Claim Missing Document
Check
Articles

EFEKTIVITAS EKSTRAK ETANOL DAUN SIRIH (Piper betle L.) SEBAGAI LARVISIDA TERHADAP LARVA Aedes aegypti DI KECAMATAN DENPASAR SELATAN, KOTA DENPASAR, BALI Fuad Adi Rosyadi; I Kadek Swastika
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 9 (2020): Vol 9 No 09(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i9.P03

Abstract

Usaha pengendalian terbaik terhadap ancaman wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah dengan membasmi larvanya. Daun sirih merupakan bahan alami yang dapat digunakan untuk membunuh larva Aedes aegypti dengan kandungan zat aktif flavonoid, tanin dan terpenoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak etanol daun sirih sebagai larvisida terhadap larva Aedes aegypti di Kecamatan Denpasar Selatan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental laboratorium dengan rancangan penelitian sesuai panduan World Health Organization Pesticide Evaluation Scheme (WHOPES) 2005 yaitu the post test only controlled group design. Sampel berupa larva Aedes aegypti instar III hasil biakan dari nyamuk Aedes aegypti dari Kecamatan Denpasar Selatan. Larva dibagi menjadi 1 kelompok kontrol dan 5 kelompok uji dengan konsentrasi ekstrak etanol daun sirih yang berbeda-beda, yaitu 0,05%, 0,1%, 0,2%, 0,4%, dan 0,8% dalam 100ml air. Pada masing-masing kelompok diberi 25 larva dan dilakukan replikasi sebanyak 3 kali. Data yang diperoleh dari uji penelitian dianalisis menggunakan aplikasi Statistical Product and Service Solution (SPSS) dengan Analysis of variance (ANOVA) dan Analisis Probit. Hasil uji Anova diperoleh p<0,05 sehingga terdapat perbedaan yang bermakna. Analisis Probit didapatkan LC50 berada pada konsentrasi 0,208% dan LC90 berada pada konsentrasi 1,090%. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun sirih memiliki efek larvisida terhadap larva Aedes aegypti. Diharapkan hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai dasar penelitian berikutnya guna mendapatkan larvisida yang lebih efektif. Kata kunci : larva Aedes aegypti, Piper betle L., larvisida
Pengaruh infeksi soil transmitted helminth (STH) terhadap daya ingat dan koordinasi visual-motorik dalam fungsi kognitif anak-anak sdn 1 sulangai, Kabupaten Badung, dan SDN 1 Blandingan, Kabupaten Bangli, Bali Ida Ayu Ide Larassanthi Pratiwi; I Kadek Swastika; I Made Sudarmaja
E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 4 (2018): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (687.446 KB)

Abstract

Soil Transmitted Helminth (STH) Infection, indirectly affect cognitive function in children who have a higher susceptibility compared with other age groups. Lack of food intake, indigestion, malabsorption, and poor growth rates are often found in children with ascariasis and trichuriasis. Therefore, helminth infection can cause a decrease in cognitive development of memory and visual-motoric coordination, thus preventing the child from reaching their proper potential growth. The aim of this study is to measure and prove the effect between helminth infection and cognitive function. The study design was cross-sectional observational analysis with 273 respondents were school children of SDN 1 Sulangai, Badung and SDN 1 Blandingan, Bangli. It was applied by using Kato Katz technique in stool sample examination and Wechsler Intelligence Scale for Children III (WISC III) as memory and visual-motoric test. After adjusting for the potential confounder age, sex, and socioeconomic status (SES), obtained children with positive and negative of helminth infection each counted 12 people. Analysis of data through SPSS gradually using Paired Sample T-test with p value of 0.074 and 0.851 (p> 0.05) to know the mean difference of pre-test with post-test of cognitive function. The Independent Sample T-test with p value results on pre-test and post-test cognitive function in relation to the occurrence of helminth infection respectively were 0.922; 1.000; 0.722; and 0.328 (p> 0.05). It was concluded that there was no effect of helminth infection toward cognitive function specifically memory and visual-motoric coordination in SDN 1 Sulangai, Badung and SDN 1 Blandingan, Bangli.Keywords: Soil Transmitted Helminth (STH), cognitive function, school children
PREVALENSI TELUR SOIL TRANSMINTED HELMINTH PADA SAYURAN KUBIS YANG DIJUAL DI KOTA DENPASAR Daondy Friarsa Soeharto; I Made Sudarmaja; I Kadek Swastika
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 11 (2019): Vol 8 No 11 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.663 KB)

