Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISA PERSIMPANGAN TIDAK BERSINYAL MENGGUNAKAN PROGRAM aaSIDRA (STUDI KASUS PERSIMPANGAN JALAN 14 FEBRUARI – JALAN TOLOLIU SUPIT – JALAN BABE PALAR, KOTA MANADO) Badar, Praycilia Inri; Sendow, Theo K.; Jansen, Freddy; Manoppo, Mecky R. E.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 2, No 7 (2014): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persimpangan Jl.14 Februari – Jl.Tololiu Supit – Jl.Babe Palar Kota Manado adalah persimpangan tidak bersinyal yang merupakan jalur lalu lintas sibuk. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya kendaraan yang melintasi persimpangan. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk menganalisa kinerja simpang dengan menggunakan program aaSIDRA dan membandingkannya dengan metode MKJI 1997. Dari hasil analisis dengan menggunakan program aaSIDRA menunjukan nilai derajat kejenuhan DS = 0,652-1,326; kapasitas total = 1738 kend/jam-3104 kend/jam; panjang antrian = 11 m-360 m; kontrol tundaan =14 detik- 101,9 detik; dan LOS B - LOS F. Dari hasil analisis menggunakan program aaSIDRA juga menunjukkan terjadinya penurunan nilai derajat kejenuhan dan nilai kontrol tundaan yang mempengaruhi tingkat pelayanan menjadi semakin baik. Sedangkan pada MKJI 1997 nilai derajat kejenuhan sudah melewati nilai yang disarankan MKJI 1997 untuk simpang tidak bersinyal yaitu DS = 0,85 dan untuk MKJI 1997 tanpa adanya sepeda motor arus lalu lintas tidak melewati jenuh. Kata kunci: Persimpangan tidak bersinyal, aaSIDRA, derajat kejenuhan, kontrol tundaan, tingkat pelayanan
PERBANDINGAN DESAIN TEBAL PERKERASAN LENTUR LAPIS TAMBAH (OVERLAY) DENGAN METODE BINA MARGA REVISI JUNI 2017 MENGGUNAKAN DATA LENDUTAN BB DAN AASHTO 1993 MENGGUNAKAN DATA LENDUTAN FWD (STUDI KASUS: RUAS JALAN NASIONAL JENDERAL SUDIRMAN – MANADO, NOMOR RUAS JALAN 5000413) Toding, Risman Bismar; Sendow, Theo K.; Lalamentik, Lucia G. J.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 9, No 4 (2021): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jalan raya merupakan bagian dari sarana transportasi darat yang sangat penting dalam menunjang akses mobalitas bagi masyarakat, sehingga desain perkerasan jalan yang baik adalah suatu keharusan untuk meningkatan nilai dari fungsi jalan. Pada ruas jalan Nasional Jenderal Sudirman-Manado yang adalah jalan lama dengan tipe jalan arteri 1 arah 4 lajur diamati secara visual di beberapa segmen jalan terdapat kerusakan fungsional dan telah mengarah pada kerusakan struktural. Kondisi ruas jalan pada lokasi penelitian akibat kerusakan struktural dilakukan pemeriksaan non- destruktif dengan pengujian menggunakan alat Falling Weight Deflectometer (FWD) dan Benkelman Beam (BB) yang menghasilkan data lendutan.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan membandingkan hasil tebal lapis tambah (overlay) berdasarkan metode Bina Marga Revisi Juni 2017 dengan AASHTO 1993. Data yang digunakan dalam penelitian merupakan data sekunder yang diperoleh dari BPJN Sulawesi Utara yaitu Volume Lalu Lintas (LHR), data Struktur Lapisan Tebal Perkerasan Jalan Eksisting, Data Lendutan FWD dan Data Lendutan BB. Untuk data lendutan Benkelman Beam (BB) tidak tersedia dari Balai Jalan, sehingga dilakukan perhitungan dengan model menggunakan data lendutan FWD.Perhitungan CESA (Cumulative Equivalent Single Axle) berdasarkan metode Bina Marga 2017 diperoleh nilai CESA4 = 1.226.974 dan CESA5 = 1.307.388 menurut metode AASHTO 1993 W18 = 6.159.474,28. Dari hasil perhitungan pada Metode Bina Marga 2017 diperoleh overlay untuk CESA4 sebesar 2 cm dan untuk CESA5 sebesar 10 cm, sementara itu pada metode AASHTO 1993 dengan CESA (W18) mendapatkan overlay sebesar 5 cm. Perbandingan dari hasil perhitungan desain tebal lapis tambah (overlay) dengan metode Bina Marga 2017 dan metode AASHTO 1993 ditinjau berdasarkan parameter dari masing-masing metode. Dalam penelitian ini dilakukan juga simulasi dengan variasi beban lalu lintas (CESA) terhadap tebal lapis tambah (overlay) dimana model Polynomial Orde 6 menghasilkan nilai r2 paling besar dan menjadi pemilihan model terbaik. Kata Kunci: Bina Marga Revisi Juni 2017; AASHTO 1993; VDF; CESA; Benkelman Beam; Falling Weight Deflectometer; Overlay.
