Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Insidensi dan Faktor Risiko Infeksi Luka Operasi pada Bedah Obstetri dan Ginekologi di Rumah Sakit Farahdina Chairani; Ika Puspitasari; Rizka Humardewayanti Asdie
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 9, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2197.285 KB) | DOI: 10.22146/jmpf.48024

Abstract

Surgical Site Infection (SSI) is a type of Healthcare-associated infections (HAIs) which caused postoperative morbidity. SSI is widely reported in developing countries with a combined incidence of 11.8 episodes per 100 surgical procedures. This study aimed to identify risk factors for SSI in patients undergoing obstetric and gynecological surgeries at Dr. Sardjito General Hospital Yogyakarta. Data collection was conducted retrospectively using patient’s medical records during the period of January 1, 2017 to December 31, 2018. A total of 102 patients underwent obstetric and gynecological surgeries in the study period. The incidence of SSI in the cross sectional study was 9.80%. Obstetric surgeries had a lower SSI incidence compared to gynecological surgeries (1.96% versus 7.84% respectively). The risk factors for SSI identified in the bivariate analysis were comorbidity (P= 0.03), concomitant surgery (OR 8.25), intraoperative blood loss (OR 0.51), perioperative blood transfusion (OR 18.6), and duration of prophylactic antibiotics (OR 1.22). The results of multivariate analysis showed a significant relationship between intraoperative blood loss and SSI (OR 0.038, CI 95% 0.002-0.761; P= 0.032). Incidence and risk factors from our retrospective study on obstetric and gynecological surgeries can be reported simultaneously. Some of the risk factors identified in this study can be helpful for SSI risk stratification in hospital.
Hubungan Drug Related Problems (DRPs) Obat Antidiabetika terhadap Ketercapaian Kendali Glikemik pada Pasien Rawat Inap Diabetes Melitus Tipe 2 dengan Komplikasi Nyeri Neuropati Anggraini Citra Ryshang Bathari; Fita Rahmawati; Ika Puspita Sari
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 10, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.57829

Abstract

Drug Related Problems (DRPs) associated with Type-2 Diabetes Melitus is commonly caused by multi drug prescription since Type-2 Diabetes Mellitus has comorbid dan complication diseases. Neuropathic pain has 50% prevalence of Type-2 diabetes Mellitus Complication. DRPs can cause can cause inadequate therapy that might be the risk factor leads to neuropathic pain. This study was aimed to investigate the association between drug related problems of antidiabetic medication with glicemic control of hospitalized type 2 diabetes melitus with neuropathic pain patients. Cohort-study is used in this study. 50 patients were conducted in this study that underwent Hospital treatment at Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada during the periods of 2018-2019. This study involved 50 patients who were divided into groups that experienced DRPs by 36 patients and non DRPs by 14 patients. All of the 50 has meet the inclusions criterias. Statistical analysis was using Chi-square test 95% confidence interval (p < 0.05). A number of 38 DRPs have found consists of 26,3% need more therapy, 55,2% with wrong drug therapy, 18,4% inadequate dosing. There was an association between DRPs of antidiabetics regiments and glycemic target on Type-2 Diabetes Mellitus patients with neuropathic pain complication (p=0,005). Identification of DRPs is needed to prevent the negative effect of patient therapy outcomes.
Outpatient Parenteral Antimicrobial Treatment sebagai Upaya Menurunkan Biaya Pasien Ulkus Diabetik yang Terinfeksi Hemi Sinorita; Rizka Humardewayanti Asdie; Tri Hartati; Pebriati Sumarningsih; Titik Rahayu; Ika Puspitasari
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 11, No 1
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.60256

