Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

PEMBUATAN SABUN CAIR BERBASIS VIRGIN COCONUT OIL (VCO) DENGAN PENAMBAHAN MINYAK LAVENDER SEBAGAI ESSENTIAL OIL PENCEGAHAN PENYEBARAN COVID-19” Niken .,; Annita .,; Rahmi Novita Yusuf
Jurnal Abdimas Saintika Vol 3, No 1 (2021): Mei Jurnal Abdimas Saintika
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jas.v3i1.1013

Abstract

ABSTRAK Pandemi virus corona (Covid 19) saat ini telah melanda berbagai negara di belahan dunia.Upaya yang bisa dilakukan adalah melakukan berbagai upaya pencegahan, salah satunya adalah mencuci tangan menggunakan sabun atau yang sering kita dengar dengan istilah CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun). Program ini meliputi materi penyuluhan tentang pencegahan penularan covid-19, dengan menjaga kebersihan tangan bisa memutus rantai penyebaran covid-19 karena tangan bagian tubuh yang sangat rentan dan dapat dengan mudah menjadi tempat bersarangnya virus dan bakteri. Virgin coconut oil (VCO) merupakan minyak dengan kandungan asam laurat yang tinggi. Asam laurat ini berfungsi untuk menghaluskan dan melembabkan kulit. Sehingga VCO cocok dijadikan sebagai bahan baku pembuatan sabun. Sabun yang dibuat dalam penelitian ini menggunakan penambahan minyak lavender sebagai esensial oil yang mampu meningkatkan kualitas pada sabun cair. Kegiatan ini bertujuan untuk membuat sabun cair, mencari penambahan konsentrasi minyak lavender yang tepat dalam pembuatan sabun cair dan mengetahui pengaruh penambahan minyak lavender terhadap karakteristik sabun cair. Perlakuan pada kegiatan ini konsentrasi minyak lavender  adalah dengan penambahan sebesar A = 0% (b/v), B = 1% (b/v), C = 1,5% (b/v), dan D = 2% (b/v) dari 300 gram basis sabun. Parameter pengamatan meliputi sifat kimia, sifat fisik sabun dan uji organoleptik. Hasil analisis menunjukan bahwa semua formula sabun cair memenuhi persyaratan berdasarkan SNI sabun padat 06-4085-1996. Formula sabun cair dengan perlakuan D merupakan produk terbaik dengan hasil uji organoleptik kesukaan secara umum adalah 50%. Hasil analisis sabun transparan pada perlakuan D adalah kadar alkali bebas bebas 0,0079%, nilai pH 8,93, bobot jenis 1,0509 dan angka lempeng total 0. Sehingga teknologi proses pembuatan sabun cair dengan penambahan minyak lavender selanjutnya dapat dikembangkan dan diaplikasikan pada skala industri. Kata kunci : sabun cair, Covid-19, virgin coconut oil (VCO), produksi.  ABSTRACT The corona virus pandemic (Covid 19) has currently hit various countries around the world. Efforts that can be done are to make various prevention efforts, one of which is washing hands using soap or what we often hear as CTPS (Washing Hands with Soap). This program includes counseling material on the prevention of covid-19 transmission, by maintaining hand hygiene, it can break the chain of the spread of covid-19 because the hands are very vulnerable parts of the body and can easily become a breeding ground for viruses and bacteria. Virgin coconut oil (VCO) is an oil with a high content of lauric acid. Lauric acid functions to smooth and moisturize the skin. So that VCO is suitable as a raw material for making soap. The soap made in this study uses the addition of lavender oil as an essential oil which can improve the quality of liquid soap. This activity aims to make liquid soap, look for the addition of the right concentration of lavender oil in making liquid soap and determine the effect of adding lavender oil on the characteristics of liquid soap. The treatment in this activity is the concentration of lavender oil with the addition of A = 0% (w / v), B = 1% (w / v), C = 1.5% (w / v), and D = 2% (b / v) of 300 grams of soap base. Observation parameters include chemical properties, soap physical properties and organoleptic tests. The results of the analysis show that all liquid soap formulas meet the requirements based on SNI for solid soap 06-4085-1996. Liquid soap formula with treatment D is the best product with the result of the favorite organoleptic test in general is 50%. The results of the analysis of transparent soap in treatment D were free alkaline content of 0.0079%, pH value of 8.93, specific gravity of 1.0509 and a total plate number of 0. So that the technology for making liquid soap with the addition of lavender oil can then be developed and applied to industrial scale. Keywords: liquid soap, Covid-19, virgin coconut oil (VCO), production.
PENGARUH EDUKASI KESEHATAN TERHADAP PENGETAHUAN TENTANG GASTRITIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TEBO TENGAH, KABUPATEN TEBO, PROVINSI JAMBI Sri Wahyuni Handayani; Putri Dafriani; Annita Annita
Jurnal Abdimas Saintika Vol 1, No 1 (2019): Jurnal Abdimas Saintika
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jas.v1i1.472