PERBANDINGAN DESAIN LAPIS TAMBAH (OVERLAY) PERKERASAN LENTUR ANTARA METODE BINA MARGA REVISI JUNI 2017 MENGGUNAKAN DATA LENDUTAN BB DAN METODE AASHTO 1993 MENGGUNAKAN DATA LENDUTAN FWD (STUDI KASUS: RUAS JALAN BATAS KOTA MANADO – TOMOHON, NOMOR RUAS JALAN: 50006) Benjamin, Hendry Samuel; Sendow, Theo K.; Waani, Joice E.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 9, No 4 (2021): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jalan merupakan salah satu prasarana transportasi yang sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia sehari-hari. Akibat penambahan jumlah kendaraan dan beban kendaraan yang berlebihan dapat mengakibatkan kerusakan pada perkerasan jalan. Kerusakan pada lapisan perkerasan jalan juga dipengaruhi oleh faktor lain yaitu: material penyusun struktur perkerasan, faktor desain, faktor lingkungan, faktor desain , faktor cuaca dan iklim, faktor pelaksanaan konstruksi. Salah satu cara yang dapat dilakukan terhadap perkerasan jalan yang mengalami disfungsi struktural khususnya kerusakan sedang adalah dengan memberi lapisan tambahan (overlay) pada perkerasan tersebut.Dalam penelitian ini mendesain tebal lapis tambah (overlay) perkerasan lentur menggunakan metode Bina Marga Revisi Juni 2017 dan AASHTO 1993 untuk study kasus Jalan Batas Kota Manado - Tomohon. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yaitu Data Volume Lalu Lintas, Lendutan Benkelman Beam (BB) dan Lendutan Falling Weight Deflectometer (FWD). Pada Ruas Jalan Batas Kota Manado – Tomohon tidak di lakukan pengujian data lendutan Benkelman Beam (BB) sehingga dilakukan perhitungan dari data lendutan Failling Weight Deflectortometer (FWD) menggunakan model dari data df1 = 0,432 mm mendapatkan hasil d3 = 0,308 mm dan d2 = 0,17 mm.Hasil perhitungan metode Bina Marga Revisi Juni 2017 untuk CESA4 = 4.389.265,16 dan CESA5 = 5.503.378,78 dan menurut metode AASHTO 1993 W18 = 15.354.708,47 Hasil perhitungan tebal lapis tambah dengan Bina Marga Revisi Juni 2017 dengan nilai CESA4 sebesar 4 cm dan CESA5 sebesar 15 cm, sedangkan untuk metode AASHTO 1993 sebesar 9 cm.  Kata kunci: Ruas Jalan, Bina Marga Revisi Juni 2017, AASHTO 1993, Tebal Lapis Tambah (overlay).
