Claim Missing Document
Check
Articles

Peningkatan Kualitas Penyuluhan Pertanian melalui Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah dan Jurnalistik Bagi Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Kabupaten Kendal Wijaya, Atika; Pramono, Didi; Rini, Hartati Sulistyo; Akhiroh, Ninuk Sholikhah; Arsi, Antari Ayuning
Jurnal Puruhita Vol 2 No 1 (2020): February 2020
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/puruhita.v2i1.29696

Abstract

Menurut Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. 2/PER/MENPAN/2/2008 dan Peraturan Menteri Pertanian No. 35/Permentan/OT.140/2009, membuat karya tulis bagi penyuluh pertanian merupakan kewajiban. Dengan menghasilkan karya tulis ilmiah, penyuluh memperoleh angka kredit sebagai upaya meningkatkan kinerja jabatan. Namun, kegiatan menulis masih merupakan hal yang sulit bagi penyuluh dan belum dirasa penting bagi mereka. Hal ini dikarenakan, mereka tidak percaya diri untuk menulis dan belum mengetahui kiat dan teknik penulisan karya ilmiaha. Untuk itu maka dipandang perlu adanya kegiatan berupa pelatihan penulisan karya ilmiah dan jurnalistik bagi petugas penyuluh pertanian untuk mendukung peningkatan kinerja dan kualitas penyuluhan mereka kepada publik dan petani binaan. Tim pengabdian kepada masyarakat Fakultas Ilmu Sosial Unnes memberikan solusi atas permasalahan tersebut dengan memberikan pelatihan menulis karya ilmiah dan jurnalistik bagi para penyuluh pertanian di lingkungan kabupaten Kendal. Bertempat di kantor Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Boja, tim pengabdi menghadirkan dua narasumber yang menyampaikan materi tentang kiat penulisan artikel jurnal dan popular di media massa. Sebanyak 24 peserta sangat antusias mengikuti pelatihan ini karena merupakan pertama kalinya bagi mereka memperoleh materi kepenulisan. Pelatihan ini dirasa sangat bermanfaat bagi mereka dalam meningkatkan kapasitas mereka sebagai penyuluh pertanian. Tidak hanya pengetahuan, namun juga peluang untuk memperoleh kredit poin dari karya tulis. Bahkan, para penyuluh menghendaki adanya tindak lanjut dari pelatihan ini kedepannya.
Sosialisasi Program Merdeka Belajar dan Guru Penggerak Bagi Guru SMPN 2 Kabupaten Maros Wijaya, Atika; Mustofa, Moh. Solehatul; Husain, Fadly
Jurnal Puruhita Vol 2 No 1 (2020): February 2020
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/puruhita.v2i1.42325

