Claim Missing Document
Check
Articles

Angka kejadian nyeri kepala pasca anestesia spinal pada pasien paskaoperasi seksio sesarea Parami, Pontisomaya; Wiryana, Made; Senapathi, Tjokorda Gde Agung; Ryalino, Christopher; Pradhana, Adinda Putra; Narakusuma, I Putu Fajar
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 12 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i12.P02

Abstract

Nyeri kepala pasca anestesia spinal merupakan salah satu resiko dari anestesi neuraksial yang terjadi setelah prosedur anestesi spinal akibat tusukan dural atau robekan selama dilakukannya anestesi yang dapat disertai dengan gejala mual, muntah, serta gangguan pendengaran dan penglihatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat angka kejadian nyeri kepala pasca spinal anestesia pada pasien pasca operasi seksio sesarea di RSUP Sanglah Denpasar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif potong lintang yang dilakukan terhadap semua pasien yang menjalani operasi dengan teknik anestesia spinal di RSUP Sanglah Denpasar selama periode tiga bulan di tahun 2021. Sebanyak tiga sampel dieksklusi karena sebelumnya telah memiliki riwayat nyeri kepala, sehingga diperoleh total 109 sampel. Kuisioner diisi sesuai jawaban responden pada hari ke-2 dan ke-5 paskaoperasi. Hasil penelitian menunjukkan angka kejadian nyeri kepala pasca anestesia spinal pada hari kedua dan hari kelima paskaoperasi adalah sama yaitu sebesar 2%, seluruhnya merupakan nyeri kepala dengan derajat ringan.
PENGATURAN KECEPATAN MOTOR INDUKSI MENGGUNAKAN FUZZY LOGIC CONTROLLER BERBASIS ARTIFICIAL INTELLIGENCE Sutawinaya, I Putu; Wahyu Antara K., I Gede; Suputra Widharma, I Gede; Wiryana, Made
Jurnal Ilmiah Vastuwidya Vol 7, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Mahendradatta Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47532/jiv.v7i2.1121

Abstract

Motor induksi adalah salah satu motor listrik yang umum digunakan di industri-industri karena relatif murah. Secara umum untuk mengatur kecepatan motor induksi tiga fasa menggunakan sistem kontrol berbasis kontroler PID (Proportional, Integral, Derivative). Semakin berkembangnya teknologi khususnya berkenaan dengan perkembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence), maka penulis melakukan pengujian terhadap pengaturan kecepatan motor induksi tiga fasa menggunakan sistem kontrol berbasis Fuzzy Logic. Sistem kontrol yang dirancang disimulasikan menggunakan perangkat lunak Simulink dari Matlab. Berdasarkan hasil pengujian diperoleh hasil bahwa kecepatan motor induksi relatif stabil. Rise time dan settling time relatif cepat, namun overshoot dan steady state error masih perlu ditekan. 
Slow 0.9% NaCl Bolus Administration Reduces ANP, MMP-2, and Syndecan-1 Shedding in Septic Shock Rabbit Models Hartawan, I Nyoman Budi; Wiryana, Made; Jawi, I Made; Astawa, I Nyoman Mantik; Bakta, I Made; Subanada, Ida Bagus; Suparyatha, Ida Bagus; Wati, Dyah Kanya
Molecular and Cellular Biomedical Sciences Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Cell and BioPharmaceutical Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21705/mcbs.v9i2.590