PERBANDINGAN TEBAL PERKERASAN LENTUR LAPIS TAMBAH DENGAN MENGGUNAKAN METODE BINA MARGA 2013 DAN AASHTO 1993 (STUDI KASUS: JALAN NASIONAL KAIRAGI-MAPANGET DENGAN NOMOR RUAS 5000500) Hasibuan, Lamrumenta Marianti; Sendow, Theo K.; Lalamentik, Lucia G. J.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 9, No 4 (2021): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jalan merupakan prasarana transportasi yang berperan dalam peningkatan kebutuhan masyarakat. Peningkatan volume lalu lintas pada ruas jalan kairagi-mapanget diasumsikan berkisar sebesar 442.777 kendaraan menurut rpjim yang mengakibatkan tidak stabilnya tingkat pelayanan jalan, guna mengatasi masalah tersebut maka upaya yang dilakukan ialah melakukan tebal lapis tambah (overlay).Overlay merupakan tebal yang dibutuhkan suatu permukaan perkerasan dengan pengujian lendutan FWD dan BB. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui bagaimana menganalisis hingga membandingkan hasil tebal lapis tambah menggunakan metode AASHTO 1993 dan Bina Marga 2013 pada perkerasan lentur menggunakan data lendutan FWD dan BB.Pada ruas jalan kairagi-mapanget dengan nomor ruas 5000500 memiliki lalu lintas harian sebesar 13825 kend/hari dengan hasil CESA metode AASHTO 1993 sebesar 429670, CESA Bina Marga 2013 sebesar 697803 CESA4, 1256046 CESA5. Data lendutan BB dan FWD yang diperoleh metode Bina Marga 2013 sebesar 0,73 dan 0,44. Modulus efektif (Ep) lapisan struktur diatas tanah dasar mempengaruhi nilai struktural efektif eksisting (SNeff)yang berhubungan dengan data FWD sedangkan pada Bina Marga 2013 data lendutan sebelum overlay mempengaruhi nilai tebal lapis tambah. Tebal overlay yang diperoleh pada perkerasan permukaan (AC-WC dan AC-BC) sebesar 12 cm pada AASHTO 1993 dan 10,9 cm pada Bina Marga 2013. Sehingga pada penelitian ini pengaruh lalu lintas memiliki persentase yang besar dalam perencanaan tebal lapis tambah. Kata Kunci: Tebal lapis tambah, Perkerasan Lentur, CESA, AASHTO 1993, Bina Marga 2013.
ANALISA PERBANDINGAN DESAIN LAPIS TAMBAH (OVERLAY) PERKERASAN LENTUR DENGAN MENGGUNAKAN METODE BINA MARGA 2017 DAN AASHTO 1993 (STUDI KASUS : RUAS JALAN YOS SUDARSO MANADO, NOMOR RUAS JALAN 5000411) Manoppo, Cheryl N.; Sendow, Theo K.; Manoppo, Mecky R. E.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 9, No 4 (2021): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meningkatnya jumlah kendaraan setiap tahunnya baik dari segi jumlah serta kapasitas beban yang diangkut pada diruas jalan Yos Sudarso Manado, mengakibatkan konstruksi perkerasan jalan mengalami penurunan tingkat pelayanannya yaitu ditandai dengan terjadinya kerusakan pada lapisan perkerasan jalan. Jika hal tersebut dibiarkan dalam jangka waktu yang cukup lama, maka akan dapat memperburuk kondisi lapisan perkerasan tersebut .Oleh karena itu dibutuhkan suatu tindakan pemeliharaan atau penambahan kekuatan jalan tersebut lewat pelapisan ulang (overlay) sehingga diharapkan dapat meningkatkan kinerja serta menghindari kerusakan yang lebih serius pada jalan tersebut.Penelitian ini dilakukan pada ruas Jalan Yos Sudarso Manado yang bertujuan membandingkan desain tebal overlay dengan   