Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Hybrid Learning: Alternatif Model Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19 Riyanda, Afif Rahman; Agnesa, Tia; Wira, Alsyabri; Ambiyar, Ambiyar; Umar, Sukardi; Hakim, Uswatul
Jurnal Basicedu Vol. 6 No. 3 (2022)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/basicedu.v6i3.2794

Abstract

Pandemi COVID-19 telah merubah tatanan sistem pendidikan di seluruh dunia, hal ini mengakibatkan terjadinya penutupan lembaga pendidikan seperti sekolah dan juga perguruan tinggi secara total. Untuk menghadapi pandemi COVID-19, lembaga pendidikan harus mengadopsi metode terbaik dalam menyediakan layanan yang murah dan efisien. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka. Pengumpulan data didukung dengan penelusuran berbagai sumber dokumen pemerintah, media massa dan temuan penelitian yang relevan. Dengan berbagai permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran online maka perlu sebuah model yang yang menggabungkan proses pembelajaran secara online dengan pembelajaran tatap muka, model pembelajaran tersebut adalah Hybrid Learning. Model pembelajaran Hybrid atau Blended Learning merupakan istilah yang digunakan representasikan proses pembelajaran yang menggaungkan sistem pembelajaran secara online dengan pembelajaran konvensional yang memanfaatkan kecanggihan teknologi dan internet. Hybrid learning menjadi pilihan dan alternatif model pembelajaran yang tepat diterapkan dimasa pandemi COVID-19 saat ini.
Riuh Birama: from the Malay Pencak Silat Tradition to the World Music Approach Ramadhan, Viqrie; Hakim, Uswatul; Hidayat, Hengki Armez
Melayu Arts and Performance Journal Vol 7, No 1 (2024): Melayu Arts and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v7i1.4108

Abstract

Malay Pencak Silat Melayu is a related Malay art known as classical Malay art which is often performed at receptions for grand guests or guests of honour. The development of Malay Pencak Silat performances can be found in the implementation of traditional Malay wedding ceremonies, events, circumcision events and events featuring regional arts, especially in Riau Province. Riuh Birama's musical composition was created using a World Music approach. The artist embodies ideas sourced from Malay Pencak Silat Accompaniment Music by developing melodic patterns using the Cengkok, Grenek, Patah techniques. The composition of Riuh Birama is realized in several stages, namely; 1) observation; 2) determining the concept; 3) material preparation; 4) discussion and commitment; and 5) embodiment. The creator tries to present several forms of novelty in the form of works following the concept being offered.
Hybrid Learning: Alternatif Model Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19 Riyanda, Afif Rahman; Agnesa, Tia; Wira, Alsyabri; Ambiyar, Ambiyar; Umar, Sukardi; Hakim, Uswatul
Jurnal Basicedu Vol. 6 No. 3 (2022)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/basicedu.v6i3.2794

Abstract

Pandemi COVID-19 telah merubah tatanan sistem pendidikan di seluruh dunia, hal ini mengakibatkan terjadinya penutupan lembaga pendidikan seperti sekolah dan juga perguruan tinggi secara total. Untuk menghadapi pandemi COVID-19, lembaga pendidikan harus mengadopsi metode terbaik dalam menyediakan layanan yang murah dan efisien. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka. Pengumpulan data didukung dengan penelusuran berbagai sumber dokumen pemerintah, media massa dan temuan penelitian yang relevan. Dengan berbagai permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran online maka perlu sebuah model yang yang menggabungkan proses pembelajaran secara online dengan pembelajaran tatap muka, model pembelajaran tersebut adalah Hybrid Learning. Model pembelajaran Hybrid atau Blended Learning merupakan istilah yang digunakan representasikan proses pembelajaran yang menggaungkan sistem pembelajaran secara online dengan pembelajaran konvensional yang memanfaatkan kecanggihan teknologi dan internet. Hybrid learning menjadi pilihan dan alternatif model pembelajaran yang tepat diterapkan dimasa pandemi COVID-19 saat ini.
Musik Tuddukat: Representasi Kearifan Lokal Budaya Mentawai Sabetra, Firnando; Yogha Pratama, Olan; Hakim, Uswatul; Yusuf, Hendri
SENDRATASIK UNP Vol 13, No 4 (2024): (in progress)
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/js.v13i4.130850

