Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Evaluasi Penggunaan Antibiotik Empirik Terhadap Outcome Klinik dan Gambaran Antibiogram Pada Pasien ISPA di Puskesmas Jetis Yogyakarta Kris Kurniawan; Ika Puspitasari; Titik Nuryastuti
Majalah Farmaseutik Vol 17, No 3 (2021)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v1i1.51259

Abstract

Infeksi saluran pernafasan akut merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien di sarana kesehatan baik di Puskesmas maupun di rumah sakit. Telah banyak penelitian mengenai kejadian resistensi antibiotik terhadap mikroba di rumah sakit beserta gambaran antibiogramnya, namun resistensi dalam pengobatan antibiotik di komunitas tepatnya di puskesmas belum pernah dipetakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran antibiogram bakteri penyebab ISPA di Puskesmas Jetis Yogyakarta, mengetahui kesesuaian penggunaan antibiotik empiris dengan pedoman terapi serta mengetahui hubungan kesesuaian antibiotik empiris terhadap outcome klinik. Penelitian ini merupakan penelitian observasional yang dilakukan dengan rancangan studi deskriptif-analitik dengan desain cohort melalui penelusuran data secara prospektif pada pasien ISPA di Puskesmas Jetis Yogyakarta pada bulan April-Agustus 2019. Sebanyak 44 pasien yang didiagnosa ISPA di puskesmas Jetis Yogyakarta selama periode bulan April-Agustus 2019. Gambarkan mengenai profil antibiogram pasien ISPA di puskesmas Jetis Yogyakarta, yaitu pola bakteri Gram negatif yang terbesar (50,8%) dan bakteri Gram positif sebanyak 27,2%. Berdasarkan evaluasi kesesuaian penggunaan antibiotik empirik terhadap pedoman, diperoleh 40 pasien (93%) yang sesuai terapinya dengan pedoman dan sebanyak 3 pasien (7%) yang tidak sesuai dengan pedoman. Berdasarkan uji Likelihood ratio menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kesesuaian penggunaan antibiotik empirik dengan outcome klinik pada pasien ISPA dengan nilai p=0,152.
Faktor Risiko Infeksi Luka Operasi (ILO) dan Rasionalitas Antibiotik Profilaksis Bedah di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Rosylianti Rosylianti; Ika Puspitasari; Rizka Humardewayanti Asdie
Majalah Farmaseutik Vol 17, No 3 (2021)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v1i1.53094

Abstract

Healthcare assoicated infections (HAIs) merupakan merupakan infeksi yang didapatkan pasien ketika menerima pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan. Salah satu jenis HAIs yang dapat dicegah adalah infeksi luka operasi (ILO), yakni melalui pemberian antibiotik profilaksis bedah (APB). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar kejadian ILO selama periode penelitian, besar ABP rasional, pengaruh pemberian APB rasional terhadap ILO, dan faktor risiko yang meningkatkan risiko ILO. Penelitian dilaksanakan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta dengan rancangan cohort prospektif pada subjek dengan kriteria inklusi usia ≥18 tahun, menjalani bedah obstetri-ginekologi, digestif dan tumor dengan kelas operasi bersih/bersih-terkontaminasi, dan menerima ABP. Subjek dieksklusi jika didiagnosis infeksi sebelum operasi dan menjalani pemasangan implan. Pengamatan luka operasi dilakukan hingga 30 hari pascabedah. Sejumlah 95 pasien bersedia menjadi subjek penelitian. Terdapat 96 pemberian ABP selama periode penelitian. ILO dialami oleh 17,9% (IK 95% 10,2-25,6%) subjek. Ditemukan 13 pemberian antibiotik tidak tepat indikasi. Dari 83 pemberian ABP dengan indikasi, hanya ditemukan 1,2% pemberian ABP rasional menurut algoritma Gyssens (kategori 0). Jenis ketidakrasionalan paling tinggi yaitu kategori IIa (tidak tepat dosis) 95,1%. Penelitian ini tidak dapat menentukan pengaruh pemberian antibiotik profilaksis terhadap penurunan kejadian ILO. IMT >27 kg/m2 secara bermakna meningkatkan risiko ILO dengan OR 5,91 (IK 95% 1,20-18,37; p<0,05).Kata kunci: antibiotik profilaksis, analisis Gyssens, ILO
Evaluasi Kesesuaian Dosis dan Clinical Outcome Amikasin dan Gentamisin di Bangsal Nicu (Neonatal Intensive Care Unit) RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Zita Dhirani Pramono; Ika Puspitasari; Ida Safitri Laksanawati
Majalah Farmaseutik Vol 17, No 3 (2021)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v1i1.58243