menggunakan     metode Bina Marga 2017 dan metode AASHTO 1993 yang dititik beratkan pada perbandingan konsep, parameter, prosedur dan hasil desain dengan menggunakan data lendutan Falling Weight Deflectometer (FWD) yang diperoleh dari survei tahunan Satuan Kerja Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional  (P2JN) Sulawesi UtaraHasil penellitian diperoleh untuk metode Bina Marga 2017 menghasilkan tebal overlay sebesar 6 cm dengan design traffic sebesar 4.601.105, sedangkan metode AASHTO 1993 menghasilkan tebal overlay sebesar 8,5 cm dengan design traffic sebesar 3.810.352,823. Perbedaan ini disebabkan karena konsep desain pada metode Bina Marga 2017 adalah metode mekanistik empiris, sedangkan metode AASHTO   1993 menggunakan metode empiris. Prosedur desain pada Bina   Marga 2017 yaitu dengan menggunakan grafik berdasarkan nilai CESA dan   nilai lendutan wakil, sedangkan untuk AASHTO 1993 menggunakan nilai MR tanah dasar,  nilai  Ep, nilai  SNeff dan SNf  . Kata Kunci: AASHTO 1993, Bina Marga 2017, Falling Weight Deflectometer (FWD), Overlay
Evaluasi Geometrik Pada Ruas Jalan Batas Kota Manado – Kota Tomohon Nomor Ruas 006 Untuk Segmen STA 17+000 – STA 21+000 Hermi R. A. Gultom; Mecky R. E. Manoppo; Theo K. Sendow
TEKNO Vol. 20 No. 81 (2022): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

membuat tingkat penggunaan transportasi darat meningkat dikarenakan sebagian besar aktivitas tersebut dilakukan di darat. Jalan merupakan salah satu prasarana yang sangat dibutuhkan untuk menunjang keberlangsungan aktivitas-aktivitas tersebut. Ruas Jalan Batas Kota Manado – Kota Tomohon jika dilihat secara visual memiliki bentuk tikungan tajam atau berjari-jari kecil, yang kurang dari Rmin = 110 m sebagaimana yang ditetapkan oleh Bina Marga Tahun 2020 untuk Jalan Arteri dengan Vr = 60 km/jam. Jalan dengan tikungan berjari-jari kecil dapat membuat pengguna jalan tidak nyaman dan tidak aman, dikarenakan jarak pandang yang juga pendek. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk memberikan evaluasi terhadap kondisi geometrik jalan eksisting dan mendesain ulang geometrik jalan yang sesuai dengan standar Bina Marga Tahun 2020. Data-data topografi diperoleh langsung dari lokasi penelitian dengan menggunakan alat Theodolite, kemudian hasilnya dimasukkan ke program Autocad Civil 3D 2021 yang sebelumnya sudah diolah menggunakan Microsoft Excel. Dari hasil penelitian diperoleh 30 tikungan eksisting dengan radius kurang dari Rmin (110 m), 1 tikungan lebih dari Rmin untuk Vr = 60 km/jam. Perhitungan perencanaan ulang geometrik jalan diperoleh 6 tikungan dengan tipe Spiral-Circle-Spiral dengan hasil perencanaan ulang, yaitu R1 = 115 m, R2 = 120 m, R3 = 140 m, R4 = 200 m, R5 = 205 m, R6 = 115 m, g = 5,82%, volume galian = 532.845,7m3 dan volume timbunan = 86.709,05 m3. Kata kunci – geometrik jalan, Autocad Civil 3D, alinyemen horizontal, alinyemen vertikal, jalan nasional
Studi Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Dengan Metode Mekanistik Empiris Prof.Ir. Aloysius Tjan, Ph.D Dibandingkan Dengan Metode Bina Marga 2017 Dimas F. Robot; Lucia G. J. Lalamentik; Theo K. Sendow
