Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

SANGGAR PENGEMBANGAN BUDAYA SUKU AYAMARU, AITINYO DAN AIFAT DI SORONG “ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR” Nauw, Weldus; Rengkung, Joseph
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 2 No. 3 (2013): Volume 2 No.3 November 2013
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v2i3.3568

Abstract

ABSTRAK Indonesia dikenal memiliki budaya yang sangat beragam, dan ini dapat dilihat dengan beragam suku bangsa yang masing–masing mempunyai kebudayaan tersendiri dan juga terdapat beragam komunitas adat. Komunitas adat yang dimaksud disini adalah kelompok–kelompok masyarakat atau satuan sosial masyarakat yang berdiam di satu wilayah tertentu yang saling berinteraksi secara intensif, sehingga ada ciri–ciri yang sama sebagai kebudayaan mereka, baik kebudayaan yang tidak kelihatan maupun bentuk–bentuk kebudayaan yang kelihatan secara fisik. Menghadirkan suatu sanggar seni budaya yang nantinya melengkapi sarana prasaran penunjang pariwisata dan membina masyarakat untuk melestarikan seni budaya daerah-nya khusus daerah Ayamaru, Aitinyo dan Aifat(A3) di sorong dan untuk mempromosikan potensi seni budaya suku A3 sehinngga dapat di kenal secara luas di Indonesia maupun manca Negara. Untuk mewujudkan gagasan ini, di terapkan metode pendekatan yang mengarah kepada wadah pengembagan seni budaya dan adat-istiadat serta kenyamanan bangunan yang sesuai dengan pendekatan tematik pada penataan ruang dan bangunan.secara persepsi fungsional, persepsi visual, dan persepsi structural. Hasil desain yang berupa penyajian gambar – gambar arsitektural yang bertujuan untuk menyampaikan informasi tentang kualitas perancangan Sanggar Seni Budaya Suku Ayamaru, Aitinyo dan Aifat di Sorong dengan implementasi tema Arsitektur Neo Vernakular. Kata kunci : Sanggar Pengembangan Seni Budaya Ayamaru, Aitinyo, Aifat (A3) Arsitektur Neo Vernakular.
POLITEKNIK PERTANIAN DAN AGROINDUSTRI DI AMURANG (Penerapan Simbol Budaya Dengan Pendekatan Semiotika) Tunas, Sgerlen M.; Rengkung, Joseph; Rogi, Octavianus H. A.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 3 No. 2 (2014): Volume 3 No.2 November 2014
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v3i2.6016

Abstract

Kabupaten Minahasa Selatan memiliki berbagai  macam potensi, namun belum terkelolah dengan baik karena kurang sumber daya manusia yang terampil dan siap pakai dalam mengelolah potensi tersebut. Seperti dalam bidang pendidikan, pertanian dan agroindustri. Sektor Pertanian merupakan salah satu mata pencarian bagi sebagian besar masyarakat yang ada di Kabupaten Minahasa Selatan, namun sumber daya yang berkompeten dalam melakukan penyuluhan dan pengembangan di bidang pertanian, Sedangkan dalam bidang Agroindustri masih tergolong industri kecil dan belum terkelolah dangan baik, namun berpotensi untuk menjadi lebih besar, sehingga membutuhkan fasilitas banguanan Pendidikan untuk meningkatkan kualitas hidup sumber daya manusia yang ada, dengan demikian potensi yang ada dapat terkelolah lebih baik lagi. Di Kabupaten Minahasa Selatan belum memiliki fasilitas pendidikan tinggi seperti Politeknik, Sekolah tinggi, dan Universitas, karena itu penulis merencanakan untuk merancang bangunan Politeknik Pertanian dan Agroindustri di Amurang, sehingga dapat memenuhi kebutuhan pendidikan bagi masyarakat  di Kabupaten Minahasa Selatan. Kata Kunci : Politeknik, Pertanian,Agroindustri, Merancang.
BANDAR UDARA DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW DOUBLE CODING IN ARHITECTURE Kumakaw, Cahya G. P.; Kindangen, Jefrey I.; Rengkung, Joseph
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 5 No. 2 (2016): Volume 5 No.2 November 2016
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v5i2.14097

