Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Tradisi Mappamula Ase Baru pada Awal Panen Padi dalam Masyarakat Bugis di Desa Rarongkeu Kecamatan Lantari Jaya Kabupaten Bombana Salma Yuliana Tou; Nurtikawati; Shinta Arjunita Saputri
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 6 No 2 (2023): Volume 6 No 2, Desember 2023
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v6i2.2477

Abstract

The Mappamula Ase Baru tradition is a tradition of the Bugis people which is carried out when entering the beginning of the rice harvest. This study aims to 1) find out the process of implementing the Mappamula Ase Baru Tradition in the Bugis community in Rarongkeu Village, Lantari Jaya District, Bombana Regency; 2) analyze the function of the Mappamula Ase Baru Tradition in the Bugis community in Rarongkeu Village, Lantari Jaya District, Bombana Regency. In this study, Bronislaw Malinowski's Functionalism theory was used. The type of research was descriptive qualitative, with data collection techniques carried out by observation, interviews and documentation and then analyzed by data reduction, data presentation, and data verification. The results of this study indicate that the process of the Mappamula Ase Baru tradition consists of three stages, namely the preparatory stage which consists of determining the time and providing offerings, implementation, namely where the new Mappamula Ase tradition will be carried out on the community's agricultural land and led by sandro (shaman) and the stage the third, namely the final stage, is to bring back to the house a few stalks of rice that have been taken and placed in the center or center pillar of the house. The Mappamula Ase Baru tradition has a function that is believed by the Bugis community, namely as an identity and a function of belief.
Tradisi Pengobatan Moalo Sanggoleo pada Suku Tolaki di Kelurahan Petoaha Kecamatan Nambo Kota Kendari Irawati Tapasi; Adelina Mahmuddin; Abdul Alim; Nurtikawati Nurtikawati
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 7 No 1 (2024): Volume 7 No 1, Juni 2024
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v7i1.2601

Abstract

The Moalo Sanggoleo healing tradition is a treatment process carried out on someone who is caused by hearing and seeing something that makes the person feel bad and feel afraid. This research aims to 1) find out and explain the process of implementing the Moalo Sanggoleo healing tradition among the Tolaki tribe in Petoaha Village, Nambo District, Kendari City. 2) find out and explain the meaning of the speech contained in the Moalo Sanggoleo healing tradition among the Tolaki tribe in Petoaha Village, Nambo District, Kendari City. In this research, Roland Barthes' semiotic theory is used, the type of research is descriptive qualitative, with data collection techniques carried out by observation, interviews and documentation, then analyzed by data reduction, data presentation and data verification. The results of this research show that the process of implementing the Moalo Sanggoleo tradition consists of several stages, namely the stage of determining the time and place for the treatment, the parties involved in implementing the treatment, the stage of implementing the treatment which consists of diagnosing the disease and the process of implementing the Moalo Sanggoleo treatment and the healing stage. The meaning of the speech contained in the Moalo Sanggoleo treatment is found in the mantra used in the Moalo Sanggoleo treatment process, namely the Moalo Sanggoleo treatment mantra nad the bathring water mantra which have denotative and connotative meaning.
Tuturan Do’omba dalam Adat Perkawinan Masyarakat Muna di Desa Kombunga Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna Rizal Suprianti; Syahrun Syahrun; Nurtikawati Nurtikawati
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 7 No 1 (2024): Volume 7 No 1, Juni 2024
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v7i1.2821

Abstract

The purpose of this study is to describe the implementation process and meaning of the Do'omba Tradition in the marriage customs of the Muna Community in Kombungo Village, Lasalepa District, Muna Regency. The study used a qualitative research method. Data collection techniques were done by direct observation, interviews with 5 informants, and documentation. Data were analyzed in four stages, namely; (1) data collection, (2) data reduction, (3) data presentation, and (4) concluding. The results of this study are; (1) The Do'omba tradition procession in Kombungo Village begins at the Nopali stage, then Mpali-mpali (walking) the first visit of a boy with his parents, a discussion carried out by the man's family to determine the day before leaving for a girl's house, then at the Do'omba stage where the toko or traditional delegation that has been entrusted by the man's family goes to the woman's family house according to the promise referred to at the time of Kafoepe (news bearer/promise). (2) The tradition of Do'omba/Do'ombaghomo Patudhundo (stating intentions) means Defenagho Tungguno Karete (asking the guardian of the yard), which has the meaning of a traditional meeting where the man expresses his intentions with a sincere, honest heart and his seriousness in marrying a girl with a figurative question that is beautiful to hear for the woman, namely whether or not there is a guardian/companion for the girl who is going to be proposed to.
Makna Simbolik Tradisi Were Baru Setelah Panen Suku Bugis di Desa Puu Waeya Kecamatan Mata Oleo Kabupaten Bombana Abdul Jalil; Rahmat Sewa Suraya; Nurtikawati Nurtikawati
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 7 No 2 (2024): Volume 7 No 2, Desember 2024
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v7i2.2973

