Claim Missing Document
Check
Articles

Pembentukan Relasi Sosial pada Siswa Tunagrahita (Studi Kasus pada Siswa Sekolah Menengah Atas Luar Biasa Negeri Pembinaan Kesejahteraan Keluarga Provinsi Lampung) Nazla Nurul Clarisya; Noning Verawati; Wawan Hernawan
Edutik : Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi Vol. 6 No. 4 (2026): EduTIK : Agustus 2026
Publisher : Jurusan PTIK Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67142/edutik.v6i4.548

Abstract

ABSTRAK  Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam pembentukan relasi sosial pada siswa tunagrahita di SMA Luar Biasa Negeri Pembinaan Kesejahteraan Keluarga Provinsi Lampung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri dari kepala sekolah, guru, dan siswa dengan disabilitas intelektual yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data dipastikan melalui triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan member checking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan relasi sosial di kalangan siswa dengan disabilitas intelektual terjadi melalui interaksi berulang dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan sekolah lainnya. Relasi sosial terbentuk melalui interaksi antara siswa dengan teman sebaya, guru, dan lingkungan sekolah. Dalam proses ini, komunikasi interpersonal dan penggunaan simbol nonverbal, seperti gestur, ekspresi wajah, dan tindakan fisik—berperan penting dalam membangun pemahaman dan kedekatan sosial. Pengembangan karakter dan kepercayaan diri siswa dilakukan melalui keteladanan guru, pemberian motivasi, dan pelibatan siswa dalam berbagai kegiatan sekolah. Faktor pendukung dalam pembentukan relasi sosial meliputi peran guru, lingkungan sekolah yang inklusif, serta kesempatan berinteraksi yang diberikan secara berkelanjutan kepada siswa. Sementara itu, hambatan yang teridentifikasi meliputi keterbatasan kemampuan komunikasi verbal, rasa malu, dan kurangnya kepercayaan diri siswa untuk memulai interaksi sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembentukan relasi sosial, karakter, sikap, dan kepercayaan diri pada siswa dengan disabilitas intelektual merupakan hasil dari proses interaksi simbolik yang berkelanjutan, yang didukung oleh lingkungan sekolah dan bimbingan guru yang konsisten.  ABSTRACT  This study aims to examine in depth the formation of social relations as well as the development of character, attitudes, and self-confidence among students with intellectual disabilities at the State Special Senior High School for the Development of Family Welfare, Lampung Province. This research employs a qualitative approach with  a  case  study method. Data  collection  was  conducted through observation, in-depth interviews, and documentation. The research informants consisted of the principal, teachers, and students with intellectual disabilities selected using purposive sampling techniques. Data analysis was carried out through data reduction, data display, and conclusion drawing, while data validity was ensured through source triangulation, technique triangulation, and member checking. The results of the study indicate that the formation of social relations among students with intellectual disabilities occurs through repeated interactions in learning activities as well as other school activities. Social relations are formed through interactions between students and peers, teachers, and the school environment. In this process, interpersonal communication and the use of nonverbal symbols such as gestures, facial expressions, and physical actions serve as important means in building understanding and social closeness. The development of students’ character, attitudes, and self-confidence is carried out through habituation, teacher role modeling, motivation, and student involvement in various school activities. Supporting factors in the formation of social relations include the role of teachers, an inclusive school environment, and continuous opportunities for interaction provided to students. Meanwhile, the obstacles identified include limited verbal communication skills, feelings of shyness, and students’ lack of confidence in initiating social interactions. This study concludes that the formation of social relations, character, attitudes, and self-confidence among students with intellectual disabilities is the result of an ongoing symbolic interaction process supported by the school environment and consistent teacher guidance.
Makna Budaya Tradisi Kuda Lumping (Studi Komunikasi Antarbudaya di Kabupaten Lampung Timur) Agisti Pratiwi; Wawan Hernawan; Noning Verawati
Edutik : Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi Vol. 6 No. 4 (2026): EduTIK : Agustus 2026
Publisher : Jurusan PTIK Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67142/edutik.v6i4.550