Abstract

Pengaruh globalisasi menghadirkan peluang signifikan yang memengaruhi dinamika budaya. Penguatan identitas budaya sangat penting untuk memperkuat identitas suatu bangsa. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi karakteristik musik Tuddukat dan mengkaji bagaimana musik itu mewujudkan berbagai aspek kehidupan sosial, spiritual, dan budaya masyarakat Mentawai. Pendekatan kualitatif dan deskriptif telah digunakan dalam penelitian ini. Temuan ini mengungkapkan bahwa musik Tuddukat merupakan bentuk kearifan lokal di kalangan masyarakat Sikerei Desa Muntei di Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, berkontribusi pada identitas Budaya Indonesia yang ada di Kepulauan Mentawai Sumatera Barat. The influence of globalization presents significant opportunities that affect cultural dynamics. Strengthening cultural identity is very important to strengthen the identity of a nation. This research aims to explore the characteristics of Tuddukat music and examine how it embodies various aspects of the social, spiritual, and cultural life of the Mentawai community. Qualitative and descriptive approaches have been used in this study. This finding reveals that Tuddukat music is a form of local wisdom among the people of Sikerei Muntei Village in South Siberut District, Mentawai Islands Regency, contributing to the identity of Indonesian culture in the Mentawai Islands, West Sumatra.
Integrasi Platform Media Sosial Instagram dalam Pertunjukan dan Pembelajaran Musik Gamad di Sendratasik FBS UNP Hakim, Uswatul; Dilfa, Alrizka Hairi; Trinanda, Riri; Hidayat, Hengki Armez
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 25, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v25i2.13783

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis integrasi pertunjukan musik Gamad ke dalam platform media sosial dan dampaknya terhadap pembelajaran musik Gamad di Jurusan Pendidikan Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik), Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas Negeri Padang (UNP). Penelitian ini berfokus pada bagaimana Instagram, sebuah platform digital populer, dimanfaatkan untuk mengajarkan dan menampilkan musik Gamad, mengeksplorasi perannya dalam mentransformasikan pedagogi musik tradisional. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, penelitian ini mengkaji strategi yang digunakan oleh para pendidik untuk memasukkan fitur-fitur Instagram—seperti postingan video, reel, dan siaran langsung—ke dalam proses pembelajaran. Temuan ini menyoroti bahwa Instagram memfasilitasi keterlibatan mahasiswa yang lebih besar, menawarkan ruang yang dinamis dan interaktif untuk latihan dan pertunjukan. Selain itu, media digital membantu memperluas audiens musik Gamad, menghubungkan karya mahasiswa ke platform global. Studi ini menyimpulkan bahwa mengintegrasikan media sosial ke dalam pendidikan musik tidak hanya meningkatkan pengalaman belajar tetapi juga mendukung pelestarian dan penyebaran tradisi musik lokal dalam konteks modern.Kata Kunci: Musik Gamad, Pembelajaran, Pewarisan, dan Transmisi Musik Tradisional, Media SosialThis study aims to describe and analyze the integration of Gamad music performances into social media platforms and their impact on Gamad music learning at the Department of Drama, Dance, and Music Education (Sendratasik), Faculty of Languages and Arts (FBS), Universitas Negeri Padang (UNP). The research focuses on how Instagram, a popular digital platform, is utilized to teach and showcase Gamad music, exploring its role in transforming traditional music pedagogy. Using a qualitative case study approach, the study examines the strategies employed by educators to incorporate Instagram features—such as video posts, reels, and live broadcasts—into the learning process. The findings highlight that Instagram facilitates greater student engagement, offering a dynamic and interactive space for both practice and performance. Additionally, the digital medium helps to broaden the audience for Gamad music, connecting students' work to a global platform. The study concludes that integrating social media into music education not only enhances the learning experience but also supports the preservation and dissemination of local musical traditions in a modern context.Keywords: Gamad Music, Learning, Inheritance, and Transmission of Traditional Music, Social Media.
Program Musik Islami: Solusi untuk Tantangan Psikososial Siswa MTsN 1 Lima Puluh Kota Hakim, Uswatul; Hadi, Harisnal; Armez Hidayat, Hengki
Grenek: Jurnal Seni Musik Vol. 13 No. 2 (2024): Grenek: Jurnal Seni Musik
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/grenek.v13i2.63665

Abstract

Remaja dan pelajar merupakan kelompok yang rentan terhadap masalah psikologis dan sosial, termasuk kesehatan mental, kenakalan remaja, serta pengaruh media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan psikososial yang dihadapi pelajar di MTsN 1 Lima Puluh Kota serta mengevaluasi intervensi preventif dan kuratif melalui program musik Islami, sebagai bagian dari Program Kemitraan Masyarakat oleh Universitas Negeri Padang. Pendekatan kualitatif deskriptif dan partisipatoris digunakan untuk menggali tantangan seperti kecemasan akibat tekanan akademik, isolasi sosial, dan dampak negatif media sosial. Intervensi musik Islami terbukti efektif dalam mengurangi perilaku kenakalan, meningkatkan interaksi sosial, serta menyediakan sarana ekspresi diri yang positif. Guru dan kepala sekolah berperan penting dalam mendukung program ini, yang juga meningkatkan dinamika sosial di sekolah. Triangulasi data dari wawancara, Focus Group Discussion (FGD), dan observasi memperkuat temuan bahwa musik Islami memiliki dampak signifikan dalam mendukung perkembangan remaja. Rekomendasi mencakup ekspansi program ke sekolah lain, pelatihan bagi guru, serta kolaborasi yang lebih erat antara sekolah dan perguruan tinggi.
Pewarisan Musik Tradisi Sampelong Bentuk Ensambel kepada Siswa SMA Negeri 1 Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota Hakim, Uswatul; Hadi, Harisnal; Armez Hidayat, Hengki
Jurnal Pengabdian Seni Vol 6, No 1 (2025): MEI 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v6i1.14228