Abstract

Penggunaan amikasin dan gentamisin menjadi pilihan antibiotik golongan aminoglikosida dengan indeks terapi sempit dalam terapi infeksi untuk neonatus dan penggunaannya perlu diikuti dengan monitoring terapi agar dapat mencegah toksisitas terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian dosis amikasin dan gentamisin pasien NICU (Neonatal Intensive Care Unit) dan mengevaluasi hasil terapinya yang dilihat dari perbaikan respon klinis pasien. Penelitian ini dilakukan dengan desain cross sectional dan dilakukan penelusuran data rekam medik pasien neonatus mendapatkan terapi amikasin atau gentamisin saat menjalani rawat inap di NICU RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode 1 Januari 2017 - Desember 2018. Estimasi kadar didapatkan dari dosis pemberian dan dilakukan perhitungan farmakokinetika. Clinical outcome yang diamati yakni tanda-tanda vital dan  Analisis chi square dilakukan untuk mengetahui hubungan keduanya.  Pasien yang menerima amikasin dan gentamisin mengalami clinical outcome membaik berturut-turut sebanyak 18 pasien dan 28 pasien. Analisis bivariat menunjukkan tidak ada hubungan estimasi Cmax/MIC amikasin dan gentamisin terhadap clinical outcome (p 0,05). Selain itu hasil analisis bivariat pada variabel perancu didapatkan terdapat hubungan lama infeksi dan length of stay terhadap clinical outcome. Analisis multiple logistic regression didapatkan ada hubungan length of stay terhadap clinical outcome (p =0,021).
Evaluasi Kesesuaian Dosis dan Clinical Outcome Amikasin dan Gentamisin di Picu (Pediatric Intensive Care Unit) RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Novrilia Atika Nabila; Ika Puspitasari; Ida Safitri Laksanawati
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v1i1.59233

Abstract

Pemakaian amikasin dan  gentamisin yang memiliki kisaran terapi sempit perlu dilakukan monitoring terapi. Monitoring terapi dilakukan melalui tinjauan secara farmakokinetika dengan menghitung estimasi kadar. Penelitian ini bertujuan untuk melihat estimasi kadar amikasin dan gentamisin pada pasien PICU (Pediatric Intensive Care Unit) dan mengetahui hubungannya terhadap outcome klinis pasien serta kejadian nefrotoksisitas. Penelitian ini merupakan penelitian observational dengan desain cross sectional. Subjek penelitian ini adalah pasien pediatrik yang di rawat di PICU RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode 2017 – 2019. Jumlah pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 54 pasien. Hasil estimasi kadar diamati berdasarkan 2 parameter PK-PD yaitu kesesuaian rasio Cmax/MIC dan Cmin>MIC. Hasil dari penelitian ini menunjukkan pada penggunaan amikasin mencapai target rasio Cmax/MIC 17 (74%), dan Cmin > MIC yaitu 3 (13%) pasien. Pada penggunaan gentamisin mencapai target rasio Cmax/MIC 16 (46%), Cmin > MIC yaitu 7 (20%) pasien. Hasil analisis dengan uji Fisher menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan kedua parameter tersebut terhadap outcome klinis dengan nilai p > 0.05. Kesesuaian estimasi kadar tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kejadian nefrotoksisitas. Tanda-tanda nefrotoksisitas terdapat pada 3 pasien (6%).
Kepuasan Pasien Ulkus Diabetik Yang Menjalani Outpatient Parenteral Antimicrobial Treatment di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Elma Viorentina Sembiring; Ika Puspitasari; Rizka Humardewayanti Asdie; Hemi Sinorita
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v1i1.60276

