Claim Missing Document
Check
Articles

PERAMALAN MATERIAL POLYESTER TEXTURED 75D PADA PERIODE NOVEMBER 2016 SAMPAI DENGAN MEI 2017 PT TIGA MANUGGAL SYNTHETIC DENGAN METODE TIME SERIES Wiya Eki Dwiguna; Purnawan Adi Wicaksono
Industrial Engineering Online Journal Vol 8, No 2 (2019): WISUDA PERIODE APRIL TAHUN 2019
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.598 KB)

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah pada hampir seluruh sektor industri, termasuk industri tekstil. Hal tersebutlah yang membuat Indonesia kini memiliki banyak perusahaan tekstil yang telah mendunia, salah satunya adalah PT Tiga Manunggal Synthetic. Pada PT Tiga Manunggal Synthetic, terdapat penumpukkan sejumlah bahan baku  Polyester Textured 75D pada warehouse, sehingga dibutuhkan suatu peramalan terhadap jumlah Polyester Textured 75D yang akan dibutuhkan selama tujuh periode berikutnya. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan menggunakan model deret berkala (time series). Metode tersebut merupakan metode peramalan yang didasarkan atas penggunaan analisis pola hubungan antara variabel yang akan diperkirakan dengan variabel waktu, yang merupakan deret waktu. Berdasarkan hasil perhitungan dari data historis konsumsi benang Polyester Textured 75D, maka hasil peramalan dengan menggunakan metode Center Moving Average (CMA) bersifat konstan sebesar 4,941,40 Kg untuk bulan November 2016 hingga bulan Mei 2017. Metode tersebut dipilih berdasarkan nilai error SDE, MAPE, dan U-Theil adalah yang terkecil diandingkan dengan metode lainnya. Nilai error SDE, MAPE, dan U-Theil masing-masing pada metode Center Moving Average (CMA) adalah 900,91 ; 14,06 ; 0,59.  Abstract Forecasting of Material Polyester Textured 75D on November 2016 until May 2017 Period PT Tiga Manunggal Synthetic Using Time series Method. Indonesia is one of the countries that have plenty resources in almost every industrial sectors, including textile industries. That makes Indonesia now has many international textile companies, including PT Tiga Manunggal Synthetic. On PT Tiga Manunggal Synthetic, there is a cumulation of raw material Polyester Textured 75D in warehouse, so a forecast of number of the Polyester Textured 75D for the next seven period is needed. The method that used in this research is a quantitative method by using time series method. This method is a forecast method which based on the pattern of relation analysis usage between the forcasted variables, which is a time series. Based on the calculation of consumtion data’s history of Polyester Textured 75D, the result of the forcasting using Center Moving Average method has a constant behaviour of 4,941,40 Kg for November 2016 until May 2017. That method was choosen based on the smallest error value of SDE, MAPE, and U-Theil compared to the other method. Each of the error value of SDE, MAPE, and U-Theil on Center Moving Average (CMA) are 900,01 ; 14,06 ; 0,59.
Desain Alat Bantu Untuk Closet “ Portable Closet “ Dengan Menggunakan Pendekatan Biomekanika dan Antrophometri ( Studi Kasus: Perumahan Kekancan Mukti Pedurungan Tengah Semarang ) Primandha Eka Arjuna; Purnawan Adi Wicaksono; Heru Prastawa
Industrial Engineering Online Journal Volume 1, Nomer 3, Tahun 2012
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat Indonesia pasti sudah tidak asing dengan pruduk closet atau sering disebut WC, setiap hari semua orang pasti sering menggunakan baik closet duduk maupun jongkok. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan banyak masyarakat yang mengeluh ketika menggunakan closet yang dimilikinya terutama ketika menggunakan closet jongkok.   Penelitian ini terfokus pada perancangan alat bantu untuk closet jongkok diawali dengan melakukan wawancara lisan  dan menyebar kuesioner Nordic body map kepada 70 responden yang berada di perumahan Kekancan Mukti Semarang, guna mendata keluhan – keluhan warga ketika menggunakan closet jongkok, kemudian dari hasil kuesioner dilihat apakah ada indikasi responden mengalami muscolouskeletal disorder, setelah itu dilakukan pendekatan antrophometri yaitu dengan mengambil data sesuai dengan dimensi yang akan dipakai dan nantinya dapat digunakan sebagai acuan pembuatan alat bantu, sedangkan pendekatan biomekanika dilakukan dengan menghitung gaya kompresi responden, dengan movie ploterr sebagai acuan penentuan sudut – sudut tubuh.   Hasil survey lapangan yang di lakukan pada kelurahan Pedurungan Tengah perumahan Kekancan mukti lebih dari 90 % warga banyak menggunakan closet jongkok. Walaupun responden banyak mengalami keluhan sakit di beberapa bagian tubuh, banyak yang tidak mengganti closetnya dengan closet duduk, di karenakan tidak terbiasa menggunakan closet duduk dan muncul banyak pertimbangan lain seperti biaya pembongkaran, pemasangan, dan pembelian closet baru. Indikasi keluhan musculoskeletal disorder banyak dirasakan oleh responden yang berumur 30 tahun keatas.
