Ika Zenita Ratnaningsih
Fakultas Psikologi, Universitas Diponegoro, Jl Prof. Soedarto, SH, Tembalang, Semarang, 50275

Published : 61 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN ANTARA KONTROL DIRI DENGAN INTENSI CYBERLOAFING PADA PEGAWAI DINAS X PROVINSI JAWA TENGAH Sari, Suci Laria; Ratnaningsih, Ika Zenita
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 (Oktober 2018)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.852 KB) | DOI: 10.14710/empati.2018.23450

Abstract

Penggunaan internet yang semakin meluas memberikan dampak negatif bagi menurunnya produktivitas pegawai disebabkan adanya penggunaan internet yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang disebut cyberloafing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kontrol diri dengan intensi cyberloafing pada pegawai Dinas X Provinsi Jawa Tengah. Kontrol diri adalah kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur dan mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa ke arah konsekuensi positif. Intensi cyberloafing adalah niat untuk menggunakan internet melalui gadget, komputer, milik pribadi atau instansi untuk tujuan pribadi saat jam kerja di tempat kerja. Populasi dalam penelitian ini adalah 120 pegawai dan sampel dalam penelitian adalah 60 pegawai. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik convenience sampling. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah Skala Kontrol Diri (22 aitem, α = 0,880) dan Skala Intensi Cyberloafing (25 aitem, α = 0,949). Analisis regresi sederhana menunjukkan nilai rxy = 0,566 dan p = 0,000 (p < 0,05). Hasil ini menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara kontrol diri dengan intensi cyberloafing. Semakin tinggi kontrol diri, maka semakin rendah intensi cyberloafing dan sebaliknya. Kontrol diri memberikan sumbangan efektif sebesar 32% dalam mempengaruhi intensi cyberloafing, sedangkan sisanya sebesar 68% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diungkap dalam penelitian ini. 
Predicting Innovative Behavior Among Employees in a Manufacturing Company: The Role of Psychological Capital Ika Zenita Ratnaningsih; Anggun Resdasari Prasetyo; Unika Prihatsanti
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol. 31 No. 2 (2016): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 31, No. 2, 2016)
Publisher : Laboratory of General Psychology, Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.136 KB) | DOI: 10.24123/aipj.v31i2.567

Abstract

The aim of this study is to investigate the relationship between psychological capital and workplace innovative behavior. The importance of innovative behavior in the competitive business world has been widely recognized. Previous studies have examined variables related to innovative behavior both at personal and organizational levels; however, there is a paucity of research looking at psychological capital as the predictor of workplace innovative behavior. In this study psychological capital and innovative behavior of 149 non-managerial employees in an apparel manufacture company were measured using Psychological Capital Scale (20 items, α = .872) and Innovative Behavior Scale (nine items, α = .874). The regression analysis shows a significant positive correlation between these two variables (r = .519, p < .01) and 27% of variance in innovative behavior can be explained from psychological capital. The results are discussed in relation to its theoretical contribution and practical implications in organizational contexts.
KEMATANGAN KARIER SISWA SMK DITINJAU DARI JENIS KELAMIN DAN JURUSAN Ika Zenita Ratnaningsih; Erin Ratna Kustanti; Anggun Resdasari Prasetyo; Nailul Fauziah
HUMANITAS: Indonesian Psychological Journal Vol 13, No 2: Vol. 13 No. 2 Agustus 2016
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.974 KB) | DOI: 10.26555/humanitas.v13i2.6067

