Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Jurnal Kesehatan Reproduksi

“Anak adalah Aset”: Meta Sintesis Nilai Anak pada Suku Lani dan Suku Aceh Agung Dwi Laksono; Ratna Dwi Wulandari
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 10 No 1 (2019): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 10 NO. 1 TAHUN 2019
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.242 KB) | DOI: 10.22435/kespro.v10i1.933

Abstract

Abstract Background: If a child gives values that were considered positive or beneficial to parents, then parents will place high expectations on the child. The study was conducted to synthesize the value of children in the Aceh Tribe and the Lani Tribe. Objective: The research aim was to explore the value of children in the Lani and the Acehnese. Methods: Using the meta-synthesis method in two manuscripts resulting from health ethnographic research, namely "The Dilemma of the Family Planning Program" (Acehnese Tribe in East Aceh, Aceh) and "Portrait of Noken Child Care Patterns in Lani Culture" (Lani Tribe in Tolikara, Papua). Results: Economically the people of Aceh and Lani consider children to be investments. This applies to girls. Socially, the two tribes consider children to be a complement to a family's life and a source of happiness. In religion, the Acehnese consider the child to be the successor to the religion, multiplying children was an effort to multiply the people. While Lani people believe in Christian teachings that encourage them to spread on the surface of the earth, this was done by multiplying offspring. For Acehnese children were important. They consider that the Acehnese boy could be the pride of the family and also the successor to the offspring. While Lani people value girls more than boys. Conclusions: Both tribes still want a large number of children, between 4-7 children. Both tribes also still hold strong the value of children economically, children were assets. Key words: the value of children, meta-synthesis, meta-aggregation, ethnography research, Aceh tribe, Lani tribe Abstrak Latar Belakang: Apabila seorang anak memberikan nilai yang dianggap positif atau menguntungkan bagi orang tua, maka orang tua akan menaruh harapan yang tinggi terhadap anak. Suku Aceh dan Suku Lani merupakan kelompok rentan yang perlu mendapat perhatian. Tujuan: Tujuan penelitian untuk mengeksplorasi nilai anak pada Suku Lani dan Suku Aceh. Metode: Meta sintesis pada dua manuskrip hasil riset etnografi kesehatan, yaitu “Dilema Program Keluarga Berencana” (Suku Aceh di Aceh Timur, Aceh) dan “Potret Pola Asuh Anak Noken dalam Budaya Lani” (Suku Lani di Tolikara, Papua). Studi difokuskan pada nilai anak secara: ekonomi; sosial; agama; preferensi gender; dan preferensi jumlah anak. Hasil: Secara ekonomi masyarakat Aceh dan Lani menilai anak adalah investasi. Hal ini berlaku bagi anak perempuan. Secara sosial kedua suku menilai anak adalah pelengkap hidup sebuah keluarga dan sumber kebahagiaan. Secara agama orang Aceh menilai anak itu penerus agama, memperbanyak anak adalah upaya untuk memperbanyak umat. Sedang orang Lani meyakini ajaran kristiani yang menganjurkan mereka untuk menyebar di permukaan bumi yang dilakukan dengan cara memperbanyak keturunan. Bagi orang Aceh anak laki itu penting. Mereka menganggap bahwa anak laki Aceh dapat menjadi kebanggaan keluarga dan sekaligus penerus keturunan. Sedang orang Lani menilai lebih tinggi anak perempuan dibanding laki-laki. Kesimpulan: Kedua suku masih menginginkan jumlah anak yang banyak, antara 4-7 anak. Kedua suku juga masih memegang kuat nilai anak secara ekonomi, anak adalah aset. Kata kunci: nilai anak, meta sintesis, meta agregasi, riset etnografi, suku Aceh, suku Lani
HUBUNGAN STATUS EKONOMI TERHADAP PERNIKAHAN DINI PADA PEREMPUAN DI PERDESAAN INDONESIA Ratna Dwi Wulandari; Agung Dwi Laksono
Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol 11 No 2 (2020): JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI VOLUME 11 NOMOR 2 TAHUN 2020
Publisher : Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/kespro.v11i2.3870.115-124

