Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

The Formation of Sunni and Shia Theology in Early Islam: A Collective Memory Perspective on Power and Identity Masugi, Ibrahim Achmad Farrel Mahardika; Wiwik Setiyani
KALAM Vol 20 No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/202620129066

Abstract

This study investigates how traumatic experience and power dynamics after the Prophet Muhammad’s death shaped the theological and collective-psychological divergence of Sunni and Shia Islam. The core question concerns how the First Fitnah and the Karbala tragedy functioned not merely as political conflicts but as catalysts of enduring psychological patterns that inform doctrine and ritual. Grounded in the theory of collective memory developed by Maurice Halbwachs, this study employs a qualitative library research approach to examine classical texts, historical records, and modern scholarship. It argues that historical events are not passively remembered but actively reconstructed within social frameworks, enabling their transformation into enduring theological meanings. Findings reveal that the Shia community transformed the trauma of betrayal and martyrdom into a theology of resistance rooted in the Imamate, the memory of Karbala, and the concept of occultation, fostering defensive solidarity and an identity structured around suffering. In contrast, Sunnism developed a theology of legitimacy and social harmony through the caliphate, cultivating obedience and a psychological drive for stability to counter fears of fragmentation. The results affirm that both theological traditions are products of the dynamic interplay between power, history, and collective memory mechanisms that shape and transmit religious identity across generations. [Penelitian ini mengkaji bagaimana pengalaman traumatis dan dinamika kekuasaan pasca wafat Nabi Muhammad SAW membentuk divergensi teologis dan psikologi kolektif antara Sunni dan Syiah. Permasalahan utama penelitian ini adalah bagaimana Fitnah Kubro dan tragedi Karbala tidak hanya berfungsi sebagai konflik politik, tetapi juga sebagai katalis bagi terbentuknya pola psikologis yang bertahan lama dan memengaruhi doktrin serta praktik keagamaan. Berlandaskan teori memori kolektif yang dikembangkan oleh Maurice Halbwachs, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan menelaah teks klasik, catatan sejarah, dan literatur akademik kontemporer. Penelitian ini berargumen bahwa peristiwa historis tidak diingat secara pasif, melainkan direkonstruksi secara aktif dalam kerangka sosial tertentu sehingga menghasilkan makna teologis yang berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas Syiah mentransformasikan trauma pengkhianatan dan kesyahidan menjadi teologi resistensi yang berakar pada konsep Imamah, memori Karbala, dan doktrin ghaib, yang menumbuhkan solidaritas defensif serta identitas berbasis penderitaan. Sebaliknya, Sunni mengembangkan teologi legitimasi dan harmoni sosial melalui konsep khilafah, yang menumbuhkan etos kepatuhan serta dorongan psikologis untuk menjaga stabilitas guna meredam ketakutan terhadap disintegrasi. Temuan ini menegaskan bahwa kedua tradisi teologis merupakan hasil dari interaksi dinamis antara kekuasaan, sejarah, dan mekanisme memori kolektif yang membentuk serta mentransmisikan identitas keagamaan lintas generasi.]
Pengelolaan Dakwah Berbasis Digital Perspektif Manajemen Dakwah (Analisis POAC George R. Terry): Studi Kasus di Masjid At-Taqwa Jemurwonosari Wonocolo Surabaya Purnama, Bintang Handayani; Amelia, Alika Rahma; Perdana, Arya Putra; Setiyani, Wiwik
Da'watuna: Journal of Communication and Islamic Broadcasting Vol. 6 No. 3 (2026): Da'watuna: Journal of Communication and Islamic Broadcasting
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengelolaan dakwah digital di Masjid At-Taqwa Jemurwonosari Wonocolo Surabaya, dari sudut pandang manajemen dakwah dengan menggunakan teori perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian (POAC) yang dikemukakan oleh George R. Terry. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi yang melibatkan pengurus masjid yang aktif dalam mengelola media digital. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif untuk memahami pelaksanaan pengelolaan dakwah digital dalam konteks masjid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan dakwah berbasis digital di Masjid At-Taqwa dilakukan melalui perencanaan konten dakwah yang terstruktur, pembagian tugas yang jelas kepada pengelola media digital, penyebaran pesan-pesan keislaman melalui berbagai platform media sosial, dan evaluasi berkala terhadap efektivitas komunikasi dakwah. Penggunaan media digital dapat memperluas jangkauan dakwah di luar lingkungan masjid serta meningkatkan partisipasi masyarakat, terutama di kalangan generasi muda. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengelolaan dakwah digital merupakan strategi yang efektif untuk memperkuat peran masjid sebagai pusat komunikasi Islam di era modern.