Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Pembelajaran Digital ( Digital Learning ) Bagi Guru SD di Desa Bontoala, Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan Iin Almeina Loebis; Fahrisal Husain; Sri Maya; Fitriani Kadir; Kasmawati Kasmawati
Jurnal Pemberdayaan Sosial dan Teknologi Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jpstm.v2i2.1137

Abstract

Abstract:. During the pandemic, almost all levels of education felt the negative impact of the spread of covid, especially elementary school students. Teachers and teaching staff are faced with a difficult time, due to changes in the way of teaching in the classroom. Under normal circumstances, the teacher teaches in class and gives material to his students. With the pandemic period that we are facing now, teachers are no longer in class, but are learning online from home, and material must still be delivered to students or their students. The teacher must already know the method of teaching besides delivering material in front of the class. With the condition that the teacher must continue to deliver material even when he is not in class to meet face to face with his students, the teacher must use another learning method, namely by using digital learning. The development of digital technology has provided technology as a digital medium with benefits in an effort to motivate elementary school students to study during a pandemic. Utilizing digital media in learning is very important to help the online learning process during a pandemic. This media plays a very important role as a medium for information transfer and distance learning interactions. By using digital learning, a teacher not only conducts questions and answers, discussions, group work, role plays in class, but students are also invited to learn using other learning media, such as Youtube and E-learning.            Keywords: teacher; student; learning Abstrak: Pada masa pandemic, hampir di semua jenjang pendidikan merasakan dampak yang buruk dengan adanya penyebaran covid, khususnya murid  Sekolah Dasar. Guru dan staff pengajar di hadapkan pada masa yang sulit, karena berubahnya cara mengajar di kelas. Pada keadaan normal, guru mengajar di kelas dan memberikan materi kepada siswanya. Dengan masa pandemic yang kita hadapi sekarang, guru tidak lagi masuk kelas, melainkan belajar daring dari rumah, dan materi harus tetap disampaikan kepada peserta didik atau siswanya. Guru harus sudah mengetahui metode  cara mengajar selain menyampaikan materi di depan kelas. Dengan keadaan guru harus tetap menyampaikan materi walau dalam keadaan tidak masuk kelas bertemu langsung dengan peserta didiknya, guru harus menggunakan metode pembelajaran yang lain, yaitu  dengan menggunakan pembelajaran digital. Perkembangan teknologi digital telah memberikan Teknologi sebagai media digital memiliki manfaat dalam upaya memotivasi belajar siswa Sekolah Dasar selama pandemi. Memanfaatkan media digital dalam pembelajaran sangat penting untuk membantu proses pembelajaran daring selama pandemi. Media ini sangat berperan sebagai media transfer informasi dan interaksi pembelajaran jarak jauh. Dengan menggunakan pembelajaran digital seorang guru tidak hanya melakukan tanya jawab, berdiskusi, kerja kelompok, bermain peran di dalam kelasnya, tetapi siswa juga diajak untuk belajar dengan menggunakan media belajar yang lain, seperti Youtube dan E- learning.  Kata kunci: guru; siswa; belajar
PENERAPAN VIRTUAL LABORATORY BASED AUGMENTED REALITY TERINTEGRASI MEDIA ANDROID UNTUK GURU SMA NEGERI 10 MAROS Ince Nasrullah; Hikmah Rusdi; Kasmawati Kasmawati
Jurnal Pemberdayaan Sosial dan Teknologi Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jpstm.v4i2.2207

Abstract

Abstract: This community service activity aims to improve learning facility services, namely Indonesian language practicum and improve the ability of Indonesian language teachers to utilize technology for more effective learning at SMA Negeri 10 Maros which is located around the Maros Muslim University area. This training and mentoring was carried out for 15 subject area teachers who focused on introducing and implementing the Assemblr Edu (AR) application which was designed to make the teaching and learning process more interactive and interesting. This service activity succeeded in empowering teachers with the technological skills needed to create a more interactive and effective learning experience. Despite experiencing a challenge that was successfully overcome through various solutions implemented. Technological facilities are provided, training is designed flexibly and ongoing support via online platforms. A WhatsApp group is provided to help participants. The results of this activity have empowered teachers with the skills necessary to effectively integrate technology into teaching methods, as well as improving the quality of learning experiences for students in the digital era. Keywords: training and mentoring; AR application technology; teachers.  Abstrak: Kegiatan pengabdian masyarakat ini, bertujuan untuk meningkatkan pelayanan fasilitas pembelajaran, yaitu praktikum bahasa Indonesia dan meningkatkan kemampuan guru bahasa Indonesia dalam memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran yang lebih efektif di SMA Negeri 10 Maros yang berlokasi di sekitar wilayah Universitas Muslim Maros. Pelatihan dan pendampingan ini dilaksanakan bagi 15 guru bidang studi mata pelajaran yang fokus pada pengenalan dan penerapan aplikasi Assemblr Edu (AR) yang dirancang untuk membuat proses belajar mengajar lebih interaktif dan menarik. Kegiatan pengabdian ini berhasil memberdayakan guru dengan keterampilan teknologi yang dibutuhkan untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan efektif. Meskipun mengalami suatu tantangan yang berhasil diatasi melalui berbagai solusi yang diterapkan. Fasilitas teknologi disediakan, pelatihan dirancang fleksibel dan dukungan berkelanjutan melalui platform online. WhatsApp group disediakan untuk membantu peserta. Hasil dari kegaiatan ini telah memberdayakan guru dengan keterampilan yang diperlukan untuk mengintegrasikan teknologi secara efektif ke dalam metode pengajaran, serta meningkatkan kualitas pengalaman belajar bagi siswa di era digital. Kata kunci: pelatihan dan pendampingan; teknologi aplikasi AR; guru. 
Toponimi Wilayah di Kecamatan Lau Kabupaten Maros (Kajian Antropolinguistik) Khaerun Nisa; Fitrawahyudi; Aryanti; Kasmawati
BASASTRA: JURNAL KAJIAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Vol. 14 No. 1 (2025): BASASTRA: JURNAL KAJIAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/nytmbv09

Abstract

Toponymy serves as a bridge to explore and rediscover knowledge related to past history. This is because the exploration of the naming of a place cannot be separated from the historical background, events, stories, myths, culture, and figures that shaped the place, which can provide valuable lessons for the community. This study aims to examine the cultural meaning of regional naming in Lau sub-district, Maros Regency, using a qualitative descriptive approach. Data collection techniques used were interviews, observation, and documentation. Meanwhile, data analysis used the Miles and Huberman model of qualitative data analysis techniques, which included interview transcriptions, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of this study indicate that the cultural meaning of regional naming in Lau sub-district is very diverse, including names formed from historical events and honoring important figures such as Lemo-lemo, Bonto Kadatto, Tamala'lang, Baru-Baru, Soreang, Marana, and Bonto Rea. Names derived from geographical references and natural characteristics, such asKa'ne-Ka'ne, Kalumpang, Bonto Manai, Balange, Bonto Maero, Bonto Cabu, Bonto Kadatto and so on, as well as names rooted in local culture and traditions, such as Macoa, Garonggong, Pemelakkang Jenne, Bonto Te'ne, Sampobia, and so on.