative Inquiry Design on Children in Foster Care at Inabah Toriqoh Pamijahan) Satria Guruh Takbir Gumelar; Muhammad Muhajirin; Agung Nugraha
Multidiciplinary Output Research For Actual and International Issue (MORFAI) Vol. 6 No. 5 (2026): Multidiciplinary Output Research For Actual and International Issue
Publisher : RADJA PUBLIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.21286701

Abstract

Drug abuse not only causes physical impacts, but also results in psychological, social, and spiritual disorders that affect the sustainability of the recovery process. This study aims to understand the meaning of healing in individuals with a history of drug addiction while undergoing spiritual guidance at Inabah Toriqoh Pamijahan. The study used a qualitative approach with a Narrative Inquiry design . Participants were selected using a purposive sampling technique , namely foster children who have a history of drug addiction, are willing to participate in the study, and are able to tell their recovery experiences narratively. Data were collected through semi-structured interviews and observations, then analyzed using narrative analysis through the process of organizing data, restorying , interpreting meaning, and compiling narratives of participant experiences. The research findings identified four main themes, namely (1) life before recovery characterized by loss of direction and negative environmental influences, (2) the journey into spiritual recovery through the emergence of awareness and the decision to change, (3) transformation of awareness through the practice of Tawajuh which helps build inner peace, emotional regulation, self-awareness, and meaningfulness of life, and (4) Talqin as a reinforcement of spiritual recovery that strengthens commitment, self-control, and the sustainability of the recovery process. The research findings indicate that healing is interpreted as a process of identity reconstruction that is not only oriented towards stopping drug use, but also towards establishing the meaning of life, a closer relationship with Allah SWT, and the formation of a new spiritual identity. This research provides implications for the development of psychospiritual-based guidance and counseling services and serves as a basis for further research to test the effectiveness of the Tawajuh method as an intervention in the recovery of individuals with a history of drug addiction.
Perbedaan Kesejahteraan Psikologis Berdasarkan Jenis Kelamin Siswa SMA/SMK/MA Senja Maulana; Muhammad Muhajirin; Agung Nugraha
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 5 No 2: Juni (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v5i2.3124

Abstract

Kesejahteraan psikologis menjadi salah satu aspek penting dalam perkembangan peserta didik karena berkaitan dengan kemampuan individu dalam menjalani kehidupan secara positif, membangun relasi yang sehat, mengembangkan kapasitas diri, serta menghadapi berbagai tuntutan perkembangan. Kondisi kesejahteraan psikologis yang baik memungkinkan individu memiliki keberfungsian psikologis yang optimal dalam aspek penerimaan diri, hubungan interpersonal, kemandirian, pengelolaan lingkungan, arah kehidupan, dan pengembangan potensi diri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kesejahteraan psikologis berdasarkan jenis kelamin pada siswa kelas XI sekolah menengah atas, sekolah menengah kejuruan, dan madrasah aliyah di Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain komparatif. Sampel penelitian berjumlah 282 siswa yang dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala kesejahteraan psikologis dan dianalisis dengan uji Mann–Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan kesejahteraan psikologis secara keseluruhan berdasarkan jenis kelamin. Perbedaan hanya ditemukan pada dimensi hubungan positif dengan orang lain dan kemandirian, sedangkan dimensi penerimaan diri, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi menunjukkan kondisi yang relatif sama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa jenis kelamin bukan merupakan faktor utama yang membedakan kesejahteraan psikologis peserta didik. Temuan ini menjadi dasar bagi pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling untuk mengembangkan seluruh dimensi kesejahteraan psikologis peserta didik secara optimal.
Pengalaman Pemulihan Individu Dewasa Pasca Adiksi Napza: Studi Fenomenologis Muhammad Fayiz Rahmat; Dewang Sulistiana; Agung Nugraha
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 5 No 2: Juni (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v5i2.3125