PENENTUAN LAMA WAKTU ISTIRAHAT PEKERJA MESIN EXTRUDER DAN MESIN CIRCULAR LOOM BERDASARKAN BEBAN KERJA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN FISIOLOGIS (Studi Kasus di PT. Indomaju Textindo Kudus) Martua Ade Putra G; Purnawan Adi Wicaksono
Industrial Engineering Online Journal Volume 1, Nomer 4, Tahun 2012
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemulihan energi sangat penting diperhatikan karena selama proses kerja terjadi kelelahan. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pemulihan energi adalah istirahat. Pekerja dengan beban kerja berat membutuhkan periode dan frekuensi istirahat yang berbeda dengan pekerja dengan beban kerja yang ringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lamanya waktu istirahat berdasar beban kerja pada dua tempat kerja yang berbeda yaitu pada pekerja Mesin Extruder dan Mesin Circular Loom. Pengamatan perbedaan beban kerja berdasarkan denyut nadi dan konsumsi energi. Dari hasil perhitungan untuk rerata denyut nadi kerja dan beban kardiovaskuler ( % CVL) pada mesin Extruder shift 1 adalah 137.21 denyut/menit dan 60.82% sehingga tergolong dalam kategori beban kerja berat,karena 137.21 terletak diantara 125 - 150 denyut/menit dan 60.82% terletak diantara 60 – 80%. Sedangkan Pada mesin Circular Loom shift 1 diperoleh rerata denyut nadi kerja dan beban kardiovaskuler (% CVL) yaitu 137.70 denyut/menit dan 61.43% yang tergolong dalam kategori beban kerja berat. Kemudian pada mesin Extruder shift 2 diperoleh rerata denyut nadi kerja dan beban kardiovaskuler ( % CVL) yaitu 138.03 denyut/menit dan 58.82% yang tergolong dalam kategori beban kerja berat. Dan pada mesin Circular Loom shift 2 diperoleh rerata denyut nadi kerja dan beban kardiovaskuler ( % CVL) yaitu 138.04 denyut/menit dan 59.31% yang tergolong dalam kategori beban kerja berat juga. Penentuan waktu istirahat berdasarkan beban kerja ditentukan dengan pendekatan fisiologis. Berdasarkan konsumsi energi menyatakan bahwa waktu istirahat 30 menit belum cukup mencukupi, nilai K > S yaitu energi yang dikeluarkan selama bekerja lebih dari nilai standar energi yang dikeluarkan (S = 4 kkal/mnt),sehingga dibutuhkan perubahan waktu istirahat pada kedua sistem kerja tersebut.Waktu istirahat optimal yang diterapkan yaitu sebesar 60 menit
ANALISIS TINGKAT KEANDALAN PENYORTIR (STUDI KASUS DI KANTOR POS MPC SEMARANG 50400) Arief Budhiman; Purnawan Adi Wicaksono; Rani Rumita
Industrial Engineering Online Journal Volume 1, Nomer 4, Tahun 2012
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT.POS INDONESIA is a company engaged in the services sector in the form of inter-send letters or goods in accordance with the specified time. In sorting mail or goods, there are examples of operator errors such as the wrong sort mail or goods. Operators sometimes enter the wrong letter or items that should be included to the table that reads a region corresponding to the destination address is written, so it can slow down a letter or goods to reach the recipient. This study begins to analyze the factors that affect the reliability of the sorter. Based on the interviews, the occurrence of human error in sorting the items affected by seven factors: 1. Unreliability of infrastructure2. Operator lack of experience in sorting the items3. Operators feel tired when sorting items4. The discrepancy between the amount of time sorting the items supplied5. Lack of training and learning in sorting items6. The process of information delivery that are less well7. Lack of time to inspect the results of an item that has been sorted From the results of the questionnaire, the factors most influencing factor to 1, 4 and  7. To minimize the occurrence of error humman on sorting the mail and goods, the researchers gave some recommendations 1. Table sorting code should not only include pool, but also must include the names of regions of one such pool code, so as to facilitate the sorting process. Because if you just use the code sortingpool  table, sorters sometimes not the master of the pool code. 2. Computers and sensors should be applied routinely care system from being damaged during use. Because the treatment system of the post office is if the computer and sensor equipment has been damaged, the newly improved suggestions. In this case, system maintenance performed 1 month 1 time.3. Sorting process that requires inspection items have been sorted can be sent in accordance with its purpose. In this case, you should need additional time to inspect the results of a sort. Time to inspect about 30 minutes before the item is sent to the purpose.4. Should be added operators to sort the items, so as to facilitate the sorting process. 