Abstract

Tingginya angka pengangguran pada lulusan SMK salah satunya dilatarbelakangi oleh belum adanya kesiapan kerja yang disebabkan karena kurangnya kematangan karier. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kematangan karier ditinjau dari jenis kelamin, jurusan dan status sekolah pada siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Semarang. Kematangan karier adalah keberhasilan individu dalam menyelesaikan tugas perkembangan karir yang khas di setiap tahap perkembangan yang ditunjukkan dengan kesesuaian perilaku karir individu dengan perilaku karir yang diharapkan. Subjek penelitian berjumlah 339 siswa kelas XI SMK dari enam SMK di Kota Semarang yang terdiri dari tiga SMK Negeri dan tiga SMK Swasta yang terdiri dari 101 laki-laki dan 238 perempuan dengan usia subjek berkisar antara 15-19 tahun. Terdapat sepuluh jurusan peminatan yang terlibat dalam penelitian ini Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Skala Kematangan Karier dan kuesioner data demografi. Hasil pengujian hipotesis menggunakan ANAVA dua jalur menujukkan tidak ada perbedaan kematangan karier ditinjau dari jenis kelamin dan tidak ada perbedaan kematangan karier ditinjau dari jurusan. Diskusi dan rekomendasi di bahas selanjutnya.
Is There any Differences of Job Stress Among Correctional Officers Based on Gender in Java? Unika Prihatsanti; Ika Zenita Ratnaningsih; Anggun Resdasari Prasetyo
Journal of Educational, Health and Community Psychology Vol 6 No 1 April 2017
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.692 KB) | DOI: 10.12928/jehcp.v6i1.6616

Abstract

AbstractThe purpose of this study is to investigate the differences of job stress based on gender among correctional officers in three prisons in Java Indonesia. This study was a quantitative survey study focused on the comparison between male and female. The data were collected from 95 correctional officers from Bandung and Semarang prisons. The analysis of variance test (ANOVA) was used to test the study hypotheses. The results show that gender variable has influences on job stress, in which female correctional officers have higher job stress level than male correctional officers. Keywords: gender, job stress, correctional officers
Understanding Emotional State on Female Correctional Officers in Java, Indonesia Anggun Resdasari Prasetyo; Ika Zenita Ratnaningsih; Unika Prihatsanti
Journal of Educational, Health and Community Psychology Vol 9 No 4 December 2020
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/jehcp.v9i4.16795

Abstract

Abstract  Correctional institution has employees who are tasked with guarding inmates. High-risk job tasks that have to be faced by correctional officer can potentially affect the emotional state, moreover, if the officer is female gender. Based on the background, the study was aimed to know about the emotional state on female correctional officers. The research method used was clinical exploration by conducting in-depth interviews on 30 female correctional officers in Bandung and Semarang. The results can be concluded that the emotions experienced by the subjects in the study are mostly negative emotions. Negative emotions of anger, sadness, guilty, and anxiety is felt almost entirely by the 26 subject and only 4 subjects have positive emotional state, namely happiness and pride. From the data, there were 23 subjects who did positive emotion regulation, consist of 4 subjects who indeed were subjects who had positive emotional state and 19 subjects who initially had negative emotional state but were able to regulate emotions well. 19 of the 26 subjects who experienced negative emotional conditions tried to regulate positive emotions so that they could do a good job. Positive emotional regulations have been done by 23 subjects are positive reappraisal, refocus on planning, positive refocusing, and acceptance. The emotional regulation strategy used by 7 subjects was negative strategies, such as blaming other, self-blaming, and rumination or focus on thought. Keywords: Emotions at work, Correctional officer, Female.
HUBUNGAN ANTARA WORK-STUDY CONFLICT DENGAN STUDENT ENGAGEMENT PADA MAHASISWA PEKERJA FULL-TIME DI PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK INFORMATIKA UNIVERSITAS STIKUBANK (UNISBANK) SEMARANG Rahel Oktavia Br Ginting; Ika Zenita Ratnaningsih
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 (April 2021)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/empati.2021.30996

