Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Jurnal Embrio

OPTIMALISASI INSEMINASI BUATAN SAPI POTONG MELALUI AKURASI KEBUNTINGAN DINI TERHADAP UJI PUNYAKOTI DAN PALPASI REKTAL ferry lismanto
Jurnal Embrio Vol 10 No 2 (2018): jurnal embrio
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tamansiswa Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.204 KB) | DOI: 10.31317/embrio.v10i2.353

Abstract

Penelitian ini bertujuan yaitu; 1. Untuk mengetahui akurasi kebuntingan dini sapi melalui uji metode punyakoti dan palpasi rektal, 2. Untuk menentukan dosis terbaik yang bisa terdeteksi dengan uji Punyakoti terhadap penggunaan biji tanaman. Materi penelitian yang digunakan adalah 30 ekor sapi lokal setelah IB, urine sapi, biji padi, biji jagung dan biji gandum. Sedangkan alat yang digunakan pada penelitian ini adalah semen sapi, straw, gun IB, glove, dan alkohol. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental dengan 3 tahap yaitu; 1). Uji Punyakoti, 2. Deteksi Kebuntingan Dini dengan Metode Punyakoti dan 3. Palpasi Rektal. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji proporsi (uji-t). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil deteksi kebuntingan menggunakan metode uji punyakoti dan palpasi rektal menunjukkan hasil tidak berbeda nyata. Hal ini disebabkan karena pada metode uji punyakoti tingkat kebuntingan terdeteksi berturut-turut 80% untuk biji jagung, 76,67% dan 73,33% untuk biji gandum. Jagung memperlihatkan tingkat kebuntingan yang tertinggi pada uji punyakoti karena dari 30 sampel terdapat 24 sampel yang dinyatakan bunting. Sedangkan hasil palpasi rektal terhadap 30 sampel sapi lokal yang sama pada tahap 2 memperlihatkan bahwa semua sapi ternyata bunting dengan artian tingkat kebuntingan sapi pada penelitian ini mencapai 100%. Dari hasil penelitian maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa deteksi kebuntingan dini pada sapi lokal dapat dilakukan dengan menggunakan metode punyakoti dengan tingkat kebuntingan mencapai 80%. Sementara itu dosis urine yang terbaik adalah 1:12 dan waktu deteksi kebuntingan terpendek adalah 60 hari setelah IB.
MORFOMETRI OVARIUM DAN FOLIKEL SAPI LOKAL SEBAGAI PENGHASIL OOSIT UNTUK FERTILISASI IN VITRO ferry lismanto
Jurnal Embrio Vol 13 No 2 (2021): Jurnal Embrio
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tamansiswa Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.551 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah: 1. mengetahui morfometri ovarium sapi lokal pada siklus estrus berbeda, dan 2. mengetahui jumlah folikel dalam menghasilkan oosit pada siklus estrus berbeda untuk fertilisasi in vitro. Materi penelitian yang digunakan adalah ovarium sapi yang telah dipotong sebanyak 40 buah diperoleh dari RPH (Rumah Pemotongan Hewan) Kota Padang, Sumbar. Sedangkan pelaksanaan penelitian adalah sebagai berikut: 1. pengambilan ovarium dari RPH, 2. identifikasi ovarium sapi pada status reproduksi berbeda, dan 3. identifikasi jumlah folikel dan koleksi oosit yang dihasilkan. Sedangkan status reproduksi sapi dibedakan atas ovarium yang memiliki CL (Corpus luteum) dan tanpa CL. Peubah/variabel penelitian ini yaitu: 1. ukuran ovarium sapi pada status reproduksi berbeda, 2. identifikasi jumlah folikel dan koleksi oosit yang dihasilkan pada berbagai ukuran dari status reproduksi sapi lokal berbeda. Perolehan hasil penelitian adalah ukuran ovarium sapi lokal yang memiliki CL dengan berat ovarium sebesar 9,10 ± 2,11 gram, panjang ovarium memiliki CL sebesar 3,12 ± 0,52 cm, lebar ovarium memiliki CL sebesar 2,25 ± 0,44 cm dan volume ovarium memiliki CL sebesar 9,55 ± 2,21 gram. Sedangkan berat ovarium tanpa CL sebesar 5,10 ± 2,00 gram, panjang ovarium tanpa CL sebesar 2,87 ± 0,65 cm, lebar ovarium tanpa CL sebesar 1,80 ± 0,52 cm dan volume tanpa CL sebesar 5,47 ± 2,07 cm. Sedangkan ovarium dengan status reproduksi yang berbeda menunjukkan bahwa jumlah folikel pada ovarium yang memiliki CL dengan ukuran 2-6 mm dan >6 mm cenderung lebih banyak dibandingkan ovarium tanpa CL yang masing-masingnya adalah 15,33 ±11,64 dan 2,22 ± 2,22. Sedangkan ovarium tanpa CL diperoleh hanya sebanyak 12,45 ±7,14 dan 2,00 ±1,77. Sedangkan jumlah folikel dari ovarium yang memiliki CL pada ukuran <2 mm lebih sedikit (4,72±3,93) dibandingkan dengan ovarium yang tidak memiliki CL (6,45 ±5,56). Kesimpulan dari penelitian bahwa status reproduksi sapi potong akan mempengaruhi ukuran ovarium dan jumlah folikel yang dihasilkan. ukuran ovarium sapi lokal yang memiliki CL lebih unggul dibandingkan dengan ovarium sapi tanpa CL baik dari dari ukuran berat, panjang, lebar dan volume. Ovarium sapi yang memiliki CL lebih berpotensi besar dibandingkan tanpa CL dalam menghasilkan oosit untuk fertilisasi in vitro.
PENERAPAN ASPEK TEKNIS USAHA SAPI POTONG DI KECAMATAN KINALI KABUPATEN PASAMAN BARAT ferry lismanto
Jurnal Embrio Vol 13 No 1 (2021): Jurnal Embrio
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tamansiswa Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.205 KB) | DOI: 10.31317/embrio.v13i1.696

