Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Acupuncture Care for Lumbar Pain Case Due to Lumbosacral Instability at Griya Sehat BSA Holistik Pontianak Sutiyoso, Seneng; Wulandari, Mayang; Candra , Leny
Jurnal Indonesia Sosial Sains Vol. 6 No. 11 (2025): Jurnal Indonesia Sosial Sains
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jiss.v6i11.2089

Abstract

Supervisor II, dr. Leny Candra, A. Md. Akp., MM Lumbar pain due to Lumbosacral Instability is one of the musculoskeletal complaints that is often found. Acupuncture as a complementary therapy has been used to reduce pain in cases of low back pain. This study is to determine the benefits of Acupuncture Care for Clients with Low Back Pain Due to Lumbosacral Instability at Griya Sehat BSA Holistik Pontianak comprehensively. The subject of the study was a 43-year-old male client who experienced lumbar pain and underwent acupuncture therapy at Griya Sehat BSA Holistik Pontianak. The research design uses a qualitative approach of the case study type. In-depth data collection is carried out using instruments in the form of Client Data Sheets. The data was processed based on Observation (Wang), Hearing and Smell (Wen), Interview (Wen), and Touch (Qie), hence the diagnosis of client syndrome Cold Moist Pathogen Attacking the Taiyang Meridians of the Bladder Leg. The intervention was carried out by needle insertion at acupuncture points according to the syndrome from the results of diangnose six meetings with an interval of three days. The results showed a significant decrease in the level of lumbar pain in clients after receiving acupuncture care. Pain complaints disappear, movement reflexes increase. In order for clients to stay healthy, it is recommended to avoid lifting heavy objects, exercise regularly, air conditioning or fans do not be directed at the body directly, drink enough water, and sunbathe every morning.
Asuhan Akupunktur Pada Penderita Batuk Pasca-Stroke: Studi Kasus Feby Efendi; Leny Candra Kurniawan; Mayang Wulandari
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 2 (2025): Vol. 10 No. 2 Desember 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i2.2532

Abstract

ABSTRAK Batuk pasca-stroke merupakan komplikasi umum akibat disfagia yang meningkatkan risiko aspirasi dan menurunkan kualitas hidup pasien. Terapi akupunktur dipandang sebagai alternatif non-farmakologis yang aman dan efektif dalam menangani kondisi ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat asuhan akupunktur pada penderita batuk pasca-stroke. Desain penelitian menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif terhadap satu partisipan laki-laki berusia 68 tahun yang menjalani enam sesi terapi di Rumah Sehat Indah Pandaan selama bulan April 2025. Data dikumpulkan melalui empat metode pemeriksaan akupunktur (Wang, Wen, Wen, Qie) serta dianalisis secara deskriptif. Hasil terapi menunjukkan perbaikan signifikan berupa penurunan frekuensi batuk, dahak menjadi jernih dan sedikit, hilangnya sesak napas, serta peningkatan kualitas tidur. Diagnosis akupunktur yang ditegakkan adalah Sindrom Dahak Panas pada Paru dan Ginjal tidak menangkap Qi Paru. Partisipan disarankan untuk menjaga gaya hidup sehat, termasuk rutin berolahraga, tidak merokok, dan mengelola stres untuk mempertahankan kondisi kesehatan.
Efektivitas Asuhan Akupunktur dalam Mengurangi Nyeri dan Kekakuan pada Kasus Trigger Finger Indrawati Setyono; Mayang Wulandari; Ikhwan Abdullah
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 2 (2025): Vol. 10 No. 2 Desember 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i2.2533