Abstract

Gastritis merupakan masalah terbesar di seluruh dunia, sekitar 1,7 milyar kasusterdapat di negara yang sedang berkembang. Gastritis di Indonesia mencapai 40,8% dibeberapa daerah dengan prevalensi 274.396 kasus dari 238.452.952 jiwa penduduk dantermasuk sepuluh penyakit terbanyak yang masuk rawat inap, termasuk di ProvinsiJambi. Puskesmas Tebo Tengah mengalami peningkatan sejak 3 tahun terakhir daritahun 2015-2017 yaitu 13% (1.650 kasus), 15% (1.979 kasus), 17% (1.867 kasus).Salah satu penyebab peningkatan adalah kurangnya pengetahuan, sehingga perludilakukan edukasi kesehatan secara tatap muka. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui pengaruh edukasi kesehatan terhadap tingkat pengetahuan klien tentanggastritis di wilayah kerja Puskesmas Tebo Tengah, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi.Penelitian pre Eksperimental dengan One Group Pretest-Posttest Design ini dilakukanpada 15 orang responden dengan teknik accidental sampling pada tanggal 02 s/d 13Agustus 2018. Hasil penelitian, terdapat pengaruh edukasi kesehatan terhadappengetahuan responden tentang gastritis dengan p value = 0,000 (p<0,05) dan terjadipeningkatan pengetahuan dari 11,73 sebelum edukasi menjadi 16,73. Kesimpulan,pemberian edukasi kesehatan berpengaruh terhadap pengetahuan responden untuk itudiharapkan petugas kesehatan selalu memberikan edukasi kesehatan secara berkalatentang penyakit Gastritis agar masyarakat dapat terhindar dari penyakit tersebut.
HUBUNGAN DIET PURIN DENGAN KADAR ASAM URAT PADA PENDERITA GOUT ARTHRITIS Annita Annita; Sri Wahyuni Handayani
Jurnal Kesehatan Medika Saintika Vol 9, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.411 KB) | DOI: 10.30633/jkms.v9i2.171

