Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

CITAYAM FASHION WEEK: EKSPRESI REMAJA DI RUANG PUBLIK PADA MEDIA SOSIAL TIKTOK DI ERA DIGITAL Sulissya Nur Syafa'ati; Johny Alfian Khusyairi
Metacommunication: Journal of Communication Studies Vol 8, No 1 (2023): MARET
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/mc.v8i1.15523

Abstract

Citayam Fashion Week atau CFW merupakan fenomena masyarakat yang ramai pada tahun 2022 di DKI Jakarta. Dalam penelitian ini, penulis bertujuan untuk memaparkan fenomena CFW yang terjadi di kawasan Sudirman Central Business District atau SCBD yang merupakan bentuk ekspresi remaja. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah konten video pada media sosial TikTok dan berita online terkait CFW. Data yang ada disajikan dengan menggunakan teori ruang publik Jürgen Habermas yang merepresentasikan kawasan SCBD. Hasil kajian menunjukkan bahwa fenomena CFW merupakan bentuk demokratisasi Jalan Sudirman sebagai ruang ketiga, melahirkan beberapa remaja populer yang mengusung identitas Citayam, Bogor dan Depok, serta menciptakan penonton yang mendukung dan menikmati fenomena tersebut. Hal ini berdampak positif bagi perekonomian masyarakat khususnya di bidang fashion seperti aplikasi belanja online: Shopee. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kawasan SCBD merupakan ruang publik yang dapat dinikmati dan dikunjungi oleh semua kalangan tanpa memandang pangkat dan status karena ruang publik tersebut merupakan milik bersama. Masyarakat juga bebas melakukan aktivitas yang mereka inginkan tanpa mengganggu pengunjung lain dan ikut menjaga ketertiban dan kenyamanan ruang publik.Kata Kunci: Remaja, Citayam Fashion Week, Ruang Publik, Sudirman.
Standardisasi pengukuran dan registrasi tanah di Besuki, 1813-1826 Khusyairi, Johny Alfian
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 25 No. 2 (2024)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.468

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengetahui sistem registrasi tanah di kawasan ujung timur pulau Jawa, Besuki. Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles adalah yang pertama kali melakukan pendataan melalui penerapan standar pengukuran dan registrasi tanah di wilayah ini. Artikel ini menggunakan metode sejarah dalam melacak rujukan yang menginspirasi Raffles dalam melakukan standar pengukuran tanah di Besuki. Sebagai pejabat baru, Raffles cepat memahami wilayah kekuasaannya. Standardisasi dan registrasi tanah di Besuki mendesak dilakukan karena isu ini menimbulkan masalah serius di sebelah barat Besuki, Probolinggo. Raffles melakukan pendataan tanah di Besuki sebagaimana Inggris melakukannya di India. Semula Raffles menerapkan menerapkan model Bengal (zamindari), pajak tanah dipungut secara kolektif oleh kepala desa. Lima bulan kemudian di menggantinya dengan sistem India lainnya, ryotwari,  pemungutan pajak secara perorangan dengan mendasarkan kepemilikan secara perorangan. Pemberlakukan peraturan ini tetap digunakan hingga dua pemerintahan setelahnya. 
THRIFT FASHION TRENDS AS A NEW CULTURE OF CONSUMERISM Sulissya Nur Syafa'ati; Johny Alfian Khusyairi
Airlangga Development Journal Vol. 8 No. 2 (2024): AIRLANGGA DEVELOPMENT JOURNAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/adj.v8i2.44267

Abstract

The mushrooming phenomenon of fashion thrift in Indonesia has resulted in a new culture. The new culture is the consumption of young people on thrift fashion products. This research uses the qualitative descriptive method. The data was taken by filling out an open questionnaire to 10 respondents obtained through Instagram social media. The data obtained were then analyzed using the theory of the consumption society by Jean P. Baudrillard where the consumption of fashion thrift products not only pays attention to the value of the function of a garment but also the value of symbols in purchasing fashion thrift products. The results of this study show that the reasons respondents consume fashion thrift are because they accidentally found suitable products, complete collections, low product prices, products that are sold well and even some are products with well-known brands, and pride factors.
Konstruksi Makna Budaya Ngopi Kopag (Kopi Pagi) Masyarakat Kota Malang Faizin, Ahmad; Khusyairi, Johny Alfian; Afdholy, Nadya
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 4 No. 2 (2025): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.042.01