Abstract

Background: The optimal rate for fluid bolus administration in septic shock remains a critical and unresolved question. Rapid bolus administration is commonly practiced but has been linked to elevated levels of atrial natriuretic peptide (ANP), matrix metalloproteinase-2 (MMP-2), and syndecan-1 shedding, potentially exacerbating endothelial glycocalyx damage and increasing vascular permeability. However, the physiological and clinical implications of slower bolus rates have not been thoroughly investigated. This study was conducted to identify safer fluid management practices and improve patient outcomes in septic shock.Materials and methods: A randomized post-test-only control group design was employed, involving 36 male New Zealand rabbits with lipopolysaccharide-induced septic shock. The treatment group received 0.9% NaCl boluses (20 mL/kg body weight) over 20 minutes per bolus (slow bolus), while the control group received the same volume over 5 minutes per bolus (rapid bolus). ANP, MMP-2, and syndecan-1 levels were measured using ELISA 10-15 minutes post-intervention.Results: The median ANP levels in the treatment group (92.86 ng/mL) were significantly lower (p<0.05) than those in the control group (367.32 ng/mL). The mean MMP-2 levels in the treatment group (10.26 ng/dL) were lower than those in the control group (11.43 ng/dL). The median levels of syndecan-1 were also lower in the treatment group (4.31 ng/mL) compared to the control group (5.94 ng/mL).Conclusion: Slow fluid boluses appear to mitigate endothelial damage by reducing ANP, MMP-2, and syndecan-1 shedding. These findings suggest that slower infusion rates may offer a protective advantage in fluid resuscitation, paving the way for updated clinical guidelines.Keywords: fluid bolus, ANP, MMP-2, syndecan-1
Efektivitas Blok Ilioingunal Dalam Menurunkan Penggunaan Opioid Dan Skor Nyeri Pada Seksio Sesarea: Studi Acak Terkontrol Irawan, Andi; Parami, Pontisomaya; Wiryana, Made
Jurnal Anestesiologi dan Terapi Intensif Vol. 1 No. 1 (2025): JATI April 2025
Publisher : Udayana University and Indonesian Society of Anesthesiologists (PERDATIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JATI.2025.v01.i01.p02

Abstract

Pendahuluan: Nyeri pascaoperasi seksio sesarea merupakan nyeri berat yang dapat mengganggu aktifitas ibu dan hubungan ikatan pertama kali antara ibu dan bayi. Tatalaksana nyeri hanya berfokus pada opioid dapat menyebabkan efek samping seperti mual, muntah, sedasi, dan depresi napas yang mengganggu ikatan ibu dan bayi. Saraf ilioinguinal menginervasi bagian abdomen bawah yang terlibat dalam insisi Pfannenstiel saat tindakan seksio sesarea sehingga blok ilioinguinal berpotensi mengatasi kedua permasalahan nyeri tersebut diatas pada pascaoperasi seksio sesarea. Pasien dan Metode: Penelitian ini merupakan penelitian true experimental dengan rancangan yang digunakan adalah single blind randomized controlled trial yang membagi 70 subyek penelitian kedalam dua kelompok, yaitu kelompok blok ilioinguinal pascaoperasi seksio sesarea dan kelompok kontrol. Kedua kelompok juga diberikan patient controlled analgesia morfin  Kemudian dilakukan evaluasi skala nyeri NRS pada jam ke-0, 3, 6, 12, dan 24 selama 24 jam pertama, penggunaan total morfin dalam 24 jam, dan kenaikan nilai NLR dan PLR yang terjadi. Keseluruhan data kemudian dibandingkan untuk melihat keberhasilan blok ilioinguinal dalam menangani nyeri pascaoperasi seksio sesarea. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa kelompok blok ilioinguinal memiliki skor nyeri NRS pascaoperasi seksio sesarea yang lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol, dan secara statistik bermakna (p < 0,001). Untuk penilaian konsumsi morfin dalam 24 jam, kelompok blok juga menggunakan morfin dalam jumlah yang lebih sedikit yaitu sebesar 4 mg dibandingkan kelompok kontrol yang hingga 22 mg dan bermakna secara statistik (p < 0,001). Kenaikan nilai NLR dan PLR juga terlihat lebih rendah pada kelompok blok dan bermakna secara statistik (p < 0,001). Kesimpulan: Blok ilioinguinal mampu memberikan penanganan nyeri yang baik selama 24 jam pertama pascaoperasi seksio sesarea dengan mengurangi kebutuhan penggunaan morfin secara signifikan. Selain itu blok ilioinguinal juga mampu menekan respon inflamasi yang terlihat dari rendahnya kenaikan nilai NLR dan PLR dibandingkan dengan kelompok yang tidak menggunakan blok.
Manajemen Anestesi pada Pasien Pasca Transplantasi Ginjal yang menjalani Operasi Seksio Sesaria: Laporan Kasus Aryasa, Tjahya; Prema Putra, I Made; Wiryana, Made
Jurnal Anestesiologi dan Terapi Intensif Vol. 1 No. 1 (2025): JATI April 2025
Publisher : Udayana University and Indonesian Society of Anesthesiologists (PERDATIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JATI.2025.v01.i01.p05