Abstract

Gout Arthritis adalah penyakit akibat kelainan metabolisme asam urat yang tinggi yang disebut hiperurisemia. Prevalensi Gout Arthritis di Indonesia 1,6-13,6 per seribu penduduk. Hiperurisemia disebabkan oleh produksi asam urat yang meningkat dan ekresi asam urat yang rendah. Diet purin adalah salah satu faktor yang menurunkan kadar asam urat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara diet purin dengan kadar asam urat pada penderita Gout Arthritis. Jenis penelitian adalah deskriptif analitik dengan pendekatan Cross Sectional Study yang dilakukan di Wilayah kerja Puskesmas Surian Kabupaten Solok. Populasi penelitian  adalah seluruh penderita Gout Arthritis di Wilayah kerja Puskesmas Surian Kabupaten Solok dan  sampel didapatkan dengan teknik Accidental Sampling sebanyak 41 responden. Data diolah dengan analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi dan analisa bivariat menggunakan uji statistik chi square (α=0,05). Hasil penelitian didapatkan lebih dari separuh (61,0%) responden memiliki kadar asam urat yang tinggi, lebih dari separuh (58,5%) responden memiliki diet purin yang tidak patuh. Terdapat hubungan yang signifikan antara diet purin dengan kadar asam urat (p =0,000).
PERBEDAAN KADAR HEMOGLOBIN, NILAI HEMATOKRIT DAN JUMLAH ERITROSIT PADA STROKE ISKEMIK DAN STROKE HEMORAGIK DIFFERENCES OF HEMOGLOBIN LEVEL, HEMATOCRITE VALUE AND THE NUMBER OF ERYTHROCYTE IN ISCHEMIC AND HEMORRHAGIC STROKE Annita Annita; Deswita Deswita; Al Kudri
Jurnal Kesehatan Medika Saintika Vol 11, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jkms.v11i2.767

Abstract

Stroke merupakan penyebab utama kecacatan fisik pada usia produktif dan lanjut usia. Viskositas darah pada penderita stroke dapat dilihat berdasarkan hasil pemeriksaan hematologi darah berupa peningkatan kadar hemoglobin, nilai hematokrit dan jumlah eritrosit dari nilai normal yang dilakukan di laboratorium. Menilai kekentalan darah membantu penanganan stroke untuk mengurangi penyebaran kerusakan sel otak pada penderita stroke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar hemoglobin, nilai hematokrit dan jumlah eritrosit pada stroke iskemik dan stroke hemoragik. Desain penelitian adalah studi cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada 60 subjek (30 pasien stroke iskemik dan 30 pasien stroke hemoragik) yang merupakan pasien IGD di RS Otak M. Hatta dari bulan Maret sampai Agustus 2020. Pemeriksaan kadar hemoglobin, nilai hematokrit dan jumlah eritrosit menggunakan Hematology Analyzer. Gambaran kadar hemoglobin, nilai hematokrit dan jumlah eritrosit pada pasien stroke iskemik dan hemoragik dengan uji-T independen, p <0,05 dianggap bermakna. Rerata kadar hemoglobin, nilai hematokrit dan jumlah eritrosit pada stroke iskemik lebih rendah (12,6±1,1/ gr/dl; 38±2,9/ %; 4,3±0,4/ million/mm3) daripada pada stroke hemoragik (15,2±0,1/ gr/dl; 45±2,7/ %; 5,1±0,4/ million/mm3). ABSTRACT Stroke is the main cause of physical disability in productive age and elderly. Blood viscosity in stroke patients can be seen based on the results of blood hematology examinations in the form of an increase in hemoglobin levels, hematocrit values and the number of erythrocytes from normal values carried out in the laboratory. Assessing blood viscosity helps stroke management to reduce the spread of damage to brain cells in stroke survivors. This study aimed to see a picture of hemoglobin levels, hematocrit values and the number of erythrocytes in ischemic stroke and hemorrhagic stroke. The research design was cross sectional study. This research was conducted on 60 subjects (30 patients with ischemic stroke and 30 patients with hemorrhagic stroke) who are IGD patient in M. Hatta Brain Hospital from March to August 2020. Hemoglobin levels, hematocrit values and erythrocyte count were examined using the Hematology Analyzer. A picture of hemoglobin levels, hematocrit values and the number of erythrocyte in ischemic and hemorrhagic stroke patients using an independent T-test, p <0,05 was considered significant. The mean rates of hemoglobin levels, hematocrit values and the number of erythrocytes were lower inischemic stroke (12,6±1,1/ gr/dl; 38±2,9/ %; 4,3±0,4/ million/mm3) than in hemorrhagic stroke (15,2±0,1/ gr/dl; 45±2,7/ %; 5,1±0,4/ million/mm3). There were significant differences in hemoglobin levels, hematocrit values and the number of erythrocytes in ischemic stroke and hemorrhagic stroke.
PENGARUH KONSUMSI JUS NANAS TERHADAP KADAR ASAM URAT PADA PENDERITA ARTHRITIS GOUT Annita Annita; Honesty Diana Morika; Indah Komala Sari
Jurnal Kesehatan Saintika Meditory Vol 2, No 1 (2019): November 2019
Publisher : Stikes Syedza Saintika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jsm.v2i1.435

