Prediksi dini performa matematika siswa sekolah menengah sangat penting untuk merancang intervensi pendidikan yang lebih adaptif dan efektif sebelum ujian akhir resmi dilaksanakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja tiga model machine learning Random Forest (RF), Gradient Boosting Regressor (GBR), dan Multi-Layer Perceptron (MLP) dalam memprediksi nilai matematika siswa di Indonesia, serta mendokumentasikan proses tuning hyperparameter secara sistematis untuk setiap model. Dataset yang digunakan terdiri dari skor matematika, membaca, menulis, serta variabel demografis meliputi jenis kelamin, latar belakang pendidikan orang tua, jenis layanan makan, dan keikutsertaan kursus persiapan. Proses tuning hyperparameter untuk RF dan GBR dilakukan menggunakan RandomizedSearchCV dengan 5-fold cross-validation, menguji rentang nilai untuk jumlah estimator, kedalaman maksimum pohon, dan laju pembelajaran (learning rate). Sedangkan pada Multi-Layer Perceptron, GridSearchCV diterapkan dengan variasi arsitektur hidden_layer_sizes, laju pembelajaran awal (learning_rate_init), dan faktor regularisasi (alpha) pada 5-fold CV. Model diukur menggunakan Mean Absolute Error (MAE), Root Mean Squared Error (RMSE), dan koefisien determinasi (R²). Hasil eksperimen menunjukkan bahwa GBR memberikan performa terbaik dengan MAE sebesar 11,61 poin, RMSE 15,23 poin, dan R² 0,10. Random Forest menempati urutan kedua (MAE 12,34; RMSE 16,05; R² 0,64), diikuti MLP (MAE 13,10; RMSE 17,20; R² 0,60). Analisis feature importance mengungkap bahwa skor membaca dan menulis bersama-sama menyumbang lebih dari 60 % kontribusi prediksi, sedangkan faktor demografis seperti latar belakang pendidikan orang tua dan keikutsertaan kursus berperan sekunder namun tetap signifikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa model ensemble learning tidak hanya unggul dalam akurasi prediksi, tetapi juga memberikan wawasan mendalam tentang variabel kunci yang memengaruhi performa matematika siswa. Implementasi model ini memungkinkan guru dan pihak sekolah untuk mengidentifikasi siswa yang berisiko rendah secara lebih cepat, merancang program remedial atau pengayaan yang tepat sasaran, serta memanfaatkan sumber daya pendidikan secara lebih efisien. Untuk penelitian lanjutan, disarankan penambahan variabel perilaku siswa seperti durasi belajar mandiri dan kehadiran serta eksplorasi model sekuensial (RNN/Transformer) untuk menangkap dinamika pembelajaran dari waktu ke waktu.