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami hubungan antara work-study conflict dengan student engagement pada mahasiswa pekerja full-time di program studi S-1 teknik informatika Universitas Stikubank (UNISBANK) Semarang. Student engagement adalah sikap individu yang disertai dengan berpartisipasi dalam pembelajaran yang ditunjukkan melalui behavioral engagement, emotional engagement, dan cognitive engagement. Work-study conflict adalah penilaian individu terhadap diri sendiri yang terbentuk karena adanya perselisihan antara peran sebagai karyawan dan mahasiswa yang dapat dilihat melalui time based conflict, strain based conflict, dan behavior based conflict. Populasi penelitian berjumlah 154 mahasiswa pekerja full-time, dengan sampel 111 mahasiswa (laki-laki=85; perempuan=26) dengan usia antara 18-29 tahun. Teknik sampling yang digunakan adalah proportional random sampling. Alat ukur yang digunakan adalah Skala Student Engagement (26 aitem, α = 0,909) dan Skala Work-Study Conflict (34 aitem, α = 0,925). Analisis data menggunakan analisis regresi sederhana menunjukkan nilai rxy = -0,661 dan p = 0,000 p<0,05). Hasil penelitian terdapat hubungan negatif antara work-study conflict dengan student engagement pada mahasiswa pekerja full-time di Program Studi S-1 Teknik Informatika UNISBANK di Semarang. Work-study conflict memberikan sumbangan efektif sebesar 43,7% dalam memprediksi student engagement, sisanya sebesar 56,7% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diungkap dalam penelitian ini. 
HUBUNGAN ANTARA KEPERCAYAAN PADA ATASAN DENGAN KETERIKATAN KERJA PADA ANGGOTA DETASEMEN PELOPOR SATUAN BRIGADE MOBIL (BRIMOB) KEPOLISIAN DAERAH JAWA TENGAH (POLDA JATENG) Redemta Putri Nayasari; Ika Zenita Ratnaningsih
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 (Februari 2020)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.712 KB) | DOI: 10.14710/empati.2020.26912

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepercayaan pada atasan dengan keterikatan kerja anggota detasemen Pelopor Brimob Polda Jateng. Keterikatan kerja merupakan suatu sikap positif baik secara afeksi, pikiran, maupun perilaku terhadap pekerjaannya yang melibatkan adanya semangat kerja, dedikasi, dan penghayatan. Kepercayaan kepada pemimpin adalah keyakinan seseorang terhadap kompetensi, integritas, dukungan, maupun dapat memperkirakan tindakan dari orang yang akan dipercaya meskipun harus berada di situasi berbahaya dan tanpa memiliki kendali yang kuat. Populasi dalam penelitian ini sejumlah 219 anggota Brimob Pelopor Polda Jateng yang berada di Kompi 1 (Srondol) dan Kompi 2 (Simongan) dengan sampel sebanyak 60 anggota yang seluruhnya berjenis kelamin laki - laki. Sampel dalam populasi ini memiliki rata – rata usia yakni berkisar antara 18 – 20 tahun. Masa kerja responden dalam penelitian ini berkisar antara 1 – 12 bulan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu teknik convenience sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Skala Kepercayaan pada atasan (24 aitem, α = 0,902) dan Skala Keterikatan Kerja (33 aitem, α = 0,948). Analisis Spearman’s Rank menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara orientasi masa depan dengan keterlibatan siswa (rxy = 0,657 dan p = 0,000). Hasil dari penelitian ini membuktikan bahwa semakin tinggi kepercayaan pada atasan maka semakin tinggi pula keterikatan kerja anggota dan sebaliknya, semakin rencah kepercayaan pada atasan semakin rendah pula keterikatan kerjaanggota.  
MAKNA KERJA PADA FLIGHT INSTRUCTOR : STUDI FENOMENOLOGIS DENGAN MENGGUNAKAN INTERPRETATIVE PHENOMENOLOGICAL ANALYSIS Pradita Sita Devi Normasari; Ika Zenita Ratnaningsih
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 (Oktober 2016)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.554 KB) | DOI: 10.14710/empati.2016.15434