Abstract

Peningkatan kadar asam urat dalam darah (hiperurisemia)merupakan factor utama terjadinya atritis gout. Salah satu cara untuk menurunkan kadar asam urat yaitu dengan pemberian jus nanas. Dimana nanas ini memiliki kandungan Vitamin C, alkaloid, Vitamin B6, Kalium, beserta enzim bromelain dimana kandungan yang terdapat dalam nanas tersebut yang berperan sebagai menurunkan kadar asam urat serta sebagai anti inflamasi (peradangan) pada sendi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh konsumsi jus nanas terhadap kadar asam urat pada penderita atritis. Jenis penelitian ini yaitu eksperimen design dengan rancangan one group pretest postest design.  Jumlah sample yaitu 16 responden yang dilakukan dengan teknik purposive sampling. Data diolah secara komputerisasi dengan analisa univariat menggunakan statistic deskripstif dan analisa bivariat menggunakan uji t-test dependen dengan tingkat kemaknaan 95% (p value ≤ 0,05). Hasil penelitian didapatkan adanya perbedaan rata-rata sebelum diberikan perlakuan sebesar 8.631 dan sesudah diberikan perlakuan sebesar 7.181 dengan nilai p= 0,000 dimana p ≤ 0,05. Kesimpulan dalam penelitian ini adanya pengaruh konsumsi jus nanas terhadap kadar asam urat pada penderita artritis gout.
HUBUNGAN PENGGUNAAN KONTRASEPSI SUNTIK DMPA DENGAN PENINGKATAN BERAT BADAN PADA AKSEPTOR KB RELATIONSHIP OF USE OF THE DMPA INJECTION CONTRACEPTION INCREASING WEIGHT IN KB ACCEPTORS Rahmi Novita Yusuf; Rhona Sandra; Annita .,; Dewi Fransisca
Jurnal Kesehatan Saintika Meditory Vol 3, No 1 (2020): November 2020
Publisher : Stikes Syedza Saintika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jsm.v3i1.855