Abstract

Budaya ngopi di Kota Malang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat lokal didorong dengan banyaknya coffee shop berdiri di penjuru kota. KOPAG merupakan salah satu kegiatan ngopi yang bertransformasi menjadi budaya ngopi baru. KOPAG terbentuk menjadi sebuah istilah tersendiri yang diucapkan, digunakan, dan disebarluaskan oleh Masyarakat di Malang semenjak tahun 2023, terutama pemuda-pemudi Malang. Penelitian ini bertujuan menelaah makna budaya ngopi KOPAG di Malang. Penelitian menggunakan teori representasi yang termasuk dalam penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Koleksi data melalui wawancara terhadap pelaku budaya dari pihak konsumen dan produsen. Hasil penelitian  menunjukkan bahwa istilah KOPAG telah diserap oleh masyarakat dan membentuk makna tersendiri dan merepresentasikan “tombol” untuk mengawali hari bagi para pelaku budaya. KOPAG memberikan alternatif budaya ngopi menyesuaikan kehidupan para pelaku budaya. Di sisi lain, budaya KOPAG juga merepresentasikan media pemasaran yang inovatif bagi pelaku usaha coffee shop.
ANALISIS SEMIOTIK ROLAND BARTHES TERHADAP SIMBOL BUDAYA PALESTINA DI RUANG PUBLIK DIGITAL: SEMANGKA, POHON ZAITUN, DAN KUNCI Haqi, Annisa Maulidina; Khusyairi, Johny Alfian
Metahumaniora Vol 15, No 1 (2025): METAHUMANIORA, APRIL 2025
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v15i1.61767

Abstract

Penelitian ini menganalisis representasi simbol-simbol budaya Palestina dalam ruang publik digital melalui pendekatan semiotika. Dengan fokus pada simbol semangka, pohon zaitun, dan kunci, penelitian ini mengungkap bagaimana simbol-simbol tersebut digunakan untuk mempertahankan identitas nasional Palestina dan melawan dominasi narasi kolonial. Data primer berupa tiga poster digital yang mewakili masing masing ketiga simbol yang dianalisis menggunakan konsep denotasi dan konotasi menurut Roland Barthes. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan pengetahuan tentang representasi budaya Palestina dalam ranah digital dengan mengeksplorasi peran simbol-simbol budaya dalam membentuk identitas kolektif serta sebagai bentuk ekspresi perlawanan. Selain itu, Penelitian ini menegaskan pentingnya media sosial sebagai platform untuk menyuarakan perjuangan dan memperkuat narasi budaya di tengah konflik politik.
Evolving Metalcore: Music Standardization and Commodification in Bad Omens and Bring Me The Horizon Athaya Prita Belia; Johny Alfian Khusyairi
Jurnal Seni Musik Vol. 13 No. 2 (2024): December 2024
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jsm.v13i2.17685

Abstract

This research aims to analyse the musical characteristics and lyrical themes of Bring Me The Horizon (BMTH) and Bad Omens to explore the cultural values shaped through the commodification of metalcore music, drawing on Adorno’s theory of the culture industry. This research uses mixed-methods approach by examining the duration of unclean and clean vocals, as well as the lyrical themes from both bands' debut and latest albums, to identify forms of standardization. In addition, the commodification analysis incorporates audience reactions, concert ticket sales, and streaming data. The findings reveal a transition from the creative freedom of the early years to more standardized works, marked by a reduction in unclean vocal techniques, less frequent use of blast beats, and a greater emphasis on smoother melodies. This study also identifies elements of pseudo-individualization, where both bands create a sense of uniqueness while adhering to market trends to appeal to a broader audience. These findings highlight how standardization and pseudo-individualization function not only as marketing tools but also as bridges to integrate metalcore music into the mainstream market and attract new listeners.  
Consumption practices of thrifting: Cultural materialism analysis of consumer perspectives Adiyani, Lady Khairunnisa; Khusyairi, Johny Alfian
Jurnal Sosiologi Dialektika Vol. 20 No. 1 (2025): Jurnal Sosiologi Dialektika
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jsd.v20i1.2025.87-100