TEKNO Vol. 20 No. 81 (2022): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan jalan sangatlah diperlukan untuk menunjang laju pertumbuhan ekonomi, agrikultur dan sector lainnya. Untuk menjamin agar pembangunan jalan mampu memberikan pelayanan yang aman dan nyaman, maka perlu dilakukan perencanaan konstruksi perkerasan. Studi Literatur dilakukan untuk membandingkan nilai tebal perkerasan lentur dan umur layanan jalan dari desain perkerasan lentur dengan dua metode yang berbeda.  yaitu metode Manual Desain Perkerasan Jalan Bina Marga 2017 dan Metode Mekanistik Empiris Prof. Ir. Aloysius Tjan, PH.D. Kedua metode memiliki perbedaan parameter seperti pada Metode Mekanistik Empiris Prof. Ir. Aloysius Tjan, Ph.D yaitu Ec, Et, Nd, dan Nf, namun juga memiliki parameter-parameter yang saling berkaitan seperti beban lalulintas, CBR dan tebal lapis perkerasan. Hasil perbandingan tebal perkerasan antara metode Bina Marga 2017 dan metode Mekanistik Empiris Prof. Ir. Aloysius Tjan, Ph.D menunjukan bahwa secara keseluruhan metode Bina Marga 2017 lebih kecil ukuran nya . Kata kunci – Bina Marga 2017, mekanistik empiris, perkerasan lentur
Analisa Uji Laik Fungsi Jalan (ULFJ) Pada Ruas Jalan Batas Kota Tondano–Tomohon Dengan Nomor Ruas 028 Nathanael Pieter Siriwa; Theo K. Sendow; Mecky R. E. Manoppo
TEKNO Vol. 20 No. 81 (2022): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ruas Jalan Tondano – Tomohon merupakan jalan arteri primer dan salah satu prasarana transportasi yang memegang peran penting dalam hal mendukung pertumbuhan guna meningkatkan kegiatan ekonomi, sosial, dan budaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat kelayakan fungsi jalan serta perbaikan yang diperlukan agar jalan menjadi laik menurut Uji Laik Fungsi Jalan (ULFJ) berdasarkan Peraturan Menteri PU Nomor 11/PRT/M/2010. Uji laik fungsi jalan adalah kondisi suatu ruas jalan yang memenuhi persyaratan teknis kelaikan jalan untuk memberikan keselamatan bagi penggunanya, dan persyaratan administratif yang memberikan kepastian hukum bagi penyelenggara jalan dan pengguna jalan, sehingga jalan tersebut dapat dioperasikan untuk umum. Analisis uji laik fungsi teknis jalan dilakukan dengan mengevaluasi dan monitoring kondisi lapangan secara visual terhadap standar teknis untuk setiap komponen teknis, meliputi: teknis geometrik jalan, teknis struktur perkerasan jalan, teknis struktur bangunan pelengkap jalan, teknis pemanfaatan ruang bagian-bagian jalan, teknis penyelenggaraan manajemen dan rekayasa lalu lintas, dan teknis perlengkapan jalan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pada ruas jalan Tondano – Tomohon untuk STA 0+000 – STA 8+375 dan dikategorikan Laik Fungsi Bersyarat (LS), yang artinya jalan tersebut memenuhi sebagian persyaratan teknis laik fungsi jalan namun masih mampu memberikan keselamatan bagi pengguna jalan sehingga laik dioperasikan untuk umum dengan syarat harus dilakukan Perbaikan teknis pada ruas jalan tersebut, seperti perbaikan serta pemeliharaan rutin terhadap setiap komponen pengujian yang dikategorikan Laik Fungsi Bersyarat (LS). Kata kunci – Uji Laik Fungsi, perbaikan, analisa, ruas jalan batas kota Tondano–Tomohon.