Abstract

ABSTRAK Kandungan DMPA merangsang pusat nafsu makan di hipotalamus yang menyebabkan akseptor makan lebih banyak dari biasanya, sehingga menyebabkan peningkatan berat badan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan penggunaan kontrasepsi suntik DMPA dengan peningkatan berat badan pada akseptor KB di puskesmas Jujun tahun 2019. Jenis penelitian yang dilakukan bersifat analitik dengan desain penelitian cross sectional yang dilakukan di puskesmas Jujun pada tanggal 29 Agustus - 11 September 2019. Populasi penelitian ini adalah ibu-ibu akseptor KB suntik di puskesmas Jujun sebanyak 157 orang.Responden pada penelitian ini adalah 33 responden.Teknik pengambilan sampel menggunakan Accidental sampling.Analisa univariat dan bivariat menggunakan uji statistik dan di olah secara komputerisasi. Hasil penelitian di peroleh 23 (69,7%) responden yang menggunakan kontrasepsi suntik DMPA dan 21 responden (63.6%) yang mengalami peningkatan berat badan. Berdasarkan hasil uji statistik ada hubungan antara penggunaan kontrasepsi suntik DMPA dengan peningkatan berat badan pada akseptor KB dengan nilai pvalue = 0,024. Dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara penggunaan kontrasepsi suntik DMPA dengan peningkatan berat badan pada akseptor KB. sebaiknya saat pasien melakukan kunjungan ulang suntik DMPA, bidan atau perawat yang bertugas memeriksa terlebih dahulu lama penggunaan kontrasepsi suntik DMPA dan seberapa baanyak peningkatan berat badan yang dialami, jika sudah melebihi batas atau dikatakan obesitas maka berikan informasi pada akseptor KB untuk menjaga asupan makanan dan olahraga secara teratur Kata Kunci :Kontrasepsi suntik , Peningkatan BB ABSTRAK The content of DMPA stimulates the appetite center in the hypothalamus which causes the acceptor to eat more than usual thereby causing weight gain. The purpose of this study was to determine relation between DMPA contraception use and weight gain on KB (family Planning) acceptors in the Jujun Health Center in 2019. The type of this study was analytic with cross sectional research design conducted in the Jujun Health Center on  August 19th - September 11th, 2019. The population of this study were women acceptors, injecting contraception in the Jujun health center as many as 157 people. Respondents on this study were 33 respondents. Sampling technique uses accidental sampling. Univariate and bivariate analyzes use statistical tests and are computerized. This study obtained 23 (69.7%) respondents used DMPA contraception and 21 respondents (63.6%) experienced weight gain. Based on the result of statistical tests, there is relationship between the use of DMPA contraception with weight gain on KB acceptors with a p value = 0.024. It could be concluded, There is relationship between the use of DMPA contraception with weight gain on KB (family planning) acceptors.Suggestions for health workers are expected that when patients re-visit DMPA injections, midwives or nurses must check the length of use of DMPA injecting contraception and how much weight gain is experienced, if it exceeds the limit or obese, give the information to KB (family planning) acceptors to maintain intake food and exercise regularly.  Keywords: Contraception, weight gain
Perbandingan Kejadian Malaria Di Pantai Timur Dan Pantai Barat Kecamatan Sikakap Kepulauan Mentawai The Comparison Of Malaria Incidence Between East And West Coast District Of Sikakap Mentawai Islands sri wahyuni handayani; Annita ,
Jurnal Kesehatan Saintika Meditory Vol 1, No 1 (2018): November 2018
Publisher : Stikes Syedza Saintika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jsm.v1i1.275

Abstract

Malaria merupakan penyakit utama pada masyarakat yang tinggal di daerah tropis termasuk Indonesia dengan angka mortalitas dan morbiditas yang tinggi serta menyerang usia produktif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan kejadian malaria di pantai barat dan pantai timur kecamatan Sikakap periode Januari sampai Juni 2018. Penelitian observasional dengan desain cross sectional comparative study ini menggunakan data sekunder dari Dinas Kesehatan Kabupaten Mentawai pada populasi masyarakat yang tinggal di pantai barat dan pantai timur Kecamatan Sikakap dengan teknik total sampling dan analisa dengan uji chi square. Hasil, didapatkan bahwa frekuensi malaria di kedua daerah tergolong tinggi karena kejadian malaria lebih dari 5 kejadian per 1000 penduduk. Di Pantai Barat ditemukan  33 kasus dari 3084 orang (1,07%), sedangkan di Pantai Timur ditemukan 236 kasus dari 5179 orang (4,56%). Terdapat perbedaan yang signifikan antara frekuensi malaria di pantai barat dan pantai timur Kecamatan Sikakap (p=0.00). Hal ini diduga disebabkan oleh kondisi lingkungan yang berbeda antara pantai barat dan pantai timur seperti kondisi wilayah perkebunan, keadaan pantai dan bentuk perairan yang mempengaruhi keberadaan nyamuk Anopheles sebagai vektor malaria. Disarankan kepada dinas kesehatan untuk meningkatkan perhatian terhadap kasus malaria dengan melakukan deteksi dini, perawatan dan pengobatan serta penyuluhan yang berkesinambungan. Kata kunci : Frekuensi malaria; Pantai barat Kecamatan Sikakap, Pantai timur Kecamatan Sikakap.  ABSTRACT      Malaria is a major disease in people living in the tropics including Indonesia with high mortality and morbidity and attacking the productive age. The purpose of this study was to compare the incidence of malaria on the west coast and east coast of Sikakap sub-district from January to June 2018. This observational study was a cross sectional comparative study using secondary data from the Health Department of Mentawai  in the population living on the west coast and coast east District of Sikakap  with total sampling and analysis techniques with the chi square test. Results, it was found that the frequency of malaria in the two regions was high because malaria incidence was more than 5 incidents per 1000 population. On the West Coast there were 33 cases of 3084 people (1.07%), while in the East Coast 236 cases were found from 5179 people (4.56%). There was a significant difference between the frequency of malaria on the west coast and the east coast District of Sikakap  (p = 0.00). This is thought to be caused by different environmental conditions between the west coast and the east coast such as the condition of the plantation area, the condition of the coast and the shape of the waters that affect the presence of Anopheles mosquitoes as a malaria vector. It is recommended to the health office to increase attention to malaria cases by conducting early detection, care and treatment as well as sustainable counseling.
PERBEDAAN KADAR ASAM URAT DENGAN IMT PADA REMAJA OBESITAS RELATIONSHIP OF URIC ACID LEVELS WITH BMI INDEX IN OBESITY ADOLESCENT Annita .,; Niken .,; Sri Wahyuni Handayani
Jurnal Kesehatan Saintika Meditory Vol 1, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : Stikes Syedza Saintika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jsm.v1i2.339

