Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : EL-HAYAH

PERGESERAN MAKNA SOSIAL TRADISI TEDHAK SITEN: DARI SACRAL KE PROFAN Rohmadi, Yusup
EL- Hayah Vol. 13 No. 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/elha.v13i1.10099

Abstract

Tradisi yang merupakan bagian dari kebudayaan merupakan suatu kekayaan yang sangat benilai. Oleh sebab itu, upaya penjagaan, pemeliharaan dan pelestarian budaya merupakan kewajiban tiap individu dari daerah atau bangsa tersebut. Perubahan dan pergeseran dalam pelaksanaan upacara adat diperlukan adanya perhatian dari berbagai praktisi budaya maupun ilmuwan sosial. Sebab, menjaga, memelihara dan melestarikan kebudayaan atau adat istiadat merupakan kewajiban setiap individu. Selain itu, tradisi adalah identitas sebuah daerah atau suku bangsa. Atas dasar itu, penelitian atas perubahan, pergeseran dan makna upacara tedhak siten ini kami lakukan. Tujuan dasar dari penelitian ini adalah agar masyarakat mengetahui adanya perubahan, pergeseran, dan juga memahami makna dibalik simbol-simbol dalam tradisi Tedhak Siten tersebut. Selain itu, juga agar masyarakat, terutama generasi sekarang, mengetahui bahwa bangsa kita memiliki tradisi yang unik, menarik, dan penuh makna serta fungsi. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif-deskriptif, dengan tujuan untuk mendeskripsikan fakta secara sistematis dan objektif melalui sifat, ciri serta unsur- unsur yang terkait dengannya. Penelitian yang dilakukan di desa Bawen Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan observasi, wawancara, dan studi literature. Sedangkan teknik untuk menguji keabsahan dan validitas data dengan menggunakan teknik trianggulasi, adapun peneliti menggunakan empat macam trianggulasi yakni, trianggulasi sumber data, trianggulasi peneliti, trianggulasi, trianggulasi metodologis, dan trianggulasi teoritis. Secara teoritis, upacara tedhak siten masih sering dilakukan oleh masyarakat, khusunya di Kelurahan Bawen, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang. Namun, masyarakat yang masih melaksanakan tersebut bisa dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: kelompok yang memegang pakem, dan kelompok yang mengurangi atau menambahi pakem. Hal ini dikarenakan beberapa faktor, diantaranya yaitu: faktor ekonomi, perubahan cara pandang yang dikarenakan oleh tingginya pendidikan dan modernitas, dan faktor kegagalan transformasi nilai. Sehingga mengalami pergeseran, baik berkenaan dengan bentuk dzatiyah- nya maupun makna sosialnya. Pergeseran makna sosialnya adalah pergeseran dari yang awalnya sacral menjadi profan. Bentuk profan-nya bisa sebagai: upaya menunjukkan tingkat status sosial; menjaga gengsi keluarga; dan bahkan hanya biar dianggap ‘wah’ oleh kolega atau masyarakatnya.
GAYA KEPEMIMPINAN IBU NYAI DALAMCHARACHTER BUILDING SANTRI PEREMPUAN DI PONDOK PESANTREN MU’ALLIMIN MU’ALLIMAT BABAKAN CIWARINGIN CIREBON Royannach Ahal; Yusup Rohmadi
EL- Hayah Vol. 13 No. 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/elha.v13i1.10378

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gaya kepemimpinan ibu Nyai dalam character building santri perempuan di lingkungan pondok pesantren Mu’allimin Mu’allimat Babakan Ciwaringin Cirebon. Penelitian mempergunakan metodologi kualitatif didukung oleh pendekatan deskriptif. Data primer dan sekunder dikumpulkan melalui survei, wawancara, serta tinjauan literatur mengenai pimpinan lembaga dan pimpinan yayasan. Prosedurnya disempurnakan dengan peneliti yang berperan sebagai instrumen utama. Dalam penelitian ini menunjukan bahwa gaya kepemimpinan Ibu Nyai Masthuroh sesuai dengan gaya kepemimpinan situasional Hersey dan Blanchard dengan tipikal kharismatik. sedangkan Unsur- unsur karakteristik yang dikembangkan dalam pendidikan di pondok pesantren Mu’allimat Babakan Ciwaringin Cirebon memuat enam unsur karakter, yaitu spiritualitas, jujur, disiplin, kerja keras, kreatifitas dan tanggung jawab. Implikasi dari penelitian ini bahwa efektifitas kepemimpinan berbanding lurus dengan gaya kepemimpinan yang dimiliki seorang pemimpin. Dengan kata lain, penelitian ini menguatkan teori situasional Hersey dan Blanchard.