Abstract

Wanita dengan riwayat pasca transplantasi ginjal harus menjalani persiapan yang matang untuk menjalani proses kehamilan. Manajemen perioperatif pada pasien wanita hamil dengan  pasca transplantasi ginjal juga dibutuhkan kerjasama tim yang meliputi ahli nefrologi, obstetri, dan anestesiologi & terapi intensif. Evaluasi meliputi pemeriksaan preanestesi rutin yang difokuskan kepada efek pemberian obat-obatan imunosupresif pasca transplantasi ginjal dan penyakit komorbidnya. Durante operasi juga harus mempertimbangkan teknik anestesi yang digunakan, interaksi obat dan teknik anestesi yang digunakan terhadap obat-obatan imunosupresi, serta resiko infeksi. Perawatan pasca operasi di ruang terapi intensif dibutuhkan untuk memonitoring status preload pasien, fungsi ginjal, dan juga pencegahan infeksi. Pemahaman mengenai perubahan fisiologi yang terjadi pada wanita hamil dengan  pasca transplantasi ginjal akan memberikan outcome yang lebih baik.
RENAL RESISTIVE INDEX (RRI) GUIDED BY ULTRASOUND (USG) AS A DIAGNOSTIC PREDICTOR OF ACUTE KIDNEY INJURY IN SEPSIS PATIENTS Satria Pinanditas S; Putu Agus Surya Panji; I Made Gede Widnyana; I Wayan Suranadi; Tjahya Aryasa EM; I Made Agus Kresna Sucandra; Made Wiryana; Tjokorda Gde Agung Senapathi
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.27245

Abstract

This study is an observational analytical study with a cross-sectional design conducted in the intensive care unit of RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah from January 2024 until completion. The study population consisted of patients aged 18-65 years who met the criteria for sepsis diagnosis without chronic kidney disease. Data analysis was performed using SPSS version 26, including descriptive analysis, ROC curve, diagnostic test, and correlation analysis. The mean RRI at 0 hours was ±SB 0.78±0.68 cm/s for the AKI group and ±SB 0.60±0.08 cm/s for the non-AKI group. The mean RRI at 6 hours was ±SB 0.77±0.65 cm/s for the AKI group and ±SB 0.60±0.08 cm/s for the non-AKI group. The cut-off point for RRI at 0 hours was ?0.70 cm/s, with a sensitivity of 84.6%, specificity of 88.9%, accuracy of 86.4%, PPV of 91.7%, and NPV of 80%, with a relative risk of AKI of 4.58 times (95% CI 1.89-11.10; P<0.001). Meanwhile, for RRI at 6 hours, the cut-off point was also ?0.70 cm/s, with a sensitivity of 88.5%, specificity of 88.9%, accuracy of 88.6%, PPV of 92%, NPV of 84.2%, and a relative risk of AKI of 5.83 times (95% CI 2.05-16.56; P<0.001). The correlation coefficient between RRI at 0 hours and serum creatinine was r=0.380, p=0.011, while for RRI at 6 hours, it was r=0.393, p=0.008. RRI at 0 hours showed a correlation with urine production with r=-0.428, p=0.004, while for RRI at 6 hours, it was r=-0.540, p<0.001. In conclusion, RRI guided by ultrasound is a good diagnostic predictor for acute kidney injury in sepsis.
EFFECTIVENESS OF BILATERAL ERECTOR SPINAE PLANE BLOCK VERSUS TRANSVERSUS ABDOMINIS PLANE AS ANALGESIA AFTER GYNECOLOGIC LAPAROTOMY Anak Agung Gde Agung Adistaya; Tjahya Aryasa E M; I Gede Budiarta; I Made Gede Widnyana; I Wayan Aryabiantara; IGAG Utara Hartawan; Made Wiryana; Tjokorda Gde Agung Senapathi
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.27247