Abstract

Ulkus diabetik  terinfeksi memerlukan terapi antibiotik yang tepat untuk menghindari risiko amputasi. Tujuan utama program Outpatient Parenteral Antimicrobial Treatment (OPAT) adalah memungkinkan pasien memperoleh terapi antibiotik parenteral dengan aman dan efektif tanpa menjalani rawat inap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan biaya pemberian antibiotika parenteral dan kualitas hidup pasien antara pasien ulkus diabetik terinfeksi yang memperoleh pelayanan rawat inap dan OPAT. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian ini adalah quasi experimental pada pasien ulkus diabetika yang terinfeksi di di RSUP dr. Sardjito Agustus 2019 sampai April 2020 dengan kriteria inklusi pasien umur ≥ 18 tahun; kondisi klinis stabil; sudah didapatkan hasil kultur swab dasar luka, dengan kriteria eksklusi pasien imunocompromised (pasien kanker dan pasien transplantasi organ yang mendapatkan terapi imunosuppresan serta pasien HIV). Pasien mendapat perawatan luka dua kali dalam seminggu di poliklinik endokrin untuk dinilai outcome klinisnya dan pada akhir pengobatan mengisi kuisioner kualitas hidup SF36. Selanjutnya dihitung biayanya dan dianalisa perbedaan kualitas hidup serta biaya antara OPAT dibanding rawat inap. Selama penelitian terdapat 15 pasien kelompok OPAT dan 15 pasien kelompok rawat inap. Dari sisi perbaikan klinis terdapat perbedaan yang bermakna antara skor PEDIS kelompok OPAT terhadap kelompok Rawat Inap  (p = 0,007). Pembiayaan pelayanan OPAT menghemat  biaya medik langsung sebanyak 75,77% dari pembiayaan pelayanan rawat inap dengan total pelayanan OPAT sebesar Rp 2.556.117,- dan pelayanan rawat inap sebesar Rp 10.549.487,-. Terdapat  perbedaan yang bermakna pada beberapa domain kualitas hidup  yaitu domain fungsi peran emosional (p=0,045); domain fungsi sosial (p<0,01) dan score MCS (Mental Component Summary (p=0,005). OPAT meningkatkan 3 domain fungsi ini.
Prevalensi dan Evaluasi Kesesuaian Penggunaan Antibiotik pada Pasien dengan Infeksi Methicillin Resistant Staphylococcus Aureus di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten Atik Nuryah; Nunung Yuniarti; Ika Puspitasari
Majalah Farmaseutik Vol 15, No 2 (2019)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.045 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v15i2.47911

Abstract

Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) menjadi masalah kesehatan terkini di dunia terkait angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Pola resistensi bakteri juga mengalami perubahan dari waktu ke waktu sehingga diperlukan data yang sistematis mengenai prevalensi dan pola kepekaan bakteri S. aureus untuk mencegah resistensi dan mendapatkan outcome klinik yang baik. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi MRSA dan kesesuaian penggunaan antibiotik terhadap outcome klinik pasien di RSUP Dr Soeradji Tirtonegoro Klaten. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan desain penelitian cohort study. Sebanyak 332 pasien yang terinfeksi S. aureus dan 31 pasien dengan infeksi MRSA untuk menentukan prevalensi MRSA, serta sebanyak 23 pasien untuk mengetahui hubungan kesesuaian penggunaan antibiotik terhadap outcome klinik pasien yang dianalisis dengan menggunakan Chi Square. Penelitian ini dilakukan di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten secara retrospektif periode Januari 2015 - Desember 2018. Hasil prevalensi MRSA terus meningkat dari tahun 2015 hingga tahun 2018 yaitu 7,69%, 5,63%, 10,85%, dan 12,94%, sedangkan hasil analisis statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara penggunaan antibiotik terhadap clinical outcome dan hasil analisis bivariat terhadap karakteristik pasien menunjukkan usia (p=0,825), jenis kelamin (p=0.144), ruang perawatan (p=0,130), infeksi penyerta (p=0,704), dan ruang perawatan (p=0,602) juga tidak memiliki hubungan bermakna terhadap clinical outcome pada pasien dengan infeksi MRSA di RSUP Dr Soeradji Tirtonegoro Klaten.Kata Kunci: kesesuaian antibiotik, MRSA, RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten
Evaluasi Penggunaan Antibiotik Empirik dan Profil Antibiotik Pasien Multi-Drug Resistant Acinetobacter baumannii di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten Avanilla Fany Septyasari; Titik Nuryastuti; Ika Puspitasari
Majalah Farmaseutik Vol 16, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.643 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v16i2.47912

Abstract

Resistensi antibiotik menjadi salah satu masalah yang dihadapi pada penyakit infeksi saat ini, dan salah satu bakteri yang mengalami resistensi adalah Acinetobacter baumannii. Bakteri Acinetobacter baumannii merupakan bakteri yang banyak dijumpai pada infeksi nosokomial. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui antibiotik yang poten terhadap infeksi MDR Acinetobacter baumannii pada pasien rawat inap di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten tahun 2016 – 2018, secara observasional dan metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan pengambilan data secara retrospective. Penggunaan antibiotik empiris pada pasien dievaluasi kesesuaiannya, kemudian antibiotik yang sesuai dianalisis prediksi kadar antibiotik, untuk mengetahui apakah antibiotik yang diberikan memenuhi kadar minimal dalam tubuh. Analisis dilakukan dengan membandingkan prediksi kadar antibiotik empiris dengan MIC antibiotik literatur (di bawah MIC atau di atas MIC) terhadap outcome klinis pasien menggunakan analisis Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil antibiotik yang poten yaitu amikasin (62,9%), meropenem (56,9%), cotrimoksazol (42,5%), ampisilin-sulbaktam (29%), levofloksasin (20,7%), dan gentamisin (20,5%). Hubungan antara prediksi kadar antibiotik empiris di atas MIC terhadap outcome klinik tidak berbeda signifikan dengan di bawah MIC dibandingkan dengan outcome klinik (nilai p: 0,337). 
Prevalensi Multidrug-Resistant Klebsiella pneumonia dan Evaluasi Kesesuaian Antibiotik Empiris Berdasarkan Nilai Prediksi Farmakokinetik Terhadap Outcome Klinis di RSUP Dr Soeradji Tirtonegoro Klaten Rizqi Nurul Khasanah; Ika Puspitasari; Titik Nuryastuti; Nunung Yuniarti
Majalah Farmaseutik Vol 16, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.737 KB) | DOI: 10.22146/farmaseutik.v16i1.47914