Abstract

Bolaang mongondow merupakan daerah yang sedang berkembang. Maju tidak suatu daerah dapat dilihat dari prasarana dan saran transportasi yang tersedia. Pemerintah mengambil keputusan dalam hal penentuan prioritas dan tingkat kepentingan dalam pembangunan fasilitas umum. Berdasarkan fakta diantara fasilitas umum terbesar, bandar udara memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk perwujudan ekonomi, politik, sosial dan juga wisata. Transportasi udara menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan integrasi nasional, aktifitas ekonomi dan keseimbangan ekonomi daerah. Serta, kebutuhan jaringan  transportasi yang cepat sebagi penghubung antara daerah, antara pulau bahkan antra Negara. Bandar Udara di Kabupaten Bolaang Mongondow menerapkan pendekatan tematik Double Coding In Architekture. Melalui pendekatan tematik tersebut objek menghadirkan penggabungan dua unsur arsitektur yaitu tradisional dan modern yang dapat mencerminkan kehidupan maupun identitas tersendiri bagi kabupaten Bolaang Mongondow dan juga menghadirkan suatu bentuk arsitektural yang maksimal tidak hanya kualitas (fungsi) tapi juga kuantitas (estetika). Dalam perancangan ini, objek dituntut agar mampu mengoptimalkan perkembangan Daerah Bolaang Mongondow maupun kegiatan masyarakat dalam menjangkau keperluan diluar daerah Bolaang Mongondow. Kata kunci : Bolaang mongondow, Transportasi Udara, Double Cooding
RECREATION CENTER DI MANADO (CULTURE AND ART EDUTAINMENT) Rauf, Stevani; Rengkung, Joseph; Rompas, Leidy M.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 4 No. 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v4i1.9179

Abstract

ABSTRAK Kota Manado merupakan ibu kota dari provinsi Sulawesi Utara pada saat ini memiiiki visi menjadi kota pariwisata dunia dengan mengandalkan potensi sumber daya alamnya. Dengan adanya program ini maka pemerintah melakukan peningkatan pembangunan di bidang pariwisata sehingga bidang pariwisata menjadi salah satu andalan perekonomian kota Manado. Tentunya hal ini membuat pembangunan di kota Manado meningkat dengan pesat, khususnya rekreasi. Apalagi dengan budaya yang berkembang pada masyarakat Manado yaitu bersenang-senang dan suka mencari rekreasi dan hiburan. Tempat rekreasi yang ada sekarang masih kurang memfasilitasi seluruh kegiatan rekreasi, karena lokasinya yang masih terpencar-pencar. Mengingat tempat-tempat bisnis rekreasi atau recreation yang ada diprediksi akan meningkat sangat tinggi, sehingga upaya pemberadaan tempat rekreasi menjadi perhatian utama. Peluang bisnis dalam bidang recreation ini perlu diantisipasi dengan menghadirkan wadah yang khusus bergerak dalam bidang pelayanan jasa rekreasi atau recreation yang terlokalisasi dalam satu kawasan dengan fasilitas-fasilitas pelayanan dan penunjang yang cukup lengkap sehingga dapat memudahkan konsumen untuk mendapatkan yang mereka butuhkan dalam satu tempat saja.Hal ini mendasari munculnya sebuah gagasan untuk merancang suatu recreation center (pusat rekreasi) di Manado yang dapat menjadi sarana rekreasi, tempat bersenang-senang sekaligus tempat bersosialisasi bagi masyarakat Manado. Kata kunci :Tourism sector, recreation center, relaxing.
EDUTAINMENT SCIENCE CENTER DI MANADO. “ PENDEKATAN ECO TECHNOLOGY ” Lohonauman, Olivia; Kindangen, Jefrey I.; Rengkung, Joseph
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17112

Abstract

Edutainment Science Center di Manado adalah pusat rekreasi dan ilmu pengetahuan science yang dalam perancangannya didasari pada teknologi yang ramah lingkungan. Edutainment Science Center memberikan pengetahuan science yang disajikan dalam bentuk yang menarik dan menghibur bagi pengunjung.Perancangan edutainment science center bertujuan untuk memberikan ilmu science dan sebagai wadah untuk melepas penat pada masyarakat Sulawesi Utara terlebih masyarakat Kota Manado, serta menjadi icon science di kota Manado untuk menarik turis. Program ruang inti dalam menarik perhatian adalah program ruang yang berhubungan dengan alam yang didasari pada kekayaan alam di Sulawesi Utara seperti taman laut bunaken, gunung berapi yang aktif, hutan yang luas, dan beragam jenis flora dan fauna. Bentuk bangunan inti menyerupai hexagonal.Penerapan tema pada bangunan dimaksimalkan dengan penghawaan dan pencahayaan alami di beberapa titik perancangan dan material-material yang terapkan pada bagunan.Kata Kunci : Edutainment, Science Center, Manado, Eco Technology 
HOTEL RESORT DAN WISATA BAHARI DI DESA PULISAN KABUPATEN MINAHASA UTARA. Arsitektur Simbiosis Mutualisme Amiman, Sri I.; Rengkung, Joseph; Mandey, Johansen C.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17594