Abstract

Penyalahgunaan NAPZA memberikan dampak terhadap aspek fisik, psikologis, dan sosial individu sehingga proses pemulihan menjadi pengalaman yang penting untuk dipahami. Penelitian ini bertujuan menggambarkan pengalaman pemulihan individu dewasa pasca penggunaan NAPZA selama menjalani rehabilitasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Partisipan penelitian terdiri atas dua individu dewasa yang sedang menjalani rehabilitasi rawat jalan di Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Tasikmalaya dan dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan tahapan IPA. Hasil penelitian menghasilkan empat tema utama, yaitu: (1) keterlibatan dalam penggunaan NAPZA dipengaruhi oleh tekanan situasional dan lingkungan sosial; (2) kesadaran sebagai titik balik menuju perubahan; (3) rehabilitasi sebagai ruang pembelajaran dan pembentukan makna baru; dan (4) mempertahankan pemulihan melalui penguatan diri serta dukungan sosial. Temuan menunjukkan bahwa proses pemulihan berlangsung secara bertahap melalui refleksi diri, peningkatan kesadaran, pengalaman rehabilitasi, serta dukungan keluarga dan lingkungan. Penelitian ini memberikan implikasi bahwa layanan rehabilitasi dan bimbingan konseling perlu berorientasi pada penguatan motivasi intrinsik, strategi pencegahan kekambuhan, serta optimalisasi dukungan sosial untuk mendukung keberlanjutan pemulihan.
Strengthening Academic Hardiness Through Self-Reflection-Based Narrative Counseling: A Single-Case Research Muhammad Muhajirin; Agung Nugraha; Rima Irmayanti; Anandha Putri Rahimsyah; Adelia Lintang Anjarika
Journal Evaluation in Education (JEE) Vol 7 No 1 (2026): January
Publisher : Cahaya Ilmu Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37251/jee.v7i1.2464

Abstract

Purpose of the study: This study aimed to examine the effectiveness of self-reflection-based narrative counseling in strengthening academic hardiness among senior high school students who demonstrate low academic persistence and difficulties in coping with academic challenges. Methodology: This study employed a single-case research design using an A–B format. Three (n = 3) senior high school students were selected through purposive sampling based on low academic hardiness scores. The intervention consisted of five individual self-reflection–based narrative counseling sessions. Data were collected using an academic hardiness scale administered during the baseline, intervention, and three-week follow-up phases. Data were analyzed using descriptive visual analysis to examine changes in level, trend, and stability of academic hardiness across phases. Main Findings: The results indicated a clear and consistent increase in academic hardiness across all three participants during the intervention phase compared to the baseline condition. Improvements were observed in the dimensions of commitment, control, and challenge, and were maintained at the three-week follow-up, suggesting a sustained positive effect of the intervention. Novelty/Originality of this study: This results indicated a clear and consistent increase in academic hardiness across all three participants during the intervention phase compared to the baseline condition. Improvements were observed in the dimensions of commitment, control, and challenge, and were maintained at the three-week follow-up, suggesting a sustained positive effect of the intervention.
Need Assessment for Developing a Culturally Adapted Interactive Workbook to Manage Academic Stress in School Counseling Feida Noorlaila; Cucu Arumsari; Agung Nugraha; Merlin Effendi
Journal Evaluation in Education (JEE) Vol 7 No 2 (2026): April
Publisher : Cahaya Ilmu Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37251/jee.v7i2.2777

