Vonny N. S. Wowor
Universitas Sam Ratulangi

Published : 50 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN ERUPSI GIGI PERMANEN SISWA SD NEGERI 70 MANADO Lantu, Virginia A. R.; Kawengian, Shirley E. S.; Wowor, Vonny N. S.
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6849

Abstract

Abstract: Tooth eruption is defined as movements of the teeth to oral cavity or as a process appearance of the teeth which begins during teeth inside the jaws. It was a different variation to each childre’s. Nutritional status is one of important that play role during tooth eruption process. Related to another research that has found children with normal category of nutritional status have a normal process of tooth eruption. Instead, there was interference to children’s with a malnutrition status. This study aimed to analyze the relation between nutritional status and tooth eruption of children in SDN 70 Manado. Total population of this study was taken from 1st up to 6th grades within the age group 6-12 years old. Samples were 83 respondents who met the inclusion and exclusion criteria. Anthropomentric and visual checking was used for measurement of nutritional status and permanent tooth eruption status. The results showed that most respondents had normal height and weight as well as normal process of permanent tooth eruption. Children who had malnutrition status were also had failure in permanent tooth eruption. The chi-square test showed a significant relation between nutritional status and permanent tooth eruption in SDN 70 Manado.Keywords: nutritional status, permanent tooth eruptionAbstrak: Erupsi gigi didefinisikan sebagai pergerakan atau proses munculnya gigi ke arah rongga mulut yang dimulai sejak gigi berada di dalam tulang alveolar dan merupakan proses yang bervariasi pada setiap anak. Status gizi merupakan salah satu faktor yang berperan penting pada pertumbuhan dan perkembangan gigi termasuk tahapan erupsi gigi. Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu ditemukan bahwa anak-anak dengan status gizi baik, proses erupsi gigi permanen umumnya berjalan normal sedangkan anak-anak dengan status gizi kurang baik beresiko mengalami gangguan pada proses erupsi gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara status gizi dengan erupsi gigi permanen siswa SD Negeri 70 Manado. Populasi pada penelitian ini yakni siswa kelas I hingga kelas VI yang berusia 6 – 12 tahun, Sampel penelitian ialah seluruh anggota populasi dan memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi dengan jumlah 83 sampel dengan menggunakan metode total sampling. Data diambil melalui pengukuran antropometri dan pemeriksaan visual pada rongga mulut. Hasil penelitian yang didapatkan menunjukkan sebagian besar responden memiliki tinggi dan berat badan normal sesuai usianya, diikuti oleh yang berstatus gizi kurus, obesitas dan gemuk. Status erupsi gigi permanen sebagian besar menunjukkan telah erupsi. Hasil uji statistik dengan menggunakan uji Chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan erupsi gigi permanen siswa SD Negeri 70 Manado.Kata kunci: status gizi, erupsi gigi permanen
PERBANDINGAN PERILAKU KESEHATAN GIGI DAN MULUT ANTARA MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI UNSRAT SEMESTER I DAN SEMESTER V Wowor, Stephanie G.; Wowor, Vonny N. S.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 7, No 1 (2019): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.7.1.2019.22418