Abstract

Trigger Finger merupakan gangguan muskuloskeletal yang ditandai oleh nyeri dan sensasi mengunci (locking) yang dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya. Akupunktur adalah terapi komplementer yang relatif aman untuk mengurangi nyeri dan memperbaiki fungsi gerak pada kasus gangguan muskuloskeletal tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat asuhan akupunktur pada penderita Trigger Finger di Klinik Aura Akupunktur Jakarta Barat. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode studi kasus dengan sampel satu orang partisipan. Pengumpulan data dilakukan melalui metode Wang, Wen, Wen, dan Qie. Intervensi dilaksanakan sebanyak enam kali sesi terapi menggunakan titik lokal Ashi (A1 pulley) serta titik distal LI-4, SJ-5, dan SI-3 dengan metode reduksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah enam kali terapi, nyeri tajam (stabbing pain) pada jari tangan ke-3 kiri hilang sepenuhnya. Kekakuan, sensasi terkunci, serta bengkak dan nyeri tekan pada area A1 pulley mengalami perbaikan signifikan hingga kembali normal. Penjaruman pada titik-titik tersebut terbukti melancarkan aliran Qi dan darah sehingga memperbaiki fungsi gerak jari. Hasil penelitian ini disarankan menjadi bahan pertimbangan bagi akupunktur terapis dalam memberikan asuhan yang tepat dan aman bagi penderita Trigger Finger.
Penatalaksanaan Infertilitas melalui Akupunktur dalam Perspektif Chinese Medicine: Studi Kasus Zulli Nuralita; Leny Candra Kurniawan; Mayang Wulandari
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 2 (2025): Vol. 10 No. 2 Desember 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i2.2540

Abstract

Infertilitas merupakan masalah kesehatan reproduksi yang kompleks dan sering berkaitan dengan gangguan keseimbangan internal tubuh, termasuk dalam perspektif Chinese Medicine. Salah satu sindrom yang berperan adalah sindrom dingin di rahim yang dapat menghambat fungsi reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil asuhan akupunktur pada kasus infertilitas sekunder dengan sindrom dingin di rahim. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus pada satu partisipan perempuan usia reproduktif yang menjalani enam sesi terapi akupunktur di Klinik Anugerah Cahaya Ilahi Jakarta Timur. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi berdasarkan empat metode pemeriksaan Chinese Medicine (Wang, Wen, Wen, dan Qie), kemudian dianalisis secara deskriptif-komparatif antara kondisi sebelum dan sesudah terapi. Hasil penelitian menunjukkan timbulnya kembali menstruasi setelah sesi terapi ke-6, disertai berkurangnya rasa dingin pada tangan dan kaki, penurunan frekuensi buang air kecil, serta perbaikan kualitas tidur dan kondisi emosional. Temuan objektif juga menunjukkan perubahan positif pada pemeriksaan lidah, nadi, dan kondisi otot perut serta pinggang. Berdasarkan hasil tersebut, akupunktur disarankan sebagai pendekatan komplementer dalam penanganan infertilitas dengan latar belakang sindrom dingin di rahim.
Asuhan Akupunktur pada Kasus Palpitasi: Studi Kasus di Klinik Akupunktur Sutami 58 Bandung Rani Hardi Ningsih; Mayang wulandari; Amal Prihatono
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.8228

Abstract

Palpitasi merupakan sensasi detak jantung yang tidak normal dan sering menimbulkan ketidaknyamanan serta penurunan kualitas hidup. Penatalaksanaan palpitasi umumnya menggunakan terapi farmakologis, namun pada sebagian pasien dapat menimbulkan efek samping dan ketergantungan obat. Akupunktur sebagai terapi komplementer berpotensi menjadi alternatif yang aman dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat asuhan akupunktur dalam mengurangi keluhan palpitasi pada pasien di Klinik Akupunktur Sutami 58 Bandung. Penelitian menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan studi kasus pada satu pasien perempuan berusia 34 tahun yang mengalami palpitasi. Asuhan akupunktur diberikan selama enam minggu dengan total delapan kali terapi menggunakan titik BL15 (Xinshu), BL17 (Geshu), BL23 (Shenshu), PC6 (Neiguan), dan HT7 (Shenmen). Evaluasi dilakukan pada setiap sesi berdasarkan perubahan keluhan subjektif, pemeriksaan nadi, serta kondisi umum pasien. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan frekuensi dan intensitas palpitasi secara bertahap, ditandai dengan penurunan denyut nadi dari 105 kali/menit menjadi 78 kali/menit pada akhir terapi. Selain itu, pasien melaporkan perbaikan kualitas tidur, penurunan kecemasan, dan peningkatan energi, serta penghentian penggunaan obat medis di bawah pengawasan dokter. Disimpulkan bahwa asuhan akupunktur efektif dalam mengurangi keluhan palpitasi dan dapat dipertimbangkan sebagai terapi komplementer yang aman dan bermanfaat.
Asuhan Akupunktur Untuk Kasus Kaku Leher : Studi Kasus Alice Alice; Mayang Wulandari; Leny Candra; Amal Prihartono; Tjhia Khie Khiong
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52272