PENGARUH BEBAN KERJA, KELELAHAN KERJA, DAN TINGKAT KEWASPADAAN TERHADAP TINGKAT KESALAHAN DALAM UPAYA MEMINIMASI HUMAN ERROR (Studi Kasus di R.S Semarang) SOFIE HARNADINI; PURNAWAN ADI WICAKSONO
Industrial Engineering Online Journal Volume 1, Nomer 4, Tahun 2012
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK R.S  Semarang, merupakan rumah sakit terkemuka yang menjadi rujukan pasien ICU dalam lingkup Jawa Tengah. Selain memiliki peralatan medis yang canggih, R.S tersebut juga didukung oleh tenaga medis yang dituntut untuk menangani pasien ICU dengan sangat baik, termasuk perawat ICU yang dituntut untuk merawat pasien tanpa kesalahan sedikit pun. Karena para konsumennya (pasien) membutuhkan perhatian dan perawatan selama 24 jam sehari, Rumah Sakit menerapkan sistem pekerja gilir (shift kerja). Sistem shift kerja dapat menyebabkan beberapa faktor seperti meningkatnya beban kerja dan kelelahan, serta menurunnya tingkat kewaspadaan yang dapat berakibat pada terjadinya human error, sehingga dapat membahayakan pasien, maka dilakukan  uji regresi linier majemuk antara beban kerja fisik, beban kerja mental, kelelahan kerja dan tingkat kewaspadaan (untuk setiap shift kerja) terhadap tingkat kesalahan ( =0.05; kepercayaan= 95%). Hasil pengujian menunjukkan bahwa kelelahan kerja merupakan  variabel yang paling berpengaruh signifikan terhadap tingkat kesalahan untuk semua shift kerja, dimana koefisien nilai R sebesar 0.905 untuk shift kerja pagi; 0.809 untuk shift kerja siang dan sebesar 0.909 untuk koefisien nilai R pada shift kerja malam. Berdasarkan hasil tersebut, mengindikasikan adanya potensi terjadinya human error pada perawat ICU yang disebabkan oleh variabel kelelahan kerja yang harus diminimasi agar tidak berdampak buruk pada keselamatan pasien. Upaya minimasi human error yang dilakukan menggunakan metode HEART dan SHERPA. Setelah dilakukan perhitungan dengan menggunakan metode tersebut, terdapat 17 aktivitas yang berpotensi menyebabkan human error, dan aktivitas yang mempunyai potensi terbesar dalam menimbulkan human error adalah aktivitas intervensi kolaborasi dengan besar probability of failure sebesar 0.448. Hal ini disebabkan karena tidak seimbangnya kapasitas yang dimiliki (perawat) dengan kapasitas yang dapat diterima (pasien), sehingga diperlukan penambahan jumlah perawat pada bagian ICU, penyediaan checklist untuk meminimalisasi kelalaian, serta pemerataan jam kerja untuk mengurangi kelelahan kerja yang dirasakan oleh perawat.  ABSTRACT Hospital in Semarang, is reputable hospital where ICU patient within the scope of Central Java can be referred. Besides having sophisticated medical equipment, the hospital is also supported by the medical personnel who are required to make a very good treatment for ICU patients, including ICU nurses are treating patients without the slightest error. Because of its consumers (patients) need attention and treatment during 24 hours a day, the hospital implement the system of shift work. System of shift work can lead to several factors such as increased workload and fatigue, as well as reduced the level of vigilance that can result in the occurrence of human error that could harm the patient, then performed multiple linear regression test between physical workload, mental workload, job bornout and vigilance (for each work shift) to the error rate (α = 0.05; confidence = 95%). The test results showed that the job bornout is a variable that most significantly influence the error rate for all shift work, where the coefficient R value for the morning shift is 0.905; 0.809 to the afternoon