Abstract

Infeksi Soil Transmitted Helmiths (STH) merupakan penyakit endemik di banyak negara. Indonesia sebagai negara berkembang menjadi salah satunya. Telur cacing ini sangat lengket sehingga bisa menempel di sayuran, yang apabila masuk ke tubuh manusia bisa berubah menjadi dewasa dan menetap di illeum sebagai parasit dan menyebabkan penyakit. Beberapa penelitian sebelumnya di daerah di luar Bali, menemukan kubis yang telah terinfeksi telur/larva cacing STH dijual di pasar. Penelitian diskriptif ini menggunakan pendekatan cross sectional dengan metode random sampling, bertujuan untuk mengetahui prevalensi infeksi telur/larva cacing STH pada sayuran kubis yang dijual di pasar tradisional yang ada di kota Denpasar, serta jenis telur/larva cacing apa yang paling banyak ditemukan. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Departemen Parasitologi FK Udayana dengan data berasal dari 60 kubis yang didapatkan dari pasar yang dikelola PD Pasar Denpasar. Hasil penelitian ini didapatkan 16% sampel positif terinfeksi telur/larva cacing STH dengan kubis dari pasar Abian Timbul yang memiliki prevalensi telur/larva cacing terbanyak. Spesies yang paling banyak ditemukan (50%) adalah larva Ancylostoma duodenale. Kata Kunci : Soil-Transmited Helminth, Kubis, Pasar, Infeksi, Prevalensi
PENGETAHUAN DAN SIKAP ORANG TUA MURID TAMAN KANAK-KANAK KUMARA LOKA DI KECAMATAN DENPASAR SELATAN, KOTA DENPASAR, BALI TERHADAP KEHADIRAN DAN PEMBIAYAAN VAKSIN DENGUE I Putu Dodik Supartha; I Kadek Swastika; I Made Sudarmaja
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 12 (2019): Vol 8 No 12 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.344 KB)

Abstract

ABSTRAKBeberapa kandidat vaksin dengue yang dapat memberikan pengaruh terhadap konsep pencegahan dengue di masa depan, masih dalam proses pengembangan danmenghadapi tantangan pembuatan vaksin yang efektif untuk keempat serotype virusdengue sekaligus. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan gambaran sikap orang tuamurid Taman Kanak-kanak (TK) Kumara Loka di Kecamatan Denpasar Selatan terhadappembiayaan vaksin dengue. Penelitian ini berupa deskriptif observasional denganpendekatan cross-sectional menggunakan instrumen berupa kuesioner. Sampel penelitianini adalah seluruh orang tua murid (ayah atau ibu) TK Kumara Loka pada tahun ajaran2016/2017 yang memenuhi kriteria inklusi, tidak memenuhi kriteria eksklusi, dan terpilihmelalui consecutive sampling. Dari 85 sampel yang terpilih, 85,9% memiliki tingkatpengetahuan baik atau cukup mengenai dengue, 91,8% menyatakan bersedia atau sangatbersedia untuk dilakukan vaksinasi kepada anak, dan 37,2% menyatakan bersediamembayar biaya vaksinasi pada harga di atas Rp 100.000,00. Tambahan pula, sebesar87,1% subjek menyatakan praktik pencegahan selain vaksinasi masih perlu dilakukansetelah hadirnya vaksin dengue. Simpulan dari penelitian ini adalah pengenalan vaksindengue kepada orang tua murid TK Kumara Loka di masa depan dapat memperolehrespon positif berdasarkan hasil penelitian ini. Hasil penelitian ini dapat digunakansebagai acuan langkah pengenalan vaksin dengue yang terbaik kepada masyarakat. Kata kunci: vaksin dengue, kesediaan vaksinasi, kesediaan pembiayaan vaksin
POTENSI EKSTRAK ETANOL DAUN PANDAN WANGI (PANDANUS AMARYLLIFOLIUS ROXB.) SEBAGAI LARVASIDA ALAMI BAGI AEDES AEGYPTI Maretta Rosabella Purnamasari; I Made Sudarmaja; I Kadek Swastika
E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 3 (2017): E-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.973 KB)