Abstract

Abstract: Oral health is still a problem in Indonesia, including in North Sulawesi. Oral health is affected by oral health behavior. Dental students have good knowledge about oral health, therefore, they can become good models for their families and society. Oral health behavior become more positive and better with increasing education. This study was aimed to analyze the difference in oral health behavior between first semester and fifth semester dental students at PSPDG FK Unsrat (Dental Program Study of Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University). This was a descriptive analytical study with a cross sectional design. Data were obtained by using questionnaires. Samples were obtained by using total sampling method. Data were analyzed with the Mann-Whitney test to obtain the difference between both groups. The results showed that there were 41 respondents divided into two groups: first semester students and fifth semester students. Both groups had good oral health behavior with an average score of 89.1 for the first semester students and of 98.7 for the fifth semester students. The statistical test comparing the oral health behavior of both groups showed a P value of 0.001. Conclusion: There were a significant difference in oral health behavior between the first semester and the fifth semester dental students at PSPDG FK Unsrat. The fifth semester students had better oral health behavior than the first semester students.Keywords: oral health behavior, dental studentsAbstrak: Kesehatan gigi dan mulut hingga kini masih menjadi masalah di Indonesia, termasuk di Sulawesi Utara. Kesehatan gigi dan mulut dipengaruhi oleh perilaku kesehatan gigi dan mulut. Mahasiswa kedokteran gigi memiliki pengetahuan mengenai kesehatan gigi dan mulut yang dapat menjadi contoh bagi keluarga dan masyarakat. Perilaku kesehatan gigi dan mulut menjadi lebih positif dan lebih baik dengan meningkatnya tingkat pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan perilaku kesehatan gigi dan mulut antara mahasiswa PSPDG FK Unsrat semester I dan semester V. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner. Sampel penelitian menggunakan teknik total sampling berjumlah 41 sampel yang terbagi dalam dua kelompok yaitu mahasiswa semester I dan mahasiswa semester V. Perbedaan perilaku kedua kelompok dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan seluruh mahasiswa pada kedua kelompok memiliki perilaku kesehatan gigi dan mulut yang baik dengan skor rerata pada mahasiswa semester I sebesar 89,1 dan pada mahasiswa semester V sebesar 98,7. Hasil uji statistik perbandingan perilaku kesehatan gigi dan mulut antara kedua kelompok menunjukkan nilai P=0,001. Simpulan: Terdapat perbedaan bermakna pada perilaku kesehatan gigi dan mulut mahasiswa PSPDG Unsrat semester I dan semester V. Mahasiswa semester V memiliki perilaku kesehatan gigi dan mulut yang lebih baik dibandingkan mahasiswa semester I.Kata kunci: perilaku kesehatan gigi dan mulut, mahasiswa kedokteran gigi
Hubungan Status Ekonomi dengan Keputusan Tidak Menggunakan Gigi Tiruan di Kelurahan Teling Atas Dewi, Kusuma; Siagian, Krista V.; Wowor, Vonny N. S.
e-GiGi Vol 7, No 2 (2019): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.7.2.2019.25408

Abstract

Abstract: High rate of tooth loss in Indonesia indicates that oral health is still a problem. Ideally, people who lose teeth will replace the missing teeth with using denture but not in the reality. Many factors could influence the background of people’s decisions, including cost. The relatively expensive cost of denture becomes an obstacle if the community is faced to various other needs that must be fulfilled including basic needs. Economic status will take a great deal in making decision. This study was aimed to assess whether there was a relationship between economic status and the decision of not using denture among people at Kelurahan Teling Atas. This was a descriptive analytical study with a cross sectional design. Population consisted of people who had tooth loss but did not replace it with using denture as many as 123 people. Samples were 55 people obtained by using purposive sampling method. The instrument in this study was a questionnaire. The results showed that 38.2% of respondents had low economic status, 25.4% had medium economic status, and 36.4% had high economic status. Respondents with positive decisions of not using dentures related to the cost were 62.09%. The Pearson chi-square showed a p-value of 0.003. In conclusion, there was a significant relationship between economic status and decision to not using denture.Keywords: economic status, decision of using denture Abstrak: Tingginya angka kehilangan gigi di Indonesia menandakan bahwa kesehatan gigi dan mulut masih menjadi masalah. Idealnya masyarakat yang kehilangan gigi akan menggantikan gigi asli yang hilang dengan gigi tiruan, namun kenyataannya belum demikian. Banyak faktor yang melatarbelakangi keputusan masyarakat, antara lain faktor biaya. Biaya perawatan gigi tiruan yang relatif mahal menjadi kendala jika masyarakat diperhadapkan dengan berbagai alternatif kebutuhan yang harus dipenuhi, termasuk kebutuhan pokok. Status ekonomi dalam hal ini adalah daya beli masyarakat akan turut berperan dalam pengambilan keputusan dimaksud. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara status ekonomi dengan keputusan tidak menggunakan gigi tiruan pada masyarakat di Kelurahan Teling Atas. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Populasi penelitian ini yaitu individu yang telah kehilangan gigi namun tidak menggantikannya dengan gigi tiruan, berjumlah 123 orang. Jumlah sampel sebesar 55 orang, diambil dengan metode purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menda-patkan responden dengan status ekonomi rendah sebesar 38,2%, status ekonomi menengah sebesar 25,4%, dan status ekonomi tinggi sebesar 36,4%. Responden dengan keputusan positif tidak menggunakan gigi tiruan terkait biaya sebesar 62,09%. Hasil uji statistik menggunakan Pearson chi square mendapatkan nilai p=0,003. Simpulan peneleitian ini ialah terdapat hubungan antara status ekonomi dengan keputusan tidak menggunakan gigi tiruan.Kata kunci: status ekonomi, keputusan menggunakan gigi tiruan
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT TERHADAP PEMAKAIAN GIGI TIRUAN DI KECAMATAN TONDANO BARAT Padu, Fonda; Lampus, Bennedictus S.; Wowor, Vonny N. S.
e-GiGi Vol 2, No 2 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.2.2014.5831