Abstract

ABSTRAK Obesitas yang terjadi pada anak-anak menggambarkan tingginya resiko mengalami obesitas pada usia dewasa yang berakibat pada besarnya kemungkinan orang tersebut akan mengalami penyakit metabolik dikemudian hari. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan kadar asam urat dengan IMT pada remaja obesitas. Jenis penelitian adalah penelitian observasional dengan pendekatan case control. Penelitian ini dilakukan pada 17 orang siswa obesitas dan 17 orang siswa non-obesitas dengan teknik Purposive sampling. Pengumpulan data dari hasil pemeriksaan IMT dan kadar asam urat. Data di olah dengan menggunakan uji t-test dependen dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar asam urat pada remaja obesitas cenderung lebih tinggi daripada remaja non-obesitas (7,0 mg/dl; 5,3 mg/dl). Terdapat perbedaan kadar asam urat yang signifikan pada remaja obesitas dan non-obesitas (p=0,000). Kata kunci : Asam Urat; IMT; Obesitas ABSTRACT Obesity that occurs in children illustrates the high risk of obesity in adulthood which results in the possibility that the person will experience metabolic disease in the future. This study aims to look at differences in uric acid levels with BMI in obese adolescents. This type of research is an observational study with a case control approach. This study was conducted on 17 obese students and 17 non-obese students with Purposive sampling techniques. Data collection from the results of BMI examination and uric acid levels. The data is processed using the dependent t-test with a significance level of α = 0.05. The results showed that uric acid levels in obese adolescents tended to be higher than non-obese adolescents (7.0 mg / dl; 5.3 mg / dl). There were significant differences in uric acid levels in obese and non-obese adolescents (p = 0,000).  Keywords: Uric Acid ; BMI; Obesity
DAYA HAMBAT EKSTRAK DAUN TEH HIJAU (Camellia sinensis) TERHADAP BAKTERI Streptococcus Mutans Annita Annita; Hendri Panus
Jurnal Kesehatan Saintika Meditory Vol 1, No 1 (2018): November 2018
Publisher : Stikes Syedza Saintika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jsm.v1i1.250

