Alvin J. Tinangon
Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi, Manado

Published : 39 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

PLAZA BACAAN DI MANADO (ATMOSPHERES: PARAMETER DESAIN PETER ZUMTHOR DALAM ARSITEKTUR) Langi, Jean S. P.; Tinangon, Alvin J.; Malik, Andy A.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 4, No 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Membaca merupakan kegiatan yang sangat penting karena mempengaruhi kualitas hidup setiap manusia. Semakin banyak seseorang membaca, semakin banyak pula pengetahuan dan informasi yang dapat diserap. Hal ini berkaitan juga dengan pola pikir dan kecerdasan masing-masing manusia. Di tengah lajunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta semakin maraknya fasilitas-fasilitas hiburan dan rekreasi membawa dampak pada mulai berkurangnya waktu dan minat untuk membaca bagi sebagian orang. Fasilitas hiburan (mall, pusat belanja, wahana bermain) lebih banyak ditemukan dibandingkan fasilitas yang mewadahi kegiatan membaca atau edukasi (perpustakaan, graha baca, dan sebagainya). Seiring dengan perkembangan dan fenomena tersebut, diperlukan suatu wadah yang dapat menampung dan memfasilitasi kegiatan membaca (edukasi) tanpa melupakan unsur rekreasi bagi masyarakat. Untuk itu perlu direncanakan pembangunan Plaza Bacaan di Manado. Plaza Bacaan di Manado mempunyai tujuan untuk memfasilitasi pelayanan umum dalam hal ini menggabungkan dua fungsi yaitu fungsi edukasi dan rekreasi di kota Manado. Objek rancangan ini merupakan bentuk implemetasi dari beberapa faktor-faktor dalam studi kasus yang coba di angkat oleh perancang, yang dihadirkan dengan tema Atmospheres: Parameter Desain Peter Zumthor dalam Arsitektur. Perancangan proyek tugas akhir ini meliputi perancangan pola dan kondisi tapak serta bentukan massa bangunan. Proses desain akan mengikuti pendekatan tema perancangan dimana sifat serta bentukan yang edukatif, rekreatif dan dinamis akan diaplikasikan pada perancangan ini baik dari pola ruang luar maupun bentuk massa bangunan. Kata Kunci : Plaza, Bacaan, Atmospheres
BOARDING SCHOOL DI MANADO ‘ARCHITECTURE FOR CHILDREN’ Ogelang, Oktaviani R.; Sondakh, Julianus A. R.; Tinangon, Alvin J.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 5, No 1 (2016): Volume 5 No.1 Mei 2016
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu permasalahan kota adalah kemiskinan. Berdasarkan data yang diperoleh, angka kemiskinan anak di Indonesia lebih besar dari kemiskinan orang dewasa. Manado dalam perkembangannya juga tidak lepas dari permasalahan kota tersebut. Hal ini terlihat pada angka anak putus sekolah yang tergolong tinggi di manado. Pendidikan sangat penting dalam mengembangkan kemampuan dan watak serta peradaban bangsa. Pemahaman akan pentingnya pendidikan sebaiknya sudah dimulai dari anak usia dini. Untuk itu diperlukan kesadaran akan layanan pendidikan yang baik dan bermutu. Oleh karenanya, sebaiknya ada satu wadah yang dapat menampung anak-anak yang kurang mampu yang mana di dalamnya tidak hanya ada kegiatan belajar-mengajar tetapi sekaligus membantu pembentukan karakter, pertumbuhan dan kesehatan anak, juga secara tidak langsung dapat menanamkan kesadaran akan pentingnya pendidikan sejak usia dini. Dengan memakai model pelayanan pendidikan pesantren yaitu model pembelajaran, dimana anak-anak tinggal dalam sebuah asrama yang menyatu dengan proses pendidikan atau biasa juga disebut boarding school, kiranya dapat membantu mengawasi, mengontrol pertumbuhan karakter, kesehatan anak, dan sekaligus membantu meringankan beban hidup keluarga. Architecture for children merupakan cara pandang arsitektur dalam mendesain lingkungan bagi anak-anak. Penerapan Architecture for Children pada objek perancangan boarding school diharapkan dapat menjawab kebutuhan ruang untuk anak-anak yang akan menjadi pengguna objek tersebut. Bagaimana arsitektur dapat menjawab kebutuhan anak-anak akan kebebasan atau fleksibilitas yang ada pada alam, baik secara geometri maupun persepsi. Kata kunci: Kemiskinan, Pendidikan, Boarding School, Architecture for Children.
LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS IIA DIMANADO “NEWFACE” OF CORRECTIONAL INSTITUTION ‘PENERAPAN SUPERIMPOSISI OLEH BERNARD TSCHUMI’ Tambengie, Rendy G.; Tinangon, Alvin J.; Prijadi, Rachmat
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 4, No 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila membuka pemikiran- pemikiran baru mengenai fungsi pemidanaan yang tidak lagi sekedar penjeraan tetapi juga merupakan suatu usaha rehabilitasi dan reintegrasi sosial Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Beberapa fenomena yang menjadi kendala bagi sistem pembinaan dan pembimbingan di lembaga pemasyarakatan sampai saat ini belum mendapat titik penyelesaian, sehingga penilaian masyarakat terhadap lembaga pemasyarakatan tidak ada bedanya dengan penjara membuat mantan narapidana sulit diterima oleh masyarakat. Pendekatan perancangan yang dilakukan meliputi 3 aspek utama. Pendekatan Tipologi Objek : membahas pengertian, pemahaman, prospek, fisibilitas, dan program dasar fungsional Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA. Pendekatan Tapak dan Lingkungan : Membahas kriteria pemilihan lokasi dan tapak di kota manado. Pendekatan Tematik : Membahas tema perancangan yang tepat sebagai solusi dari permasahalan yang ada. Proses perancangan dalam  memecahkan permasalahan yang ada, mengarah pada model proses desain generasi II yang dikembangkan oleh John Zeizel, meliputi Fase I (Tahap Pengembangan Pengetahuan Komprehensif) dan Fase II (Siklus Image-Present-Test). Tema yang diambil adalah “Penerapan Superimposisi Oleh Bernard Tschumi”, yang dalam penerapannya menggabungkan dan menumpuk sistem layer titik, garis, dan bidang yang masing-masing independen atau berdiri sendiri (autonomous). Sehingga dari hasil rancangan dapat memecahkan masalah desain yang ada pada Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA, yaitu pola penataan ruang, program ruang, konfigurasi alur gerak, dan estetika bangunan. Hasil perancangan memberikan persepsi dan “wajah baru” pada lembaga pemasyarakatan sebagai lembaga yang memiliki peran  dalam merealisasikan tujuan akhir dari sistem peradilan pidana, yaitu rehabilitas dan resosialisasi pelanggar hukum, dan penanggulangan kejahatan (suppression of crime).   Kata kunci : Lembaga Pemasyarakatan, Superimposisi.
ANALISIS TINGKAT KEKUMUHAN KAWASAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN KUMUH DI ENAM KAWASAN PESISIR KECAMATAN MANOKWARI BARAT Indriani, Reggi; Tilaar, Sonny; Tinangon, Alvin J.
SPASIAL Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Manokwari merupakan Ibukota Provinsi Papua Barat yang merupakan Kota yang sedang berkembang. Kabupaten Manokwari sebagai pusat pemerintahan Provinsi dan Kabupaten dengan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dan migrasi semakin meningkat mengakibatkan masyarakat membangun tempat tinggal yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah dan tidak sesuai dengan standar sehingga menyebabkan permasalahan tumbuhnya permukiman kumuh. Berdasarkan SK Bupati Kabupaten Manokwari Nomor 96 Tahun 2015 Tentang Penetapan Lokasi Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh di Kabupaten Manokwari. Terdapat 15 lokasi yang telah teridentifikasi kumuh dan pada daerah pesisir terdapat 6 kawasan pesisir yang diteliti yakni kawasan Pasar sanggeng, kawasan Arkuki, kawasan Fanindi pante, kawasan Borobudur, kawasan Anggrem dan kawasan Rodi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tingkat kekumuhan permukiman kumuh yang ada di 6 kawasan pesisir perkotaan Manokwari dengan menggunakan 7 aspek fisik kekumuhan yaitu kondisi bangunan gedung, kondisi jalan lingkungan, kondisi penyediaan air minum, kondisi drainase lingkungan, kondisi pengelolaan limbah, kondisi pengelolaan persampahan dan kondisi proteksi kebakaran berdasarkan Peraturan Menteri PUPR NOMOR 2/PRT/M/2016. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode analisis deskriptif dan metode analisis kuantitatif dengan menggunakan skoring atau pembobotan. Hasil dari penelitian setelah dilakukan analisis berdasarkan 7 aspek fisik didapatkan bahwa kondisi kekumuhan terdapat 5 kawasan yang termasuk kumuh ringan dan 1 kawasan termasuk kumuh sedang. Kriteria kumuh ringan yaitu pada Kawasan Pasar Sanggeng, Kawasan Arkuki, Kawasan Fanindi Pante, Kawasan Anggrem dan Kawasan Rodi. Kriteria kumuh sedang yaitu pada Kawasan Borobudur dengan bobot tertinggi yaitu pada kondisi proteksi kebakaran kondisi pengelolaan persampahan.Kata Kunci: tingkat kekumuhan, perumahan permukiman, pesisir
PLAZA FOTOGRAFI DI MANADO. Architecture Montage. Andreani, Juneth; Tinangon, Alvin J.; Moniaga, Ingerid L. E.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 6, No 1 (2017): Volume 6 No.1 Mei 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fotografi merupakan bagian hidup dari manusia sekarang ini. Fotografi hadir dalam setiap aspek kehidupan kita, untuk merekam kenangan atau  menginformasikan suatu peristiwa publik. Manado sebagai salah satu kota yang juga tidak terlepas dari fenomena fotografi. Pesatnya perkembangan dunia fotografi terutama saat beralihnya era analog ke era digital sedikit banyak memudahkan masyrakat luas untuk dapat menyentuh dunia tersebut, yang sebelumnya hanya bisa dilakoni oleh kalangan terbatas. Terlebih dengan adanya inovasi telepon genggam, yang dewasa ini juga memasukan aspek fotografi didalamnya, sehingga membuat dunia fotografi makin menjadi bagian dari kehidupan kita. Hal ini lah yang mendorong banyaknya para fotografer amatir di Manado membentuk suatu komunitas atau perkumpulan, dimana mereka dapat saling bertukar ilmu fotografi satu dengan  lainnya, dan mengembangkan  ilmu fotografi di Manado. Sehingga lewat perkembangan komunitas inilah,timbul berbagai macam aktifitas dan kegiatan fotografer yang membutuhkan  ruang untuk  mensosialisasikan gagasan dan karya kreatif dari para fotografer.Kegiatan perancangan ini menggunakan Tema Architecture Montage yaitu sebuah strategi desain yang menerapkan beberapa aspek dalam teknik fotografi montage: sifat dan prinsip yang diaplikasikan kedalam bentuk, ruang, tampilan maupun ide-ide arsitektural lainnya.Perancangan Plaza Fotografi dengan mengusung tema diatas menghasilkan desain yang unik dimana bentukan massa bangunan dibuat dari hasil merakit kembali bentukan lama dari sebuah plaza menjadi bentuk yang baru. Sirkulasi ruang dalam memberikan kesan dinamis yang bersifat interaktif, hal ini diperoleh dari sifat daripada montage yaitu dinamis, kontras dan interaktif. Dari segi tampilan bangunan, konsep selubung bangunan menggunakan konsep hasil merakit ulang bentukan baru yang dilakukan mengikuti sifat dan prinsip dari montage itu sendiri. Diharapkan dengan penggunaan strategi desain diatas, Plaza Fotografi ini akan memiliki tampilan yang unik dan membawa sejumlah terobosan baru dalam dunia arsitektur. Kata Kunci : Fotografi, Plaza, Manado, Architecture, Montage 
BARUGA DI KAWASAN FESTIVAL DANAU POSO ARSITEKTUR NUSANTARA Caesaria, Maretifanny; Tinangon, Alvin J.; Mastutie, Faizah