Abstract

Abstract Background: Early marriage practice in Indonesia is more often found in rural than in urban areas. Objective: The aim of this study is to examine the relationship of socioeconomic status and early marriage in rural areas in Indonesia. Method: This study used data from the 2017 Indonesian Demographic Health Survey. The sample was 2,252 of women aged 19 – 24 living in rural Indonesia. The variables included in the analysis were early marriage status, socioeconomic status, educational level, and working status. Analysis of collinearity, chi-square, and multiple logistic regressions were conducted in this study. Results: The socioeconomic status and educational level were significantly associated with early marriage among women aged 19 – 24 in rural Indonesia. The poorest socioeconomic women were 2.23 times more likely to experience early marriage than the richest women. Poorer women were 1.68 times more likely to experience early marriage than the richest women. Women who did not go to school, having primary to secondary level of education were more likely to experience early marriage than those having tertiary level, constituting for 10.34 times, 12.10 times and 4.52 times, respectively. Educational level was more dominant in relation to early marriage than socioeconomic status. Conclusion: Socioeconomic status and educational level are associated with early marriage. Poor young women with low educational level in rural areas should be the focus of the program target to reduce the coverage of early marriage in Indonesia. Keywords: rural area, women, early marriage, socioeconomic. Abstrak Latar belakang: Praktik pernikahan dini di Indonesia lebih sering ditemukan di wilayah perdesaan dibandingkan perkotaan. Tujuan: Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan status sosioekonomi terhadap kejadian pernikahan dini di perdesaan di Indonesia. Metode: Studi ini menggunakan data Survei Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2017. Sampel yaitu 2.252 perempuan 19 – 24 tahun yang tinggal di perdesaan Indonesia. Variabel yang dianalisis meliputi pernikahan dini, status sosioekonomi, tingkat pendidikan, dan status bekerja. Analisis yang digunakan yaitu uji collinearity, chi-square, dan regresi logistik ganda. Hasil: Status sosioekonomi dan tingkat pendidikan berhubungan secara signifikan dengan pernikahan dini pada perempuan 19 – 24 tahun di perdesaan Indonesia. Perempuan paling miskin memiliki kemungkinan lebih tinggi 2,23 kali untuk mengalami pernikahan dini dibandingkan perempuan paling kaya. Perempuan miskin memiliki kemungkinan lebih tinggi 1,68 kali mengalami pernikahan dini dibandingkan perempuan paling kaya. Perempuan yang tidak sekolah, pendidikan SD-SLTP, dan SLTA memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami pernikahan dini dibandingkan lulusan perguruan tinggi, berturut-turut sebesar 10,34 kali, 12,10 kali, dan 4,52 kali. Faktor tingkat pendidikan lebih dominan hubungannya dengan pernikahan dini dibandingkankan dengan faktor status sosioekonomi. Kesimpulan: Status sosioekonomi dan tingkat pendidikan berhubungan dengan pernikahan dini. Remaja putri miskin dengan tingkat pendidikan rendah di perdesaan harus menjadi fokus sasaran program penurunan cakupan pernikahan dini di Indonesia. Kata Kunci: perdesaan, perempuan, pernikahan dini, sosioekonomi.
Co-Authors Abbani, Abubakar Yakubu Abu Khoiri Aghnes Khen Phuspo Anindyo Agung Dwi Laksono Agung Dwi Laksono Agung Dwi Laksono Agung Dwi Laksono Agung Dwi Laksono Agung Dwi Laksono Agung Dwi Laksono Agung Dwi Laksono Agung Dwi Laksono Agung Dwi Laksono Agung Dwi Laksono Agung Dwi Laksono Agung Dwi Laksono Ainur Rofiq Alida Nella Fedelina Rassa Anak Agung Gede Sugianthara Anasiya Nurwitasari Andreas Nugroho Susanto Angin, Septa Ria Agina Perangin Arief Hargono Arizka, Ulfa Dwi Armunanto Armunanto Asrining Pangastuti Batangan, Dennis B. Bintang Gumilang Bunga Maharani Choirun Nisa' Dani Nasirul Haqi Diah Yunitawati Dian Febrina Anggraini Dimara, Fransiska Natalia Diyan Ermawan Effendi, Diyan Ermawan Djazuli Chalidyanto Djazuli Chalidyanto Dwi Rani Indra Swari Ernawaty Farah Yasmine Ainun Nisa Farah Yasmine Ainun Nisa Fariani Syahrul Fathiyah Rahmah Feni Choirun Nisa Hadi Ashar Hana Krismawati Hanifiya Samha Wardhani Hario Megatsari Hesty Mustika Dewi Ilham Akhsanu Ridho Ilham Akhsanu Ridlo Ina Kusrini Intan Ayu Ningkiswari Intan Permata Sari intan permata sari Kristiawan, Ayik Sudiat Kusumawardani, Hastin Dyah Lama’ah Azzahra Leny Latifah Leny Latifah M. Bagus Qomaruddin Maghfiroh, Sufi Aulia Maria Holly Herawati maya weka santi, maya weka Mitha Permata Dini Moh Yusuf Mona Safitri Fatiah Muhammad, Khansa Fatihah Muis, Early Wulandari Nadhif Alfia Charista Kusniar Nadia Rifqi Cahyani Natasya Salsabilla Nathasya, Jessie Angeline Nikmatur Rohmah Nikmatur Rohmah Nikmatur Rohmah Nikmatur Rohmah Nikmatur Rohmah Noer Endah Pracoyo Novita Aulia Effendy Nur Anisah Rahmawati Nuraini Wulandiana Nurhasmadiar Nandini Nurhidayati, Restu Nurul Hidayatul Mukaromah Nurul Hidayatul Mukaromah, Nurul Hidayatul Nyoman Anita Damayanti Oskar Renagalih Amarta Paramitha Kusuma Wardhani Popy Puspitasari Popy Puspitasari Popy Puspitasari Putri, Rizqi Salsabila Rachma Noor Kafila Raisa Manika Purwaningtias Ratu Alit Szasha Faulata Ratu Matahari Ratu Matahari Ratu Matahari Ratu Matahari Restu Widyayu Reza Fajrinmuha Rika Aprilia Rohmah, Nikmatur S. Supriyanto Sahrir Sillehu Sarni Rante Allo Bela Satyawan, Dandy Candra Sesotiyaningsih Madiyaning Utami Stefanus Supriyanto Stefanus Supriyanto Stevie Yonara Stevie Yonara, Stevie Sukesti, Tatiek Margi Supangat, Ririn Widyowati Tamara, Tashya Angelie Tatin Wahyanto Taufiq Hidayat Tri Wahyuningsih Tumaji Tumaji Tusy Novita Dwi Wardani Wahdah Dhiyaul Akrimah Wahyu Pudji Nugraheni Wahyu Setyaningsih Wahyu Setyaningsih Wahyul Anis Wasis Budiarto Widodo J. Pudjirahardjo Wijaya, Andriana Putri Yane Tambing Yashwant Vishnupant Pathak Yeni Rahmah Husniyawati Yogi Adiputro Yuli Astuti Zainul Khaqiqi Nantabah Zuardin, Zuardin