Claim Missing Document
Check
Articles

Pembelajaran Berkarakteristik Inovatif Abad 21 Pada Materi Bumi Dan Antariksa Dengan Model Pembelajaran Project Based Learning Di Smk Negeri 1 Adiwerna Tanti Tanti; Sutji Muljani
Cakrawala: Jurnal Pendidikan Special Issue: Pedagogy in Indonesia
Publisher : Universitas Pancasakti Tegal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24905/cakrawala.vi0.225

Abstract

Students are already active in learning, but many forget the material that has been given. When giving opinions, they are less motivated to learn. 21st century skills are still very low, this can be seen when face-to-face learning is limited. The reason is that many students cannot absorb subjects well, the limitations of learning are carried out remotely. This article aims to describe the improvement of 21st century skills due to the implementation of project-based learning. This article is an explanation based on real events in learning. The research subjects were all students of class X SMK Negeri 1 Adiwerna, totaling 36 people. Student learning outcomes on average 82% where this value already meets the criteria of classical completeness, motivation increases from every face-to-face meeting. Students are able to express opinions, collaborate in concluding the results of discussions, increase critical thinking power as evidenced by the HOTS questions given by the teacher that can be answered properly.
Kurikulum Sekolah Vokasi di Indonesia dan Malaysia dalam Menghadapi Tantangan Revolusi Industri 4.0 Alisa Rizca Puspita; Sutji Muljani
JAMP : Jurnal Administrasi dan Manajemen Pendidikan Vol 8, No 2 (2025): Volume 8 No 2 Juni 2025
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This study aims to analyze the development and implementation of vocational education curricula in Indonesia and Malaysia in response to the challenges of the Industrial Revolution 4.0. A Systematic Literature Review (SLR) was conducted following the PRISMA protocol. Ten articles published between 2020 and 2024 were selected and analyzed using thematic analysis to identify key patterns, strategies, and challenges in vocational curriculum reform in both countries. The findings reveal that Indonesia and Malaysia emphasize competency- and outcome-based approaches to prepare graduates with job-relevant skills, adaptability, and technological literacy aligned with industry demands. Indonesia implements the Merdeka Curriculum and Competency-Based Education (CBE), focusing on learning flexibility, school autonomy, and teacher innovation. However, its implementation is constrained by teachers’ readiness and limited collaboration with industry. In contrast, Malaysia adopts Outcome-Based Education (OBE) and the National Dual Training System (NDTS), which stress systemic consistency, standardized learning outcomes, and institutionalized industry partnerships, although challenges remain in enhancing digital readiness and strengthening students’ soft skills. The findings suggest that an ideal vocational curriculum model could be developed by integrating Indonesia’s innovative flexibility with Malaysia’s systemic consistency. Therefore, further research is recommended to conduct comparative field studies involving teachers, students, and industry partners, as well as to examine the effectiveness of digital collaboration and the integration of lifelong learning alignment in supporting vocational education reform. Keywords: vocational education, curriculum development, Indonesia, Malaysia, Industrial Revolution 4.0 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengembangan dan implementasi kurikulum pendidikan vokasi di Indonesia dan Malaysia dalam menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0. Studi ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan mengacu pada protokol PRISMA. Sepuluh artikel yang diterbitkan dalam rentang tahun 2020–2024 diseleksi dan dianalisis menggunakan teknik analisis tematik untuk mengidentifikasi pola, strategi, dan tantangan utama dalam reformasi kurikulum vokasi di kedua negara. Hasil kajian menunjukkan bahwa baik Indonesia maupun Malaysia menekankan pendekatan berbasis kompetensi dan hasil belajar guna menyiapkan lulusan yang memiliki keterampilan kerja, kemampuan adaptasi, serta literasi teknologi yang selaras dengan kebutuhan industri. Indonesia mengimplementasikan Kurikulum Merdeka dan Competency-Based Education (CBE) yang berorientasi pada fleksibilitas pembelajaran, otonomi sekolah, dan inovasi guru. Namun, implementasinya masih menghadapi kendala pada kesiapan guru dan terbatasnya kolaborasi dengan dunia industri. Sementara itu, Malaysia menerapkan Outcome-Based Education (OBE) dan National Dual Training System (NDTS) yang menekankan konsistensi sistem, standarisasi capaian pembelajaran, serta kemitraan industri yang terinstitusionalisasi, meskipun masih menghadapi tantangan dalam kesiapan digital dan penguatan keterampilan lunak peserta didik. Temuan ini menunjukkan bahwa model kurikulum vokasi yang ideal dapat dikembangkan dengan mengintegrasikan fleksibilitas dan inovasi dari Indonesia serta konsistensi sistemik dari Malaysia. Oleh karena itu, penelitian lanjutan direkomendasikan untuk melakukan studi lapangan komparatif yang melibatkan guru, siswa, dan mitra industri, serta mengkaji efektivitas kolaborasi digital dan konsep pembelajaran sepanjang hayat dalam mendukung reformasi pendidikan vokasi. Kata kunci: pendidikan vokasi, pengembangan kurikulum, Indonesia, Malaysia, Revolusi Industri 4.0
