Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Penerapan Strategi Tidy Up Dengan Metode Montessori Sebagai Upaya Melatih Kemandirian pada Anak Down Syndrome Eka Sufartianinsih Jafar; Andi Nahliah Bungawali; Rohmah Rifani; Andi Halimah; Yunis Liana Galib
Jurnal Kebajikan: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3, No 2 (2025): JANUARI
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jk.v3i2.72872

Abstract

Anak down syndrome memiliki keterbatasan terhadap kemandirian yang membutuhkan keterampilan dan koordinasi antara motorik kasar dan motorik halus hingga perlu senantiasa berada dalam pengawasan dan membutuhkan bantuan secara intensif dari orang tua dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Tujuan penelitian ini yaitu penerapan strategi tidy up dengan menggunakan metode montessori sebagai upaya melatih kemandirian pada anak down syndrome dalam menjalankan aktivitas sehari-hari seperti merapikan mainan dan barang pribadi milik anak dan menjalankan berbagai aktivitas keseharian dengan lebih mandiri. Dengan menggunakan strategi tidy up anak down syndrome mampu bertanggung jawab terhadap mainan dan barang miliknya sendiri. Peneliti memberikan pembelajaran strategi tidy up pada anak down syndrome dengan metode montessori seperti menggunakan berbagai macam mainan montessori untuk menstimulasi kemampuan motorik kasar dan halus anak. Anak down syndrome juga dilatih untuk merapikan mainan dan menyimpan benda pada tempat semula yang dilakukan secara berulang sehingga anak mampu menerapkannya secara mandiri meskipun tanpa arahan
PELATIHAN STRATEGI PENANGANAN TANTRUM PADA ANAK USIA DINI BAGI PEKERJA SOSIAL UPT PPRSA INANG MATUTU Eka Sufartianinsih Jafar; Nabila Sekartaji Febriatika; Nurul Ilma; Nahda Wafiah Idrus; Asfinolia Asfinolia; Nirmayanti Nirmayanti
Jurnal Kebajikan: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1, No 1 (2022): November
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jk.v1i1.38358

Abstract

Tantrum merupakan kondisi ledakan emosi yang umum dialami oleh anak-anak prasekolah yaitu mengekspresikan kemarahan mereka dengan cara menangis, menjerit- jerit, melempar barang, berguling dilantai dan tindakan agresif lainnya. Perilaku tantrum merupakan perilaku yang normal jika terjadi pada anak yang berusia 15 bulan sampai 6 tahun. Perilaku tantrum yang tidak diatasi dapat membahayakan fisik anak, membuat anak kehilangan kontrol, menjadi lebih agresif, dan mengakibatkan anak tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan luar. Orang tua atau pengasuh perlu merespon perilaku tantrum secara tepat dan proporsional agar tidak berdampak negatif terhadap perkembangan anak. Pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan meningkatkan keterampilan para pekerja sosial Inang Matutu dalam dalam menghadapi anak tantrum. Partisipan dalam pengabdian ini berjumlah 16 orang yang merupakan para pekerja sosial di Inang Matutu. Adapun tahapan yang dilakukan dalam kegiatan pengabdian ini adalah melakukan analisis situasi, identifikasi masalah, menentukan tujuan, merumuskan rencana pemecahan masalah, melakukan pendekatan sosial, dan evaluasi. Adapun metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini adalah pretest-posttest design, sharing knowledge dan role play. Materi yang dipaparkan dalam kegiatan pengabdian ini terkait definisi tantrum, penyebab tantrum, ciri-ciri tantrum, dan cara penanganan tantrum. Hasil pre test dan post test menunjukkan bahwa ada perubahan pemahaman oleh peserta pelatihan sebelum dan setelah menerima materi terkait tantrum.  Jadi, dapat disimpulkan bahwa pelatihan yang dilakukan efektif dalam meningkatkan pengetahuan peserta pelatihan.
Concept of Ideal Marriage in Early Adults Eka Sufartianinsih Jafar; Mustainah AR
AL-MAIYYAH : Media Transformasi Gender dalam Paradigma Sosial Keagamaan Vol 15 No 2 (2022): AL-MAIYYAH
Publisher : LPPM IAIN Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze how the concept of ideal marriage in early adulthood is. This study uses a qualitative approach with a survey research design by distributing questionnaires followed by 27 early adults. Their age was 19-25 years with a high school education background (26%) and university (74%). The research subjects are domiciled from several regions in Indonesia, namely Makassar, Gowa, Ketapang, Barru, Soppeng, Takalar, Pare-Pare, Malang, Tana Toraja, and West Kalimantan. The results showed that the concept of ideal marriage in early adulthood can be seen from: (1) age, namely in the age range of 23-26 years; (2) mental readiness 100%; (3) financial readiness at 96.3%; (4) moral readiness 96.3%; (5) communicating the number of children and parenting 96.3%; (6) understanding each other’s roles husband/wife 92.6%; and (7) religion by 92.6%. The implication of this research is to be a reference for individuals, especially those who are in the early adult phase in designing and determining the concept of an ideal marriage that will be lived. So that they can create a prosperous family and avoid divorce.
Pelatihan Relaksasi Emosi melalui Teknik Square Breathing sebagai Upaya Meningkatkan Kestabilan Emosi pada Remaja Eka Sufartianinsih Jafar; Novita Maulidya Jalal; Wilda Ansar; Irdianti Irdianti; Andi Nahliah Bungawali
Jurnal Bersama Pengabdian Kepada Masyarakat (SAMAMAS) Vol. 2 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/samamas.v2i1.750