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 4, No 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan Festival Danau Poso (FDP) adalah salah satu tujuan wisata yang berlokasi di Tentena, Kabupaten Poso Provinsi Sulawesi Tengah dan merupakan fasilitas yang dikelola pemerintah untuk  event tahunan Festival Danau Poso. Kawasan FDP memiliki potensi keindahan alam yang patut dipertahankan namun, hal ini tidak bersinergi dengan keadaan kawasan FDP yang kualitas bangunan  dan ruang terbuka hijaunya (RTH) sudah mengalami penurunan fungsi, karena hanya dirawat dan digunakan pada event berlangsung. Upaya untuk mempertahankan dan meningkatkan nilai dari Kawasan FDP ini, adalah dengan menghadirkan sebuah objek rancangan ‘Baruga’ dengan penerapan tema Arsitektur Nusantara, yang dapat menjadi karya arsitektur yang optimal. Metode Perancangan yang digunakan meliputi pendekatan tematik, tipologi objek, kajian tapak serta lingkungan dan desain eksperimental. Sedangkan proses perancangan menggunakan proses desain generasi II karena cenderung tidak membatasi permasalahan. Dalam proses perancangan dilakukan program ruang berdasarkan tipologi objek Baruga, kajian lokasi dan tapak berdasakan lokasi kawasan FDP serta analisis tema arsitektur nusantara meliputi; bentuk gubahan massa, material struktur dan utilitas. Penerapan konsep umum perancangan juga berdasarkan analisis-analisis, juga optimalisasi meliputi implementasi tema, konsep perancangan tapak dan ruang luar, konsep vegetasi, konsep gubahan bentuk, selubung, struktur bangunan dan konsep utilitas. Substansi utama perancangan Baruga di Kawasan Festival Danau Poso yaitu  lokasi rancangan yang tetap berada di kawasan FDP, Baruga sebagai transformasi fungsi baruga sebelumnya yang dikinikan, tema yang digunakan adalah Arsitektur Nusantara, fungsi utama objek rancangan adalah komersial dan edukasi yang dilengkapi dengan fasilitas umum dan pendukung, penggunaan material yang didasarkan pada tema serta struktur dan utilitas. Kata kunci: Baruga, Kawasan Festival Danau Poso, Arsitektur Nusantara
RE-DESAIN TERMINAL PENUMPANG BANDAR UDARA DEO KOTA SORONG KONSEP TRANSFORMASI SUPREMATISM OF MALEVICH Kareth, Yusuf D.; Tinangon, Alvin J.; Sembel, Amanda S.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 5, No 1 (2016): Volume 5 No.1 Mei 2016
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Salah satu faktor untuk memperlancar proses pembangunan suatu daerah adalah baik atau buruknya sarana transportasi, termasuk transportasi udara. Transportasi udara sebagai fasilitas pendukung dalam pembangunan di seluruh Indonesia. Papua dengan topografi yang didominasi oleh pegunungan dan lembah serta jarak antar pulau yang saling berjauhan, sehingga transportasi udara adalah moda yang berperan penting dalam menunjang mobilitas masyarakat. Adalah Bandar Udara Domine Eduard Osok atau yang lebih dikenal dengan Bandara DEO terletak persis di pusat kota Sorong menjadikan Bandar Udara DEO sebagai pusat penyebaran di Provinsi Papua Barat sekaligus sebagai pintu masuk bagi daerah-daearah disekitarnya selain Provinsi Papua Barat dan Kota Sorong itu sendiri. Upaya memaksimalkan pelayanan jasa penerbangan bagi masyarakat Papua ataupun masyarakat Indonesia pada umumnya, maka tercipta ide serta gagasan untuk pembenahan fasilitas dalam kawasan Bandar Udara khususnya terminal penumpang. Re-desain Bandar Udara DEO sebagai jalan keluar pemecahan masalah dalam upaya peningkatan kualitas serta kuantitas pelayanan bandara DEO. Konsep Transformasi Suprematism of Malevich sebagai saluran kreatifitas, dan merupakan strategi dalam merencanakan serta mendesain kembali fasilitas terminal penumpang Bandar Udara DEO sesuai kebutuhannya. Kata kunci: bandar udara DEO, Suprematism of Malevich, transformasi.