Abstract

Abstract: Teeth are one of the important components in the mouth that has a function of speech and mastication process. Although the science and technology of dentistry allows preventing tooth decay as early as possible, but there are still many cases of tooth loss. Treatment with the use of dentures as a replacement for the loss of the teeth is very important, but not all the people who have lost teeth are wearing dentures. In Indonesia, there are many cases of tooth loss but not in proportion to the number of users denture. According to a survey there are still a few people who wear dentures. Knowledge is one of the factors that cause a person to do things. The purpose of this study is to describe the level of public knowledge of Tondano Barat about dentures. This descriptive type of reasearch with a cross-sectiona study involving 67 respondents which is representative of a population of 3.295 people. Collecting data obtained through a questionnaire which includes characteristics of the respondents, level of knowledge about the use of denture. The results showed the level of public knowledge about the purpose of the use of denture is good with a percentage of 77,1% and the level of public knowledge about the benefits of the use of denture relatively good with a percentage of 71,4%. The conclusion of this study, the average level of public knowledge about denture use is good. Keywords: Public knowledge, use of denture   Abstrak: Gigi geligi merupakan salah satu komponen penting dalam mulut yang berperan dalam proses bicara maupun pengunyahan. Walaupun ilmu dan teknologi kedokteran gigi memungkinkan mencegah kerusakan gigi sedini mungkin, namun masih saja banyak dijumpai kasus kehilangan gigi. Perawatan dengan pemakaian gigi tiruan sebagai pengganti daerah yang kehilangan gigi sangat penting, akan tetapi tidak semua orang yang kehilangan gigi memakai gigi tiruan. Di Indonesia banyak terdapat kasus kehilangan gigi namun tidak sebanding dengan jumlah pemakai gigi tiruan. Menurut survei yang ada, pemakai gigi tiruan masih sangat sedikit. Pengetahuan merupakan salah satu faktor penyebab seseorang dalam melakukan suatu tindakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan masyarakat di kecamatan Tondano Barat terhadap pemakaian gigi tiruan. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan cross-sectional study yang melibatkan 67 responden yang merupakan perwakilan dari populasi sebesar 3.295 jiwa. Pengumpulan data diperoleh melalui kuesioner yang meliputi karakteristik serta tingkat pengetahuan masyarakat mengenai tujuan dan manfaat pemakaian gigi tiruan. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan masyarakat terhadap tujuan dari pemakaian gigi tiruan tergolong baik dengan persentase sebesar 77,1% dan tingkat pengetahuan masyarakat terhadap manfaat dari pemakaian gigi tiruan tergolong baik dengan persentase sebesar 71,4%. Kesimpulan dari penelitian ini, rata – rata tingkat pengetahuan masyarakat terhadap pemakaian gigi tiruan tergolong baik. Kata kunci:Pengetahuan masyarakat, pemakaian gigi tiruan
STATUS KEBERSIHAN MULUT DAN STATUS KARIES GIGI MAHASISWA PENGGUNA ALAT ORTODONTIK CEKAT Mantiri, Stany Cecilia; Wowor, Vonny N. S.; Anindita, P. S.
e-GiGi Vol 1, No 1 (2013): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.1.2013.1923