Abstract

Hotel Resort adalah bangunan arsitektur dalam bentuk hunian penginapan yang dibangun untuk menfasilitasi para wisatawan mancanegara atau wisatawan lokal yang datang berkunjung kesebuah daerah atau objek wisata untuk menikmati fasilitas-fasilitas  atau tempat-tempat yang ada. Keberadaaan wadah ini sudah cukup banyak tapi masih sedikit yang menyediakan hunian Hotel Resort dan Area Wisata Bahari dengan kualitas dan pelayanan terbaik. Selain itu tingkat kunjungan wisatawan asing maupun lokal terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun yang membuka peluang untuk dihadirkan sebuah hunian Hotel Resort dengan fasilitas seperti Wisata Bahari, sesuai lokasi yang direncanakan yaitu berada di tepi pantai Desa Pulisan, yang terletak di Kabupaten Minahasa Utara. Sebagai jembatan dalam merancang objek arsitektur ini “ Arsitektur Simbiosis Mutualisme”, dianggap cocok menjadi tema perancangan, sehingga dengan rancangan Hotel Resort dan Wisata Bahari ini diharapkan dapat meningkatkan perkembangan Wisata di Kabupaten Minahasa Utara Khususnya di Desa Pulisan, dengan menghasilkan keuntungan bersama baik Pengelolah Hotel Resort, wisatawan  mancanegara maupun lokal, dan masyarakat yang ada di Desa Pulisan.Kata Kunci : Hotel Resort, Wisata Bahari, Arsitektur Simbiosis Mutualisme
RESORT DI KECAMATAN KEMA. Arsitektur Bambu Talise, Marchell P. G.; Rengkung, Joseph; Sembel, Amanda S.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Noomor 1, Mei 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i1.20670

Abstract

Daerah wisata saat ini banyak di minati oleh wisatawan lokal maupun wisatawan luar untuk mengisi waktu luang dan menginginkan jeda pada padatnya rutinitas sehari-hari. Obyek wisata dapat berupa wisata alam seperti gunung, danau, sungai, pantai, laut atau berupa objek penginapan dengan berbagai fasilitas untuk mendukung objek wisata tersebut salah satu contohnya adalah resort. Metode perancangan yang digunakan adalah metode perancangan lima langkah dengan tahap permulaan, persiapan, pengajuan usul, evaluasi dan tindakan, dengan metode perancangan lima langkah ini maka di lakukanlah analisis tapak, analisis klimatologi, analisis view, dsb untuk hasil desain yang baik demi menciptakan kenyamanan terhadap pengguna resort. Tempat wisata di Kecamatan Kema Minahasa Utara dapat di katakan cukup banyak, kema sebagai daerah wisata. Desa kema memiliki banyak potensi pariwisata budaya diantaranya pantai pasir putih makalisung, pantai lilang, pantai waleo, pantai batu nona, pantai firdaus, pantai asparaga, pantai tasik oki, makam penginjil Lammers dan penjara tua peninggalan Portugis, namun minimnya fasilitas penginapan yang dapat menunjang membuat kurangnya minat pengunjung untuk datang ke kecamatan kema maka dibangunlah resort. Penerapan tema arsitektur bambu untuk menghadirkan suatu desain bangunan resort dengan pemikiran masa mendatang, dan lewat penerapan tema arsitektur bambu pada rancangan menambah kesan unik dan bersatu dengan alam sehingga menambah ciri khas pada resort. Melalui perancangan ini diharapkan dapat menciptakan fasilitas penginapan tambahan yang menjaga stabilitas keberlangsungan pengguna, dengan memberikan kenyamanan, keselamatan dan keamanan.Kata kunci : Objek wisata, Resort, Arsitektur bambu
PUSAT KEBUDAYAAN JAWA-TONDANO DI MINAHASA. Eco-Culture Design Lombogia, Cybil A.; Rengkung, Joseph; Wuisang, Cynthia E. V.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 2 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 2, November 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i2.20836

Abstract

Jawa Tondano adalah hasil dari pembauran suku antara Jawa dan Minahasa yang sampai saat ini masih ada dan berkembang. Masyarakat Jaton mempertahankan eksistensinya lewat kegiatan – kegiatan sosial seperti festival seni dan budaya. Pusat Kebudayaan Jawa Tondano di Minahasa hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan wadah dalam menyalurkan kegiatan sosial dan untuk melestarikan budaya Jaton. Perancangan didasarkan pada pendekatan Eco Culture yang merupakan salah satu logika dari Sustainable Architecture. Konsep perancangan arsitektur yang menitikberatkan pada kondisi lingkungan dan budaya lokal. Nilai budaya ini diekspresikan lewat transformasi dan penerapan dari teknik konstruksi tradisional, tipologi bangunan dan pola hubungan ruang yang ada. Metode perancangan dengan pengumpulan data melalui studi literatur, studi komparasi dan survey kondisi eksisting tapak. Sedangkan pengolahan data pada analisis dan sintesis dilakukan berdasarkan 5 kriteria strategi perancangan Eco Culture. Kedepannya, objek Pusat Kebudayaan Jawa Tondano dapat diterapkan konsep ekologi dan budaya secara bersamaan dan untuk pembangunan yang berkelanjutan tanpa menghilangkan unsur lokal daerah. Kata kunci      : pusat kebudayaan, budaya Jaton, Eco Culture, Kampung Jawa
MIXED-USE BUILDING DI KOTA MANADO. Symbiosis Arsitektur Alfian, Nur; Rengkung, Joseph; Syafriny, Reny
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 2 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 2, November 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i2.21299

