Farendina Suarantika
Prodi Farmasi, Fakultas Farmasi Dan Sains, Universitas Islam Bandung, Indonesia

Published : 42 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Validasi Metode KCKT dan Penetapan Kadar BKO Jamu dengan Khasiat Chikungunya Nanda Puspita Ayu; Farendina Suarantika; Hilda Aprilia Wisnuwardhani
Bandung Conference Series: Pharmacy 949 - 958
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.26226

Abstract

Abstract. Herbal medicine is widely used by the Indonesian community; however, products illegally adulterated with medicinal chemical substances, such as paracetamol and dexamethasone, are still found on the market, posing potential health risks. This study aimed to detect the presence and determine the levels of paracetamol and dexamethasone in jamu marketed for the treatment of chikungunya in Indramayu Regency. This laboratory experimental study used six samples selected through purposive sampling. Qualitative analysis was performed using Thin-Layer Chromatography (TLC), while quantitative analysis was carried out using High-Performance Liquid Chromatography (HPLC). Method validation included system suitability, specificity, linearity, accuracy, precision, limit of detection (LOD), and limit of quantification (LOQ). TLC analysis showed that samples A, B, D, and F were positive for paracetamol, with Rf values of 0.40, 0.34, and 0.43, whereas dexamethasone was not detected. Method validation showed system suitability %RSD values of 0.731% for paracetamol and 0.68% for dexamethasone, coefficient of determination (R²) values of 0.993 and 0.996, and precision (%RSD) values of 0.76% and 0.729%, respectively. The accuracy parameter did not meet the acceptable range of 98–102%, and the LOD and LOQ parameters also failed to meet the validation criteria. Based on the findings, several jamu products marketed for the treatment of chikungunya were found to contain paracetamol and dexamethasone as medicinal chemical substances. Abstrak. Jamu merupakan obat tradisional yang banyak digunakan masyarakat, namun masih ditemukan produk yang secara ilegal mengandung bahan kimia obat, seperti parasetamol dan deksametason, yang berpotensi menimbulkan risiko kesehatan. Penelitian ini bertujuan mendeteksi keberadaan serta menetapkan kadar parasetamol dan deksametason pada jamu dengan klaim pengobatan chikungunya yang beredar di Kabupaten Indramayu. Penelitian eksperimental laboratorium ini menggunakan enam sampel yang dipilih secara purposive sampling. Analisis kualitatif dilakukan dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT), sedangkan analisis kuantitatif menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Validasi metode meliputi uji kesesuaian sistem, spesifisitas, linearitas, akurasi, presisi, batas deteksi (LOD), dan batas kuantifikasi (LOQ). Hasil KLT menunjukkan sampel A, B, D, dan F positif mengandung parasetamol dengan nilai Rf 0,40; 0,34; dan 0,43, sedangkan deksametason tidak terdeteksi. Hasil validasi menunjukkan nilai %RSD kesesuaian sistem sebesar 0,731% untuk parasetamol dan 0,68% untuk deksametason, nilai R² masing-masing 0,993 dan 0,996, serta nilai presisi (%RSD) 0,76% dan 0,729%. Parameter akurasi belum memenuhi rentang 98–102%, demikian pula LOD dan LOQ. Berdasarkan hasil penelitian, beberapa sampel jamu chikungunya terbukti mengandung parasetamol dan deksametason sebagai bahan kimia obat.
Verifikasi Metode Analisis Kadar Senyawa Metil Paraben dalam Krim Malam Pemutih Wajah Milla Putri Rizky Rahmadilla; Bertha Rusdi; Farendina Suarantika
Bandung Conference Series: Pharmacy 959 - 966
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.26264

Abstract

Abstract. Preservatives are substances used to inhibit the growth of microorganisms. The research problem addressed in this study concerns the results of method verification for determining methylparaben levels in facial whitening night creams using Preparative Thin-Layer Chromatography (TLC) and UV spectrophotometry, as well as whether the methylparaben content remains within the permissible limit of less than 0.4%. To assess the validity of the determination methods, the study involved first separating mixture components via Preparative TLC to eliminate interference from other compounds possessing similar chromophore groups. Based on the method verification results, UV spectrophotometry demonstrated good accuracy and precision (% Recovery = 104.307%, systematic error = 4.307%, and random error = 0.213%). Analysis of the five facial whitening night cream samples yielded average methylparaben levels of 0.169% for Brand A, 0.385% for Brand B, 0.318% for Brand C, 0.152% for Brand D, and 0.344% for Brand E. The levels in all five samples complied with the usage limits for methylparaben established by BPOM (< 0.4%). Abstrak. Bahan pengawet merupakan bahan yang digunakan dengan tujuan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini yaitu bagaimanakah hasil dari verifikasi metode penetapan kadar Metil paraben dalam krim malam pemutih wajah secara KLT Preparatif dan Spektrofotometri UV serta apakah kadar Metil paraben dalam krim malam pemutih wajah masih dalam batas penggunaan yang diizinkan yaitu kurang dari 0,4%. Untuk melihat kevalidan metode penetapan kadar Metil paraben secara KLT Preparatif dan Spektrofotometri UV, penelitian dilakukan dengan pemisahan komponen campuran secara Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Preparatif terlebih dahulu untuk mengeliminasi gangguan dari senyawa lain yang memiliki gugus kromofor mirip. Berdasarkan hasil verifikasi metode, spektrofotometri ultraviolet memberikan nilai akurasi dan presisi yang baik (% Recovery = 104,307%, kesalahan sistematik = 4,307%, dan kesalahan acak = 0,213%). Pada kelima sampel krim malam pemutih wajah yang dianalisis, diperoleh kadar rata-rata sampel merk A sebesar 0,169%, merk B 0,385%, merk C 0,318%, merk D 0,152%, dan merk E 0,344%. Kadar kelima sampel memenuhi syarat penggunaan metil paraben yang diperbolehkan oleh BPOM (< 0,4%).