Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Metahumaniora

Manusia Jepang: Dari Peminjaman Budaya Sampai ke Sinkretisme Agama Yuyu Yohana Risagarniwa
Metahumaniora Vol 8, No 3 (2018): METAHUMANIORA, DESEMBER 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v8i3.20714

Abstract

AbstrakProfil manusia Jepang merujuk kepada bangsa yang memiliki etos kerja yang tinggi, disiplin, budaya malu, dan citra positif lainnya. Citra tersebut diperoleh setelah melalui sebuah perjalanan sejarah yang panjang yang diakui sebagai hasil cultural borrowing ‘meminjam budaya’ luar yang kemudian di-Jepang-kan. Peminjaman budaya tersebut merujuk kepada proses bangsa Jepang dalam ‘mengadopsi’ budaya asing, baik melalui asimilasi maupun akulturasi. Peminjaman budaya tersebut diambildari Timur (China dan Korea) dan Barat (Eropa dan Amerika). Sementara itu, ajaran moral yang dimiliki bangsa Jepang diperoleh dari hasil sinkretisme dari ajaran Konfusius China, agama Budha dari Korea, dan agama Shinto yang telah diyakini oleh para leluhur Bangsa Jepang sejak dahulu kala. Pinjaman-pinjaman budaya tersebut seiring waktu mengalami internalisasi dengan budaya Jepang itu sendiri yang kemudian menghasilkan manusia Jepang yang kita kenal saat ini.Kata kunci: manusia Jepang, pinjaman budaya, sinkretisme agama, ajaran KonfusiusAbstractThe profile of The Japanese is identified as the nation with a high work ethic, discipline, having shame cultures, and other positive images. They do not get those positive images easily though. It took a long time and a long process as they admitted that they started with cultural borrowings taken from other countries which then were Japanized. The cultural borrowings what we are talking about here refer to the processes having been done by Japanese people in adopting foreign cultures either through assimilation or acculturation. The borrowings have been taken from East (China and Korea) and West (Europe and America). While the moral teaching owned by The Japanese now had been created through the syncretical process of three religions; Chinese Confusius, Korean Budha, and Shinto religion which had been the religion of Japanese ancestors since the ancient times. As time goes by, the cultural borrowings have been internalized into the Japanese culture itself which then resulted in The Japanese we know now.Keywords: Japanese, cultural borrowing, syncretism of religions, Confusius teaching
Kedudukan dan Fungsi Bahasa dalam Permuseuman Erlina Zulkifli Mahmud; Taufik Ampera; Yuyu Yohana Risagarniwa; Inu Isnaeni Sidiq
Metahumaniora Vol 9, No 1 (2019): METAHUMANIORA, APRIL 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v9i1.22871

Abstract

Kedudukan dan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi manusia mencakup seluruh bidang kehidupan termasuk ilmu pengetahuan antara lain terkait sejarah peradaban manusia; bagaimana manusia mempertahankan hidupnya, bagaimana manusia memperlakukan alam, bagaimana alam menyediakan segala kebutuhan manusia. Apa yang dilakukan manusia saat ini, saat lampau, dan apa yang dilakukan manusia jauh di masa prasejarah, bagaimana kondisi alam di masa-masa tersebut, apa perubahan dan perkembangannya, dapat didokumentasikan melalui bahasa, divisualisasikan kembali, lalu dipajang sebagai salah satu upaya konversai dan preservasi dalam satu institusi yang disebut museum. Penelitian ini membahas kedudukan dan fungsi bahasa dalam permuseuman. Bagaimana kedudukan dan fungsi bahasa dalam permuseuman baik dalam informasi yang disampaikan oleh pemandu wisata museumnya maupun yang terpajang menyertai benda-benda dan gambar-gambar merupakan tujuan dari penelitian ini. Metode penelitian yang digunakan adalah gabungan antara metode lapangan dan metode literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum kedudukan bahasa Indonesia berada pada urutan pertama setelah Bahasa Inggris dan keberadaan kedua bahasa dalam permuseuman ini melibatkan dua fungsi utama bahasa, yakni fungsi komunikatif dan fungsi informatif.The existence and function of language  as a medium of communication covers all fields of human life including knowledge, one of them is the history of human civilization; how humans survived, how human utilized nature for their lives, and how nature provides all the necessities for humans. What humans have been doing now, what they have done in the past and far before that in the pre-history time, how the conditions of the nature at those times were and what changes as well as progresses occurred are documented using language, then re-visualized,  displayed as one of conservation and preservation acts in an institution called museum. This research discusess the existence and function of language in museums. How important the existence of a language in museums and what language functions used in museums both in informations given by the museum guides and on the displays accompanying objects and pictures are the aims of this research. The methods used are the combination between field research and library research. The results show that generally the existence of Indonesian language plays more important role than English and both languages have two main functions; communicative function and informative function.