GALERI KAIN BENTENAN DI MANADO (ARCHITEXTILES) Soegiarto, Eko; Tinangon, Alvin J.; Takumansang, Esli D.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 4, No 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kain Bentenan merupakan kain khas suku Minahasa yang pernah ditenun sejak abad ke 18. Seiring berjalannya waktu, keberadaan kain Tenun Bentenan mulai langka. Hingga awal abad ke 20, di daerah asalnya Kain Bentenan sudah hampir tidak bisa ditemukan lagi. Berangkat dari keprihatinan inilah, Galeri Kain Bentenan di Manado dihadirkan sebagai wadah untuk melestarikan kembali keberadaan Kain Bentenan sebagai kain khas Sulawesi Utara khususnya suku Minahasa. Upaya pelestarian dilakukan dengan menghadirkan Galeri yang bersifat informatif, dimana fungsi dari galeri ini bukan hanya sekedar ruang pamer melainkan adanya proses pembuatan Kain Bentenan berupa workshop dan berbagai fasilitas penunjang lainnya. Kegiatan perancangan ini menggunakan Tema Architextiles yaitu sebuah strategi desain yang menerapkan beberapa aspek tekstil dalam arsitektur antara lain : bagian, sifat, tekstur, dan material, yang diaplikasikan kedalam bentuk, ruang, tampilan maupun ide-ide arsitektural lainnya. Perancangan Galeri Kain Bentenan dengan mengusung tema diatas menghasilkan desain yang unik dimana bentukan massa bangunan dibuat saling mengikat berdasarkan perwujudan dari proses tenun Kain Bentenan yang ditenun dengan teknik double ikat. Sirkulasi ruang dalam memberikan kesan dinamis yang bersifat interaktif, hal ini diperoleh dari sifat daripada benang yang memiliki makna filosofis sebagai sebuah ruang yang mengalir.Dari segi tampilan bangunan, konsep selubung bangunan menggunakan konsep rajutan benang yang dirajut secara zigzag secara berulang-ulang dengan mempertimbangkan keseimbangan antara dinding dan kaca. Diharapkan dengan penggunaan strategi desain diatas, Galeri Kain Bentenan ini akan memiliki tampilan yang unik dan membawa sejumlah terobosan baru dalam dunia arsitektur. Kata Kunci : Kain Bentenan, Galeri, Manado, Architextiles
GELANDANGAN SHELTER DI MALANG GAGASAN “ORDER AND DISORDER” DALAM ARSITEKTUR Tamboto, Helsi M.; Rengkung, Michael M.; Tinangon, Alvin J.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 4, No 2 (2015): Volume 4 No.2 November 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena gelandangan merupakan salah satu permasalahan serius yang ada di Kota Malang. Mereka bergelandangan serta mengemis-ngemis terhadap warga. Kehadiran mereka dapat dengan mudah ditemui di beberapa titik di kota Malang, terutama di pusat-pusat keramaian. Upaya pembinaan terhadap gelandangan atau gelandangan dan pengemis (gepeng) di kotaMalang sering terkendala oleh karena ketiadaan tempat penampungan yang cukup layak. Setiap dilakukan pembinaan, pada akhirnya mereka akan kembali berkeliaran di jalan. Hal ini disebabkan belum adanya shelter atau tempat penampungan di kota Malang yang mampu menampung mereka dengan ketersediaan fasilitas untuk gelandangan dalam jumlah yang besar sehingga upaya pembinaan tidak maksimal. Gelandangan merupakan fenomena sosial yang tidak bisa dihindari dan tak akan habisnya dalam suatu kota besar maupun kota yang berkembang. Oleh karena itu, “Gelandangan Shelter” merupakan sarana yang cocok untuk mengatasi fenomena gelandangan tersebut.Objek ini memiliki maksud yaitu untuk menghadirkan suatu shelter yang semenarik dan senyaman mungkin serta layak untuk ditempati agar para gelandangan di Kota Malang tertarik untuk tinggal dan dibina di tempat ini dan tidak berkeinginan lagi untuk kembali ke jalanan selama dalam masa pembinaan. Untuk lebih memperkuat rancangan objek ini maka digunakanlah tema Gagasan “Order and Disorder”dalam Arsitektur sebagai wujud pentrasformasian tujuan dari objek rancangan ini, yaitu memasukkan unsur keteraturan atau order ke dalam diri para gelandangan yang biasanya menggelandang dan hidupnya tidak teratur atau disorder. Dengan adanya objek ini, diharapkan potensi menjamurnya gelandangan dapat teratasi, sehingga