shift, and 0.909 for the coefficient R value on the night shift. Based on the result, indicating a potential for human error in the ICU nurse fatigue caused by the variable of work that must be minimized so as not to adversely affect patient safety. Human error minimization efforts were performed using the method of HEART and SHERPA. After doing the calculations using these methods, there are 17 activities that could potentially lead to human error, and activities that have the greatest potential for human error is the collaboration intervention with a large probability of failure of 0.448. This is because the imbalance of capacity owned (nurses) with an acceptable capacity (patient), so that the required additional number of nurses in the ICU, providing a checklist to minimize negligence, as well as the distribution of working hours to reduce the fatigue experienced by nurses  
Analisis Pengaruh Safety Climate Terhadap Safety Related Driving Behaviors Pengemudi BRT Koridor I dan II Semarang Eko Sunarto; Heru Prastawa; Purnawan Adi Wicaksono
Industrial Engineering Online Journal Vol 7, No 1 (2018): WISUDA PERIODE JANUARI 2018
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.594 KB)

Abstract

Kecelakaan merupakan salah satu masalah utama yang ada di jalan raya. Banyak kerugian yang dialami karena kecelakan baik itu kerugian materi atau bahkan mengakibatkan korban jiwa. Untuk kota Semarang korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas pada tahun 2012 sampai akhir tahun 2015 cenderung mengalami kenaikan. Pada tahun 2012 korban jiwa mencapai 176 dan diakhir tahun 2015 korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas mencapai 192 korban jiwa. Salah satu transportaasi darat yang utama dan mampu memuat banyak penumpang dan beroperasi setiap hari di Semarang ialah Bus Rapid Transit (BRT) Semarang. Faktor yang sangat berpengaruh terhadap kecelakaan yang tinggi adalah Safety Behavior dari pengemudi, dimana safety behavior pengemudi buruk atau pengemudi banyak memilki dan melakukan unsafe behavior. Safety behavior/driver behavior berkaitan dengan safety climate pada suatu perusahaan atau manajemen yang ada dalam hal ini ialah BLU BRT. Dalam penelitian ini safety climate yang terbagi atas 6 variabel yaitu komunikasi dan prosedur, tekanan pekerjaan, komitmen manajemen, hubungan, pelatihan pengemudi dan peraturan keselamatan akan dinilai dengan menggunakan Safety Climate Questionnaire – Modified for Drivers (SCQ-MD). Sedangkan untuk safety behavior/driver behavior akan dinilai dengan menggunakan Driver Behavior Questionnaire(DBQ). Kuisioner akan disebar dan ditujukan kepada pengemudi BRT Semarang koridor I dan II sebagai objek penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan variabel – variabel safety climate terhadap safety behavior/driver behavior dengan menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk kedua koridor yaitu koridor I dan koridor II BRT Semarang yang paling mempengaruhi safety behavior/driver behavior ialah variabel komunikasi dan prosedur.  ABSTRACT [Effect Analysis of Safety Climate on Safety Related Driving Behaviors of BRT Driver’s Corridor I and II Semarang] Accidents are one of the main problems on the road. Many of the losses suffered because of the accident either the loss of material or even resulted in casualties. For the Semarang city casualties due to traffic accidents in 2012 until the end of 2015 tend to increase. In 2012 the death toll reached 176 and at the end of 2015 the death toll from traffic accidents reached 192 casualties. One of the main land transportation and able to load many passengers and operate every day in Semarang is Bus Rapid Transit (BRT) Semarang. Factors that are very influential on the high accident is the Safety Behavior of the driver, where the driver's safety behavior is bad or the driver has many and unsafe behavior. Safety behavior / driver behavior related to the safety climate in a company or management in this case is BLU BRT. In this study the safety climate is divided into 6 variables, namely communication and procedures, job pressure, management commitment, relationship, driver