Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

FAKTOR PENENTU KEPUTUSAN BERKUNJUNG WISATAWAN KE TAMAN NARMADA PULAU LOMBOK Nyoman Ari Sugiharta; Taslim Sjah; I Ketut Budastra
JURNAL AGRIMANSION Vol 26 No 3 (2025): Jurnal Agrimansion Desember 2025
Publisher : Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/agrimansion.v26i3.2023

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi keputusan berkunjung wisatawan ke Taman Narmada dan menganalisis klaster wisatawan yang terbentuk dari wisatawan yang memutuskan berkunjung. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kuantitatif. Jumlah responden pada penelitian ini berjumlah 103 wisatawan. Data diperoleh dengan cara menyebarkan kuesioner Google Form melalui WhatsApp. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis regresi logistik dan analisis klaster hirarki serta analisis klaster k-means. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor harga tiket, promosi, daya tarik dan fasilitas berpengaruh signifikan terhadap keputusan berkunjung wisatawan secara simultan. Sedangkan promosi memiliki pengaruh secara parsial terhadap keputusan berkunjung wisatawan. Selain itu, klaster yang terbentuk pada wisatawan yang memutuskan berkunjung adalah sebanyak 2 klaster. Klaster pertama dengan jumlah anggota sebanyak 76 responden dengan kriteria pendapatan atau uang saku bulanan berada dikisaran Rp. 1.000.000 – Rp. 2.000.000 dan umur rata-rata berada di 21 tahun. Sedangkan pada klaster kedua dengan jumlah anggota sebanyak 8 responden didominasi oleh responden dengan pendapatan di atas Rp. 5.000.000 dan umur rata-rata berada di 40 tahun.
ANALISIS PERMINTAAN PRODUK KOPI ROBUSTA PADA COFFEE SHOP DI KOTA MATARAM Raehan Raehan; Taslim Sjah; M Yusuf
JURNAL AGRIMANSION Vol 26 No 3 (2025): Jurnal Agrimansion Desember 2025
Publisher : Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/agrimansion.v26i3.2025

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis macam-macam produk olahan kopi robusta yang dijual di coffee shop Kota Mataram serta menganalisis tingkat permintaan terhadap produk-produk tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, dengan unit analisis berupa produk olahan kopi robusta pada tiga coffee shop yang dipilih secara purposive, yaitu KotaTua Kopi, Kupi Beans & Roastery, dan Tuwa Kawa Coffee. Pemilihan sampel didasarkan pada kriteria memiliki lebih dari satu produk berbahan dasar kopi robusta dan melakukan proses pengolahan sendiri. Jenis data yang digunakan terdiri atas data kualitatif dan kuantitatif, dengan sumber data primer dan sekunder. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara kepada pemilik atau pengelola coffee shop. Analisis data menggunakan metode deskriptif untuk menggambarkan ragam produk dan tingkat permintaan harian maupun bulanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat tujuh jenis produk olahan kopi robusta yang dipasarkan dengan total 20 variasi produk pada tiga coffee shop, yaitu kopi tubruk, Americano, Vietnam Drip, V60, roast bean, kopi botol, dan espresso; (2) tingkat permintaan harian tertinggi terdapat pada Americano dan Espresso, sedangkan permintaan terendah pada roast bean dan produk metode manual brew yaitu Vietnam dripp dan V60. Penelitian ini memberikan gambaran mengenai pola permintaan produk kopi robusta di coffee shop dan dapat menjadi acuan dalam pengembangan strategi produk, penetapan harga, serta penyesuaian konsep usaha.
Peran Smart Farming di Indonesia Putri Yunita Wahyuti; Taslim Sjah; Ketut Budastra
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.4454

Abstract

Smart farming merupakan inovasi pertanian modern yang mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), big data, sensor, dan sistem otomatisasi untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, serta keberlanjutan sistem pertanian. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran smart farming dalam meningkatkan efisiensi budidaya pertanian di Indonesia serta mengidentifikasi faktor pendukung dan hambatan penerapannya. Metode penelitian menggunakan kajian pustaka (library research) melalui penelusuran sumber ilmiah nasional dan internasional yang dianalisis dengan pendekatan analisis isi (content analysis). Hasil kajian menunjukkan bahwa smart farming dapat diterapkan pada tahap penanaman, pemeliharaan, pemupukan, irigasi, pengendalian hama, dan pemanenan melalui pemantauan kondisi lahan secara real time dan pengambilan keputusan berbasis data. Penerapannya mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air hingga 30%, mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida sebesar 25%, serta meningkatkan produktivitas hasil panen rata-rata 20–25%. Teknologi ini juga mendukung pengelolaan lahan kering dan greenhouse, memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan literasi digital petani, serta mendorong pertanian berkelanjutan. Keberhasilan implementasi dipengaruhi oleh kesiapan teknologi, dukungan kebijakan, infrastruktur digital, pembiayaan, dan kapasitas sumber daya manusia. Hambatan utama meliputi keterbatasan modal, konektivitas yang belum merata, dan rendahnya literasi digital sebagian petani. Oleh karena itu, kolaborasi pemerintah, akademisi, sektor swasta, kelompok tani, dan koperasi diperlukan untuk memperluas penerapan smart farming secara inklusif, efisien, dan berkelanjutan di Indonesia.
Effectiveness of Rehabilitation of Kelep River Watershed in West Lombok Regency Welmy Soumena; Taslim Sjah; I Ketut Budastra
Jurnal Biologi Tropis Vol. 26 No. 1 (2026): Januari-Maret
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v26i1.10994