Abstract

Tradisi Were Baru adalah tradisi pascapanen padi yang dilaksanakan oleh Suku Bugis di Desa Puu Waeya, Kecamatan Mata Oleo, Kabupaten Bombana. Tradisi ini memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat, namun sebagian warga mulai meninggalkannya akibat kurangnya pemahaman terhadap maknanya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses pelaksanaan tradisi Were Baru serta menganalisis makna simbolik alat dan bahan yang digunakan. Penelitian ini menggunakan teori semiotika Charles Sanders Peirce dan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan tradisi Were Baru melibatkan tiga tahapan utama: persiapan, pelaksanaan, dan penutupan. Selain itu, setiap benda yang digunakan, seperti bangkung (parang), uring (periuk), penne (piring), dupa, beras, telur, kemenyan, bumbu dapur, dan lauk pauk, memiliki makna simbolik yang merefleksikan nilai-nilai budaya dan spiritual masyarakat Bugis. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pelestarian tradisi Were Baru sebagai bagian dari warisan budaya lokal.
Tradisi Mangaro Pada Etnik Muna di Desa Wale-Ale Kecamatan Tongkuno Selatan Kabupaten Muna Fitrah Ramadan Kahar; Nurtikawati Nurtikawati; Shinta Arjunita Saputri
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 1 (2025): Volume 8 No 1, Juni 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/ge4ew246

Abstract

Mangaro adalah seni ketangkasan yang dilakukan dengan kekuatan tenaga atau hal yang dikenal dengan ilmu kanuragan. Hal yang sangat menarik dalam pertunjukan kesenian ini bahwa atribut yang digunakan atau Keris yang digunakan bukan merupakan Keris tiruan tetapi merupakan Keris asli yang dimiliki oleh masing-masing pesilatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tahap dari tradisi Mangaro, untuk mengetahui fungsi dari tradisi Mangaro dan untuk mengetahui bagaimana Pola Pewarisan dalam tradisi Mangaro di Desa Wale-ale Kecamatan Tongkuno Selatan Kabupaten Muna. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah menunjukan bahwa proses tradisi Mangaro sendiri itu terdiri dari beberapa bagian diantaranya: Kamafaka atau musyawarah mufakat, Dehambi Ganda atau memukul gendang, Dehunsa Kampanaha atau meletakan siri, Defofinda Anahi Kahubu atau Menginjakan kaki Anak Kecil Ditanah, Doehe syaha moane bhe syaha hobinesyaha laki-laki dan syaha perempuan berdiri ,Do Mangaro Haeati atau Pelaksanaan Mangaro Untuk Masyarakat. Doeheheo Linda Pelaksanaan Tari Linda. Dalam fungsinya sendiri tradisi mangaro ini memiliki beberapa fungsi dintaranya adalah sebagai sarana pemersatu, sebagai sarana tolaka bala, sebagai ilmu bela diri, dan sebagaiidentitas. Sedangakan untuk pola pewarisanya sendiri yaitu tradisi Mangaro sendiri memiliki 2 jenis pola pewarisan yaitu enkulturasi dan sosialisasi, yang dimana tradisi mangaro sendiri diwariskan dari garis keturunan dan juga bukan garis keturunan
Pengetahuan Tradisional Suku Muna dalam Pengobatan Rempe di Desa Ondoke Kecamatan Sawerigadi Kabupaten Muna Barat Siti Nurhalisa; Rahmat Sewa Suraya; Nurtikawati Nurtikawati
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 1 (2025): Volume 8 No 1, Juni 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/c2jz1935

Abstract

Penyakit Rempe merupakan penyakit yang disebabkan oleh pergantian musim atau kondisi cuaca yang buruk, dengan gejala utama berupamunculnya ruam kemerahan pada seluruh bagian tubuh penderita. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengetahuan tradisional masyarakat mengenai pengobatan penyakit Rempe, serta menguraikan proses pelaksanaan pengobatan tersebut di Desa Ondoke, Kecamatan Sawerigadi, Kabupaten Muna Barat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan datamelalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengobatan tradisional penyakit Rempe terdiri atas tiga tahapan, yaitu tahap awal, tahap pelaksanaan, dan tahap akhir. Pada tahap awal, pihak keluarga pasien terlebih dahulu memberitahukan kepada dukun waktu yang dianggap baik untuk melakukan pengobatan. Selanjutnya, keluarga menyiapkan air mineral (air aqua) yang kemudian dibacakan mantra oleh dukun. Setelah itu, air tersebut langsung diberikan kepada penderita dengan tujuan untuk mengeluarkan penyakit dari dalam tubuh. Tahap pelaksanaan dilakukan dengan menggunakan ramuan tradisional yang berasal dari beberapa jenis tumbuhan, seperti daun tomat (roo ntamate), daun jawa (kambadhawa), dan biji labu kuning (ghonuno labu). Adapun padatahap akhir, pengobatan dilakukan dengan menggunakan santan kelapa yang digunakan untuk memandikan penderita. Tujuan dari tahapanini adalah untuk menghaluskan kulit dan membersihkan bekas bintik-bintik yang terdapat pada tubuh penderita.