Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak kepadatan tanam terhadap tingkat keparahan penyakit bercak daun yang disebabkan oleh Colletotrichum gloeosporioides pada benih bawang merah asli yang ditanam di daerah dataran rendah. “Penelitian ini dilakukan dari tanggal 30 Juli hingga 9 Oktober 2025, di Kebun Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura di Klipan, Desa Tohudan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, yang terletak pada ketinggian kurang dari 200 meter di atas permukaan laut, dengan karakteristik tanah regosol. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (Randomized Complete Block Design/RCBD) dengan faktor tunggal: populasi tanaman bawang merah. Percobaan ini terdiri dari lima perlakuan: P1 (20 tanaman/petak), P2 (25 tanaman/petak), P3 (40 tanaman/petak), P4 (50 tanaman/petak), dan P5 (100 tanaman/petak), masing-masing diulang enam kali. Kriteria yang diukur meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah umbi, berat segar umbi, berat kering umbi, morfologi Colletotrichum gloeosporioides, dan tingkat keparahan penyakit. Temuan menunjukkan bahwa (1) populasi tanaman bawang merah berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan, khususnya dalam hal tinggi tanaman dan jumlah daun pada 56 hari setelah tanam (DAP). Populasi tanaman memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap hasil umbi per petak, sebagaimana dibuktikan oleh berat segar dan berat kering umbi. Kepadatan populasi maksimum (100 tanaman/petak) menghasilkan berat umbi tertinggi. Namun demikian, populasi tanaman tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap intensitas penyakit pada 40–60 hari setelah tanam.