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan aspek teknis usaha sapi potong di Kinali, Pasaman Barat. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survei/kuisioner. Jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 164 peternak. Adapun variabel yang diamati yaitu karakteristik peternak dan aspek teknik pemeliharaan sapi potong. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh yaitu: peternak di Kinali, Pasaman Barat memiliki usia produktif (96,95%). Sebagian besar tingkat pendidikan peternak berpendidikan SD (39,63%). Hal ini menandakan masih rendahnya pendidikan peternak di Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat. Jumlah kepemilikan ternak 1-5 ekor (87,80%), kepemilikan ternak 6-10 ekor (11,58%), dan kepemilikan ternak >10 ekor (0,60%). Pengalaman peternak tertinggi berada pada rentang waktu 6-10 tahun yaitu 68 orang (41,46%). Dimana sebagian besar pekerjaan utama dari responden adalah petani 49,39%. Selanjutnya perolehan aspek teknis bibit sebesar 59,40%, aspek pakan 57,67%, perkandangan 68,39% dan pengetahuan penyakit & kesehatan 43,15%. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa aspek teknis pemeliharaan sapi potong di Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat dikategorikan kurang dengan perolehan skor hanya 55,20%.
GAMBARAN DAN STRUKTUR POPULASI TERNAK KERBAU PADA PETERNAKAN RAKYAT DI SIJUNJUNG, SUMATERA BARAT ferry lismanto; Mangku Mundana; Fauzani Hurriya Revar
Jurnal Embrio Vol 12 No 2 (2020): Jurnal Embrio
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tamansiswa Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.307 KB) | DOI: 10.31317/embrio.v12i2.616