Abstract

Adolescents are an age group that is prone to experiencing emotional instability due to academic pressure, social demands, interpersonal conflicts, and changes in psychological development. These conditions can have an impact on learning concentration, social relationships, and adolescent mental health, so simple strategies are needed to help regulate emotions. One technique that can be used is square breathing, which is a structured breathing exercise through the pattern of breathing, holding the breath, exhaling, and holding again in the same count. This community service activity aims to improve the understanding and regulation skills of adolescents through training in square breathing techniques. The implementation method uses a psychological education approach based on participatory training which was attended by 25 school-age adolescents. Activities include pre-tests, delivery of materials on mental health and emotional regulation, demonstration of square breathing techniques, hands-on practice, and post-tests. The results of the evaluation showed an increase in the average score of participants from 6 in the pre-test to 11 in the post-test or an increase of 83.33%. In addition, participants reported feeling more relaxed, calm, and focused after the exercise. The square breathing technique is considered effective as a simple strategy to help adolescents improve emotional regulation and reduce psychological tension.
Perbedaan Ketakutan akan Kegagalan Berdasarkan Gaya Pengasuhan pada Emerging Adulthood di Kota Makassar Ridha Nur Amalia Radi; Wilda Ansar; Eka Sufartianinsih Jafar
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 4: Juni 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i4.18443

Abstract

Fenomena ketakutan akan kegagalan pada emerging adulthood menyebabkan individu enggan mengambil risiko dalam menghadapi transisi menuju fase dewasa. Ketakutan ini dapat dipengaruhi oleh gaya pengasuhan orang tua yang diterima selama masa perkembangan. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan ketakutan akan kegagalan ditinjau dari gaya pengasuhan orang tua pada usia emerging adulthood di Kota Makassar. Penelitian kuantitatif ini melibatkan 446 responden berusia 18–25 tahun yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Alat ukur yang digunakan adalah skala gaya pengasuhan orang tua dan skala ketakutan akan kegagalan, dengan analisis data menggunakan One Way ANOVA. Hasil uji hipotesis menunjukkan pengaruh signifikan gaya pengasuhan terhadap ketakutan akan kegagalan (F = 5.172, p = 0.002). Uji lanjutan mengindikasikan perbedaan signifikan antara gaya pengasuhan otoriter dan permisif (mean difference = 4.391, p = 0.001). Gaya pengasuhan otoriter menghasilkan tingkat ketakutan akan kegagalan tertinggi, diikuti permisif dan pengabaian, sedangkan gaya demokratis menghasilkan tingkat terendah. Penelitian ini dapat menjadi acuan bagi praktisi psikologi dalam melakukan psikoedukasi mengenai dampak negatif jangka panjang gaya pengasuhan terhadap perkembangan psikologis individu, khususnya dalam membentuk keberanian menghadapi risiko pada masa dewasa awal.
Dampak Perceraian Orang Tua terhadap Kondisi Psikologis Anak: Systematic Literature Review Sofa Aliyah Sita; St. Faza Yasyfa Jamal; Syakirah Ramadhani; Shabrina Nurul Wahidah Kosasih; Dian Novita Siswanti; Eka Sufartianinsih Jafar
Jurnal Ilmu Psikologi dan Kesehatan | E-ISSN : 3063-1467 Vol. 3 No. 1 (2026): April - Juni
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62379/jipk.v3i1.1755

Abstract

Parental divorce is a growing social phenomenon that may significantly impact children's psychological conditions. This study aims to analyze the impact of parental divorce on children's psychological condition, the forms of psychological problems experienced, and the influencing factors. The method used was a systematic literature review (SLR) of 30 scientific articles published between 2016-2026, sourced from the Google Scholar database, and meeting inclusion criteria such as having a DOI and relevance to family psychology topics. The review results indicate that parental divorce has multidimensional impacts, including: (1) emotional dysregulation and affective disorders (profound grief, anxiety, anger, trauma, and psychosomatic symptoms), (2) social maladaptation and externalizing behaviors (withdrawal, aggression, egocentric attitudes, and difficulty building interpersonal relationships), (3) decreased cognitive function and academic achievement (attention disorders, reduced learning motivation, and risk of dropping out of school), and (4) impaired self-acceptance, identity, and psychological well-being. These impacts are not deterministic but are moderated by risk factors (prolonged parental conflict, economic constraints, unstable parenting) and protective factors (social support, consistent parental communication, counseling interventions, and forgiveness skills). In conclusion, children's psychological condition after divorce is the result of a complex interaction between risk and protective factors, thus holistic interventions based on family, school, and community are essential to build children's resilience.