Abstract

Karies gigi merupakan penyakit yang paling banyak dijumpai di rongga mulut, sehingga merupakan masalah utama kesehatan gigi dan mulut. Patogenitas Streptococcus mutans sebagai penyebab utama karies gigi dipercaya dapat mengganggu biologi rongga mulut. Streptococcus mutans dapat memproduksi asam laktat, sehingga dapat menyebabkan demineralisasi dari permukaan gigi yang merupakan proses terjadinya karies. Guna mencegah terjadinya karies gigi, dewasa ini banyak metode yang digunakan, misalnya penyikatan gigi, berkumur dengan antiseptik, aplikasi fluor, perbaikan kualitas saliva dan akhir-akhir ini ditemukan bahwa teh dapat digunakan sebagai pencegah terjadinya karies. Bahan yang terkandung di dalam teh hijau yang berperan sebagai antiseptik adalah katekin dan tannin yang merupakan senyawa polifenol. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur daya hambat ekstrak daun teh hijau (Camellia sinensis) terhadap bakteri Streptococcus mutans. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorik, untuk melihat sifat antibakteri dengan mengukur konsentrasi inhibisi dan efek hambat minimal berbagai kadar ekstrak daun teh hijau. Pada penelitian ini dilakukan 3 kali perlakuan pada 6 dosis pemberian ekstrak daun teh hijau, yaitu dosis 10 %, 20 %, 30 %, 40 %, 50 % dan 100 % (kontrol positif). Data dianalisis dengan uji One-Way ANOVA. Hasil uji One-way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan diameter zona hambat yang signifikan (p<0,05) pada konsentrasi 10% dan 100% setelah masa inkubasi 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun teh hijau mampu menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. Peningkatan konsentrasi ekstrak daun teh hijau berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan efek antibakteri. 
PENGARUH PEMBERIAN REBUSAN DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum) TERHADAP KADAR GULA DARAH PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE II THE EFFECT OF GIVING RED CROAT LEAF (Piper Crocatum) TO BLOOD SUGAR CONCENTRATION IN PATIENTS DIABETES MELLITUS TYPE I Harmawati .,; Annita .,
Jurnal Kesehatan Saintika Meditory Vol 1, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : Stikes Syedza Saintika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jsm.v1i2.345

Abstract

ABSTRAK Diabetes mellitus  tipe II adalah  penyakit kronis yang terjadi ketika tubuh tidak dapat memproduksi cukup insulin atau tidak dapat menggunakan insulin secara efektif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian rebusan daun sirih merah terhadap kadar gula darah pasien DM Tipe II. Jenis penelitian adalah Pre Experiment dengan desain One-Group Pre-Test-Post-Test yang dilaksanakan pada bulan September – Desember 2017. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita diabetes mellitus tipe II di Wilayah Kerja Puskesmas Kumun Kota Sungai Penuh Kerinci. Teknik sampling adalah Purposive Sampling dengan jumlah sampel sebanyak 16 orang. Data diolah menggunakan t-test independent. Hasil penelitian didapatkan rata-rata kadar gula darah pada penderita diabetes mellitus tipe II sebelum diberikan rebusan daun sirih merah adalah 254.62 mg/dL. Rata-rata kadar gula darah pada penderita diabetes mellitus tipe II sesudah diberikan rebusan daun sirih merah adalah 188.75 mg/dL. Terdapat pengaruh pemberian rebusan daun sirih merah terhadap perubahan kadar gula darah pada pasien DM Tipe II. Kata kunci : Daun Sirih Merah; Kadar Gula Darah; DM Tipe II ABSTRACT            Type II diabetes mellitus is a chronic disease that occurs when the body cannot produce enough insulin or cannot use insulin effectively. The purpose of this study was to determine the effect of giving red betel leaf decoction to blood sugar levels of Type II DM patients. This type of research is Pre Experiment with the design of One-Group Pre-Test-Post-Test conducted in September-December 2017. The population in this study were all patients with type II diabetes mellitus in the Kumun City River Health Center Full Area in Kerinci. The sampling technique is purposive sampling with a total sample of 16 people. Data is processed using an independent t-test. The results showed that the average blood sugar level in patients with type II diabetes mellitus before being given a decoction of red betel leaf was 254.62 mg / dL. The average blood sugar level in patients with type II diabetes mellitus after being given a decoction of red betel leaf is 188.75 mg / dL. There is an effect of giving red betel leaf decoction to changes in blood sugar levels in patients with Type II DM. Key Word : Red Betel Leaves,  Blood sugar level, Type II DM