Abstract

Outpatient parenteral antimicrobial treatment (OPAT) merupakan pemberian terapi antimikroba parenteral tanpa rawat inap. Tujuan utama program OPAT adalah memungkinkan pasien memperoleh terapi antibiotik parenteral dengan aman dan efektif tanpa menjalani rawat inap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan biaya pemberian antibiotika parenteral dan kepuasan pasien antara pasien ulkus diabetik terinfeksi yang memperoleh pelayanan rawat inap dan rawat jalan (OPAT). Penelitian ini adalah penelitian kuasi ekperimental dengan pendekatan prospektif pada pasien ulkus diabetik di RSUP Dr. Sardjito. Pengambilan sampel dilakukan secara non probability sampling kuota yang dilakukan pada bulan September 2019 – September 2020. Kuesioner kepuasan pasien yang digunakan dalam penelitian ini ialah Patient Satisfaction Quetionare-18 (PSQ-18) versi bahasa Indonesia yang telah melalui uji validitas dan reabilitas. Uji Mann Whitney dilakukan untuk mengetahui perbedaan kepuasan pasien antara kedua kelompok. Subjek penelitian dalam penelitian ini sebanyak 15 pasien pada kelompok OPAT dan 15 pasien pada kelompok kontrol (rawat inap). Pada penelitian ini didapatkan nilai rata-rata kepuasan pasien terhadap pelayanan OPAT dan control adalah 4,66  ± 0,09 dan 4,69 ± 0,08. Tidak terdapat perbedaan bermakna antara tingkat kepuasan pasien yang mendapatkan pelayanan OPAT dengan pelayanan rawat inap (p = 0,817).
Pengaruh Konseling Apoteker Terhadap Outcome Anemia Pada Siswi SMA Yang Menerima Program Suplementasi Zat Besi Sisri Novrita; Ika Puspitasari; Nanang Munif Yasin; Chrisna Wardhani
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v1i1.60555

Abstract

Keberhasilan program pencegahan dan penanggulangan anemia defesiensi besi pada remaja putri tergantung dari tingkat kepatuhan individual terhadap pengobatan. Ketidakpatuhan remaja putri dalam menjalankan terapi merupakan salah satu penyebab kegagalan terapi. untuk meningkatkan kepatuhan yang berdampak kepada keberhasilan terapi sangat diperlukan pemberian informasi obat berupa konseling. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh konseling apoteker dapat mempengaruhi hasil outcome anemia berupa peningkatan kadar hemoglobin dan peningkatan kepatuhan minum obat pada siswi SMA. Subjek penelitian ini remaja putri di Sekolah Menengah Atas (SMA) di wilayah kerja puskesmas Mlati II selama bulan Januari - Agustus 2020. Desain penelitian ini adalah pretest posttest with control group design dengan metode pengambilan sampel simple random sampling. Sebanyak 68 remaja putri dikelompokkan secara random menjadi kelompok yang memperoleh intervensi konseling (35 remaja putri) dan kelompok tanpa intervensi atau kontrol (33 remaja putri). Subjek penelitian diikuti selama 30 hari untuk mengamati outcome anemia berupa  penigkatan kadar hemoglobin dan tingkat kepatuhan minum obat TTD siswi SMA sebelum dan sesudah konseling. Hasil intervensi berupa konseling oleh apoteker yang dibandingkan dengan kelompok kontrol terbukti meningkatkan kepatuhan pasien dalam pengobatan secara bermakna (p=0,020). Tingkat kepatuhan remaja putri kelompok kontrol sebelum dan setelah penelitian diketahui tidak berbeda signifikan (p≥0,05). Pemberian konseling mampu meningkatkan kadar hemoglobin yang dibandingkan dengan kelompok kontrol (p=0,042). Meskipun kadar hemoglobin kedua kelompok sebelum dan setelah penelitian mengalami peningkatan yang signifikan (p≤0,05).
Analisis Rasionalitas Penggunaan Antibiotik Empiris Dan Definitif Pada Terapi Pneumonia Dan Profil Antibiogram di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada Annisa Aulia Savitri; Titik Nuryastuti; Ika Puspitasari
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v1i1.60556