Abstract

Pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim akhir tahun 2019 kemarin merupakan sebuah gebrakan yang akan menjadi era baru dalam dunia pendidikan di Indonesia. Mendikbud Nadiem Makarim menggagas sebuah konsep tentang “merdeka belajar” dan “guru penggerak”. Kedua konsep ini memiliki tujuan yang sama yaitu memberikan unit satuan pendidikan (sekolah, guru, dan murid) untuk memiliki kebebasaan dalam berinovasi, kebebasaan dalam belajar secara mandiri dan kreatif. Selama ini pendidikan di Indonesia dianggap membatasi ruang gerak kreatifitas dan inovasi para siswa dan guru dengan berbagai urusan birokrasi dan administratif. Salah satu aspek yang ditekankan dalam merdeka belajar adalah tentang penghapusan Ujian Nasional (UN). Tujuan dari merdeka belajar dan guru penggerak ini adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan agar dapat bersaing di era revolusi industry 4.0 dan persaingan global. Meskipun demikian, konsep ini belum dipahami oleh semua orang di instansi pendidikan. Konsep yang bagus ini perlu disosialisasikan ke seluruh Indonesia dan dalam pelaksanaannya perlu pendampingan. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mensosialisasikan konsep merdeka belajar dan mendampingi para guru untuk mengembangkan kompetensi diri menjadi guru penggerak di daerahnya. Metode pelaksanaan berupa sosialisasi dan pelatihan dan pemberian materi tentang merdeka belajar dan guru penggerak dari Kemendikbud. Kegiatan pengabdian yang dilakukan berimplikasi pada diterimanya kebijakan nasional tersebut dan implementasinya dalam pembelajaran di sekolah.
Penguatan Mental Kompetitif dalam Bidang Pencak Silat pada Anak-Anak Desa Gondoriyo Melalui GPS Champ Widyastuti, Ika; Muhammad, Syaifuddin; Yusuf, Rifki S.; Zaki, Fajar S.; Wijaya, Atika
Jurnal Bina Desa Vol 3, No 1 (2021): Februari
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mentalitas memiliki peran yang sangat besar bagi diri seseorang dalam menjalankan kehidupan di masyarakat.  Pentingnya mentalitas akan mempengaruhi daya saing pada diri seseorang. Mentalitas harus ditanamkan sejak dini pada diri seseorang. Hal tersebut digunakan untuk mengenal dirinya lebih jauh, kemudian mampu membaca situasi lingkungan disekitarnya dan merespon dengan segala perubahannya dengan solusi. Kemudian mengkomunikasikan solusi dari sebuah masalah dengan benar. Berdasarkan hasil survei ke lokasi diperoleh data bahwa, anak-anak di Desa Gondoriyo memiliki potensi diri pada bidang pencak silat namun prestasi yang diraih dari sebuah perlombaan masih sangat kurang. Ternyata hal tersebut terjadi karena kurangnya mentalitas pada diri. Dengan mentalitas bersaing akan lebih meningkat, sehingga anak-anak Desa Gondoriyo dengan keterampilan yang dimiliki berani untuk bersaing di taraf lokal hingga nasional. Tim KKN alternatif 1 UNNES 2020 mewadahi keterampilan pencak silat tahap awal yaitu seni yang telah dimiliki oleh anak-anak Desa Gondoriyo dengan sebuah kegiatan yang berjudul GPS CHAMP (Gondoriyo Pencak Silat Seni).
Persepsi Masyarakat Sekaran Tentang Konservasi Lingkungan Luthfi, Asma; Wijaya, Atika
Komunitas Vol 3, No 1 (2011): March 2011
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v3i1.2290

Abstract

Isu konservasi lingkungan menjadi sebuah studi yang menarik belakangan ini karena efek dari global warming sudah semakin dirasakan oleh manusia. Kebijakan nasional dan international dengan perspektif konservasi lingkungan semakin dikuatkan, begitu pula dengan Unnes dengan visi kampus konservasinya. Selain kebijakan tersebut, komunitas lokal sebenarnya memiliki persepsi sendiri tentang konservasi lngkungan dari sistem nilai dan pengetahuannya. Tujuan penelitian ini adalah melihat persepsi masyarakat tentang konservasi lingkungan dan penerapan persepsi dalam aktivitas masyarakat. Metode yang digunakan adalah kuliatatif untuk memperoleh data yang akurat dan valid. Hasil penelitian menunjukkan persepsi masyarakat tentang konservasi lingkungan tidak dapat dipisahkan dari aktivitas masyarakat sebagai petani. Tingkat ketergantungan pada lingkungan membentuk persepsi akan konservasi melekat pada pola hidup keseharian mereka. Tapi persepsi tersebut berubah seiring dengan perubahan sosial di masyarakat. Interaksi antara msyarakat Sekaran dengan mahasiswa sebagai pendatang mendorong perubahan pandangan tentang alam dan mata pencaharian. Ketika sistem mata pencaharian mereka tidak lagi tergantung sepenuhnya pada manajemen sumber daya alam, begitu pula percepsi akan konservasi lingkungan turut berubah. Hal ini dibuktikan dengan pola aktivitas mereka yang tidak lagi berkomitmen sepenuhnya pada konservasi lingkungan. Ritual kolektif yang dahulu berfungsi untuk pemeliharaan lingkungan, kini digantikan oleh aktivitas personal dengan makna yang sempit.  The issue of environmental conservation is an interesting study nowadays because the effect of global warming has been felt by mankind. Many national and international policies that toward environmental conservation perspective is encouraged, so did Unnes with its vision of conservation. Besides these policies, local communities actually have a perception about environmental conservation from their values and knowledge systems. The aim of this research is to find out society perception about environment conservation and the appearance of perception on the daily activities of the society. The research method is qualitative to gain accountable and valid data. Perceptions of environmental conservation can not be separated from their activities as farmers. The level of dependency on environtment makes perception of conservation is embedded well within the pattern of their daily lives. But this perception has shifted in line with social changes that occur. The presence of Unnes in their territory is the main factor of social changes in society. Interaction between Sekaran society with students as immigrant helped change their views about the nature and the occupation system. When the occupation system no longer depend entirely on the management of natural resources, so the perception of environmental conservation also shifted. This can be seen on their activity patterns that no longer has a full commitment to environmental conservation. Communal ritual that used to function as a place of transformation values of environmental conservation has been replaced with the personal activities of environmental hygiene has a narrower meaning.
TREN FASHION MERK LOKAL: ANTARA GAYA HIDUP DAN REPRESENTASI NASIONALISME DI KALANGAN MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG Bayusar Candra Pradana; Atika Wijaya
Jurnal Praksis dan Dedikasi Sosial (JPDS) Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um032v6i2p128-137

