Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

FORMULASI TABLET HISAP ANTIHIPERKOLESTEROL EKSTRAK DAUN Guazuma ulmifolia L. DAN EKSTRAK BUNGA Hibiscus sabdariffa L. Dwi Nurahmanto; Nuri Nuri; Ika Puspita Sari
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 13 No. 02 Desember 2016
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daun Jati belanda (Guazuma ulmifolia L.) dan bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.) telah digunakan secara tradisional untuk menurunkan kadar kolesterol yang tinggi (hiperkolesterolemia). Kedua herbal ini mengandung senyawa yang dapat menurunkan kadar kolesterol, dengan mekanisme yang mungkin berbeda. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kombinasi dari ekstrak daun Jati belanda dan bunga rosella mampu mengurangi konsentrasi plasma kolesterol, trigliserida, LDL, meningkatkan konsentrasi plasma HDL, dan menurunkan berat tubuh. Penelitian ini menggunakan kombinasi kedua ekstrak yang diformulasikan menjadi sediaan tablet hisap. Ekstrak dibuat granul dengan metode granulasi basah dalam tiga formula, yaitu F1, F2, dan F3 dengan komposisi bahan pengisi yang berbeda. Pengisi F1 hanya digunakan laktosa, F2 terdiri dari laktosa dan sukrosa sama banyak dan F3 hanya digunakan sukrosa. Hasil evaluasi granul menunjukkan bahwa semua formula memenuhi persyaratan sifat aliran dan kelembaban. Hasil evaluasi tablet menunjukkan bahwa semua formula memenuhi persyaratan kekerasan, hanya F2 yang memenuhi persyaratan kerapuhan, dan F2 yang paling disukai oleh para relawan. Jati belanda (Guazuma ulmifolia L.) leaves and rosella (Hibiscus sabdariffa L.) flowers have been used traditionally for lowering high levels of cholesterol (hypercholesterolemia). Both of these herbs contain compounds that can decrease high levels cholesterol, possibly by different mechanisms. The results of previous studies showed that combinations of Jati belanda leaves and rosella flowers extracts were able to reduce plasma concentrations of cholesterol, triglycerides, LDL, increased the plasma concentration of HDL, and lowering body weight. In this study, combination of both extract were formulated into antihypercholesterolemia lozenges. First, extracts were made granules by wet granulation method in three formulas, namely F1, F2, and F3 with different filler composition. The filler of F1 was lactose, F2 filler of consisted of lactose and sucrose in the same ratio, and F3 only used sucrose as filler. The result of granule evaluation showed that all formulas comply the requirements of flow properties and humidity. The result of tablets evaluation indicated that all formulas comply the requirements of hardness, but only the F2 comply the requirements of fragility, and F2 is most preferred by volunteers.
Phenomenological Study of Hemodialysis Therapy Compliance in Chronic Renal Failure Patients at El Syifa Hospital (Fresenius Kidney Care) Kuningan West Java Ganjar Taufik; Ika Puspita Sari; Ika Yuni Astuti
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 18 No. 02 Desember 2021
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pharmacy.v18i2.13317

Abstract

The problem of kidney failure patients in El Syifa Hospital (Fresenius Kidney Care) In Kuningan, West Java continues to increase year on year and in 2019 by 140. By 2020 it will increase to 155 sufferers. The data of patients undergoing hemodialysis therapy. The purpose of knowing the cause of the phenomenon of renal failure and along with factors that affect the non-compliance of kidney failure patients to perform hemodialysis therapy El Syifa Hospital (Fresenius Kidney Care) Kuningan West Java. The research design method used is descriptive with purpusive sampling. Research instruments in the form of interviews, data in Analysis by Colaizzi method, the results of the study data on the type of kemalin men 60% and women 40% Due to the habits of smoking, drinking fizzy drinks, and alcoholic beverages. The result data was obtained, irregular participants (70%), and the tertur (30%) irregularities include economic factors (44%), health (4%), support (10%), employment (4%). No symptoms (6%), personal agitation (2%), duration 5 hours, and with a duration of 2 x in 1 week.
Keamanan Penggunaan Antiglukolan pada Pasien Rawat Inap Stroke Iskemik dengan Atrial Fibrilasi Juniarto Mende; Fita Rahmawati; Ika Puspitasari
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 12, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.74893