Abstract

Flight instructor di sekolah penerbangan yang berkontribusi dalam mendidik pilot cenderung minim jumlahnya. Individu yang memilih karier sebagai flight instructor, tentunya telah mengetahui segala informasi tentang profesi dan memiliki makna yang berbeda tergantung pada tujuan yang diharapkan. Subjek dalam penelitian ini adalah flight instructor yang bekerja di sekolah penerbangan, minimal memiliki 100 jam terbang dan berusia 22 tahun, serta memegang lisensi pilot transportasi komersial. Subjek dalam penelitian ini adalah empat orang flight instructor. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara. Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses subjek menjalani profesi sebagai flight instructor. Metode analisis data pada penelitian ini menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Prosedur IPA berfokus pada pengalaman subjek melalui kehidupan pribadinya. Eksplorasi yang dilakukan pada subjek akan memunculkan makna dalam peristiwa unik yang dialami oleh subjek. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat tiga pokok pembahasan, yaitu profesi sebagai flight instructor, pendalaman profesi, dan pengembangan karier. Setiap subjek memiliki pemaknaan yang berbeda terkait pengalamannya bekerja menjadi flight instructor. Makna kerja yang dialami para subjek adalah memperoleh keuntungan untuk meraih pekerjaan yang lebih baik dan pengetahuan yang belum dimiliki serta memahami berbagai karakter siswa. Para subjek juga menemukan makna mengajar sebagai pemberi ilmu pada orang lain dan upaya peningkatan kemampuan diri. Selain itu, para subjek mengalami perubahan dalam diri sebagai pembelajaran dari profesi yang digeluti dan mulai merasakan keinginan untuk mengembangkan kariernya dengan berpindah profesi.
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN SPIRITUAL DENGAN WORK-FAMILY BALANCE PADA PERAWAT WANITA RUANG RAWAT INAP RS. X SEMARANG Sakti Nofriyaldi; Ika Zenita Ratnaningsih
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 (April 2018)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.628 KB) | DOI: 10.14710/empati.2018.21691

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan positif antara kecerdasan spiritual dengan work-familybalancepada perawat wanita yang bertugas di ruang rawat inap RS. X. Work-familybalanceadalah sejauh mana individu terlibat dan merasakan kepuasan atas perannya di dalam pekerjaan dan keluarga. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 70 orang perawat wanita di ruang rawat inap RS. X Semarang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik clusterrandom sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Skala Kecerdasan Spiritual (25 item, α = 0,921) dan Skala Work-Family Balance(25 item, α = 0,855). Analisis regresi sederhana menunjukkan nilai rxy = 0, 558 dan p = 0,000 (p< 0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa adanya hubungan positif yang signifikan antara kecerdasan spiritual dengan work-familybalance. Semakin tinggi kecerdasan spiritual maka semakin tinggi pula work-familybalancedan sebaliknya. Kecerdasan spiritual memberikan sumbangan efektif sebesar 31,1% dalam mempengaruhi work-familybalance.
KOMUNIKASI INTERPERSONAL ATASAN-BAWAHAN DAN PENYESUAIAN DIRI PADA CPNS DARI JALUR IKATAN DINAS DI PEMPROV JATENG Dyah Ayu Puspita; Ika Zenita Ratnaningsih
Jurnal EMPATI Jurnal Empati: Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 (Oktober 2015)
Publisher : Faculty of Psychology, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.057 KB) | DOI: 10.14710/empati.2015.14367

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara komunikasi interpersonal atasan bawahan dengan penyesuaian diri pada CPNS dari jalur ikatan dinas di Pemprov Jateng. Penyesuaian diri adalah kemampuan individu dalam merespon situasi dan kondisi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan  sesuai dengan kemampuan yang dimiliki untuk menjadikan individu merasakan kepuasan dan keharmonisan. Komunikasi interpersonal atasan-bawahan adalah persepsi individu terhadap proses penyampaian dan penerimaan pesan yang dilakukan antara atasan dengan bawahan dimana pesan tersebut berupa simbol-simbol yang memiliki arti dengan tujuan merubah perilaku seseorang dan mendapatkan umpan balik. Teknik sampling menggunakan simple random sampling dengan subjek penelitian berjumlah 70 subjek. Pengumpulan data menggunakan Skala Komunikasi Interpersonal Atasan Bawahan yang terdiri dari 28 item (α= 0,872) dan Skala Penyesuaian Diri yang terdiri dari 31 item (α= 0,896). Analisis data dalam penelitian menggunakan metode analisis regresi sederhana dengan hasil koefisien korelasi rxy= 0,724 dan p=0,000 (p<0,05). Hasil tersebut menunjukan bahwa hipotesis yang diajukan peneliti, yaitu ada hubungan positif antara komunikasi interpersonal atasan bawahan dengan penyesuaian diri, dapat diterima. Artinya, semakin positif komunikasi interpersonal atasan bawahan, maka semakin baik penyesuaian diri pegawai baru, dan sebaliknya. Sumbangan efektif komunikasi interpersonal atasan bawahan terhadap penyesuaian diri sebesar 52%, sedangkan 48% dipengaruhi faktor lain yang tidak diungkapkan dalam penelitian ini.