Abstract

Local brand fashion is a style of dress using original clothing brands made in Indonesia. The trend of using local fashion brands has begun to develop among urban students, one of whom is a Semarang State University (UNNES) student in Semarang City. Local fashion brands also have a connection with nationalism because they are included in domestic products. This article aims to explain how UNNES students interpret local brand fashion trends as part of a lifestyle and find out the meaning of using local brands when associated with nationalism. This research uses qualitative methods. The subjects of this study were active UNNES students. Data collection techniques used in this study were observation, interviews, and documentation. The results of this study indicate that fashion trends for local brands among UNNES students have changed student lifestyle patterns, besides that the use of local brand fashion is a form of love for UNNES students for domestic products. UNNES students represent a sense of nationalism by using local fashion brands which are native domestic products.Fashion merk lokal merupakan gaya berpakaian dengan menggunakan merk pakaian asli buatan Indonesia. Tren penggunaan fashion merk lokal sudah mulai berkembang di kalangan mahasiswa perkotaan, salah satunya adalah mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang berada di Kota Semarang. Fashion merk lokal juga memiliki keterkaitan dengan nasionalisme karena termasuk produk dalam negeri. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana mahasiswa UNNES memaknai tren fashion merk lokal sebagai bagian dari gaya hidup dan mengetahui makna tindakan menggunakan brand lokal jika dikaitkan dengan nasionalisme. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa aktif UNNES. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tren fashion merk lokal di kalangan mahasiswa UNNES merubah pola gaya hidup mahasiswa, selain itu penggunaan fashion merk lokal merupakan salah satu bentuk rasa cinta mahasiswa UNNES terhadap produk dalam negeri. Mahasiswa UNNES merepresentasikan rasa nasionalisme dengan cara menggunakan fashion merk lokal yang merupakan produk asli dalam negeri.
How Does Social Capital Work in Developing Karimunjawa Maritime Tourism? Tri Marhaeni Pudji Astuti; Edi Kurniawan; Kuncoro Bayu Prasetyo; Atika Wijaya; Mohammad Syifauddin
Komunitas Vol 15, No 1 (2023): March
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v15i1.39796

Abstract

This study intended to analyze how social capital works in the developing marine tourism in Karimunjawa Indonesia. This research was conducted in Karimunjawa. The data was collected with snowball sampling techniques. The data collection methods used consisted of participatory observation methods, in-depth interviews, and documentation. The data obtained were analyzed using the interactive analysis method. The results of the study indicate that the strong social capital formed in Karimunjawa has a very big influence on tourism activities in Karimunjawa. The social capital in tourism in Karimunjawa is based on many networks that are formed, supported by mutual trust, and still rooted in various social values and norms in the community that support the strength of existing social capital. It results in collective actions in the form of synergy and cooperation between the community and various tourism stakeholders in tourism activities in Karimunjawa. The social capital formed in Karimunjawa consists of three types. They are Bonding Social Capital, Social Bridging Capital, and Social Linking Capital which are complementary and mutually reinforcing so that they cannot be separated. However, between the three social capitals, bridging social capital is the biggest power base in realizing the progress of tourism in Karimunjawa.
Building Children's Awareness with Local Knowledge-Based Mangrove Literacy Models in Coastal Areas Harto Wicaksono; Atika Wijaya; Asma Luthfi; Fajar Fajar
Komunitas Vol 15, No 1 (2023): March
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v15i1.44792