Abstract

Abstract: Fixed orthodontic appliance are now widely used in society, but people often do not realize the risks of using this appliance such as oral hygiene and caries problem. The design of this appliance is more difficult to clean than removable orthodontic appliance, so that patient is more difficult to maintain oral hygiene. Poor oral hygiene can also cause caries. The purpose of this study is to obtain a description of the oral hygiene status and caries status of dental student using fixed orthodontic appliance in Faculty of Dentistry, Sam Ratulangi University Manado. Oral hygiene examination is using Patient Hygiene Performance (PHP) Index and caries examination is using Decay Missing Filling Teeth (DMF-T) index. This study is descriptive study. The population are all dental student using fixed orthodontic appliance in Faculty of Dentistry, Sam Ratulangi University Manado. Total sample is 38 people and the data taking with total sampling method. The distribution of oral hygiene showed that 34 people had a good oral hygiene (89.47%), 4 people had a fair oral hygiene (10.53%) and there were no respondents with bad oral hygiene. Distribution of dental caries indicates the average of DMF-T number was 0.631 and by category of WHO, included in the very low category. Keywords: fixed orthodontic appliance, oral hygiene status, caries status.   Abstrak: Alat ortodontik cekat saat ini sudah banyak digunakan di masyarakat, namun masyarakat sering tidak menyadari risiko penggunaan alat ortodontik cekat seperti masalah kebersihan mulut dan karies. Alat ortodontik cekat memiliki desain yang lebih sulit untuk dibersihkan dibandingkan dengan alat ortodontik lepasan, sehingga pengguna alat ortodontik cekat lebih sulit untuk memelihara kebersihan mulut selama perawatan. Kebersihan mulut yang buruk dapat menyebabkan karies selama perawatan. Tujuan dari penelitian ini yaitu memperoleh gambaran status kebersihan mulut dan status karies mahasiswa pengguna alat ortodontik cekat di Program Studi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Status kebersihan mulut diperoleh dengan pemeriksaan menggunakan Patient Hygiene Performance (PHP) Index dan status karies diperoleh dengan pemeriksaan menggunakan indeks Decay Missing Filling Teeth (DMF-T). Penelitian ini merupakan penelitian deksriptif. Populasi penelitian yaitu semua mahasiswa pengguna alat ortodontik cekat di Program Studi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Sampel berjumlah 38 orang dan pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling. Hasil penelitian tentang kebersihan mulut menunjukkan 34 orang memiliki kebersihan mulut yang baik (89,47%), 4 orang memiliki kebersihan mulut sedang (10,53%) dan tidak terdapat responden yang memiliki kebersihan mulut yang buruk. Status karies gigi menunjukkan rata-rata jumlah DMF-T ialah 0,631 dan menurut kategori indeks DMF-T dari WHO termasuk pada kategori sangat rendah. Kata kunci: alat ortodontik cekat, status kebersihan mulut, status karies.
PENILAIAN RISIKO KARIES MELALUI PEMERIKSAAN ALIRAN DAN KEKENTALAN SALIVA PADA PENGGUNA KONTRASEPSI SUNTIK DI KELURAHAN BANJER KECAMATAN TIKALA Senawa, I Made W. A.; wowor, Vonny N. S.; ., Juliatri
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6601