training and safety rules will be assessed using Safety Climate Questionnaire - Modified for Drivers (SCQ-MD). As for the safety behavior / driver behavior will be assessed using the Behavior Driver Questionnaire (DBQ). Questionnaires will be distributed and addressed to BRT Semarang corridor I and II drivers as research objects. The aim of this study is to analyze correlation between safety climate variables and safety behavior / driver behavior by using multiple linear regression. The results of this study indicate that for both corridors corridor I and corridor II BRT Semarang most affect the safety behavior / driver behavior is the communication and procedure variable.
RANCANGAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN SPARE PART STUDI KASUS PT. INDONESIA POWER UNIT PEMBANGKITAN SEMARANG Ulyvia Trisnawati; Purnawan Adi Wicaksono; Darminto Pujotomo
Industrial Engineering Online Journal Vol 7, No 1 (2018): WISUDA PERIODE JANUARI 2018
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.252 KB)

Abstract

Banyaknya spare part menyebabkan rendahnya nilai inventory turnover yang merupakan salah satu Indikator kerja pada bagaian perencanaan dan pengendaliaan persediaan, selain itu banyaknya spare part cadang membebani biaya persediaan khususnya biaya simpan dan perawatan, dalam hal ini perusahaan menggunakan intuisi dalam melakukan pengendalian persediaan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kebijakan persediaan dengan nilai inventory turnover yang lebih baik dan biaya persediaan minimum. Penelitian ini menggunakan pendekatan Periodic Review dan Continuous Review untuk memperoleh kebijakan persediaan optimal untuk PT Indonesia Power Unit Pembangkitan Semarang yang kemudian dibandingkan dengan sistem persediaan perusahaan dengan menggunakan simulasi montecarlo. Data yang digunakan untuk penelitin ini adalah data sekunder. Penelitian dilakukan pada 10 spare part  level A dengan pembelian terbanyak. Hasil dari pengolahan data menggunakan metode periodic review dan continuous review jika dibandingkan dengan sistem persediaan saat ini menunjukan bahwa nilai inventory turnover terbaik adalah dengan menggunakan kebijakan periodic review dengan nilai rata-rata 1.40 kali lebih besar 1,04 kali jika dibandingkan dengan kondisi eksisting perusahaan, Sedangkan untuk biaya persediaan optimal terdapat pada Continuous Review Model. Hasil perbandingan total biaya persediaan antara continuous review dengan sistem persediaan perusahaan mengindikasi adanya penghematan sebesar 40,71%ABSTRACTThe number of spare parts causes the low inventory turnover value which causes the non-achievement of one of the work Indicators in the planning and controlling of the inventory, in addition to the many spare parts burdening the cost of inventory especially the cost of storage and maintenance, in this case the company uses intuition in controlling the inventory. This study aims to obtain inventory policy with better inventory turnover value and minimum inventory cost. This study uses the Periodic Review and Continuous Review approach to obtain the most optimal inventory policy for PT Indonesia Power Generation Unit Semarang which is then compared with company inventory system using montecarlo simulation. The data used for this research is secondary data. The study was conducted on 10 spare part A level with the most purchases. The results of data processing using periodic review and continuous review methods when compared with the current inventory system shows that the best inventory turnover value is to use the policy periodic review with an average value of 1.40 greater than 1.04 when compared with the existing condition of the company, associated with that Continuous review model is a policy with a minimum total inventory cost. The equilibrium ratio of total inventory cost between the periodic review model and the company's inventory system indicates a significant savings in total inventory cost, which is 40,71%
EVALUASI ANTHROPOMETRI DAN REDESAIN MEJA DAN KURSI SEKOLAH TAMAN KANAK-KANAK MELALUI IMPLEMENTASI QUALITY FUNCTION DEVELOPMENT Wari Noviawardani; Purnawan Adi Wicaksono