Abstract

This study aims to evaluate the effectiveness of Kelep River Watershed (DAS) rehabilitation based on biophysical indicators, including changes in vegetation cover, growth success rate, and erosion dynamics. The research approach used a mixed methods with a Before After Control Impact (BACI) design. Quantitative data were analyzed using NDVI values, the USLE erosion model, and the R/C ratio, while qualitative data were obtained through interviews and focus group discussions (FGDs). The results showed an increase in vegetation cover, indicated by an increase in NDVI values of 0.12–0.25, which contributed to a 57% reduction in erosion rates in the upstream area. Increased soil organic matter content increased infiltration and supported agroforestry productivity. Economically, the R/C ratio reached 1.67, indicating the financial viability of post-rehabilitation agriculture. Watershed rehabilitation needs to be strengthened through soil and water conservation in erosion-prone zones, regular NDVI-based monitoring, the development of multi-strata agroforestry conservation agribusiness with economic incentives, and strengthening the role of local institutions through technical support, access to capital, and monitoring of IPPKH compliance.
Assessing Indonesia’s Social Forestry Achievements within the Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) Framework Bangkit Maulana; Taslim Sjah; Ketut Budastra
Jurnal Biologi Tropis Vol. 26 No. 1 (2026): Januari-Maret
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v26i1.11060

Abstract

Global climate change demands concrete commitment from every country to reduce greenhouse gas emissions. Indonesia established Enhanced Nationally Determined Contribution with emission reduction targets of 31.89% unconditionally and 43.20% conditionally by 2030, with Forest and Other Land Use sector as key to achieving Net Sink 2030. Social Forestry program plays strategic role but faces complex challenges related to community capacity, institutional coordination, and regulatory alignment. This study analyzes position and contribution of Social Forestry toward Enhanced Nationally Determined Contribution achievement using Systematic Literature Review of 25 publications from 2020-2025. Secondary data from policy documents and official reports were analyzed using DPSIR Framework approach. Results show Social Forestry program until 2024 covers 8.02 million hectares of 12.7 million hectares target with carbon stock reaching 110.5 million tons CO2eq and potential contribution of 34.6% toward forestry sector emission reduction target. Program successfully reduced deforestation rate to lowest level in 20 years at 115,459 hectares in 2019-2020. Main challenges include limited community capacity, excessive administrative burden, weak coordination, and regulatory misalignment. Optimization requires capacity strengthening, procedure simplification, effective coordination, regulatory synchronization, and integration with carbon economic value schemes to achieve Forest and Other Land Use Net Sink 2030.
Contribution of Social Forestry to Carbon Stock Reserves through Land Cover Change Analysis in the Forest Management Unit Area I NTB Bangkit Maulana; Taslim Sjah; Hayati Hayati
Jurnal Biologi Tropis Vol. 26 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v26i3.12619

Abstract

Social forestry is one of the policy instruments expected to maintain forest carbon stock while supporting the achievement of Indonesia's climate change mitigation targets. This study aims to analyse the dynamics of carbon stock in social forestry areas within the Forest Management Unit (KPH) Region I of West Nusa Tenggara and to evaluate the difference in carbon stock before and after permit issuance. A before-after approach was applied to 45 Forest Farmer Groups, using the year of decree issuance as the reference point over a span of five years before to five years after issuance. Carbon stock was estimated by multiplying the area of each land cover class by its carbon factor, and the difference between periods was tested using the Wilcoxon Signed Rank Test. The results show that the total carbon stock of the area declined from 1,594,074 tons C to 1,038,944 tons C, a reduction of 555,130 tons C equivalent to 2,035,475 tons of CO2-equivalent. As many as 37 of the 45 groups experienced a decline, and the statistical test confirmed a significant difference between conditions before and after permit issuance (p < 0.001). This decline was primarily caused by the conversion of forested land cover into agricultural land with lower carbon factors. These findings indicate that the issuance of social forestry permits in the study area has not succeeded in maintaining carbon stock, thus requiring strengthened post-permit governance and supervision so that social forestry can contribute positively to the Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 target.