Abstract

In the global era, people are looking for alternatives in fashion through the thrifting trend. This research aims to analyze the consumption practices of thrifting in Surabaya from a consumer perspective through Marvin Harris’ Cultural Materialism approach based on economic infrastructure, social structure, and cultural superstructure. This research uses a quantitative approach with descriptive methods. The data collection technique was a questionnaire with 110 respondents in Surabaya, with ages between 15-40 years. Based on the frequency and preference of thrift shopping, thrift consumption is influenced by affordable prices, ease of access, and the role of digital technology. Economic infrastructure, including thrift stores to online platforms, makes it easy for consumers to obtain high quality stuff at low prices. Based on cultural values and meanings, thrifting is a symbol of sustainability, creativity, and identity expression. The shift in cultural superstructure reflects that second-hand clothing is accepted as a fashionable alternative that reflects social responsibility and uniqueness. Based on economic relations and local culture, thrifting is an activity that increases the potential of the informal economy by creating business opportunities and strengthening social networks. This research concludes that thrifting is not only an economic alternative but also part of a lifestyle that refers to the value of sustainability and has an impact on local culture.
Representasi Cinta dalam Lirik Lagu Kupu-Kupu oleh Tiara Andini: Analisis Semiotika Roland Barthes Ratnaduhita, Cintya; Riyanto, Edi Dwi; Khusyairi, Johny Alfian
PROMUSIKA Vol 13, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v1i1.15213

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi cinta dalam lirik lagu Kupu-kupu oleh Tiara Andini melalui pendekatan semiotika Roland Barthes. Fokus utama penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi makna denotatif, konotatif, dan mitos yang terkandung dalam simbol-simbol yang ada dalam lirik lagu tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis semiotika, di mana data penelitian berupa lirik lagu yang diambil dari laman internet. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi terhadap lirik lagu Kupu-kupu yang kemudian dianalisis secara mendalam menggunakan teori semiotika Roland Barthes. Teknik analisis data melibatkan tiga tahap: pertama, analisis makna denotatif yang mengungkapkan arti harfiah dari setiap simbol; kedua, analisis konotatif untuk menggali makna yang lebih dalam terkait dengan perasaan cinta yang digambarkan; ketiga, identifikasi mitos-mitos yang terbentuk melalui simbol-simbol dalam lagu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lirik lagu ini menggambarkan cinta sebagai perasaan yang mempengaruhi fisik dan emosional, dengan simbol-simbol seperti pipi merona, jantung terpompa, dan kupu-kupu yang menggambarkan kebebasan cinta. Cinta digambarkan sebagai kekuatan yang memperkuat hubungan, memberikan ketulusan, dan menjaga kebahagiaan. Kesimpulannya, lirik lagu Kupu-kupu menciptakan representasi cinta yang mendalam, dinamis, dan bebas berkembang sesuai dengan mitos-mitos cinta dalam budaya populer. Temuan ini berkontribusi pada pengembangan kajian semiotika musik Indonesia dengan memperkaya pemahaman tentang bagaimana simbol-simbol dalam lirik lagu membentuk konstruksi makna sosial dan emosional dalam konteks budaya lokal.The Representation of Love in the Lyrics of the Butterfly Song: Barthes's Semiotic AnalysisAbstractThis study aims to analyze the representation of love in the lyrics of the song Kupu-kupu by Tiara Andini through Roland Barthes' semiotic approach. The primary focus of this research is to identify the denotative, connotative meanings, and myths contained in the symbols within the song's lyrics. The research method used is qualitative with a semiotic analysis, where the research data consists of song lyrics taken from an online source. Data is collected by observing the Kupu-kupu lyrics, which are then analyzed in depth using Roland Barthes' semiotic theory. The data analysis technique involves three stages: first, the analysis of denotative meaning, which reveals the literal meaning of each symbol; second, the connotative analysis to explore deeper meanings related to the feelings of love depicted; third, the identification of myths formed through the symbols in the song. The results show that the lyrics of this song depict love as a feeling that affects both the physical and emotional aspects, with symbols such as blushing cheeks, a pumping heart, and butterflies representing the freedom of love. Love is portrayed as a force that strengthens relationships, offers sincerity, and maintains happiness. In conclusion, the lyrics of Kupu-kupu create a profound, dynamic, and freely evolving representation of love in line with the myths of love in popular culture. This finding contributes to the development of semiotic studies of Indonesian music by enriching the understanding of how symbols in song lyrics construct social and emotional meanings within the context of local culture.Keywords: Barthes' semiotics; love in music; lyric symbolism; pop culture; Indonesian songs
Musical Hyperreality in Kampung Jelita: A Case Study of Thematic Tourism in Surabaya Fadhillah, Rifdah; Meyrasyawati, Dewi; Khusyairi, Johny Alfian
PROMUSIKA Vol 13, No 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/promusika.v13i2.15945