Industrial Engineering Online Journal Volume 1, Nomer 4, Tahun 2012
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dimensi Antropometri merupakan salah satu hal penting dalam upaya menciptakan desain yang sesuai dengan kebutuhan manusia. Kurangnya penelitian mengenai pengukuran dimensi-dimensi tubuh manusia menjadikan alasan banyaknya produk yang berkembang saat ini tidak sesuai dengan ukuran manusia yang membutuhkan sesuai dengan sebagai mana mestinya. Hal ini juga terjadi pada produk-produk anak kelompok usia 4-6 tahun khususnya produk yang ada di sekolah mereka. Penggunaan dimensi anthropometri ini penting digunakan sebagai pertimbangan kesehatan dan keselamatan pengguna produk dalam hal ini anak sebagai pengguna produk. TK Pertiwi 3 Tembalang merupakan taman kanak-kanak dibawah naungan Pemda Semarang merupakan taman kanak-kanak dengan kualitas pendidikan yang cukup baik. Kursi dan meja yang digunakan selama ini belum mengakomodir kelayakan aspek ergonomi dalam perancangannya. Produk yang digunakan saat ini tidak terlalu memperhatikan keinginan konsumen. Pada penelitian ini, digunakan metode Qualtiy Function Development untuk mengidentifikasi keinginan konsumen dan kemudian menjadikan voice of customer tersebut menjadi parameter teknis dalam perancangan meja dan kursi sekolah taman kanak-kanak. Selain itu akan dilakukan analisis ergonomi dalam hal ini analisis anthropometri dan pembuatan tabel anthropometri dalam rangka mendukung perancangan produk meja dan kursi sekolah taman kanak-kanak. Analisis ergonomic dilakukan guna memberikan kesimpulan apakah produk yang telah ada selama ini memiliki kelayakan ergonomi
ANALISIS PENGARUH LAMA JAM KERJA PERAWAT ICU TERHADAP TINGKAT KESALAHAN DALAM UPAYA MEMINIMASI HUMAN ERROR (STUDI KASUS R.S XYZ SEMARANG) Hilda Winandita; PURNAWAN ADI WICAKSONO
Industrial Engineering Online Journal Volume 1, Nomer 3, Tahun 2012
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK R.S XYZ Semarang, merupakan rumah sakit yang menjadi rujukan pasien ICU dalam lingkup Jawa Tengah.  Selain memiliki peralatan medis yang canggih, R.S tersebut juga didukung oleh tenaga medis yang dituntut untuk menangani pasien ICU dengan sangat baik, termasuk perawat ICU yang dituntut untuk merawat pasien tanpa kesalahan sedikitpun. Sayangnya, tuntutan tersebut belum didukung dengan sistem kerja yang baik bagi para perawatnya, dimana masih terdapat banyak sekali perawat yang harus bekerja lebih dari jam kerja yang telah dijadwalkan. Hal tersebut dapat menimbulkan beban kerja berlebih serta menurunnya tingkat kewaspadaan yang dapat berakibat pada terjadinya human error, sehingga dapat membahayakan pasien, maka dilakukan  uji regresi dengan multiple mediator antara lama jam kerja terhadap tingkat kesalahan melalui variabel mediasi beban kerja fisik, mental, dan tingkat kewaspadaan (=0.05; kepercayaan= 95%). Hasil pengujian menunjukkan bahwa beban kerja fisik (CI 95% = 0.3035 – 1.3101) dan beban kerja mental (CI 95% = 0.2299 – 0.7945) merupakan variabel yang memediasi secara signifikan dalam pengaruh lama jam kerja terhadap tingkat kesalahan. Kemudian dilakukan uji post hoc berdasar kedua variabel tersebut, sehingga diketahui lama jam kerja kritis berdasarkan beban kerja fisik dan mental yaitu ketika perawat ICU bekerja selama 15 jam dan 11 jam, yang berarti lama jam kerja maksimal untuk meminimasi kesalahan adalah 8 jam. Adanya peningkatan kesalahan seiring bertambahnya lama jam kerja serta hasil wawancara kepada perawat ICU yang menyatakan banyaknya tugas yang harus dikerjakan ketika merawat pasien, mengindikasikan adanya potensi terjadinya human error pada perawat ICU yang harus diminimasi agar tidak berdampak buruk pada keselamatan pasien. Upaya minimasi human error yang dilakukan menggunakan metode HEART dan SHERPA, menunjukkan bahwa penyebab utama terjadinya potensi human error disebabkan karena tidak seimbangnya kapasitas yang dimiliki (perawat) dengan kapasitas yang dapat diterima (pasien), sehingga diperlukan penambahan jumlah perawat pada bagian ICU, penyediaan checklist untuk meminimasi kelalaian, serta diberlakukan kebijakan 8 jam kerja/shift.  