Abstract

Atrial fibrillation can cause stroke due to blood stasis in the left atrium which triggers thrombus formation and embolization of the brain. Administration of anticoagulants is used to prevent clot formation to prevent the occurrence of stroke, but on the other hand, it is associated with the risk of bleeding side effects. This study aims to evaluate the safety of anticoagulants in ischemic stroke patients with atrial fibrillation. The study used a cross-sectional design. Retrospective data were taken from the medical records of RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta period January 2018 to December 2020. The research subjects were ischemic stroke patients with atrial fibrillation. Evaluation of the safety of anticoagulants includes the number of major and minor bleeding events in each type of anticoagulant and the factors that influence the occurrence of bleeding. A total of 70 patients met the study inclusion criteria. Bleeding occurred in 41 cases (58,57%). Major bleeding was 28 patients (40%) and minor bleeding was 13 patients (18,57%). The most common anticoagulant that causes bleeding is warfarin. Multivariate test of the factors that influence the occurrence of bleeding in kidney failure (OR = 5,990; 95% Cl 2,002-17,920; p = 0,001). Monitoring the side effects of anticoagulants, especially warfarin is necessary. Pharmacists can play an important role in monitoring and preventing bleeding events by taking into account risk factors, especially kidney failure.
Prevalensi Bakteri Resisten Karbapenem di RSUP Dr. Sardjito Periode Januari-Agustus 2020 Firdhani Satia Primasari; Ika Puspitasari; Titik Nuryastuti
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i3.65823

Abstract

Salah satu kasus resistensi yang memerlukan perhatian khusus saat ini adalah resistensi bakteri terhadap antibiotik golongan karbapenem. Adanya resistensi terhadap penggunaan antibiotik karbapenem dan belum ditemukannya antibiotik baru menjadikan cakupan pilihan antibiotik menjadi cukup sulit. Banyak negara telah melaporkan kejadian resistensi bakteri karbapenem dan jumlahnya terus mengalami peningkatan. Di Indonesia, data tersebut masih sangat minim dan belum banyak yang mengkaji. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya prevalensi dari tiga macam bakteri, yaitu Pseudomonas aeruginosa, Acinetobacter baumannii, dan Enterobacterales spp yang resisten terhadap antibiotik karbapenem. Penelitian ini merupakan penelitian observasional retrospektif yang mengambil data hasil uji sensitivitas isolat Pseudomonas aeruginosa, Acinetobacter baumannii, dan Enterobacterales (Klebsiella pneumoniae dan Escherichia coli) periode Januari-Agustus 2020. Prevalensi dihitung dengan membandingkan jumlah bakteri yang resisten karbapenem terhadap total isolat bakteri yang ada. Dari hasil perhitungan, diperoleh bahwa prevalensi dari ketiga macam bakteri tersebut fluktuatif tiap bulannya. Di mana didapatkan pola bahwa antara bulan April-Mei prevalensi ketiga bakteri resisten karbapenem tersebut mengalami penunurunan kemudian untuk mengalami peningkatan untuk Pseudomonas aeruginosa dan Acinetobacter baumannii.  Prevalensi bakteri resisten karbapenem tertinggi ditemukan pada Acinetobacter baumannii dengan rentang prevalensi antara 46,43%-70%, diikuti Pseudomonas aeruginosa dengan prevalensi sebesar 12,82%-23,33%, dan Enterobacterales dengan prevalensi 0,73%-8,24%.
Profil Skala Nyeri dan Kadar Interleukin-6 pada Pasien Ulkus Kornea Bakteri di RS Mata “Dr. YAP” dan RSUP Dr. Sardjito Berdasarkan Profil Terapi: Prospective Case Series Bani Adlina Shabrina; Ika Puspitasari; Suhardjo Pawiroranu
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 4 (2022): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i4.66531

Abstract

Ulkus kornea merupakan kondisi kegawatdaruratan mata yang ditandai dengan inflamasi pada kornea dan adanya infiltrat pada kornea akibat defek epitel. Penyebab utama dari ulkus kornea adalah infeksi bakteri. Case series ini bertujuan untuk mengetahui profil kadar interleukin-6 dan skala nyeri pada pasien ulkus kornea bakteri  di indonesia berdasarkan profil terapi. Penelitian ini merupakan penelitian prospektif observasional, dengan parameter berupa penurunan kadar interleukin-6 (IL-6) dan skala nyeri berdasarkan visual analogue scale (VAS). Terdapat 2 (dua) kasus ulkus kornea bakteri di Rumah Sakit Mata “Dr. YAP” and Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito yang dibahas dalam case series ini. Kasus 1 (satu) berasal dari Rumah Sakit Mata “Dr. YAP” dan merupakan laki-laki berusia 14 tahun yang didiagnosis ulkus kornea dengan tingkat keparahan sedang, durasi penyakit selama 2 (dua) bulan, dan penyebab penyakit tidak diketahui. Kasus 2 (dua) berasal dari Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito dan merupakan pria berusia 33 tahun yang didiagnosis ulkus kornea dengan tingkat keparahan berat, durasi penyakit selama 3 hari, dan penyebab penyakit tidak diketahui. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa profil terapi yang berbeda-beda tetap memberikan penurunan kadar IL-6 dan skala nyeri (VAS) pada semua kasus ulkus kornea bakteri dengan tingkat keparahan, durasi, dan penyebab penyakit masing-masing.
Profil Luaran Klinis pada Pasien Ulkus Kornea Bakteri di Indonesia Berdasarkan Profil Terapi: Case Series Maya Ramadhani Indarto; Ika Puspitasari; Suharjo Suharjo
Majalah Farmaseutik Vol 18, No 4 (2022): in press
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v18i4.71430