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dan struktur populasi ternak kerbau di daerah Sijunjung, Sumatera Barat. Penelitian ini dilaksanakan Kecamatan Sijunjung Kabupaten Sijunjung.Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survei. Sedangkan teknik pengampilan sampel adalah simple random sampling. Selanjutnya teknik penetapan sampel menggunakan snowball sampling. Responden yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 145 responden. Variabel yang diamati adalah karakteristik peternak, gambaran dan struktur populasi kerbau. Data dianalisis secara deskriptif.Perolehan hasil penelitian yaitu jumlah kerbau jantan pada umur 0-1 tahun ;>1-2,5 tahun; jantan dewasa ≥ 3,5 tahun yakni sebesar 73 ekor (6,2%); 123 ekor (10,4%) dan 116 ekor (9,9%). Namun jumlah kerbau betina berumur 0-1 tahun; >1-2,5 tahun; betina dewasa ≥ 3,5 tahun yakni sebesar 73 ekor (6,2%); 2015 ekor (17,5%) dan 585 ekor (49,7%). Sedangkan imbangan/rasio jantan dan betina sebesar 1:6. Sedangkan tingkat iput kerbau sebesar 179 ekor(15,1%), sedangkan output kerbau sebesar 166 wkor (14,1%). Dapat disimpulkan dari penelitian ini bahwa populasi kerbau terbanyak di daerah Sijunjung adalah kerbau betina sebanyak 73,4% dengan angka kelahiran sebesar 14,6% dan namun tingkat kematian lebih tinggi sebesar 15,1% yang terdapat pada gudel. Tingginya tingkat kematian gudel dibandingkan kelahiran menyebabkan rendahnya perkembangan populasi kerbau di daerah Sijunjung.
Co-Authors - Andasuryani - Evitayani Afrima Sari Agustin, Fauziah Ajuanda Puteri Alprian Alpred Siahaan Anthoni Agustien Aprisal Aprisal, Aprisal Ardi Ardi Armansyah Armansyah Aulia Suci Desila Benni Satria Chairul Chairul D. Novia Damayanti, Elok Desry Fitria Marliana Dewa Tirta Diva Efrizal Efrizal Efrizal Efrizal Evitayani Evitayani Fadhia Hayatu Ainni Fadhia Hayatu Ainni Fauzani Hurriya Revar Fauzia Agustin Fera Malta Ferian Rifaldy Ferido Ferido Fernando, Ari Hendri . Hendri Hendri Indra Dwipa Indra Junaidi Zakaria Intan Permata Sari Jaswandi . Khasrad Khasrad . Khasrad, Khasrad Lailatus Siva Lailatus Siva Liza Febriani Sukma Lubis, Amelia Sriwahyuni M. Teguh Dhiya Ulhaq Mahdiatul Hafizoh Mangku Mundana Mangku Mundana Masrizal Masrizal Miftah Mussaumi Adi Mundana, Mangku Nadia Saputri Neswati Neswati Nurmiati Nurmiati Pery Praja Prima Fauziah Haq R Saladin Raesi, Syahyana Rahma Devi Rahma Sarita Rahma Sarita Resti Hidayati Putri Rido Marwiansah Rido Marwiansah Risma Anindia Rusdimansyah Rusdimansyah Rusdimansyah Rusmana Ningrat Rusmana Rusmana Rusnam Rusnam S. Maulida Salsabila, Unik Hanifah Satria, Benny Solfiyeni Solfiyeni Sri Winda Harni Sumedi Sumedi Sumedi Sumedi Suwirmen, Suwirmen Suyitman Suyitman Syahyan Raesi Syahyan Raesi Tiara Febrianti Tiara Febrianti Trizelia . Uyung Gatot Syafrawi Dinata Wiranda Erza Pratama Yayuk Sri Utami Yayuk Sri Utami Yoga Seftiadi Yondra Hidayattullah Yulia Yellita Yundari, Yundari Yurniwati Yurniwati Zesfin BP ZK Abdurahman Baizal Zozy Aneloi Noli Zuhri Syam