Abstract

Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi saluran pernafasan bawah yang menjadi penyebab kematian terbesar di negara berkembang terutama di Indonesia dengan persentase kematian sebesar 4,5% (2013). Yogyakarta sedikit lebih tinggi dari nilai nasional yaitu 4,6%. Pneumonia merupakan penyakit infeksi terbesar di RS Akademik UGM. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif analitik dengan rancangan penelitian cross sectional dan pengambilan data secara retrospektif. Pengambilan data rekam medis pasien tahun 2018-2019 ditujukan untuk menyusun profil antibiogram dan untuk mengetahui hubungan rasionalitas pemilihan antibiotik empiris maupun definitif dengan kesembuhan pasien yang terdiagnosa pneumonia dengan metode Gyssens. Analisis data statistik menggunakan software SPSS versi 23rd  dengan analisis bivariate dan uji chi square test. Pada penelitian didapatkan 98 pasien masuk dalam kriteria inklusi. Dari 98 pasien pneumonia diketahui 83 pasien diberikan terapi antibiotik empiris dan 15 pasien diberikan kombinasi antibiotik empiris dan definitif. Hasil evaluasi kesesuaian penggunaan antibiotik empiris dan definitif berdasarkan Guideline IDSA/ATS dan PPAB RS Akademik UGM pada pasien pneumonia rawat inap di RS Akademik UGM menunjukkan 38,5% pasien yang mendapatkan antibiotik empiris dan definitif yang sesuai dan tidak mempengaruhi clinical outcome. Gambaran bakteri yang ditemukan di RS Akademik UGM adalah bakteri gram negatif (77,7%) dan bakteri gram positif (22,2%).
Outpatient Parenteral Antimicrobial Treatment Pada Pasien Ulkus Diabetik di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta: Kajian Clinical Outcome Dan Kualitas Hidup Pasien Rizki Rahmawati; Ika Puspitasari; Rizka Humardewayanti Asdie; Hemi Sinorita
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v1i1.60616

Abstract

Outpatient parenteral antimicrobial treatment (OPAT) adalah metode untuk memberikan antibiotik intravena di komunitas atau rawat jalan sebagai alternatif untuk perawatan rawat inap. Tujuan utama program OPAT adalah memungkinkan pasien memperoleh terapi antibiotik parenteral dengan aman dan efektif tanpa menjalani rawat inap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh clinical outcome terhadap kualitas hidup pada pasien ulkus diabetik terinfeksi yang mendapatkan pelayanan OPAT dan rawat inap. Penelitian ini adalah penelitian kuasi ekperimental dengan pendekatan prospektif pada pasien ulkus diabetik di RSUP Dr. Sardjito. Pengambilan sampel dilakukan secara non probability sampling kuota yang dilakukan pada bulan September 2019 – September 2020. Clinical outcome dinilai dari skor PEDIS yang kemudian di kategorikan membaik atau tidak membaik. Kuisoner SF-36 digunakan dalam penilaian kualitas hidup pasien. Uji t tidak berpasangan dan Mann Whitney dilakukan untuk mengetahui perbedaan clinical outcome serta Uji Fisher exact test dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh antara clinical outcome terhadap kualitas hidup pasien. Subjek penelitian dalam penelitian ini sebanyak 30 pasien yang terdiri dari kelompok OPAT dan kelompok rawat inap. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini yaitu sebanyak 93% pasien OPAT membaik, dan 100% pasien Rawat Inap membaik. Tidak terdapat pengaruh yang significant antara clinical outcome dengan kualitas hidup pada pasien ulkus kaki diabetik di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.
Rasionalitas Penggunaan Antibiotik Empirik dan Definitif pada Pasien Sepsis di Intensive Care Unit RSUP. Dr. Sardjito Mayada Rakhmima Karizki; Ika Puspitasari; Rizka Humardewayanti Asdie
Majalah Farmaseutik Vol 17, No 3 (2021)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v1i1.62045