Abstract

Abstract: Caries still becomes a problem in many countries include Indonesia. Basic Health Research in 2007 showed that caries experience of Indonesian population reach 72,1% and North Sulawesi stand at third rank with 82,8%. Determination of caries activity of individual can be done with caries risk assessment. Salivary flow and viscosity is included in caries risk assessment. Low salivary flow and high viscosity can show the presence of caries process. Hormonal contraception by injection is used more in Indonesia. In 2013 women who use injection KB was 49,42 % and in North Sulawesi was 41,30 %. Estrogen and progesterone hormone compound in injectable contraception are suspected to have ability to increase saliva secretion. Study type was descriptive with cross-sectional design and sampling method with purposive sampling by collect saliva in 5 minute that filled in a container. It is done in Kelurahan Banjer Kecamatan Tikala. The result showed that the majority (43.1 %) had normal salivary flow. Salivary viscosity result showed mostly 61.4 % had injectable contraception users in Kelurahan Banjer mostly had normal flow and placed in medium caries risk category. Salivary viscosity of injectable contraception users were watery category and placed in low caries riskKeywords: caries risk, salivary flow, salivary viscosity, injectable contraception users.Abstrak: Penyakit karies masih menjadi masalah di berbagai negara termasuk di Indonesia. Hasil Riset kesehatan Dasar tahun 2007 menunjukkan pengalaman karies yang diderita penduduk Indonesia mencapai 72,1% dan Sulawesi Utara menempati urutan ketiga dengan 82,8%. Penentuan aktivitas karies pada individu dapat dilakukan melalui penilaian risiko karies. Pemeriksaan aliran dan kekentalan saliva dapat digunakan untuk menilai risiko karies. Kecepatan aliran saliva dan dan kekentalan saliva dapat menunjukkan risiko karies individu. Kontrasepsi suntik merupakan jenis kontrasepsi hormonal yang semakin banyak dipakai di Indonesia. Tahun 2013 wanita pengguna Kontrasepsi Suntik di Indonesia sebanyak 49,42% dan di Sulawesi Utara sebanyak 41,30%. Kandungan hormon esterogen dan progesteron dalam Kontrasepsi Suntik diduga dapat meningkatkan sekresi saliva. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif dengan rancangan cross-sectional serta pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dengan cara mengumpulkan saliva selama 5 menit yang ditampung ke dalam wadah. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Banjer Kecamatan Tikala. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas (43,1%) memiliki aliran saliva normal dan 61,4% memiliki kekentalan saliva yang tergolong encer. Kesimpulan penelitian ini yaitu aliran saliva pengguna Kontrasepsi Suntik di Kelurahan Banjer sebagian besar berada pada kategori normal dan risiko karies tergolong sedang. Kekentalan saliva pengguna KB suntik di Kelurahan Banjer berada pada kategori yang encer dan dikategorikan risiko karies rendah.Kata kunci: risiko karies, aliran saliva, kekentalan saliva, pengguna kontrasepsi suntik
Uji Perbandingan Kekuatan Kompresi Tumpatan Resin Komposit dengan Teknik Incremental Horizontal dan Teknik Bulk Mundung, Claudya; Wowor, Vonny N. S.; Wicaksono, Dinar A.
e-GiGi Vol 6, No 2 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.2.2018.19940

Abstract

Abstract: Composite resin is one of the restoration material used in dental practice. Its strength and resistance factors toward usage and stability dimension lead to high compression strength to withstand mastication burden. This capacity has to be considered in choosing the composite resin as restoration material. This study was aimed to compare the compression strength of resin composites formed with horizontal incremental restoration technique and with bulk restoration technique. This was an experimental study conducted at Material Engineering Laboratory of the Faculty of Engineering Sam Ratulangi University Manado. There were six samples divided into 2 groups, each of 3 samples. The results showed that compression strength of resin composite formed with horizontal incremental technique was 199.45 MPa meanwhile of resin composite formed with bulk technique was 191.65 MPa. Conclusion: Compression strength of resin composite formed with horizontal incremental technique was higher than of resin composite formed with bulk technique.Keywords: resin composite, compression strength, incremental technique, bulk technique Abstrak: Resin komposit merupakan salah satu bahan restorasi yang sering digunakan di kedokteran gigi. Faktor kekuatan dan ketahanan terhadap penggunaan dan stabilitas dimensi memungkinkannya memiliki kekuatan kompresi yang besar untuk menahan beban kunyah. Hal ini merupakan salah satu keunggulan yang menjadi dasar pertimbangan saat memilih resin komposit sebagai bahan tumpatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan teknik penumpatan incremental horizontal dan teknik penumpatan bulk untuk kekuatan kompresi resin komposit. Jenis penelitian ialah eksperimental yang dilakukan di Laboratorium Rekayasa Material Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi. Sampel berjumlah 6 buah dibagi menjadi 2 kelompok, masing-masing terdiri dari 3 sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan kompresi tumpatan resin komposit dengan teknik incremental horizontal sebesar 199,45 MPa dan tumpatan resin komposit dengan teknik bulk sebesar 191,65 MPa. Simpulan: Kekuatan tekanan kompresi tumpatan resin komposit menggunakan teknik incremental horizontal lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan teknik bulk.Kata kunci: resin komposit, kekuatan kompresi, teknik penumpatan incremental horizontal, teknik penumpatan bulk
Uji Daya Hambat Ekstrak Bunga Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus mutans Parengkuan, Henaldy; Wowor, Vonny N. S.; Pangemanan, Damajanty H. C.
e-GiGi Vol 8, No 1 (2020): E-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.8.1.2020.27815