Abstract

Sampelong adalah alat musik tiup tradisional Minangkabau yang berasal dari Nagari Talang Maua, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Sampelong terbuat dari bambu berjenis talang dimainkan bersama lirik sastra lisan yang sarat akan pesan. Sebagai alat musik tua di Minangkabau dengan ditandai pengaruh Hindu-Budha pada intervalnya, harusnya sampelong lebih dihargai oleh generasi penerus sebagai bukti kemajuan kebudayaan masyarakat Lima Puluh Kota. Tukang sampelong dan pendendangnya tidak lagi menggunakan sampelong sebagai suatu kegiatan ritual magis, melainkan sebagai kesenian yang berorientasi artistik, musikal, dan pertunjukan. Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini merupakan program pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk pelatihan pengembangan kesenian tradisional sampelong dengan objek generasi muda. Generasi muda yang diberi sistem pewarisan dan pelatihan adalah siswa-siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Payakumbuh, Kabupaten 50 Kota. Metode yang digunakan adalah pelatihan kepada 30 orang yang terdiri dari guru dan siswa dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan luaran kekaryaan. Metode pelatihan meliputi ceramah, demonstrasi, tanya jawab, dan evaluasi yang komprehensif. Hasil kegiatan pengabdian ini meningkatkan pemahaman pengetahuan dan siswa diberikan bentuk inovasi berupa komposisi ensambel sampelong sebagai sebuah seni pertunjukan. Hasil pengabdian menunjukkan antusias peserta kerja sama berbagai pihak. Sampelong is a traditional Minangkabau wind instrument originating from Nagari Talang Maua in Lima Puluh Kota Regency, West Sumatra. Made from bamboo, the sampelong is typically performed alongside oral literature rich in cultural messages. As one of Minangkabau’s oldest musical instruments—its tonal intervals bearing influences from Hindu-Buddhist traditions—it deserves greater appreciation from younger generations as a symbol of the region’s cultural advancement. Today, sampelong makers and performers no longer treat the instrument as part of mystical rituals, but rather as an art form focused on aesthetics, music, and performance. This Community Partnership Program (PKM) was designed as a community engagement initiative to revitalize sampelong through targeted training for youth. The beneficiaries were students and teachers from SMA Negeri 1 Payakumbuh in Lima Puluh Kota Regency. The training involved 30 participants and followed a structured process of planning, implementation, evaluation, and artistic output. Methods used included lectures, demonstrations, discussions, and comprehensive evaluations. The program successfully enhanced participants’ knowledge and introduced a new innovation: the creation of a sampelong ensemble composition as a form of performing art. The initiative also received enthusiastic collaboration and support from various stakeholders.
Pewarisan Musik Tradisi Sampelong Bentuk Ensambel kepada Siswa SMA Negeri 1 Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota Hakim, Uswatul; Hadi, Harisnal; Armez Hidayat, Hengki
Jurnal Pengabdian Seni Vol 6, No 1 (2025): MEI 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v6i1.14228