Abstract

Degradation of coastal environment that occurs in parts of Indonesia's coastal areas is generally caused by erosion, climate change, development, and loss of mangrove forests. This degradation also has an impact on the reduction of the land area inhabited by the community. Bedono Village in Sayung District, Demak Regency, Central Java is one of the areas with the worst conditions, where a third of its area was lost due to tidal floods. One alternative solution that can be done is to restore the function of mangroves in a sustainable manner which is carried out on a local basis and inclusive awareness. This paper aims to discuss the concept of conscientization from Paulo Freire which emphasizes the presence of consistency and inclusiveness as the fruit of full self-awareness to solve the problem of the decrease of the quality of the coastal environment and the reduce of Indonesia's coastal areas. The research approach used is qualitative and Participatory Rural Appraisal (PRA). PRA is used to map the problems and potentials of coastal communities and children's groups, including the local wisdom values of the community. The data collection technique uses interviews, observation, documentation, and group discussions from August to November 2021. Through a socio-cultural approach, and collaboration with formal and informal educational institutions, the result of this study can be a repressive and preventive model in alleviating environmental problems, especially coastal problems. By formulating and applying the Paulo Freire consientizacio model based on local potential, it was found that the reconstruction of mangrove conservation education was able to build children's critical and transformative awareness that would be able to solve problems in coastal areas. Based on an inclusive mangrove literacy approach, the application of education is targeted at the children of this generation as conservation agents capable of caring for and innovating to improve the environment with awareness that has been formed through mangrove literacy education from an early age.
Urgensi Pendidikan Perdamaian di Sekolah Multikultural Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda Medan dan Sekolah Karang Turi Semarang Argitha Aricindy; Wasino Wasino; Hamdan Tri Atmaja; Atika Wijaya
Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan Perdamaian adalah program sekolah secara keseluruhan yang inovatif dan integratif yang menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari kekerasan dan damai yang kondusif untuk memenuhi kebutuhan emosional, sosial, dan intelektual dari populasi sekolah yang beragam. Tujuan utama dari Program EFP (Education for Peace) adalah untuk menciptakan sekolah yang berpartisipasi pada Budaya Damai menciptakan lingkungan yang bebas kekerasan, bebas perundungan, harmonis, dan lingkungan yang damai di seluruh komunitas sekolah. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan penelitian kualitatif. Penelitian menggunakan pendekatan natural setting yang mencari pemahaman mendalam tentang fenomena sosial dalam latar alamiahnya. program pendidikan perdamaian yang sudah dilakukan oleh Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda Medan dan Sekolah Karang Turi yaitu Pelatihan dan pembentukan kelompok-kelompok pendukung pendidikan perdamaian sebaya mendukung pendidikan perdamaian sebaya di sekolah-sekolah Untuk meningkatkan minat, komitmen dan partisipasi aktif para aktif siswa terhadap pendidikan perdamaian di sekolah dan melatih siswa dalam memperkuat pendidikan perdamaian melalui kegiatan-kegiatan praktis yang membangun budaya penerimaan dan perubahan perilaku di antara teman-teman mereka di sekolah. Manfaat dari implementasi program ini di sekolah mereka menjadi lebih terbuka untuk terlibat dalam percakapan yang beragam dan juga mencari cara untuk menyelesaikan konflik yang memaksimalkan manfaat bersama.
Mainstreaming Peace Education in Multicultural Schools Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda Medan and Karang Turi Semarang Argitha Aricindy; Wasino Wasino; Hamdan Tri Atmaja; Atika Wijaya
International Conference on Science, Education, and Technology Vol. 9 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peace Education for non-violence and peace includes training, skills and information geared towards cultivating a culture of peace based on human rights principles. Learning objectives of peace education may include an understanding of the manifestations of violence, the development of capacities to respond constructively to such violence and specialized knowledge of alternatives to violence. Peace education initiates understanding, tolerance, and friendship among all nations, racial or religious groups and furthermore peace education maintains world security. Peace education has five platforms in the education sector, natural sciences, social and human sciences, culture and communication and information, where the main goal is to promote intercultural dialogue in policies and actions with mutual respect so that the education sector platform in practice has the power to create peace education.
Upaya Industri Kecil Batik dalam Meningkatkan Pendapatan Melalui Pemasaran Online di Desa Gemeksekti Kebumen Putri Indah Laras Ati; Atika Wijaya
Indonesian Journal of Sociology, Education, and Development Vol 4 No 2 (2022): Juli-Desember 2022
Publisher : Asosiasi Profesi Pendidik dan Peneliti Sosiologi Indonesia (AP3SI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52483/ijsed.v4i2.78