Abstract

Tingginya kasus demam berdarah dengue disertai munculnya resistensi terhadap temephos, menjadikan penggunaan larvasida alami mulai dipertimbangkan. Salah satu bahan alam yang dapat digunakan adalah daun pandan wangi. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret tahun 2016 sampai bulan Agustus tahun 2016 dan bertujuan untuk mengetahui efektivitas, LC50, dan LC90 dari ekstrak etanol daun pandan wangi sebagai larvasida bagi Aedes aegypti. Studi ini merupakan murni eksperimental dan memakai post test only control group design. Subjek dibagi menjadi kelompok kontrol (konsentrasi 0%) dan 7 kelompok perlakuan (konsentrasi 0,05%, 0,125%, 0,25%, 0,5%, 1%, 2%, 4%). Replikasi dilakukan empat kali dengan menggunakan 25 larva Aedes aegypti instar III/IV pada tiap-tiap kelompok. Data kematian larva dikumpulkan setelah 24 jam dan didapatkan tidak ada kematian pada kelompok kontrol. Rerata persentase kematian larva pada kelompok perlakuan berturut-turut dari konsentrasi perlakuan terkecil ke terbesar adalah 2%, 5%, 7%, 11%, 14%, 36%, 99%. Uji Kruskal Wallis memperoleh p<0,05 yang artinya diperoleh perbedaan bermakna pada kematian larva antar kelompok. Hasil dari uji Mann Whitney menunjukkan p<0,05 pada konsentrasi 0,125%, 0,25%, 0,5%, 1%, 2%, dan 4%, yang masing-masing dibandingkan dengan kontrol. Uji probit memperlihatkan nilai LC50 dan LC90 berturut-turut 2,113% dan 3,497%. Disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) konsentrasi 0,125%, 0,25%, 0,5%, 1%, 2%, dan 4% efektif sebagai larvasida alami bagi Aedes aegypti, dengan nilai LC50 sebesar 2,113% dan nilai LC90 sebesar 3,497%.
HUBUNGAN FAKTOR RISIKO DAN PREVALENSI INFEKSI CACING USUS PADA SISWA SEKOLAH DASAR NEGERI BELANDINGAN, KECAMATAN KINTAMANI KABUPATEN BANGLI I Gusti Agung Dwi Putri Anjani; I Made Sudarmaja; I Kadek Swastika
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 10 (2019): Vol 8 No 10 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.746 KB)

Abstract

ABSTRAK Infeksi cacing usus merupakan infeksi yang masih banyak diabaikan oleh masyarakat. Penyakit ini umumnya terkait dengan faktor risiko berupa kebiasaan mencuci tangan, memotong kuku secara rutin, penggunaan alas kaki saat di luar rumah, ketersediaan sumber air bersih, kepemilikan jamban, mengonsumsi obat cacing secara rutin, dan penggunaan penutup makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor risiko dengan prevalensi infeksi cacing usus pada siswa sekolah dasar (SD) Negeri Belandingan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dan pengambilan sampel dilakukan hanya sekali dengan teknik total sampling. Pemeriksaan feses dilakukan dengan metode Kato-katz di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Faktor risiko yang berperan dalam penularan infeksi cacing usus ditentukan dengan analisis statistik univariat dan bivariat. Infeksi cacing usus pada anak SD N Belandingan didapatkan sebesar 8.8% yang terdiri dari Ascaris lumbricoides, cacing tambang, dan Taenia. Hasil analisis bivariat menunjukkan faktor risiko yang terkait dengan infeksi cacing usus yaitu tidak tersedianya sumber air bersih(nilai p=0,023; RP=5,52 95% IK 1,79-15,3) mencuci tangan dengan air saja(nilai p=0,038; RP=0,31 95% IK 0,11-0,86), dan tidak menggunakan penutup makanan(nilai p=0,029; RP=3,94 95% IK 1,37-11,2). Kata Kunci: Infeksi cacing usus, Faktor risiko, Ascaris lumbricoides, Belandingan ABSTRACT Intestinal worm infection is one of neglected infectious disease. The disease is commonly associated with hand-washing practice, nail cutting habit, use of footwear when playing outdoors, clean water source availability, presence of a latrine, routine antihelminthic drug consumption, and the use of food cover as a risk factor. The aim of this study is to determine the relationship of risk factors to the prevalence of intestinal worm infectionin Belandingan Elementary School students, Kintamani Subdistrict, Bangli District. The type of research is analytic descriptive and sampling is done only once with total sampling technique. Stool examination was done by Kato-katz method in Parasitology Laboratory,Faculty of Medicine Udayana University.Univariate and bivariate statistical analyses were used to determine risk factor variables that play a role in intestinal worm infection. The results showed that prevalence of infection in SD N Belandingan students was 8.8% consisting of Ascaris lumbricoides, hookworm, and Taenia. The result of bivariate analysis showed that risk factors related to intestinal worm infection were clean water source unavailable (p = 0.023, PR = 5.52 CI 95% 1.79-15.3), hand washing with water only (p = 0.038, PR = 0.31 CI 95% 0.11-0.86), and not covering food (value p = 0.029; PR = 3.94 CI 95% 1.37-11.2). Keywords: Intestinal worm infection, Risk factors, Ascaris lumbricoides, Belandingan
Ethanol Extract of Spondias pinnata Leaves Reduce Parasite Number and Increase Macrophage Phagocytosis Capacity of Mice Infected by Plasmodium berghei Dewa Ayu Agus Sri Laksemi; I Gusti Kamasan Arijana; I Made Sudarmaja; Ni Luh Ariwati; Ketut Tunas; Putu Ayu Asri Damayanti; Ni Luh Putu Eka Diarthini; I Kadek Swastika; Ida Ayu Dewi Wiryantini
The Indonesian Biomedical Journal Vol 13, No 1 (2021)
Publisher : The Prodia Education and Research Institute (PERI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18585/inabj.v13i1.1286

