Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Kajian Tutupan Lahan di Taman Hutan Raya Gunung Tumpa Menggunakan Sistem Informasi Geografis Aruan Tasik, Hestika; Kalangi, Josephus I.; Saroinsong, Fabiola B.
Jurnal Lentera: Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Lentera: Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/v1n97216

Abstract

Taman Hutan Raya (TAHURA) Gunung Tumpa memiliki peran vital sebagai kawasan konservasi dan satu-satunya area tangkapan air yang tersisa di Kota Manado. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan tutupan lahan di kawasan TAHURA Gunung Tumpa dalam kurun waktu 2016 hingga 2025 menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Metode penelitian yang digunakan adalah survei yang menggabungkan analisis spasial data sekunder citra satelit Sentinel-2 dan validasi lapangan menggunakan GPS. Hasil penelitian menunjukkan adanya dinamika perubahan pada tujuh kelas tutupan lahan. Selama periode 2016–2025, terjadi peningkatan signifikan pada luas hutan sekunder sebesar 11,00 ha (dari 88,12% menjadi 93,39%). Sebaliknya, terjadi penurunan luas pada kelas semak belukar sebesar 9,52 ha dan hilangnya kelas lahan terbuka seluas 3,28 ha. Selain itu, teridentifikasi munculnya kelas tutupan baru pada tahun 2025 berupa ladang (0,08 ha) dan padang rumput (0,21 ha). Secara keseluruhan, perubahan tutupan lahan di TAHURA Gunung Tumpa menunjukkan tren positif yang mengindikasikan terjadinya pemulihan vegetasi alami dan efektivitas fungsi kawasan konservasi.
Analisis Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd) pada Mangrove Rhizophora Apiculata dan Sedimen di Kelurahan Meras Kecamatan Bunaken Kota Manado Nurmawan, Wawan; Ogie, Tommy B.; Saroinsong, Fabiola B.
Jurnal Lentera: Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Lentera: Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/hfv26197

Abstract

Ekosistem mangrove memiliki kemampuan ekologis dalam menyerap dan mengakumulasi logam berat dari lingkungan pesisir, sehingga berperan penting sebagai bioindikator pencemaran. Kawasan mangrove di Kelurahan Meras, Kecamatan Bunaken, Kota Manado merupakan wilayah pesisir yang berpotensi terpapar aktivitas antropogenik seperti permukiman, pariwisata, dan aktivitas perairan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kandungan logam berat Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd) pada mangrove jenis Rhizophora apiculata dan sedimen di sekitarnya. Pengambilan sampel dilakukan pada bagian akar, kulit batang, daun, dan sedimen dari tiga individu mangrove yang dipilih secara purposif. Analisis kandungan logam berat menggunakan metode Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan Pb pada seluruh sampel berada di bawah batas deteksi alat (<0,15 mg/kg), sedangkan kandungan Cd berada di bawah <0,02 mg/kg. Nilai tersebut berada di bawah ambang batas baku mutu lingkungan yang ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2021 dan standar internasional (ANZECC, 2000). Rendahnya konsentrasi Pb dan Cd menunjukkan bahwa ekosistem mangrove di Kelurahan Meras masih relatif baik dan belum mengalami pencemaran logam berat secara signifikan. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa Rhizophora apiculata berpotensi sebagai bioindikator kualitas lingkungan pesisir serta berkontribusi dalam mitigasi pencemaran logam berat di ekosistem mangrove pesisir Manado. Kata kunci: bioindikator
Pelatihan Optimalisasi Area Kelapa dengan Pengembangan Kebun TOGA Mandiri  di Desa Ongkaw Satu, Kecamatan Sinonsayang, Kabupaten Minahasa Selatan Pangemanan, Euis F. S.; Kalangi, Josephus I.; Saroinsong, Fabiola B.; Wawan Nurmawan
Jurnal Lentera: Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2025): Jurnal Lentera: Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/tge4fd50

Abstract

Pemanfaatan lahan di bawah tegakan kelapa seringkali belum optimal. Area di bawah pohon kelapa biasanya dibiarkan kosong atau hanya ditanami tanaman yang kurang produktif, sehingga potensi lahan tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal.Salah satu solusi untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan di bawah kelapa adalah dengan mengembangkan kebun Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Kegiatan pengabdian masyarakat ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas masyarakat Desa Ongkaw Satu dalam mengelola lahan di bawah tegakan kelapa secara optimal. Tahapan kegiatan mencakup : persiapan, sosialisasi, diskusi, demonstrasi dan praktek. Kegiatan dilakukan di Desa Ongkaw Satu pada bulan Juli-Agustus 2025. Berdasarkan rangkaian kegiatan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa program ini berhasil mengidentifikasi potensi pemanfaatan lahan yang belum optimal di Desa Ongkaw, yaitu area bawah tegakan kelapa. Mengembangkan kebun TOGA di bawah areal kelapa memiliki potensi besar, tetapi juga menghadapi sejumlah tantangan unik. Karena itu, meski berjalan sukses, kegiatan pelatihan ini tidak luput dari tantangan dan memerlukan strategi penanganan untuk perbaikan ke depan.
Pengelolaan Lanskap Pertanian untuk Konservasi Tanah dan Air di Gunung Kawatak Langowan Mairi, Andhika K.B.; Saroinsong, Fabiola B.; Kalangi, Josephus I.
Jurnal Lentera: Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2026): Jurnal Lentera: Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/p0f1vj75