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas blok ESP dan TAP terhadap durasi efek analgesik pasca operasi, nyeri pasca operasi, total konsumsi opioid pasca operasi, dan perubahan dalam nilai Neutrophil-Lymphocyte Ratio (NLR) sebelum dan sesudah operasi laparatomi ginekologi. Jenis penelitian ini adalah eksperimental murni (eksperimental sejati). Desain penelitian yang digunakan adalah uji acak tunggal tersamar. Subjek penelitian adalah pasien berusia 18-65 tahun yang menjalani operasi laparatomi ginekologi di ruang operasi Instalasi Bedah Pusat. Analisis data dilakukan dengan bantuan SPSS versi 26 termasuk analisis deskriptif dan uji perbandingan rata-rata menggunakan uji t independen. Blok ESP memiliki durasi analgesik yang lebih lama dengan rata-rata 6.13 ± 3.30 jam sedangkan TAP memiliki durasi analgesia sebesar 3.93 ± 1.98 jam, dengan perbedaan rata-rata sebesar 2.18 jam (IK 95% 0.22-4.15 jam; p = 0.030). Terdapat perbedaan pada skala VAS pada 6, 12, 24, dan 48 jam dengan hasil ESP lebih rendah dari TAP. Rata-rata kebutuhan morfin pada blok ESP adalah 1.62 ± 0.71 mg dan kelompok TAP dengan total kebutuhan rata-rata ± SB 3.31 ± 1.74 mg, perbedaan yang diperoleh adalah 1.68 mg (IK95% 0.72-2.64 mg; p = 0.001). Hasil perbedaan nilai perubahan NLR antara sebelum dan sesudah operasi antara blok ESP bilateral dan TAP ditemukan memiliki perbedaan yang signifikan dengan perbedaan rata-rata sebesar 0.36 (IK 95% 0.04-0.69; P=0.029). Kesimpulan dari penelitian ini adalah blok ESP memiliki efektivitas yang lebih baik dibandingkan dengan blok TAP sebagai analgesia setelah operasi laparatomi ginekologi.
THE EFFECTIVENESS OF GREATER AURICULAR NERVE (GAN) BLOCK USING ISOBARIC ROPIVACAINE AS AN ANALGESIC ADJUVANT AS COMPARED TO INTRAVENOUS OPIOID AS ANALGESIA FOR MIDDLE EAR SURGERY Tirta, Ian; Widnyana, I Made Gede; Sinardja, Cynthia Dewi; Putra, Kadek Agus Heryana; Parami, Pontisomaya; Suarjaya, I Putu Pramana; Wiryana, Made; Senapathi, Tjokorda Gde Agung
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.27255

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas Blok Saraf Aurikular Besar menggunakan ropivakain isobarik terhadap jumlah penggunaan opioid selama dan setelah operasi, penilaian hemodinamik, intensitas nyeri, dan penilaian respons mual dan muntah post-operatif. Jenis penelitian ini adalah eksperimental murni (eksperimental sejati). Desain penelitian yang digunakan adalah uji acak terkontrol buta tunggal (RCT). Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah 48 pasien berusia di atas 18 tahun hingga 65 tahun yang menjalani operasi telinga bagian tengah-bagian dalam di Rumah Sakit Prof IGNG Ngoerah, Denpasar. Analisis data dilakukan menggunakan SPSS versi 26 untuk uji t-tidak tergantung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fentanyl P1 adalah 77,08 ± 32,90 mg dan P0 adalah 97,92 ± 37,53 mg, p = 0,003. Kebutuhan morfin ditemukan dalam 3 jam, P1 adalah 0,58 ± 0,77 mg dan P0 ditemukan menjadi 1,04 ± 0,69 mg, p < 0,001. Kebutuhan morfin 6 P1 adalah 0,79 ± 0,72 mg dan P0 ditemukan menjadi 2,63 ± 1,27 mg, p < 0,001. Kebutuhan morfin selama 24 jam P1 adalah 1,50 ± 1,14 mg dan P0 ditemukan menjadi 3,92 ± 1,66 mg, p < 0,001. Intensitas nyeri ditemukan lebih rendah pada 3, 6, 12, 18, dan 24 jam pada P1 (p <0,05). Perbaikan hemodinamik > 20% pada P0 ditemukan pada 15, 30, 60, dan 120 menit, sedangkan kelompok P1 ditemukan stabil (p <0,001). Skor mual dan muntah selama 24 jam P1 adalah 1,92 ± 1,01 dan P0 adalah 2,75 ± 1,03, p = 0,007.
THE EFFECTIVENESS OF POSTOPERATIVE PERICAPSULAR NERVE GROUP ANALGESIA BLOCK IN PATIENTS UNDERGOING TOTAL HIP REPLACEMENT WITH REGIONAL ANESTHESIA SUBARACHNOID BLOCK I Gede Prima Julianto; I Made Gede Widnyana; Kadek Agus Heryana Putra; I Ketut Wibawa Nada; I Gusti Ngurah Mahaalit Aribawa; Ida Bagus Krisna Jaya Sutawan; Made Wiryana; Tjokorda Gde Agung Senapathi
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.27258