Abstract

Purpose of the study: This study aims to conduct a needs assessment as the basis for developing an interactive workbook for academic stress management within school counseling services. Methodology: This study employed a Research and Development approach using the ADDIE model, limited to the analysis phase. A mixed-method design was applied to obtain comprehensive data. Quantitative data were collected through a questionnaire administered to 169 students, while qualitative data were obtained through in-depth interviews with 10 students and one school counselor, as well as classroom observations. The instruments included the Academic Stress Scale (34 items, α = 0.918) and semi-structured interview guidelines. Quantitative data were analyzed descriptively and inferentially using ANOVA and Pearson correlation, while qualitative data were analyzed through thematic analysis. Main Findings: The findings indicate that academic stress among students is relatively high, with 91.3% of participants experiencing moderate to high levels of stress. The primary sources of stress include examination pressure (60%), social conflicts (25%), and family expectations (15%). Students expressed strong preferences for counseling media that are visual, simple, culturally relevant, and usable independently. In particular, students preferred workbook-based media integrating local cultural values such as cooperation (gotong royong) and Islamic spirituality. Novelty/Originality of this study: This study highlights the urgent need for culturally adapted counseling media to support students’ emotional regulation and stress management. The novelty of this study lies in integrating the needs assessment of academic stress with cultural adaptation of Dialectical Behavior Therapy principles into an interactive workbook format suitable for school counseling.
Profil Kecerdasan Emosi Siswa SMP PERSIS Gandok Ditinjau dari Jenis Kelamin Alya Dewi Lailatus Syabina; Dewang Sulistiana; Agung Nugraha
GUIDING WORLD (BIMBINGAN DAN KONSELING) Vol 9 No 1 (2026): Guiding World: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33627/gw.v9i1.4203

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil kecerdasan emosi siswa SMP PERSIS Gandok ditinjau dari jenis kelamin. Kecerdasan emosi merupakan kemampuan individu dalam mengenali, memahami, dan mengelola emosi diri serta orang lain secara adaptif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif. Populasi penelitian terdiri atas 81 siswa kelas VII dan VIII SMP PERSIS Gandok, yang meliputi 38 siswa laki-laki dan 43 siswa perempuan. Instrumen penelitian menggunakan skala kecerdasan emosi berdasarkan lima aspek menurut Goleman (1996): kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial. Data dikumpulkan menggunakan angket tertutup dengan skala Likert dan dianalisis secara deskriptif melalui perhitungan nilai rata-rata dan persentase tiap kelompok gender. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor total kecerdasan emosi siswa laki-laki dan perempuan berada pada angka yang sama, yaitu 120, yang tergolong dalam kategori sedang menuju tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa baik siswa laki-laki maupun perempuan memiliki kemampuan yang relatif seimbang dalam mengenali dan mengelola emosi, memahami perasaan orang lain, serta berinteraksi sosial di lingkungan sekolah. Kesetaraan ini mengindikasikan bahwa faktor jenis kelamin tidak menjadi pembeda utama dalam tingkat kecerdasan emosi siswa di SMP PERSIS Gandok.
Perbedaan Self Stigma Pencarian Bantuan Bimbingan dan Konseling Siswa Laki-Laki dan Perempuan Kelas VIII SMP Islamiyah Ciawi Neneng Mida Inayah; Agung Nugraha; Dewang Sulistiana
GUIDING WORLD (BIMBINGAN DAN KONSELING) Vol 9 No 1 (2026): Guiding World: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33627/gw.v9i1.4210

Abstract

Self-stigma merupakan faktor internal yang dapat menghambat siswa dalam mencari bantuan bimbingan dan konseling di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat self-stigma dalam pencarian bantuan bimbingan dan konseling antara siswa laki-laki dan perempuan kelas VIII SMP Islamiyah Ciawi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain komparatif. Subjek penelitian berjumlah 126 siswa yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Instrumen penelitian menggunakan SSOSH yang telah disesuaikan dengan kebutuhan penelitian. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan uji independent samples t-test, serta dilengkapi dengan perhitungan ukuran efek. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan tingkat self-stigma antara siswa laki-laki dan perempuan (p < 0,05), di mana siswa laki-laki memiliki tingkat self-stigma yang lebih tinggi. Nilai ukuran efek berada pada kategori sedang, yang menunjukkan bahwa perbedaan tersebut memiliki makna praktis. Temuan ini mengindikasikan bahwa jenis kelamin berperan dalam pencarian bantuan bimbingan dan konseling, sehingga layanan di sekolah perlu dirancang secara lebih responsif terhadap karakteristik siswa.
Gambaran Umum Meaning in Life Terhadap Resiliensi Pada Mahasiswa Gini Nurwidiyanti; Agung Nugraha; Nandhini Hudha Anggasari
GUIDING WORLD (BIMBINGAN DAN KONSELING) Vol 9 No 1 (2026): Guiding World: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33627/gw.v9i1.4211