Abstract

BACKGROUND: Currently, there is no vaccine against malaria in humans, the development of resistance to anti-malarial drugs, causing the need to find new alternatives to overcome malaria infections. This study aimed to determine effect of Spondias pinnata in increasing cellular immunity, especially phagocytosis activity of peritoneal macrophages against Plasmodium berghei infection.METHODS: This was an experimental study with two stages of research, each stage requires 36 Balb/c mice, aged 2 months and weight 20-25 grams. After one week of acclimatization, the mice were put into 6 different groups, each group consisted of 6 mice. The negative control was a group of mice given distilled water for 14 days then infected by P. berghei in the 15th day. Meanwhile, T1, T2, T3, T4 and T5 groups were given S. pinnata leaves ethanol extract with dose of 25, 50, 100, 200 and 400 mg/kg body weight (BW)/day, respectively, and then infected by P. berghei in the 15th day.RESULTS: The results showed that the lowest parasitemia and the highest capacity of macrophage to phagocytose latex was found in treatment group T3 that received 50 mg/kg BW of S. pinnata leaves ethanol extract. Based on analysis of the Pearson correlation test, there was a significant correlation between percent phagocytosis and parasitemia (p<0.05).CONCLUSION: Ethanol extract of S. pinnata leaves lower the parasite number of P. berghei in Balb/c mice and increase the capacity of macrophage to phagocytose latex. However, the mechanisms of how S. pinnata leaves extract in activating phagocytosis capacity and reducing parasitemia still need further investigation.KEYWORDS: phagocytosis, Plasmodium berghei, parasite number, Spondias pinnata
Prevalensi infeksi soil transmitted helmith di Sekolah Dasar Negeri 1 Padangbulia Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng, Bali-Indonesia Ni Putu Akopita Devi; I Made Sudarmaja; Kadek Swastika
Intisari Sains Medis Vol. 9 No. 3 (2018): (Available online: 1 December 2018)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.285 KB) | DOI: 10.15562/ism.v9i3.315