dapat juga menopang naiknya tingkat kesejahteraan masyarakat di Kota Malang. Kata Kunci: Gelandangan, Shelter, Order, Disorder. Fenomena gelandangan merupakan salah satu permasalahan serius yang ada di Kota Malang. Mereka bergelandangan serta mengemis-ngemis terhadap warga. Kehadiran mereka dapat dengan mudah ditemui di beberapa titik di kota Malang, terutama di pusat-pusat keramaian. Upaya pembinaan terhadap gelandangan atau gelandangan dan pengemis (gepeng) di kotaMalang sering terkendala oleh karena ketiadaan tempat penampungan yang cukup layak. Setiap dilakukan pembinaan, pada akhirnya mereka akan kembali berkeliaran di jalan. Hal ini disebabkan belum adanya shelter atau tempat penampungan di kota Malang yang mampu menampung mereka dengan ketersediaan fasilitas untuk gelandangan dalam jumlah yang besar sehingga upaya pembinaan tidak maksimal. Gelandangan merupakan fenomena sosial yang tidak bisa dihindari dan tak akan habisnya dalam suatu kota besar maupun kota yang berkembang. Oleh karena itu, “Gelandangan Shelter” merupakan sarana yang cocok untuk mengatasi fenomena gelandangan tersebut.Objek ini memiliki maksud yaitu untuk menghadirkan suatu shelter yang semenarik dan senyaman mungkin serta layak untuk ditempati agar para gelandangan di Kota Malang tertarik untuk tinggal dan dibina di tempat ini dan tidak berkeinginan lagi untuk kembali ke jalanan selama dalam masa pembinaan. Untuk lebih memperkuat rancangan objek ini maka digunakanlah tema Gagasan “Order and Disorder”dalam Arsitektur sebagai wujud pentrasformasian tujuan dari objek rancangan ini, yaitu memasukkan unsur keteraturan atau order ke dalam diri para gelandangan yang biasanya menggelandang dan hidupnya tidak teratur atau disorder. Dengan adanya objek ini, diharapkan potensi menjamurnya gelandangan dapat teratasi, sehingga dapat juga menopang naiknya tingkat kesejahteraan masyarakat di Kota Malang. Kata Kunci: Gelandangan, Shelter, Order, Disorder.
STASIUN KERETA API TRANS SULAWSIDI BITUNG MUTASI GENETIKA DAN EMBRIOGENESIS DALAM ARSITEKTUR Lainus, Nandar L.; Erdiono, Deddy; Tinangon, Alvin J.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 4, No 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkeretaapian sebagai salah satu moda transportasi angkutan darat, merupakan salah satu element dalam perkembangan transportasi massal di Indonesia. Seiring dengan perkembangan tersebut, proses modernisasi dan pengembangan sarana prasarana harus terus ditingkatkan baik dari segi kualitas pelayanan maupun kuantitas bangunan stasiun. Untuk itu perlu direncanakan pembangunan sebuah Stasiun Kereta Api yang ada di Sulawesi Utara. Stasiun Kereta Api Trans Sulawesi di Bitung mempunyai tujuan untuk memfasilitasi pelayanan umum dalam hal transportasi dan juga mewadahi perpindahan moda transportasi di Sulawesi Utara. Objek rancangan ini merupakan hasil dari penelitian tentang metode dari beberapa faktor-faktor dalam studi kasus yang coba ditelusuri oleh perancang, yang kemudian di hadirkan dengan tema Mutasi Genetika dan Embriogenesis dalam Arsitektur.Perancangan proyek tugas akhir ini meliputi perancangan pola dan kondisi tapak serta bentukan massa bangunan. Pembangunan Stasiun Kereta Api Trans-Sulawesi merupakan mega proyek pemerintah yang telah resmi akan dibangunan di pulau Sulawesi. Peran dari pemerintah sangat membantu dalam proses perancangan karena dalam proses perancangan ini, perancang sangat membutuhkan data-data yang akurat untuk menunjang perancangan proyek tugas akhir ini. Tema Mutasi Genetika dan Embriogenesis dalam Arsitekturakanmenyebabkan terjadinya sebuah perkawinan antara dua fungsi, yang kemudian dimasukan dalam Indikator rekayasa ruang. Pada tahap berikutnya hasil perkawinan fungsi tersebut dimasukan di dalam sebuah proses embriogenesis, proses ini memungkinkan terjadinya sebuah pertumbuhan dan perkembangan fungsi secara“alami” dan bertahap yang disebut dengan proses Embriogenesis dalam Arsitektur.   Kata kunci : Stasiun Kereta Api, Mutasi Genetika, Embriogenesis.