Abstract

Penggunaan blok saraf kelompok perikapsular (PENG) dapat menjadi alternatif analgesia post-operatif yang efektif untuk Penggantian Sendi Panggul Total, dengan komplikasi rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektivitas analgesia blok PENG terhadap tingkat nyeri, jumlah konsumsi opioid dalam 24, 48, dan 72 jam serta analgesia post-operatif THR di Rumah Sakit Prof. Dr. I. G. N. G. Ngoerah Denpasar. Penelitian ini adalah studi eksperimental dengan desain uji acak terkontrol buta tunggal yang dilakukan di ruang operasi Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Prof. Dr. I. G. N. G Ngoerah, Denpasar. Uji perbandingan rata-rata menggunakan uji Mann-Whitney jika distribusi data tidak normal. Seluruh proses analisis data di atas menggunakan perangkat lunak statistik SPSS 26. Ada 48 subjek yang menjalani THR dan dibagi menjadi 2 kelompok. Ada perbedaan yang signifikan secara statistik antara kelompok-kelompok tersebut. Berdasarkan hasil analisis non-parametrik, NRS saat istirahat dan bergerak di kelompok perlakuan lebih rendah daripada kontrol dengan nilai p <0,001. Jumlah opioid yang diperoleh memiliki nilai p <0,001 dalam 24 jam pertama, 48 jam, dan 72 jam. Durasi efek ditemukan lebih lama pada kelompok PENG dibandingkan dengan kontrol (p <0,001). Pemberian blok PENG selama prosedur THR menghasilkan NRS yang lebih rendah pada 24 jam, penggunaan opioid yang lebih rendah pada 24 jam, 48 jam, dan 72 jam pascaoperatif, dan durasi efek bebas nyeri yang lebih lama.
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS ANALGESIA PASCAOPERASI BLOK SUBKOSTAL TRANSVERSUS ABDOMINIS (STA) DENGAN OPIOID INTRAVENA PADA PASIEN OPERASI LAPAROSKOPI KOLESISTEKTOMI DI RSUP PROF. DR. I.G.N.G. NGOERAH DENPASAR Wardani, Dinar Kusuma; Sidemen, I.G.P.Sukrana; Hartawan , I.G.A.G. Utara; Widnyana, I Made Gede; Parami, Pontisomaya; EM, Tjahya Aryasa; Wiryana, Made; Senapathi, Tjokorda Gde Agung
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.27260