Abstract

Ulkus kornea merupakan kondisi kegawatdaruratan mata yang dikarakterisasi adanya supuratif infiltrate, defek atau hilangnya jarngan kornea yang melibatkan stroma, dimana hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya kebutaan. Penyebab yang paling sering dari ulkus kornea di negara berkembang adalah adanya trauma mata. Case series ini bertujuan untuk mempelajari profil luaran klinik yang berpengaruh dalam perbaikan ulkus kornea. Penelitian ini merupakan penelitian prospektif observasional dengan parameter luaran klinik berupa ukuran defek kornea, derajat hiperemia, spasme, hipopion, dan visus. Terdapat 2 kasus ulkus kornea dengan derajat sedang-berat. Kasus 1 merupakan pasien usia 14 tahun dengan ulkus kornea bakteri derajat sedang, karakteristik defek epitel yang dimiliki luas, secara klinis menyerupai ulkus kornea bakteri namun secara gambaran defek epitel menyerupai ulkus kornea akibat virus. Kasus 2 merupakan pasien usia 32 tahun dengan ulkus kornea derajat berat, memiliki progresivitas penyakit yang cepat (defek meluas hanya dalam 1 hari). Secara keseluruhan kedua pasien mengalami perbaikan luaran klinik dengan pemberian antibiotik empirik. Luaran klinik yang mengalami perbaikan dengan cepat yaitu  penurunan defek epitel, derajat blefarospasme, dan peningkatan visus.
The Use of Antibiotics in COVID-19 Therapy in RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Putri Dina Mahera Laily; Tri Murti Andayani; Ika Puspitasari
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i1.71638

Abstract

As a newly emerging disease initially identified at the end of 2019 in Wuhan, China, COVID-19 has various therapeutic options. The current COVID-19 treatment in Indonesia refers to the licensed treatment based on the Emergency Used Authorization from BPOM, which lists many approved antibiotic therapies. However, inappropriate use of antibiotics is known to have an adverse impact of resistance. Therefore, studies on the use of antibiotics in health care facilities, including hospitals, are pivotal, especially in the management of newly emerging disease of COVID-19. This study aims to describe the use of antibiotics as a therapeutic option for COVID-19 treatments in RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. The research used descriptive analytic method by involving patients, who were tested positive for COVID-19 in the period of February to September 2020 in Dr. RSUP Sardjito Yogyakarta, as the research subjects. Data were collected retrospectively using the drug use listed in the medical records. Data were analyzed based on patient characteristics, antibiotic profile, and final prognosis of treatment outcome. This study revealed that the highest cases occurred in men with 69.4%. The productive age group of 21 to 60 years old was known to be the age group with the highest COVID infection (64%). The most widely used antibiotics were azithromycin (56.5%) and levofloxacin (32.9%). The use of antibiotic therapy in COVID-19 patients at RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta has proven to be quite effective with a prognostic rate of 76.5% for patients experiencing recovery.
Evaluasi Rasionalitas Terapi Antibiotik Pasien Osteomielitis di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta Taufiq Ramadhan; Ika Puspitasari; Rizka Humardewayanti Asdie
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i2.75285

Abstract

Osteomielitis adalah salah satu penyakit yang sulit untuk disembuhkan. Salah satu komponen penting dalam pengobatan osteomielitis adalah terapi antimikroba yang rasional dari segi pemilihan obat, durasi, hingga dosis untuk masing-masing pasien. Penelitian ini merupakan studi observasional deskriptif yang bertujuan untuk mengevaluasi rasionalitas regimen terapi antibiotik pada pasien osteomielitis dengan algoritma Gyssens. Data dikumpulkan secara retrospektif melalui pencarian rekam medis pada pasien RSUP Dr Sardjito Yogyakarta yang terdiagnosis osteomielitis pada kurun waktu 1 Januari 2016 hingga 31 Desember 2020, yang dipilih dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian dari 198 terapi antibiotik yang diberikan 13 pasien menunjukkan bahwa hanya ada 52 terapi (26,3 %) yang tergolong rasional menurut algoritma Gyssens (kategori 0). Durasi pemberian antibiotik yang terlalu singkat (kategori IIIb) merupakan jumlah terbesar dengan 94 regimen (47,5 %), disusul oleh adanya antibiotik lain yang lebih efektif (kategori IVa) sebanyak 37 regimen (18,7 %). Rendahnya jumlah terapi yang rasional menunjukkan perlunya evaluasi lebih mendalam terkait rasionalitas terapi antibiotik pada kasus osteomielitis serta hubungannya dengan luaran klinis pasien.