Abstract

Abstract: Hibiscus plant (Hibiscus rosa-sinensis L.) contains several antibacterial compounds such as tannin, alkaloids, triterpenoids, cyanidine, glycosides, and quercetin. One alternative to deal with diseases such as caries caused by bacterial infections is the use of hibiscus (Hibiscus rosa-sinensis L.). This study was aimed to determine the inhibitory effect of hibiscus flower extract on the growth of Streptococcus mutans bacteria causing caries. This was an experimental study with the modified Kirby-Bauer method using disks. Hibiscus flowers were obtained from Kotamobagu, North Sulawesi, and extracted by using maceration method and 96% ethanol as the solvent. The results showed that the total inhibition zone diameter resulted by hibiscus flower extract in five Petri dishes was 23.5 mm with an average of 4.6 mm. In conclusion, hibiscus flower extract had a weak inhibitory effect on the growth of Streptococcus mutans.Keywords: Hibiscus rosa-sinensis L., Streptococcus mutans, caries, inhibition zone Abstrak: Tanaman kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) mengandung beberapa senyawa yang bersifat antibakteri seperti tannin, alkaloid, triterpenoid, sianidin, glikosida, kuersetin. Salah satu alternatif untuk menanggulangi infeksi bakteri seperti karies yaitu dengan penggunaan bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak bunga kembang sepatu terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans penyebab karies gigi. Jenis penelitian ialah eksperimental dengan metode modifikasi Kirby-bauer menggunakan cakram. Bunga kembang sepatu diperoleh dari daerah Kotamobagu, Sulawesi Utara, dan diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 96% sebagai pelarut. Hasil penelitian menunjukkan total diameter zona hambat yang dihasilkan ekstrak daun bunga sepatu pada lima cawan Petri sebesar 23,5 mm dengan nilai rerata 4,6 mm. Simpulan penelitian ini ialah ekstrak bunga kembang sepatu memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans yang tergolong lemah.Kata kunci: bunga kembang sepatu, Streptococcus mutans, karies, daya hambat
Uji daya hambat rebusan daun pepaya (carica papaya) terhadap pertumbuhan Candida albicans pada plat resin akrilik polimerisasi panas Suni, Nurul A.; Wowor, Vonny N. S.; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 5, No 1 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.1.2017.15524