Abstract

Pengelolaan lanskap pertanian pada daerah dengan topografi berlereng membutuhkan upaya konservasi yang tepat agar kualitas tanah dan ketersediaan air tetap terjaga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan teknik konservasi tanah dan air oleh petani serta menggambarkan kondisi kerusakan lanskap pertanian di wilayah Gunung Kawatak, Langowan. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif kuantitatif melalui observasi lapangan dan penyebaran kuesioner kepada 30 orang petani sebagai responden. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif serta didukung dengan uji validitas dan reliabilitas instrumen penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar petani telah menerapkan teknik konservasi tanah dan air pada lanskap yang mereka kelola. Sebanyak 93,3% responden menyatakan telah menerapkan teknik konservasi, sedangkan sisanya belum menerapkannya. Tingkat efektivitas teknik konservasi dinilai baik hingga sangat baik oleh mayoritas responden. Pemeliharaan terhadap teknik konservasi juga dilakukan secara rutin oleh sebagian besar petani. Kondisi lanskap pertanian di wilayah penelitian secara umum dinilai masih relatif baik dengan tingkat kerusakan lanskap yang rendah. Sebagian besar responden menyatakan tidak terdapat erosi pada lanskap pertanian mereka, sementara erosi yang ditemukan umumnya berada pada kategori ringan hingga sedang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan dan pemeliharaan teknik konservasi tanah dan air berkontribusi dalam menjaga kestabilan lanskap pertanian serta mendukung keberlanjutan pengelolaan lanskap pada wilayah berlereng.
Concepts of Landscape Planning and Design for the Conservation of Target Species and Target Ecosystems in Biodiversity Management for Sustainable Tourism Saroinsong, Fabiola B.; Cumentas, Javier M.; Pangemanan, Euis F. S.; Sumakud, Maria Y. M.A.
Asia Pacific Journal of Interdisciplinary Studies Vol. 2 No. 1 (2026): Asia Pacific Journal of Interdisciplinary Studies
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/asnvet90

Abstract

Conservation-based landscape planning is an increasingly important strategic approach in addressing the challenges of ecosystem degradation and species extinction due to land use change, habitat fragmentation, and climate change. This article aims to analyze how landscape planning can effectively support the conservation of target species and target ecosystems within the framework of sustainable biodiversity management. Through a systematic literature review of 30 articles of reputable international journals (2005–2025), this study identifies the main principles, planning methods, and indicators of success in integrating conservation into landscape spatial planning. The results show that ecosystem-based approaches, connectivity planning, and multi-stakeholder participation are the main foundations in conservation landscape planning. Indicator species and umbrella species are often used as proxies to identify priority areas, while target ecosystems are selected based on their level of uniqueness, threat, and ecological function. The integration of GIS-based spatial data and habitat modeling allows for effective identification of ecological corridors and conservation core areas. Studies also found that long-term success relies heavily on supportive policies, institutional capacity, and local community involvement. This article concludes that holistic and adaptive landscape planning is key to achieving conservation goals while supporting sustainable development. Policy recommendations include strengthening cross-sectoral landscape governance and building technical capacity in evidence-based planning.
REDESAIN RUANG TERBUKA HIJAU KAMPUS UNSRAT BERDASARKAN EVALUASI KENYAMANAN TERMAL DENGAN INDEKS DISC Fabiola B. Saroinsong; J. I. Kalangi; Prestin Babo
EUGENIA Vol. 23 No. 2 (2017)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/eug.23.2.2017.16778

Abstract

ABSTRACT Outdoor spaces are important to sustainable cities because they accommodate outdoor activities and contribute greatly to the quality of urban living.During the last decade, interest in the assessment of thermal comfort has increased because of climate changes and increased heat stress in cities. Greenspaces that provide a pleasurable thermal comfort experience for users effectively improve their quality of livability and productivity. However, current investigations lack a general framework for the use of thermal comfort assessment, such as in making master plan or designing better greenspace. This paper discusses greenspace of Sam Ratulangi University Campus relating to thermal comfort. It provides knowledge of thermal comfort investigation and landscape design review. The results of thermal comfort assessment, among 11 observed plots, only greenspace at FMIPA is categorized as comfortablespot. Greenspaces at FAPET and FEB are not really comfortable, those at BNI and FKM A and FKM B are not comfortable and those at FATEK, FAPERTA, FISIP, FH, FKM A are categorized as very uncomfortable spots. We suggest some options for redesigningof uncomfortable and very uncomfortable greenspace spots.Keywords: greenspace, outdoor, termal comfort