Abstract

Kaku leher adalah salah satu masalah kesehatan yang sering muncul yang ditandai dengan kekakuan leher dan nyeri pada leher dan area sekitarnya yang dapat menjalar ke area bahu, lengan dan tangan dan dapat menjalar sampai ke kepala dan menimbulkan sakit kepala. Kaku leher yang tidak diobati dapat memberikan dampak terhadap penurunan produktivitas yang dapat menyebabkan dampak ekonomi bagi pasien, keluarga, dan lingkungan kerja penderita. Tatalaksana kasus kaku leher saat ini adalah berupa obat-obatan penghilang rasa nyeri dan pelega otot. Pengobatan yang diberikan tersebut ternyata belum dapat mengobati secara tuntas, bahkan ada yang menimbulkan efek samping, oleh karena itu dibutuhkan modalitas terapi lain seperti akupunktur sebagai komplimentari. Terapi akupunktur yang mudah, aman, rasional, efektif, murah dan alami diharapkan mampu mengobati kaku leher. Tujuan penelitian ini adalah mengunakan akupunktur untuk mengobati kasus kaku leher dan diharapkan dampak dari kesembuhan ini dapat menjadikan suatu panduan yang dapat diterapkan di masyarakat luas dan memberikan dampak terhadap pengabdian di Masyarakat. Metode yang digunakan adalah melakukan penusukan titik-titik akupunktur GB20, GB21, SI3, SI15, LI4, BL 10 dan Titik Extra EX-UE-8 sebanyak 2 kali seminggu selama 6 kali terapi. Hasil penelitian menunjukkan perbaikan dari raut muka, nyeri dan kaku leher menjadi sembuh dan kualitas hidup penderita menjadi lebih baik. Simpulan bahwa akupunktur pada kasus kaku leher dengan menusuk titik-titik terpilih memberikan dampak positif perbaikan terhadap keluhan nyeri dan kaku pada leher penderita.
Asuhan akupunktur kasus hemorrhoid di Praktek Mandiri dr. Tjhia Bandung Alfie Vere Likhie; Mayang Wulandari; Leny Candra; Amal Prihartono; Tjhia Khie Khiong
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52278

Abstract

Hemorrhoid merupakan kondisi patologis pada anorektal yang sering terjadi dan meskipun tergolong jinak tetapi memiliki dampak sosial yang tinggi sehingga perlu mendapat perhatian baik dari perspektif diagnostik maupun terapeutik. Hemorrhoid ditandai dengan hiperplasia vaskular dan respon mediator inflamasi (Ramnayan et al., 2025). Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui manfaat asuhan akupunktur hemorrhoid di Praktik Mandiri dr. Tjhia Bandung. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Studi kasus dipilih pada penelitian ini dengan tujuan untuk mengeksplorasi suatu masalah/fenomena dengan batasan terperinci, pengambilan data dapat lebih mendalam dan menyertakan berbagai sumber informasi. Hasil dengan berubahnya data pada sesi terapi ke-1 dengan sesi terapi ke-2, sampai sesi terapi ke-10 yang terakhir, menghasilkan perubahan membaik, maka rumusan diagnosis akupunktur yang diterapkan tetap mengikuti sindrom sesuai kondisi saat itu dan juga tidak langsung diubah sindromnya walaupun ada perubahan pada pemeriksaan. Simpulan asuhan akupunktur memberikan perbaikan pada kasus hemorrhoid di praktek mandiri dr. Tjhia Bandung.
Effectiveness of Acupuncture Care In Cases of Sided Facial Paralysis (Miantan): A Case Study At The Integration Polyclinic of Carolus Borromeus Hospital, Kupang, NTT Vivi Kurniati Tjahjadi; Mayang Wulandari; Amal Prihatono
International Journal of Health and Pharmaceutical (IJHP) Vol. 6 No. 2 (2026): May 2026
Publisher : CV. Inara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51601/ijhp.v6i2.592