Abstract

Abstract: Unclean acrylic removable denture will be the gathering place of plaques that further become media for the growth of microorganisms, inter alia Candida albicans. Abnormal growth of fungi could result in denture stomatitis. Prevention can be done by using cleaning materials, however, these materials contain many chemical substances and are relatively expensive. Carica papaya is one of the herbs that contain active compounds which are antifungal. This study was aimed to determine the inhibition effect of papaya leaves on the growth of C. albicans isolated from the hot plate acrylic resin polymerization. This was a pure experimental study with a post test only control group design. Absorbance values were obtained by using a standard spectrophotometer with Mc Farland No. 1. The absorbance values were incorporated into Stainer formula to determine the total number of colonies of C. albicans. The results of the converted absorbance values were as follows: the papaya leaf 0.51 x 108 CFU; the positive control (polident) 2.5 x 108 CFU; and the negative control (sterile distilled water) 3.6 x 108 CFU. Conclusion: Papaya leaves (Carica papaya) had inhibitory effect on the growth of Candida albicans.Keywords: papaya leaf (Carica papaya), removable denture acrylic plate, Candida albicansAbstrak: Kebersihan gigi tiruan lepasan akrilik yang kurang diperhatikan akan menjadi tempat berkumpulnya plak yang dapat menjadi media untuk bertumbuhnya mikroorganisme, antara lain Candida albicans. Pertumbuhan jamur yang abnormal dapat mengakibatkan denture stomatitis. Pencegahan dapat dilakukan dengan menggunakan bahan pembersih, namun pembersih yang beredar saat ini banyak mengandung bahan kimia dan harga yang relatif mahal. Daun pepaya (Carica papaya) merupakan salah satu tanaman herbal yang mengandung senyawa aktif yang bersifat antifungi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat rebusan daun pepaya terhadap pertumbuhan C. albicans yang diisolasi dari plat resin akrilik polimerisasi panas. Jenis penelitian ialah eksperimental murni dengan post test only control group design. Nilai absorbansi diperoleh dengan menggunakan spektrofotometer standar Mc Farland no 1, kemudian nilai absorbansi dimasukan ke dalam rumus Stainer untuk mengetahui jumlah total koloni C. albicans. Hasil penelitian menunjukkan nilai absorbansi setelah dikonversikan ke dalam rumus ialah pada rebusan daun pepaya 0,51 x 108 CFU; kontrol positif (polident) 2,5 x 108 CFU; dn kontrol negatif (akuades steril) 3,6 x 108 CFU. Simpulan: Air rebusan daun pepaya (Carica papaya) memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan Candida albicans.Kata kunci: daun pepaya (carica papaya), plat gigi tiruan
PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI SILANG PADA TINDAKAN EKSTRAKSI GIGI DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT PSPDG FK UNSRAT Suleh, Meilan M.; Wowor, Vonny N. S.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10482

Abstract

Abstract: Tooth extraction is one of the high risk actions that can cause cross-infection. Prevention and control of a cross-infection is needed in tooth extraction because the field of dentistry work contacts directly with blood and saliva. This was a descriptive observational study with a cross sectional design. There were 44 samples obtained by using purposive sampling method. This study aimed to determine the prevention and control of cross infection in dental extractions at the Dental Hospital PSPDG FK Unsrat. The results showed that the prevention and control of cross-infection pre-action tooth extraction was 37.4%. The prevention of cross infection control during dental extractions was 60.26%. The prevention of cross infection control after tooth extraction was 47.16%. In general, prevention and cross-infection control in dental extractions at the Dental Hospital PSDDG FK Unsrat was only done by 48.23%.Keywords: prevention and control of cross-infection, tooth extraction actionAbstrak: Ekstraksi gigi merupakan salah satu tindakan berisiko tinggi menyebabkan terjadinya infeksi silang. Pencegahan dan pengendalian infeksi silang sangat dibutuhkan pada tindakan ekstraksi gigi, karena bidang kerja kedokteran gigi berhubungan langsung dengan darah dan saliva. Jenis penelitian ini deskritif observasional dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dengan jumlah 44 sampel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pencegahan dan pengendalian infeksi silang pada tindakan ekstraksi gigi di Rumah Sakit Gigi dan Mulut PSPDG FK Unsrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencegahan dan pengendalian infeksi silang pra tindakan ekstraksi gigi dilakukan sebesar 37,4%. Pencegahan dan pengendalian infeksi silang selama tindakan ekstraksi gigi dilakukan sebesar 60,26%. Pencegahan dan pengendalian infeksi silang paska tindakan ekstraksi gigi dilakukan sebesar 47,16%. Secara umum, pencegahan dan pengendalian infeksi silang pada tindakan ekstraksi gigi di RSGM PSDDG FK Unsrat hanya dilakukan sebesar 48,23%.Kata kunci: pencegahan dan pengendalian infeksi silang, tindakan ekstraksi gigi.