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang upaya industri kecil batik di sentra batik Desa Gemeksekti Kecamatan Kebumen Kabupaten Kebumen dalam meningkatkan pendapatan mereka melalui pemasaran berbasis online. Persaingan dunia usaha yang sangat kompetitif menuntut pelaku usaha untuk mencoba berbagai metode yang sebelumnya asing bagi mereka yaitu pemasaran online melalui media social. Terlebih ketika pendapatan industri batik semakin menurun karena perubahan perilaku belanja konsumen yang lebih nyaman berbelanja dari jauh. Penelitian ini dilakukan di Dukuh Tanuraksan Desa Gemeksekti Kecamatan Kebumen Kabupaten Kebumen. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mendapatkan data yang komprehensif. Adapun teknik pengumpulan data dengan cara wawancara dengan pelaku usaha batik, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif pelaku usaha kecil batik beralih ke pemasaran online adalah untuk meningkatkan produksi dan penjualan produk, serta memperkenalkan batik Kebumen ke pasar yang lebih luas, selain juga mengikuti perkembangan teknologi informasi. Dengan metode pemasaran online ini terdapat peningkatan pendapatan sekitar 50% dari sebelumnya. Keuntungan penjualan digunakan untuk moal kembali, selain itu untuk memenuhi kebutuhan primer serta investasi masa depan. Penelitian ini berkontribusi pada informasi bagi pelaku usaha kecil yang masih mengandalkan pemasaran offline agar dapat mempertimbangkan pemasaran online yang lebih mengikuti permintaan pasar masa kini.
Co-Authors Adiyatma Rakhmawati Afriyanto, Jefri Agung Maulana, Otniel Linuwih Alias, Nizamuddin Amanatin, Elsa Lutmilarita Anisya Rahmadani Antari Ayuning Arsi Argitha Aricindy Argitha Aricindy Ariq Dwi Yulian Nugroho Asma Lutfi, Asma Asma Luthfi Azzahra, Elvara Siti Baiq Farhatul Wahidah Bayusar Candra Pradana Cepi Kurniawan Dewi Liesnoor Setyowati Dwi Ningsih, Erna Edi Kurniawan Elly Kismini Elsha Pipit Nathalia Erika Nada Arwana Eva Banowati Fadly Husain Fajar Fajar Fajar Fajar Fajar, Muhammad Hayyun Fauzi, Malik Ridwan Fulia Aji Gustaman, Fulia Aji Hamdan Tri Atmaja Hamdan Tri Atmaja Hapsari, Zhaqiya Rizqy Hartati Sulistyo Rini Harto Wicaksono Harto Wicaksono, Harto Hidayati1, Widi Ilmaknun, Ana Luluk Iqlima, Dita Islamy, Cindy Fa'era Istikomah Istikomah Istiqomah, Itsna Rizqi Janah, Zunida Sifaul Juraedah, Ade Kuncoro Bayu Prasetyo Mahbubah, Zaematul Marsela, Aprilyana Selin Moh. Solehatul Mustofa Mohammad Alauhdin, Mohammad Mohammad Syifauddin Muhammad, Syaifuddin Muzhaffar, Muhammad Naufal Nafitasari, Laela Kurnia Ninuk Sholikhah Akhiroh Ninuk Sholikhah Akhiroh Nuril Huda Nurul Fatimah Oktarin, Salsya Devi Paramita, Yuni Pramestia, Rena Aliya Pramono, Didi Putri Indah Laras Ati Rahmadani, Anisya Ridhwan, Hasna Farras Elian Ritaningrum Rizma Riskiana Rohmi, Maulidtha Kholifatur Saddam Saddam, Saddam Saffana Azyu Marnis Saputri, Meylanda Saputri, Nadia Eka Sholikhah Akhiroh, Ninuk Sistya, Ima Sri Kadarwati Sulasmi Sulasmi Sulistiyani2, Novi Sutrisno3, Wahyu Syarifa, Nisa Hafizhotus Syifa Ifada, Hanif Teguh Budiyanto, Teguh Tri Marhaeni Pudji Astuti Wasino Wasino Widyastuti, Ika Winarno, Yohanes Woro Sumarni Wulan Dwi Aryani Yuniati, Eka Yusuf, Rifki S. Zaematul Mahbubah Zaki, Fajar S. Zulfa, Ichda Zakiyatuz