Abstract

Latar Belakang: Pada perkembangan global yang sudah modern ternyata masih banyak kejadian infeksi cacing pada anak-anak. Infeksi cacing ini juga berhubungan dengan status gizi anak-anak. Beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa kebersihan diri pada anak-anak sangat berpengaruh dengan terjadi nya infeksi cacing seperti perilaku mencuci tangan, memotong kuku, kebersihan yang dikonsumsi, dan masih banyak lagi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi infeksi cacing, dan juga hubungan status gizi serta kebersihan diri pada anak sekolah dasar di SD Negeri 1 Padangbulia Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng.Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan studi total sampling dengan jumlah sampel 127 orang. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner tentang kebersihan diri untuk mendapatkan katagori baik dan buruk, serta perhitungan berat badan dan tinggi badan menggunakan timbangan dan microtoise.Hasil: Dari 127 siswa, 20 siswa dikatagorikan kurus, 84 siswa dikatagorikan normal dan 11 orang dikatagorikan gemuk. Hampir sebagian besar kebersihan siswa sangat baik dengan rajin mencuci tangan, memotong kuku, makan makananan yang bersih, dan bermain dengan menggunakan alas kaki. Selain itu ditemukan 6 kasus dengan infeksi askariasis dan trikuriasis.Simpulan: Pada penelitian ini kebersihan pada siswa sekolah dasar sudah baik begitu pula status gizinya. Kedepannya diharapkan adanya penelitian lebih lanjut dengan design penelitian yang lebih baik tentang infeksi cacing, status gizi, dan kebersihan diri. Prevalensi cacingan pada penelitian ini adalah 0,04%.
Clinical characteristic of dengue fever and dengue hemorrhagic fever among patients at Sanglah Hospital, Denpasar, Bali Shabrina Inderjit; I Made Sudarmaja; I Kadek Swastika
Intisari Sains Medis Vol. 12 No. 3 (2021): (Available online: 1 December 2021)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.249 KB) | DOI: 10.15562/ism.v12i3.550

Abstract

Background: Mosquito-borne diseases are one of the most significant public health risks globally, and dengue fever seems to be one of the most important arboviral diseases in humans. In humans, dengue viruses are the supreme agents that cause dengue fever (DF) and dengue hemorrhagic fever/dengue shock syndrome (DHF/DSS). Following that, the virus's presence, sufficient numbers of susceptible populations, and mosquito vectors are required to transmit dengue infection. This study aimed to identify the clinical characteristics of dengue fever and dengue hemorrhagic fever among patients at Sanglah Hospital, Denpasar, BaliMethod: The study is a descriptive retrospective study design. The data was collected from the medical records of patients diagnosed with dengue and dengue hemorrhagic fever in Sanglah Hospital, Denpasar, Bali, from June 2015- June 2016. We took 50 patients according to sample size calculation by randomized sampling technic. Data were analyzed descriptively.Result: The study found the age range from 5 to 53 years old. The mean age for DF and DHF were 11 and 31, respectively. Secondly, the proportion of gender in this research was male by 21 (42%) and 29 (58%) female. Further to this, Denpasar showed the maximum number of cases between all the nine regencies. Both DF and DHF cases recorded the highest total cases in April 2016.Conclusion: Expected clinical characteristics prior knowledge and prognosticators of DF and DHF development will be able to provide data to detect persons who are higher risk category and provide adequate time to clinicians to lessen dengue related morbidity and mortality
Status resistensi larva nyamuk Aedes aegypti terhadap temefos di Desa Peguyangan Kaja, Kota Denpasar tahun 2020 Ida Bagus Putra Adyatma; Putu Ayu Asri Damayanti; I Kadek Swastika
Intisari Sains Medis Vol. 12 No. 1 (2021): (Available online : 1 April 2021)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.424 KB) | DOI: 10.15562/ism.v12i1.944