Abstract

Klebsiella pneumonia is a multidrug resistant (MDR) pathogen that affects morbidity and mortality. MDR K. pneumonia is the bacterium K. pneumonia which has experienced resistance to at least one antibiotic from 3 or more antibiotic groups. The purpose of this study was to see the percentage prevalence of MDR K. pneumonia events and to see profiles of antibiotic sensitivity and predictions of antibiotic pharmacokinetic parameters in hospitalized patients at RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten from 2017 to 2018. This study was an observational study with a cross sectional method and retrospective data collection. Data collected included the number of inpatients who experienced MDR K. pneumonia and the factors that influence the occurrence of antibiotic resistance. The prevalence of MDR K. pneumonia and antibiotic sensitivity evaluation were analyzed descriptively. Prediction of antibiotic pharmacokinetics in patients with MDR K. pneumonia associated with patient clinical outcomes was analyzed in Chi-square. Patients infected with Klebsiella pneumonia as many as 338 patients found 67 patients with MDR K. pneumonia who met the inclusion criteria in hospitalized patients at RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. The prevalence of MDR K. pneumonia in 2017-2018 is 30.17%. The results of the analysis show that there is a relationship between empirical antibiotic suitability based on pharmacokinetic predictiion value to clinical outcomes with a probability value of P = 0.024 (P <0.05).
Evaluasi Kesesuaian Penggunaan Antbiotik pada Pasien dengan Infeksi Methicillin Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA) di RSUD. Dr. Moewardi Surakarta Tristina Devi Azzahra; Titik Nuryastuti; Ika Puspitasari
Majalah Farmaseutik Vol 17, No 1 (2021)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v16i2.48025

Abstract

MRSA is one of the Multi Drug Resistant Organism (MDRO) with a high number of cases and problem. Incidence of MRSA in Indonesia is quite significant every years. In 1986 there were 2.5%, 1993 increased to 9.4% and in 2006 23.5%. The problem is methicillin is no longer effective and other antibiotics vary in efficacy. The aims of this reasearch was to evaluate the used of antibiotics in patients with MRSA infection in Dr. Moewardi Hospital in Surakarta. The study was performed using retrospective Cohort study to examine the relationship between suitability antibiotic to clinical outcomes in patients with MRSA infection in Dr. Moewardi Hospital in Surakarta during period 1 January 2017 - 31 December 2018. The evaluation was conducted to the suitability of type, dose, frequency, duration of antibiotic use and pharmacokinetic profile. Chi-square test was used to analyse the relationship of antibiotic suitability to clinical outcomes including predicted pharmacokinetic parameters for clinical outcomes.There were 28 samples with MRSA infection tested in this study. Twenty one patients (75%) used appropriate antibiotics showed good clinical outcome 21 patients (85,7%) and 7 patients (25%) with unsuitable antibiotics showed good clinical outcome 71,4%.Keywords: antibiotic, clinical outcome, pharmacokinetic, MRSA.
Prevalensi Bakteri Extended-Spectrum Beta-Lactamase dan Evaluasi Kesesuaian Antibiotik Definitif pada Pasien Rawat Inap Di RSUP Dr Soeradji Tirtonegoro Klaten Yessy Resi Maharani; Nunung Yuniarti; Ika Puspitasari
Majalah Farmaseutik Vol 17, No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v17i2.48199