Analisis Geometrik Jalan Pada Ruas Jalan Tondano–Suluan STA 0+000–STA 3+000 David W. Rambitan; Lucia G. J. Lalamentik; Theo K. Sendow
TEKNO Vol. 20 No. 81 (2022): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ruas jalan raya Tondano - Suluan merupakan sebagian jalan yang menghubungkan    Kota Tondano sebagai ibukota kabupaten Minahasa dengan Kota Manado. Ruas jalan ini berada pada 3 desa yakni desa Kembuan dan Kembuan satu kecamatan Tondano Barat dan desa Suluan Kecamatan Tombulu Kabupaten Minahasa.  Kondisi geometrik ruas jalan ini menurut pengamatan peneliti, belum memenuhi standar geometrik jalan untuk jalan kolektor primer dengan volume lalu lintas sedang dengan kecepatan 30 km/jam - 70 km/jam. Ruas jalan Tondano Suluan mempunyai banyak tikungan dengan radius kecil dan jarak antar tikungan yang berdekatan. Kondisi geometrik jalan dengan radius tikungan yang kecil serta jarak antar tikungan berdekatan menyebabkan ketidak nyamanan pengguna jalan, sehingga diperlukan perbaikan geometrik. Pengambilan data kondisi geometrik dilakukan dengan melakukan pengukuran menggunakan alat ukur total station dan GPS. Data yang diperoleh adalah data koordinat dan data elevasi.  Data hasil pengukuran di lapangan selanjutnya diolah/dianalisis menggunakan Microsoft excel. Hasil analisis dengan Microsoft excel diimport ke program autocad Civil 3D 2019 untuk dianalisis selanjutnya guna menghasilkan gambar geometrik geometrik jalan eksisting dan hasil perencanaan beserta analisis cut and fill. Kondisi tikungan eksisting ruas jalan Tondano – Suluan dengan panjang 3 km terdapat 21 tikungan, dimana 19 lengkung tidak memenuhi syarat jari-jari minimum yang disyaratkan oleh Dirjen Bina Marga untuk jalan kolektor primer dengan kecepatan rencana 60 km/jam yaitu 130 m (Pedoman Desain Geometrik Jalan, Bina Marga 2021). Parameter-parameter lain seperti jarak antar lengkung, superelevasi, jarak pandang serta kelandaian juga belum memenuhi syarat perencanaan geometrik jalan. Hasil perencanaan kembali menghasilkan trase jalan sepanjang 3.176,5488 m, dengan 8 lengkung horizontal dan 3 lengkung vertikal. Kata kunci – Geometrik, Lengkung Horizontal, Lengkung Vertikal, Jalan Kolektor Primer
Pemanfaatan Abu Serbuk Serabut Kelapa Sebagai Bahan Tambah Pada Campuran Aspal Beton (AC-BC) Terhadap Nilai Pengujian Marshall Winardi M. F. Sumardi; Lucia G. J. Lalamentik; Theo K. Sendow
TEKNO Vol. 20 No. 82 (2022): TEKNO
Publisher : TEKNO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meningkatnya volume lalu lintas kendaraan, berakibat pada peningkatan beban kendaraan, hal ini sering menjadi penyebab kondisi jalan mengalami kerusakan, akibat kondisi jalan yang buruk sangat berpengaruh pada perekonomian masyarakat. Selain faktor beban kendaraan yang lebih besar dari kapasitas beban sehingga terjadi kerusakan, faktor iklim dan cuaca juga sangat berpengaruh pada kekuatan, keawetan, maupun ketahanan lapiran perkerasan jalan. Lapisan perkerasan jalan yang menggunakan aspal sebagai perkerasan lentur yang umum digunakan dan bersifat structural adalah Lapisan Aspal Beton (Laston) Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan abu serbuk serabut kelapa sebagai substitusi pada agregat halus dalam campuran Laston