Abstract

Sepsis merupakan penyakit mengancam jiwa berupa disfungsi organ yang berhubungan dengan infeksi. Hingga saat ini sepsis menjadi sebab utama kematian di Intensive Care Unit (ICU). Penanganan yang diberikan pada 1 jam pertama akan menentukan keberhasilan terapi selanjutnya, salah satunya antibiotik. Penggunaan antibiotik yang rasional berkaitan dengan luaran klinik pasien. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan rasionalitas antibiotik dengan luaran klinik pasien sepsis di ICU RSUP Dr. Sardjito tahun 2018-2019. Penelitian dilakukan secara observasional-analitik dengan desain kohort retrospektif. Dari 59 pasien yang memenuhi kriteria inklusi, diperoleh 138 antibiotik dengan rincian 112 antibiotik empirik dan 26 antibiotik definitif. Kriteria Gyssens digunakan untuk evaluasi rasionalitas antibiotik dilanjutkan analisis hubungan rasionalitas antibiotik dan variabel perancu dengan luaran klinik menggunakan uji Chi-square atau Fisher's Exact. Masing-masing uji menggunakan tingkat kepercayaan sebesar 95%. Persentase penggunaan antibiotik secara rasional (kategori 0) sebesar 13,6% (23 antibiotik) untuk antibiotik empirik dan 21,6% (8 antibiotik) untuk antibiotik definitif. Total persentase antibiotik tidak rasional (kategori I-V) dari antibiotik empirik dan definitif secara berurutan sebesar 86,4% (146 antibiotik) dan 78,4% (29 antibiotik). Terdapat hubungan yang tidak signifikan antara rasionalitas antibiotik dengan luaran klinik pasien sepsis di ICU RSUP Dr. Sardjito tahun 2018-2019 (p>0,05).
Evaluasi Kesesuaian Penggunaan Antibiotik Profilaksis Terhadap Kejadian Infeksi Luka Operasi Pada Pasien Bedah Digestif di Salah Satu Rumah Sakit Tipe B Kabupaten Sleman Dhannia Fitratiara; Ika Puspitasari; Titik Nuryastuti
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v1i1.63691

Abstract

Infeksi Luka Operasi (ILO) adalah penyebab infeksi nosokomial yang sering terjadi pada luka bekas sayatan setelah operasi. Penggunaan antibiotik profilaksis bedah dapat efektif mengurangi tingkat ILO dengan pemilihan antibiotik yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran rasionalitas penggunaan antibiotik profilaksis, mengetahui angka kejadian ILO, mengetahui hubungan rasionalitas penggunaan antibiotik profilaksis terhadap kejadian ILO, dan mengetahui faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian ILO pada pasien bedah digestif. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian observasional deskriptif-analitik dengan desain cross sectional melibatkan pasien bedah digestif yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dari data rekam medik pasien rawat inap selama periode 1 Januari-31 Desember 2019 di salah satu RS tipe B Kabupaten Sleman. Terdapat 110 pasien menjalani bedah digestif yang masuk dalam kriteria inklusi pada penelitian ini. Rasionalitas penggunaan antibiotik profilaksis berdasarkan metode Gyssens (kategori 0) pada penelitian ini sebesar 20,9% (23 pasien). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara ketidakrasionalan penggunaan antibiotik profilaksis dengan kejadian ILO (P=0,712). Faktor risiko ILO yang teridentifikasi berdasarkan analisis bivariat adalah komorbiditas, prosedur operasi bersamaan, dan sifat operasi. Sedangkan analisis multivariat menunjukkan bahwa prosedur operasi bersamaan memiliki hubungan yang bermakna dengan angka kejadian ILO. Individu dengan prosedur operasi bersamaan memiliki risiko hampir 8 kali lebih tinggi untuk mengalami ILO (OR 7,625; CI 95% 1,370-42,423; p = 0,020).