Abstract

Extended-Spectrum Beta-Lactamase (ESBL) saat ini masih menjadi permasalahan kesehatan yang perlu diperhatikan karena prevalensinya cenderung meningkat berakibat pada tingginya morbiditas dan mortalitas. Secara epidemiologi, penyebaran ESBL di berbagai negara dunia berbeda-beda. Di Indonesia prevalensi infeksi oleh bakteri penghasil ESBL mencapai 65%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi bakteri ESBL, evaluasi kesesuaian antibiotik definitif beserta prediksi nilai parameter farmakokinetiknya yang dihubungkan dengan luaran klinis pasien dengan infeksi suspek ESBL yang menjalani rawat inap di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten tahun 2018. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional cross sectional retrospektive. Data prevalensi bakteri ESBL dan hasail evaluasi kesesuaian antibiotik dianalisis secara deskriptif sedangkan nilai prediksi parameter farmakokinetik dihubungkan dengan luaran klinis pasien dianalisis secara Chi-Square. Hasil prevalensi bakteri ESBL didapat adalah 63 dari 373 isolat (16,9%). Bakteri terbanyak penghasil ESBL adalah Klebsiella pneumonia yaitu sebesar 157 isolat (42,1%) dan Escherichia coli sebesar 117 isolat (31,4%). Terdapat 11 antibiotik definitif yang memenuhi keseluruhan kesesuaian jenis, dosis, frekuensi dan durasi penggunaan antibiotiknya (78,6%). Hasil nilai prediksi farmakokinetik kadar antibiotik definitif dalam darah dari 11 antibiotik definitif dibandingkan dengan MIC diperoleh hasil Css  MIC sebanyak 3 antibiotik (27,3%) dan Css < MIC sebanyak 8 antibiotik (72,7%). Hubungan prediksi kadar antibiotik definitif terhadap luaran klinis pasien suspek ESBL dalam penelitian ini belum dapat diketahui karena jumlah data yang masih sangat sedikit sehingga tidak dapat dianalisis secara Chi-square.
Evaluasi Luaran Klinis Terapi Antibiotika pada Pasien Anak Rawat Inap Dengan Infeksi Saluran Kemih di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Widya Adhitama; Ika Puspitasari; Ida Safitri Laksanawati
Majalah Farmaseutik Vol 17, No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v17i2.48803

Abstract

Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan penyakit infeksi yang sering terjadi pada anak selain infeksi saluran nafas atas dan diare di negara berkembang. Salah satu terapi yang diberikan adalah antibiotik, pemilihan antibiotik harus didasarkan pola resistensi bakteri lokal. Tujuan penelitian ini untuk menilai hubungan rasionalitas antibiotik empiris terhadap luaran klinis pasien anak rawat inap dengan ISK di Rumah Sakit dr. Sardjito Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian  observasional menggunakan rancangan deskriptif-analitik dengan desain cohort retrospektif. Subyek penelitian adalah pasien anak rawat inap dengan ISK di Rumah Sakit dr. Sardjito Yogyakarta periode 1 Januari 2016 – 31 Desember 2018. Jumlah pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 63 pasien dengan 70 regimen antibiotik. Rasionalitas penggunaan antibiotik empiris dievaluasi menggunakan metode Gyssens. Hasil dari penelitian ini menunjukkan antibiotik empiris yang rasional yaitu sebesar 84,3% (59 regimen), dan yang tidak rasional sebesar 15,7% (11 regimen). Pada penggunaan antibiotik yang rasional dan memberikan luaran klinis membaik sebesar 82,9%, dan dianalisis dengan uji Fisher menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara rasionalitas antibiotik empiris terhadap luaran klinis pasien anak ISK dengan nilai p=0,011. Gambaran pola bakteri pada pasien ISK anak yaitu bakteri yang menginfeksi terbesar dari bakteri gram negatif (81,97%) dan bakteri gram positif sebesar 18,03%.
Evaluasi Luaran Klinis Terapi Antibiotik Pada Pasien Anak Dengan Diare di Rawat Inap RAUP Dr. Sardjito Yogyakarta Antonia Adeleide Anutopi; Ika Puspitasari; Ida Safitri Laksanawati
Majalah Farmaseutik Vol 17, No 3 (2021)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v1i1.49512

Abstract

Diare merupakan kondisi dimana terjadi frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali dengan konsistensi feses cair. Terapi antibiotik dapat diberikan kepada pasien diare akibat infeksi. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui gambaran penggunaan antibiotik empiris dan untuk mengetahui hubungan antara kesesuaian pemberian antibiotik empiris terhadap luaran klinis pada anak dengan diagnosis diare. Rancangan penelitian deskriptif-analitik dengan desain cohort retrospektif. Subyek penelitian yaitu anak dengan usia ≥2 bulan - <18 tahun yang di rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada periode 1 Januari 2015 – 30 Juni 2019 dengan diagnosis diare persisten. Analisis data pada karakteristik subyek dilakukan secara deskriptif. Uji Chi-square digunakan untuk melihat hubungan antara kesesuaian penggunaan jenis antibiotik empiris dengan luaran klinis. Hasil penelitian menunjukkan adanya 38 pasien yang menggunakan antibiotik empiris selama periode dari 1 Januari 2015 – 30 Juni 2019. Terdapat 39 regimen yang masuk dalam kategori rasional menurut metode Gyssens. Terdapat hubungan yang signifikan antara rasionalitas penggunaan antibiotik empiris dengan luaran klinis pasien (p<0,05).