Abstract

This study analyzes music's role in shaping visitors' hyperreal experiences in Kampung Jelita, Surabaya. Using a qualitative case study approach, the research focuses on the Japanese and Balinese thematic zones and applies Jean Baudrillard's theory of hyperreality. Data were collected through in-depth interviews, direct observation, literature review, and documentation conducted in the Kampung Jelita area, Manukan Lor IV E Street, RT 05/RW 01, Banjar Sugihan Subdistrict, Tandes District, Surabaya. The findings reveal that instrumental music is a cultural simulator that evokes illusion and fantasy, supporting Baudrillard's view that simulation can substitute reality. The soundscapes in each thematic zone, Japanese and Balinese, enhance the immersive experience by harmonizing with visual ornaments, prompting visitors to engage emotionally, experience nostalgia, and participate in performative acts such as renting traditional costumes. However, some visitors noted inconsistencies between the music and the intended cultural themes. Theoretically, this study contributes to hyperreality discourse by emphasizing the role of music in reinforcing sensory simulation within thematic tourism village contexts. Practically, the findings suggest that curating culturally coherent soundscapes can strengthen visitors' emotional attachment and enhance destination branding. Thus, music should be regarded as a strategic medium in constructing cultural identity and tourist experience.Hiperrealitas Musik di Kampung Jelita: Studi Kasus Tematik Wisata di SurabayaAbstrakPenelitian ini menganalisis peran musik dalam membentuk pengalaman hiperreal pengunjung di Kampung Jelita, Surabaya. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, penelitian ini berfokus pada zona tematik Jepang dan Bali serta menerapkan teori hiperrealitas Jean Baudrillard. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, studi pustaka, dan dokumentasi yang dilakukan di kawasan Kampung Jelita, Jalan Manukan Lor IV E, RT 05/RW 01, Kelurahan Banjar Sugihan, Kecamatan Tandes, Surabaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musik instrumental berfungsi sebagai simulator budaya yang membangkitkan ilusi dan fantasi, mendukung pandangan Baudrillard bahwa simulasi dapat menggantikan realitas. Lanskap bunyi (soundscape) di setiap zona tematik Jepang dan Bali memperkuat pengalaman imersif dengan menciptakan keselarasan antara elemen audio dan visual, sehingga mendorong pengunjung untuk terlibat secara emosional, merasakan nostalgia, serta berpartisipasi dalam tindakan performatif seperti menyewa kostum tradisional. Namun, beberapa pengunjung mencatat adanya ketidaksesuaian antara musik yang diputar dengan tema budaya yang dimaksudkan. Secara teoretis, penelitian ini memberikan kontribusi terhadap wacana hiperrealitas dengan menekankan peran musik dalam memperkuat simulasi sensorik dalam konteks kampung tematik wisata. Secara praktis, temuan ini menyarankan bahwa pengelolaan lanskap bunyi yang selaras secara budaya dapat memperkuat keterikatan emosional pengunjung dan meningkatkan citra destinasi wisata. Dengan demikian, musik perlu dipandang sebagai media strategis dalam membangun identitas budaya dan pengalaman wisata.Kata kunci: hiperrealitas musik; Kampung Jelita; musik instrumental tradisional; simulakra
Pelatihan Kesenian Tradisional Pabitte Pasappu Untuk Pemertahanan Budaya Masyarakat Kajang di Desa Tanah Toa, Bulukumba, Sulawesi Selatan: The Traditional Performance of Pabitte Pasappu Training for Preservation of the Kajang Community Culture in Tanah Toa Village, Bulukumba, South Sulawesi Rabani, La Ode; Husain, Sarkawi B.; Samidi, Samidi; Khusyairi, Johny Alfian
PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 7 (2024): PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/pengabdianmu.v9i7.6990

Abstract

Local Society make the preservation of local arts and culture. One of the local communities that is the focus of community service is the Kajang indigenous community in Bulukumba, South Sulawesi. The Kajang community carries out its activities separately between Inner and Outer Kajang. Both spaces of communities have different standards in preserving one cultural art. The Inner Kajang community focuses on sacred traditional arts, while in the Outer Kajang community, the inherent traditions are profane. This community service is directed towards the goal of preserving/sustainability of the local culture of the Kajang community, which is being threatened by the influence of globalization, the influence of digital technology that enters the community, and the orientation of the Kajang Society which likes the world of modernity. As a result, sacred and profane traditional arts not attention, especially from the local younger generation. The method of community service is through training the younger generation of the Kajang community who come from the local community. Pabitte Pasappu Art Trainers come from local traditional leaders. This dedication succeeded in training the young generation of Kajang in an effort to maintain their art Pabitte Pasappu. The successful performance as shown on the YouTube channel of Prodi Ilmu Sejarah Unair became a benchmark for the success of this community service program, although in the not too distant future. The effectivity, time efficiency and intensity during training are key to achieving training targets.