Abstract

Manusia memiliki berbagai kebutuhan hidup, contohnya tempat tinggal, tempat kerja, dan tempat berbelanja. Keanekaragaman kebutuhan tersebut berpengaruh pada kebutuhan ruang untuk beraktivitas. Demi meningkatkan efisiensi kebutuhan-kebutuhan tersebut, dibutuhkan ruang yang mampu mewadahi beberapa fungsi sekaligus. Perancangan mixed-use building menjadi upaya dalam menyatukan beberapa fungsi sekaligus dalam satu bangunan. Perancangan mixed-use building bertujuan untuk menyediakan ruang yang mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia serta memberi kenyamanan bagi pengguna. Mixed-use building dirancang dalam bentuk perpaduan bangunan vertical dan horizontal yang menyatukan bangunan, kebutuhan manusia, serta ruang luar sebagai upaya mendukung perkembangan suatu kota. Perancangan mixed-use building ini menggunakan bentuk tercluster dimana pola yang di kelompokan berdasarkan persyaratan fungsional seperti ukuran ,bentuk,warna,jarak dan letak,  sebagai  suatu  bentuk  adaptasi  perancangan  terhadap  kondisi  lahan. Bangunan harus memiliki batasan sekaligus hubungan yang terkoordinasi meskipun kurang dalam hal keteraturan geometris dan sifat introvert bentuk-bentuk yanq terpusat, sebuah organisasi tersebar cukup fleksibel dalam menyatukan bentuk-bentuk dengan berbagai macam ukuran, bentuk dasar, dan orientasi ke dalam strukturnyaTema perancangan  mixed-use building ini adalah Symbiosis Arsitektur. Perancangan  mempertimbangkan kebutuhan ruang yang dirancang, lingkungan sekitar, serta pengguna bahan bangunan. Arsitektur simbiosis sebagai analogi biologis dan ekologis memadukan beragam hal kontradiktif, atau keragaman lain, seperti bentuk plastis dengan geometris,alam dengan teknologi, masa lalu dengan masa depan,dll. Simbiosis dalam arsitektur dicapai dengan prinsip ‘dan’, bukan ‘atau’ dalam suatu ruang antara (intermediate space).Fungsi hunian dan komersial pada bangunan menjadi alasan perancangan bangunan dengan luas bersih yang dirancang secara maksimal, demi meningkatkan prospek ekonomi bangunan. Bangunan dirancang dengan ketersediaan infrastruktur utilitas sebagai pendukung kebutuhan manusia dengan desain yang mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar.Kata kunci: Mixed-Use Building, Cluster ,Symbiosis Arsitektur
SEKOLAH TINGGI ILMU DESAIN DI MANADO. Arsitektur Regionalisme Tuwaidan, Christine N. G.; Rengkung, Joseph; Moniaga, Ingerid L.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.23689

Abstract

Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi informasi mempermudah para masyarakat untuk mengakses informasi, secara tak langsung, hal ini tentunya mendorong masyarakat khususnya para generasi muda saat ini untuk lebih berkreatifitas lagi dalam mengekspresikan minat, bakat dan talenta mereka, seperti dalam bidang yang berkembang saat ini yaitu seni mendesain sebagai suatu tindakan kreatif. Desain merupakan proses perancangan yang melibatkan kreatifitas manusia yang bertujuan dalam membuat sesuatu benda. Perancangan sebuah desain yang unik juga dapat berperan sebagai image brand dikalangan masyarakat luas.Perkembangan kota Manado saat ini belum terdapat tempat yang mampu menawarkan edukasi khusus Ilmu Desain. Sehingga perancangan Sekolah Tinggi Ilmu Desain di Manado dianggap layak untuk didirikan sebagai salah satu sarana pengembangan pada sektor pendidikan dan peningkatan sumber daya manusia di Kota Manado. Dengan penerapan tema Arsitektur Regionalisme, maka dirancang objek ini mengikuti perkembangan jaman yang lebih modern tanpa meninggalkan kebudayaan daerah sehingga ada keharmonisan antara nilai seni tradisional dan seni modern. Kata kunci : Sekolah Tinggi Ilmu Desain, Arsitektur Regionalisme, Kota Manado