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam bahwa indonesia memiliki kekayaan keragaman budaya yang tercermin dalam berbagai bentuk seni tradisional, salah satunya adalah tradisi Kuda Lumping. Di tengah modernisasi dan globalisasi, seni tradisional menghadapi tantangan dalam mempertahankan eksistensi dan nilai-nilai budayanya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memahami makna budaya yang terkandung dalam tradisi Kuda Lumping di Kabupaten Lampung Timur dan untuk meneliti perannya sebagai media komunikasi antarbudaya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan paradigma interpretatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi yang melibatkan ketua masyarakat, penari, musisi, dukun, dan informan pendukung dari Komunitas Singgo Ludoyo di Desa Karang Anyar, Kabupaten Lampung Timur. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Kuda Lumping mengandung berbagai makna budaya, termasuk makna kebersamaan dan solidaritas, pelestarian budaya, spiritualitas dan ritual, makna simbolis dalam pertunjukan, dan identitas budaya masyarakat Jawa. Studi ini juga menemukan pergeseran makna budaya di era modern, di mana Kuda Lumping tidak lagi dipandang hanya sebagai pertunjukan mistis tetapi juga sebagai bentuk hiburan dan pelestarian budaya yang dipromosikan melalui media digital. Studi ini berkontribusi pada studi komunikasi dengan menunjukkan bahwa seni tradisional berfungsi sebagai media komunikasi antarbudaya dan sarana pelestarian identitas budaya dalam masyarakat multikultural. ABSTRACT This study aims to examine in depth the Indonesia has a rich cultural diversity reflected in various forms of traditional arts, one of which is the Kuda Lumping tradition. In the midst of modernization and globalization, traditional arts face challenges in maintaining their existence and cultural values. Therefore, this study aims to identify and understand the cultural meanings contained in the Kuda Lumping tradition in East Lampung Regency and to examine its role as a medium of intercultural communication. This study employed a qualitative research method with an interpretive paradigm. Data were collected through in-depth interviews, observations, and documentation involving the chairman of the community, dancers, musicians, shamans, and supporting informants from the Singgo Ludoyo Community in Karang Anyar Village, East Lampung Regency. The data were analyzed using the interactive model of Miles and Huberman. The findings revealed that the Kuda Lumping tradition contains various cultural meanings, including the meanings of togetherness and solidarity, cultural preservation, spirituality and ritual, symbolic meanings in performances, and the cultural identity of the Javanese community. The study also found a shift in cultural meaning in the modern era, where Kuda Lumping is no longer viewed merely as a mystical performance but also as a form of entertainment and cultural preservation promoted through digital media. This study contributes to communication studies by demonstrating that traditional arts function as a medium of intercultural communication and a means of preserving cultural identity in a multicultural society.
Komunikasi Persuasif Pembina Rohani melalui Strategi Psikodinamik, Sosiokultural, dan Konstruksi Makna Jesinta Febriana Zahara; M. Denu Poyo; Noning Verawati
Interaction Communication Studies Journal Vol. 3 No. 2 (2026): August
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/interaction.v3i2.6300

Abstract

Partisipasi anak dalam kegiatan Bina Iman Anak Katolik (BIA) Stasi Pringsewu menunjukkan fluktuasi, dengan jumlah kehadiran yang menurun dari sekitar 80 anak pada periode sebelumnya menjadi berkisar 35 sampai 65 anak per pertemuan pada Januari hingga Mei 2026. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komunikasi persuasif pembina rohani dalam meningkatkan partisipasi anak strategi psikodinamik, sosiokultural, dan konstruksi makna yang dikemukakan DeFleur dan Ball-Rokeach. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif. Data diperoleh  melalui observasi nonpartisipan, wawancara semiterstruktur, dan studi dokumentasi terhadap empat informan kunci, lima informan utama, dan enam informan pendukung. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa storytelling menjadi medium utama pembina dalam mengoperasionalkan ketiga strategi komunikasi persuasif. Strategi psikodinamik diwujudkan melalui sapaan, tanya jawab, gerak lagu, permainan, serta pemberian kupon atau hadiah untuk membangun perhatian, emosi positif, motivasi, dan keberanian anak. Strategi sosiokultural dilakukan melalui dukungan orang tua, interaksi teman sebaya, pengelompokan berdasarkan usia, kerja sama antar-pembina, dan keterkaitan kegiatan dengan komunitas gereja. Sementara itu, strategi konstruksi makna dilakukan melalui penyederhanaan bahasa, pengaitan cerita Kitab Suci dengan pengalaman sehari-hari, pemberian contoh konkret, dan penggunaan visualisasi. Ketiga strategi tersebut tidak bekerja secara terpisah, melainkan membentuk proses persuasif yang bertahap, mulai dari kesiapan psikologis, dukungan sosial, hingga pemaknaan pesan iman. Penelitian ini menyimpulkan bahwa komunikasi persuasif yang adaptif dan kontekstual dapat mendukung peningkatan partisipasi anak secara berkelanjutan dalam kegiatan Bina Iman Anak.