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membedakan efektivitas antara blok STA dengan opioid intravena sebagai analgesia pascaoperasi laparoskopi kolesistektomi di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah Denpasar. Penelitian ini merupakan sebuah uji coba prospektif, acak, terkendali dan single-centered. Sebanyak 60 subjek pasien yang menjalani tindakan operasi laparoskopi dibagi menjadi 2 kelompok denganpemberian tindakan STA dan tanpa STA. Analisis data dillakukan dengan bantuan SPSS versi 36 meliputi uji Chi Square, independent t tets dan Mann Whitney. Hasil penelitian bahwa Blok STA pascaoperasi laparoskopi kolesistektomi memiliki intensitas nyeri dengan NRS pada jam ke 6, 12 dan 24 lebih rendah dibandingkan dengan yang hanya mendapatkan opioid intravena dengan nilai p<0,001. Blok STA memiliki total waktu pemberian analgesik rescue pertama 6,67±2,39 jam dan tanpa STA 1,87±0,81 jam dengan perbedaan 4,80 jam (IK95% 3,87-5,72; p<0,001). Blok STA memiliki jumlah muntah dalam 24 jam dengan rerata 0,50±0,97 kali dan tanpa STA 3,27±1,79 kali dengan perbedaan 2,76 kali (IK95% 2,01-3,51; p<0,001). Blok STA memiliki hasil NLR dengan rerata 2,52±1,71 dan tanpa STA 4,64±2,90 dengan perbedaan 2,12 (IK95% 0,89-3,35; p=0,001). Nilai NLR antara sebelum dan sesudah kelompok STA menurun sebesar 1,27±2,64 sedangkan kelompok tanpa STA meningkat rerata 1,33±1,87 dengan perbedaan 2,61 (IK 1,43-3,80; P<0,001). Tindakan blok STA dapat menurunkan efek nyeri, mual-muntah dan durasi analgetik lebih panjang dengan nilai NLR lebih rendah pascaoperasi laparoskopi kolesistektomi dibandingkan dengan tanpa STA.
Co-Authors - Yehezkiel - Yehezkiel, - Adinda Putra Pradhana Anak Agung Gde Agung Adistaya Andi Irawan Andi Kusuma Wijaya, Andi Christopher Ryalino Cynthia Dewi Sinardja Demoina, I Gede Patria Devina Martina Bumi Dewa Ayu Mas Shintya Dewi Dyah Kanya Wati Elisma Nainggolan, Elisma EM, Tjahya Aryasa Emkel Perangin Angin, Emkel Gede Semarawima, Gede Giovanni, Malvin Hari Bagianto Hartawan , I.G.A.G. Utara I Gede Budiarta I Gede Prima Julianto I Gusti Agung Gede Utara Hartawan I Gusti Ngurah Mahaalit Aribawa I Gusti Putu Sukrana Sidemen I Ketut Sinardja I Ketut Suastika I Ketut Wibawa Nada I Made Agus Kresna Sucandra I Made Bakta I Made Darma Junaedi, I Made I Made Gede Widnyana I Made Jawi I Made Prema Putra I Made Subagiartha I Nyoman Budi Hartawan I Nyoman Hariyasa Sanjaya I NYOMAN MANTIK ASTAWA I Putu Agus Surya Panji I Wayan Aryabiantara, I Wayan I Wayan Suranadi Ida Bagus Alit Saputra Ida Bagus Gde Sujana Ida Bagus Gde Sujana, Ida Bagus Gde Ida Bagus Gede Suparyatha Ida Bagus Krisna Jaya Sutawan Ida Bagus Okta Ida Bagus Subanada IGNA Putra Arimbawa, IGNA Putra Kadek Agus Heryana Putra Kadek Agus Heryana Putra, Kadek Agus Ketut Semara Jaya, Ketut Semara Kristian Felix Wundiawan Kurnia, Prajnaariayi Prawira Kurniyanta, I P Kurniyanta, I Putu Made Adi Kusuma Made Agus Kresna Sucandra, Made Agus Kresna Made Widnyana Marilaeta Cindryani, Marilaeta Narakusuma, I Putu Fajar Ni Nyoman Sri Budayanti Ni Putu Novita Pradnyani, Ni Putu Ni Putu Wardani Pande Nyoman Kurniasari, Pande Panji, I PAS Pontisomaya Parami Putu Agus Surya Panji Putu Kurniyanta Putu Pramana Suarjaya Raka-Sudewi A. A. Satria Pinanditas S Sidemen, I.G.P.Sukrana Sonni Soetjipto, Sonni Stefanus Taofik Suarjaya, I PP Sucandra, I MK Suputra Widharma, I Gede Suranadi , I Wayan Sutawinaya, I Putu Tanuwijaya, Tommy M Tirta, Ian Tjahya Aryasa Tjahya Aryasa E M Tjokorda Gde Agung Senapathi Wahyu Antara K., I Gede Wardani, Dinar Kusuma Widnyana, I MG Widyana, I Made Gede