Abstract

Unilateral facial paralysis, also known as Miantan, refers to paralysis affecting one side of the face. One type of Miantan is Shi Syndrome, which is caused by pathogenic factors such as wind-cold and wind-heat. These factors lead to obstruction of the flow of Qi in the Yang Ming and Shao Yang meridians, resulting in a “wind-phlegm” syndrome. This condition manifests with various associated symptoms, including weakness of the facial muscles, and may lead to the characteristic clinical features of Bell’s palsy. Bell’s palsy is a peripheral facial nerve paralysis characterized by weakness or paralysis on one side of the face due to dysfunction of the seventh cranial nerve. This condition is characterized by inability to close the eyes completely, drooping of the mouth corner, and facial asymmetry. This study aimed to determine the effectiveness of acupuncture care in patients with Bell’s palsy at the Integrative department of St. Carolus Borromeus Hospital Kupang. This study used a qualitative case study design. The participant was a 35-year-old female patient diagnosed with left-sided Bell’s palsy. Data were collected using acupuncture diagnostic methods including observation (Wang), listening and smelling (Wen), questioning (Wen), and palpation (Qie). Acupuncture therapy was administered based on the established diagnosis of disease and syndrome. The results showed facial asymmetry on the left side, inability to raise the forehead, and incomplete eyelid closure. After several acupuncture therapy sessions, improvements were observed in facial muscle function, eyelid closure ability, and facial expressions. This study concludes that acupuncture therapy can improve facial nerve function and accelerate recovery in patients with Bell’s palsy.
Intervensi akupunktur pada asthenopia di Rumah Sehat Bojathera Holistik Kota Cirebon Rusdiatin, Ivana Eko; Abdullah, Ikhwan; Wulandari, Mayang; Kurniawan, Leny Candra
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v10i1.1458

Abstract

Asthenopia merupakan kondisi gangguan penglihatan yang prevalensinya meningkat seiring dengan penggunaan perangkat digital dalam durasi yang berkepanjangan. Kondisi ini dapat memicu berbagai keluhan, meliputi gangguan visual, keluhan muskuloskeletal, serta dampak psikososial. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang aman yaitu akupunktur. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi intervensi akupunktur pada kasus asthenopia di Rumah Sehat Bojathera Holistik, Kota Cirebon. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang melibatkan satu partisipan laki-laki berusia 45 tahun dengan keluhan asthenopia; nyeri periorbita, nyeri kepala, dan kekeringan pada mata. Diagnosis dilakukan melalui metode observasi, auskultasi, wawancara, dan palpasi dengan menggunakan instrumen Lembar Data Klien dan kuesioner Dry Eye Questionnaire-5 (DEQ-5). Intervensi akupunktur sebanyak delapan sesi selama empat pekan dengan frekuensi dua kali per pekan, menggunakan kombinasi titik akupunktur LR3, LI4, GB20, GB37, KI3, KI7, SP6, HT7, Taiyang, Yuyao, Jingming, Zanzhu, dan Tongziliao. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbaikan pada gejala asthenopia, ditandai dengan penurunan intensitas nyeri periorbita dari skala 8 menjadi skala 2, nyeri kepala dari skala 7 menjadi skala 0 pada akhir sesi, serta penurunan skor kekeringan mata dari 9 menjadi 4. Berdasarkan temuan tersebut, akupunktur dapat direkomendasikan sebagai intervensi nonfarmakologis pada gejala asthenopia, meskipun penelitian lanjutan dengan desain dan jumlah sampel yang lebih besar masih diperlukan.
Asuhan Akupunktur Pada Kasus Angioma Kavernosa (Aneurisma) Menggunakan Scalp Acupuntur Jiao Shunfa Toufiq Martin; Mayang Wulandari; Chantika Mahadini; Leny Candra Kurniawan
Journal of Mandalika Literature Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Penelitian dan Pengembangan Mandalika (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jml.v7i1.6332

Abstract

Cavernous angioma or cavernous malformation is a benign vascular abnormality that frequently occurs in the central nervous system and may cause neurological disturbances such as seizures, headache, motor weakness, and stroke. Conventional medical management of cavernous angioma remains limited, particularly in cases without surgical indications. Acupuncture, as a complementary therapy, may provide clinical benefits in reducing symptoms and improving patients’ quality of life. This study aimed to evaluate the benefits of acupuncture care using scalp acupuncture in a case of cavernous angioma. A qualitative case study approach was applied to one client at an independent acupuncture practice in Jakarta. Data were collected through four diagnostic methods of acupuncture (inspection, auscultation and olfaction, inquiry, palpation), medical diagnostic findings, and clinical evaluations before and after treatment. The results demonstrated that structured scalp acupuncture on motor, sensory, and chorea–tremor areas led to clinical improvement in the client’s main and additional complaints. Scalp acupuncture shows potential as a supportive modality in the management of cavernous angioma