AC-BC. Pertama dicari terlebih dahulu nilai kadar aspal optimum tanpa penambahan abu serbuk serabut kelapa dan dilanjutkan pembuatan benda uji dengan kadar aspal optimum dengan bahan tambah abu serbuk serabut kelapa untuk mendapatkan variasi kadar abu serbuk serabut kelapa yang optimal dengan melakukan pengujian marshall. Dari Hasil Pengujian yang dilakukan, kadar aspal optimum yang sesuai spesifikasi Umum Bina Marga tahun 2018 dengan campuran Laston AC-BC didapat 7 %. Lalu agregat halus disubstitusi dengan bahan tambah abu serbuk serabut kelapa dengan variasi 2 %, 4 %, dan 6 %. Dari hasil penambahan abu serbuk serabut kelapa didapat variasi optimal kadar abu serbuk serabut kelapa sebesar 4,05 %. Maka campuran Laston AC-BC dengan kadar aspal 7 % ditambah kadar abu serbuk serabut kelapa 4,05 % serta menggunakan aspal pertamina 60/70 mendapat hasil pengujian Marshall yang telah memenuhi spesifikasi Umum Bina Marga tahun 2018. Kata kunci – abu serbuk serabut kelapa, Asphalt Concrete-Binder Course (AC-BC), substitusi agregat halus, spesifikasi umum Bina Marga 2018, pengujian Marshall
Co-Authors Alelo, Ivana Junia Appi Yamsos Solossa Armin Lumban Toruan Audie L. E. Rumajar Audie L. E. Rumayar Benjamin, Hendry Samuel Bolung, Ayuni Laurentia Bongso, Shofian E. H. Cindy Irene Kawulur Clinton Yan Uguy, Clinton Yan David W. Rambitan Dhewanty Rahayu Puteri, Dhewanty Rahayu Diah Anggraeni Damiyanti Masalle, Diah Anggraeni Damiyanti Dimas F. Robot Dwijayanto Pribadi Elisabeth Lintong Febrina Ishak Syahabudin, Febrina Ishak Fergianti Suawah, Fergianti Ferry Yakob, Ferry Freddy Jansen Freyti Silvia Mawu, Freyti Silvia Giroth, Mega Indah Hasibuan, Lamrumenta Marianti Herman Rauf, Herman Hermi R. A. Gultom Ignatius Tri Prasetyo Samponu, Ignatius Tri Prasetyo James A. Timboeleng Jefferson Longdong Joice E. Waani Jori George Kherel Kastanya Joy Andre Dio Mosey Julia Astuti Djumati Jurike Ireyne Toar Kairupan, Liani Anggreini Katihokang, Meila Femina Kiding Allo, Agatha Desiwanty Kindangen, Natalia V. L. J. Undap Lalamentik, Lucia G. J. Lendy Arthur Kolinug Lexie F. Kereh Liando, Stanley Lintong Elisabeth Lucia G. J. Lalamentik Lucia G. J. Lalamentik M. J. Paransa Manangi, Sri Rachmila Manguande, Jeisya Manoppo, Cheryl N. Manoppo, Mecky R. Mantiri, Cynthia Claudia Masinambow, Christmas E. L. Mecky R. E. Manoppo Meggie Huwae, Meggie Natal Pangondian Siagian Junior, Natal Pangondian Nathanael Pieter Siriwa Novita Lucia Senduk Olivia Rosalyn Marpaung Oscar H. Kaseke Paat, Geraldo Niki Imanuel Palenewen, Steve Ch. Pandeiroth, Jerivo Pangerapan, Monica Linny Pasiak, Imanuel S. Praycilia Inri Badar Priskila Gedoa Tamila Romauli, Theresia Dwiriani Royke Limpong, Royke Rumondor, Eko Randy Rusdianto Horman Lalenoh, Rusdianto Horman Safitra, Putri Angelia Samuel A. R. Warouw Sembung, Nadya Tesalonika Semuel Y. R. Rompis, Semuel Y. R. Sinaga, Lerinsah Steve Ch. N. Palenewen Sweetly Manopo Tambajong, Brenda E. Taufan Guntur Stallone Merentek, Taufan Guntur Stallone Tawalujan, Kevin Filindo Timpal, Greyti S. J. Toding, Risman Bismar Tombeg, Charlie Valentino Untu, Viena Mia Gratia Untung, Evangelina Viandany Zulfian Muslim Vrisilya Bawangun, Vrisilya Winardi M. F. Sumardi Wowor, Flandieh S. E. Yauri, Ricky