ANALISIS POSTUR KERJA DAN REKOMENDASI FASILITAS PENDUKUNG PEKERJA BAGIAN PEMOTONGAN MATERIAL (Studi Kasus di CV.X, Semarang) Anik Dwi Harini; Purnawan Adi Wicaksono
Industrial Engineering Online Journal Volume 1, Nomer 1, Tahun 2012
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

CV.X Semarang merupakan industri manufaktur yang memproduksi berbagai macam hospital equipment. Dalam proses produksinya dilakukan beberapa jenis proses permesinan. Fokus penelitian ditujukan terhadap proses pengerjaan pemotongan material untuk produk hospital bed dengan mesin gerinda. Kondisi stasiun kerja yang kurang ergonomis sehingga dijumpai beberapa kondisi kerja yang menyebabkan keluhan dan ketidaknyamanan kerja akibat postur pekerja yang statis dan beban kerja yang diterima. Hal ini diperkuat dengan hasil peninjauan awal dengan metode Nordic Body Map. Berdasarkan data kondisi awal kerja tersebut, akan dilakukan evaluasi ergonomi serta rekomendasi fasilitas pendukung terhadap stasiun kerja pemotongan material. Metode yang digunakan untuk melakukan evaluasi ergonomi dengan  metode Rapid Entire Body Assessment. Sedangkan yang digunakan untuk rekomendasi fasilitas pendukung kerja dengan evaluasi dan pertimbangan ergonomis dengan diaplikasikannya data antropometri. Dari hasil analisis yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa kondisi kerja awal menunjukkan skor REBA antara 8-11 artinya menunjukkan level resiko yang sangat tinggi. Dengan penambahan fasilitas kerja berupa meja potong skor REBA turun menjadi 3 yang menunjukkan level resiko rendah. Hal ini dikarenakan oleh ukuran meja potong telah disesuaikan dengan antropometri pekerja di bagian pemotongan material menghasilkan postur yang lebih ergonomis. Abstract CV.X Semarang is a manufacturing industry that produces a wide range of hospital equipment. In the production process applied several types of machining processes. The focus of research directed toward the process of cutting materials for hospital bed product with grinding machinery. Conditions that are less ergonomic work stations, so found some working conditions that cause discomfort complaints and work postures due to the static workers and workloads are received. This is reinforced by the results of the initial review by the method of Nordic Body Map. Based on data from the initial conditions of work, will be evaluated for ergonomics as well as support facilities and advice on material cutting work stations. The method used to evaluate ergonomics with Rapid Entire Body Assessment method. While that is used for support facilities and advice on working with the evaluation and ergonomic considerations by the application of anthropometrics data. From the analysis results that have been performed, it is known that the initial working conditions show REBA score of 8-11 means indicates a very high level of risk. With the addition of a cutting table working facilities REBA score dropped to 3 which indicates a low risk level. This is due to the size of the cutting table has been adapted to the anthropometry of workers in the cutting material produces a more ergonomic posture.