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum meaning in life terhadap resiliensi pada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Populasi penelitian sebanyak 321 mahasiswa, sedangkan pengambilan sampel ditentukan menggunakan simple random sampling dengan sampel penelitian sebanyak 178 mahasiswa. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Meaning in Life Questionnaire (MLQ) dan Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan dengan uji regresi sederhana untuk mengetahui hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meaning in life mahasiswa berada pada kategori tinggi hingga sedang dan resiliensi mahasiswa berada di kategori tinggi. Uji korelasi Spearman rho menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dan kuat antara meaning in life dan resiliensi (r=0,753). Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa meaning in life memberikan kontribusi sebesar 65,7% terhadap resiliensi.
Gambaran Umum Depresi Pada Mahasiswa Bimbingan Dan Konseling Sypa Jamiatul shahara; Agung Nugraha; Dewang Sulistiana
GUIDING WORLD (BIMBINGAN DAN KONSELING) Vol 9 No 1 (2026): Guiding World: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33627/gw.v9i1.4278

Abstract

Depresi merupakan gangguan suasana hati yang serius dan menjadi masalah kesehatan mental penting di kalangan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan prevalensi dan tingkat keparahan depresi pada mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling angkatan 2024 dan 2025. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan total sampling 171 mahasiswa sebagai responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner Beck Depression Inventory-II (BDI-II) versi bahasa Indonesia dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa berada pada kategori depresi normal (47%), sedangkan proporsi mahasiswa dengan depresi ringan, sedang, dan parah masing-masing 23%, 19%, dan 11%. Distribusi tingkat depresi ini menunjukkan bahwa meskipun hampir setengah mahasiswa berada pada kategori normal, terdapat proporsi signifikan yang mengalami gejala depresi ringan hingga parah, yang berpotensi memengaruhi motivasi, suasana hati, dan performa akademik. Temuan ini menegaskan perlunya deteksi dini dan dukungan psikologis bagi mahasiswa, serta dapat menjadi dasar bagi strategi pencegahan, intervensi kesehatan mental, dan penelitian lanjutan mengenai faktor risiko depresi di lingkungan perguruan tinggi.
Reducing Career Decision-Making Difficulties Through Rational Emotive Behavior Therapy-Based Career Counseling: A Single-Case Research Annisa Putri Hidayati; Agung Nugraha; Dewang Sulistiana; Muhammad Muhajirin
GUIDING WORLD (BIMBINGAN DAN KONSELING) Vol 9 No 1 (2026): Guiding World: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33627/gw.v9i1.4370

Abstract

Career decision-making difficulty is a psychological barrier experienced by individuals, particularly adolescents, resulting from irrational beliefs and emotional distress that hinder the career exploration process. Research proves that these difficulties are often triggered by irrational thinking patterns and emotional pressures that impede career exploration. Individuals trapped in irrational mindsets tend to experience anxiety and procrastination in decision-making, which negatively impacts their readiness to enter the workforce or higher education.This study reports findings from research using a single-case A-B-A design to analyze the influence of Rational Emotive Behavior Therapy (REBT)-based career counseling in reducing career decision-making difficulties among adolescents. The participants consisted of two vocational high school (SMK) students (n=2) who exhibited high levels of career decision-making difficulty. The REBT-based counseling intervention was administered in six sessions, integrating cognitive restructuring techniques with the stages of career exploration. Self-report data were collected using the Career Decision-Making Difficulties Questionnaire (CDDQ) at pre-, during, and post-intervention time points.Visual analysis revealed that students participating in REBT-based career counseling experienced a significant decrease in career decision-making difficulties during the intervention and throughout the follow-up period. This evidence suggests the potential feasibility of using the REBT approach to help vocational students achieve independence and rationality in career planning.