Abstract

Sampelong adalah alat musik tiup tradisional Minangkabau yang berasal dari Nagari Talang Maua, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Sampelong terbuat dari bambu berjenis talang dimainkan bersama lirik sastra lisan yang sarat akan pesan. Sebagai alat musik tua di Minangkabau dengan ditandai pengaruh Hindu-Budha pada intervalnya, harusnya sampelong lebih dihargai oleh generasi penerus sebagai bukti kemajuan kebudayaan masyarakat Lima Puluh Kota. Tukang sampelong dan pendendangnya tidak lagi menggunakan sampelong sebagai suatu kegiatan ritual magis, melainkan sebagai kesenian yang berorientasi artistik, musikal, dan pertunjukan. Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini merupakan program pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk pelatihan pengembangan kesenian tradisional sampelong dengan objek generasi muda. Generasi muda yang diberi sistem pewarisan dan pelatihan adalah siswa-siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Payakumbuh, Kabupaten 50 Kota. Metode yang digunakan adalah pelatihan kepada 30 orang yang terdiri dari guru dan siswa dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan luaran kekaryaan. Metode pelatihan meliputi ceramah, demonstrasi, tanya jawab, dan evaluasi yang komprehensif. Hasil kegiatan pengabdian ini meningkatkan pemahaman pengetahuan dan siswa diberikan bentuk inovasi berupa komposisi ensambel sampelong sebagai sebuah seni pertunjukan. Hasil pengabdian menunjukkan antusias peserta kerja sama berbagai pihak. Sampelong is a traditional Minangkabau wind instrument originating from Nagari Talang Maua in Lima Puluh Kota Regency, West Sumatra. Made from bamboo, the sampelong is typically performed alongside oral literature rich in cultural messages. As one of Minangkabau’s oldest musical instruments—its tonal intervals bearing influences from Hindu-Buddhist traditions—it deserves greater appreciation from younger generations as a symbol of the region’s cultural advancement. Today, sampelong makers and performers no longer treat the instrument as part of mystical rituals, but rather as an art form focused on aesthetics, music, and performance. This Community Partnership Program (PKM) was designed as a community engagement initiative to revitalize sampelong through targeted training for youth. The beneficiaries were students and teachers from SMA Negeri 1 Payakumbuh in Lima Puluh Kota Regency. The training involved 30 participants and followed a structured process of planning, implementation, evaluation, and artistic output. Methods used included lectures, demonstrations, discussions, and comprehensive evaluations. The program successfully enhanced participants’ knowledge and introduced a new innovation: the creation of a sampelong ensemble composition as a form of performing art. The initiative also received enthusiastic collaboration and support from various stakeholders.
Program Musik Islami: Solusi untuk Tantangan Psikososial Siswa MTsN 1 Lima Puluh Kota Hakim, Uswatul; Hadi, Harisnal; Armez Hidayat, Hengki
Grenek: Jurnal Seni Musik Vol. 13 No. 2 (2024): Grenek: Jurnal Seni Musik (December)
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/grenek.v13i2.63665

Abstract

Remaja dan pelajar merupakan kelompok yang rentan terhadap masalah psikologis dan sosial, termasuk kesehatan mental, kenakalan remaja, serta pengaruh media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan psikososial yang dihadapi pelajar di MTsN 1 Lima Puluh Kota serta mengevaluasi intervensi preventif dan kuratif melalui program musik Islami, sebagai bagian dari Program Kemitraan Masyarakat oleh Universitas Negeri Padang. Pendekatan kualitatif deskriptif dan partisipatoris digunakan untuk menggali tantangan seperti kecemasan akibat tekanan akademik, isolasi sosial, dan dampak negatif media sosial. Intervensi musik Islami terbukti efektif dalam mengurangi perilaku kenakalan, meningkatkan interaksi sosial, serta menyediakan sarana ekspresi diri yang positif. Guru dan kepala sekolah berperan penting dalam mendukung program ini, yang juga meningkatkan dinamika sosial di sekolah. Triangulasi data dari wawancara, Focus Group Discussion (FGD), dan observasi memperkuat temuan bahwa musik Islami memiliki dampak signifikan dalam mendukung perkembangan remaja. Rekomendasi mencakup ekspansi program ke sekolah lain, pelatihan bagi guru, serta kolaborasi yang lebih erat antara sekolah dan perguruan tinggi.
Syurga di Telapak Kaki Ibu (Melayu Nusantara) Wisnu Zikrul Liandi; Uswatul Hakim
Misterius : Publikasi Ilmu Seni dan Desain Komunikasi Visual. Vol. 2 No. 3 (2025): September : Misterius : Publikasi Ilmu Seni dan Desain Komunikasi Visual
Publisher : Asosiasi Seni Desain dan Komunikasi Visual Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/misterius.v2i3.931

Abstract

The musical work “Syurga di Telapak Kaki Ibu” is a rearrangement of the Malay song composed by S. Effendi in 1990 and popularized by Aishah. This work highlights moral and religious values about honoring mothers. The purpose of this study is to describe the creative process of rearranging “Syurga di Telapak Kaki Ibu” using the rentak langgam format characteristic of Malay music. A descriptive–qualitative approach with a work-study method was employed. Data were collected through observation, literature review, and the composer’s five-month practice. The results show a new arrangement featuring a mournful melody, flowing harmonies, and the application of ornamentation techniques such as cengkok and grenek on melodic instruments (gambus oud, sape, bamboo flute, violin, accordion). The arrangement is structured in intro, verse, interlude, verse, interlude, and coda to create more varied emotional nuances while preserving the original essence of the song. This work is expected to strengthen the existence of classic Malay songs in the era of modern music and serve as a reference for students and traditional music practitioners in creating innovative works based on cultural heritage.