Abstract

Introduction: Temephos 1% larvicide (Abate 1SG) has been used en mass and for a long time in an effort to control the Ae. aegypti mosquito population. Due to that usage, it might have induced a certain degree of resistance. The purpose of this study was to determine the resistance status, the temephos lethal concentration for the 50% (LC50) and 99% (LC99) of the A. aegypti larvae population from Peguyangan Kaja Village, Denpasar.Methods: This research is an experimental study to assess resistance status and determine the 24-hour LC50 and LC99 values with control and 4 treatment groups, namely the temephos concentration group 0.012 mg/l; 0.025 mg/l; 0.125 mg/l; and 0.625 mg/l. Resistance testing is carried out by biological testing according to WHO standard.Results: The results showed that the percentage of mortality of A. aegypti larvae on exposure to temephos with WHO diagnostic concentration (0.012 mg/l) was 54%. The results of the probit analysis showed that the LC50 24 hours ranged from 0.003-0.017 mg/l with an average of 0.011 mg/l, while the 24-hour LC99 ranged from 0.049-13.64 mg/l with an average of 0.112 mg/l.Conclusion: This research shows that A. aegypti larvae in Peguyangan Kaja Village, Denpasar have shown resistance against temephos larvicide.  Pendahuluan: Larvasida temefos 1% (Abate 1SG) telah digunakan secara massal dan dalam jangka waktu yang lama dalam upaya pengendalian populasi nyamuk A. aegypti.  Hal ini dapat memicu terjadinya resistensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status resistensi, nilai konsentrasi temefos yang efektif membunuh 50% (LC50) dan 99% (LC99) larva dari larvasida temefos terhadap populasi larva A. aegypti dari Desa Peguyangan Kaja, Kota Denpasar.Metode: Penelitian ini merupakan studi eksperimental untuk menilai status resistensi dan mengetahui nilai LC50 dan LC99 24 jam dengan kontrol dan 4 kelompok perlakuan yaitu kelompok konsentrasi temefos 0.012 mg/l; 0.025 mg/l; 0.125 mg/l; dan 0.625 mg/l. Uji resistensi dilakukan dengan uji hayati sesuai standar WHO.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan persentase kematian larva A. aegypti terhadap paparan temefos dengan konsentrasi diagnostik WHO (0,012 mg/l) sebesar 54%. Hasil analisis probit menunjukkan bahwa nilai LC50 24 jam berkisar antara 0,003-0,017 mg/l dengan rata-rata 0,011 mg/l, sedangkan LC99 24 jam berkisar antara 0,049-13,64 mg/l dengan rata-rata 0,112 mg/l.Simpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa larva A. aegypti di Desa Peguyangan Kaja, Kota Denpasar telah memiliki sifat resisten terhadap larvasida temefos.
Co-Authors Abdul Karim Abdulhadi FA Adiputra, I Komang Hotra Akira Ito Anak Agung Ayu Mirah Adi Aridani, Ni Putu Intan Ariwati, Luh Ariwati, Ni Luh Basilius Redan Werang Cokorda Agung Wahyu Purnamasidhi Damayanti, Putu Asri Daondy Friarsa Soeharto Dewa Ayu Agus Sri Laksmi Divya Nirmala, Putu Ayu Fitri N, Moh. Yasin Fuad Adi Rosyadi Hartanto, Erlin Veronica Hidajati, Sri I Gede Mahardika I Gusti Agung Ayu Chintya Cahyarini I Gusti Agung Dwi Putri Anjani I Gusti Kamasan Arijana I Ketut Tunas I Made Damriyasa I Made Dwinata I Made Putra I Made Sudarmaja I NYOMAN MANTIK ASTAWA I Putu Dodik Supartha Ida Ayu Dewi Wiryantini Ida Ayu Ide Larassanthi Pratiwi Ida Bagus Made Oka Ida Bagus Putra Adyatma Isyaputri, Rahmadany Ivy Cerelia Valerie Jevon Indra Susanto Jiriadana, Teenu Chandra Kadek Karang Agustina kumara, i made bagus bayu Kusumawardani, Dewa Ayu Novi L. Ariwati Latifa, Kurnia Dwi Luh Ariwati Luh Dewi Anggreni Maretta Rosabella Purnamasari Maretta Rosabella Purnamasari Maria Krishnandita Munehiro Okamoto N.L Ariwati N.L.P.E. Diarthini Ni Luh Ariwati Ni Luh Ariwati Ni Luh Komang Sumi Arcani Ni Luh Putu Eka Diarthini Ni Luh Putu Eka Diarthini, Ni Luh Putu Eka Ni Made Pasmiati Setyaningsih Ni Nyoman Agustianingsih Ni Putu Akopita Devi Ni Putu Ayu Elistya Ning Purwani Ni Putu Tamara Bidari Suweta Ni Wayan Sri Agustini Nyoman Sadra Dharmawan P.A.A. Damayanti Prascitadewi, Ni Kadek Pratisthita Sukadana, I Made Ananda Prajna Purantara, Anak Agung Gede Wiweka Winahya Putu Ari Paramitha Widiani Putu Ayu Asri Damayanti Putu Ayu Larasati Putu Bagus Onicha Baskaranatha Putu Sutisna Sari, Komang Ayu Kartika Shabrina Inderjit Stan ley Sukmawati Basuki Sulastri, Ni Luh Resa Toni Wandra Upik Mutiara Wulanyani Wulanyani