Kurikulum Sekolah Vokasi di Indonesia dan Malaysia dalam Menghadapi Tantangan Revolusi Industri 4.0 Alisa Rizca Puspita; Sutji Muljani
JAMP : Jurnal Administrasi dan Manajemen Pendidikan Vol 8, No 2 (2025): Volume 8 No 2 Juni 2025
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This study aims to analyze the development and implementation of vocational education curricula in Indonesia and Malaysia in response to the challenges of the Industrial Revolution 4.0. A Systematic Literature Review (SLR) was conducted following the PRISMA protocol. Ten articles published between 2020 and 2024 were selected and analyzed using thematic analysis to identify key patterns, strategies, and challenges in vocational curriculum reform in both countries. The findings reveal that Indonesia and Malaysia emphasize competency- and outcome-based approaches to prepare graduates with job-relevant skills, adaptability, and technological literacy aligned with industry demands. Indonesia implements the Merdeka Curriculum and Competency-Based Education (CBE), focusing on learning flexibility, school autonomy, and teacher innovation. However, its implementation is constrained by teachers’ readiness and limited collaboration with industry. In contrast, Malaysia adopts Outcome-Based Education (OBE) and the National Dual Training System (NDTS), which stress systemic consistency, standardized learning outcomes, and institutionalized industry partnerships, although challenges remain in enhancing digital readiness and strengthening students’ soft skills. The findings suggest that an ideal vocational curriculum model could be developed by integrating Indonesia’s innovative flexibility with Malaysia’s systemic consistency. Therefore, further research is recommended to conduct comparative field studies involving teachers, students, and industry partners, as well as to examine the effectiveness of digital collaboration and the integration of lifelong learning alignment in supporting vocational education reform. Keywords: vocational education, curriculum development, Indonesia, Malaysia, Industrial Revolution 4.0 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengembangan dan implementasi kurikulum pendidikan vokasi di Indonesia dan Malaysia dalam menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0. Studi ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan mengacu pada protokol PRISMA. Sepuluh artikel yang diterbitkan dalam rentang tahun 2020–2024 diseleksi dan dianalisis menggunakan teknik analisis tematik untuk mengidentifikasi pola, strategi, dan tantangan utama dalam reformasi kurikulum vokasi di kedua negara. Hasil kajian menunjukkan bahwa baik Indonesia maupun Malaysia menekankan pendekatan berbasis kompetensi dan hasil belajar guna menyiapkan lulusan yang memiliki keterampilan kerja, kemampuan adaptasi, serta literasi teknologi yang selaras dengan kebutuhan industri. Indonesia mengimplementasikan Kurikulum Merdeka dan Competency-Based Education (CBE) yang berorientasi pada fleksibilitas pembelajaran, otonomi sekolah, dan inovasi guru. Namun, implementasinya masih menghadapi kendala pada kesiapan guru dan terbatasnya kolaborasi dengan dunia industri. Sementara itu, Malaysia menerapkan Outcome-Based Education (OBE) dan National Dual Training System (NDTS) yang menekankan konsistensi sistem, standarisasi capaian pembelajaran, serta kemitraan industri yang terinstitusionalisasi, meskipun masih menghadapi tantangan dalam kesiapan digital dan penguatan keterampilan lunak peserta didik. Temuan ini menunjukkan bahwa model kurikulum vokasi yang ideal dapat dikembangkan dengan mengintegrasikan fleksibilitas dan inovasi dari Indonesia serta konsistensi sistemik dari Malaysia. Oleh karena itu, penelitian lanjutan direkomendasikan untuk melakukan studi lapangan komparatif yang melibatkan guru, siswa, dan mitra industri, serta mengkaji efektivitas kolaborasi digital dan konsep pembelajaran sepanjang hayat dalam mendukung reformasi pendidikan vokasi. Kata kunci: pendidikan vokasi, pengembangan kurikulum, Indonesia, Malaysia, Revolusi Industri 4.0
Analisis Wacana Kritis Model Fairclough Pada Berita Naturalisasi Sepak Bola Indonesia Sutji Muljani; Agus Riyanto
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 15, No 1 (2026): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v15i1.8505

Abstract

Critical discourse analysis is employed to reveal how language in the media represents ideology and power relations, including in the reporting of football player naturalization in Indonesia. This study aims to analyze the construction of discourse, ideology, and power practices in news coverage of football naturalization in Indonesia using Fairclough’s Critical Discourse Analysis model. This research adopts a qualitative descriptive method, with data sources consisting of five online news articles from detik.com and viva.co.id published between 2024 and 2026. Data were collected through observation and note-taking techniques on relevant text segments, and analyzed using Fairclough’s three-dimensional framework: textual analysis (micro), discursive practice, and sociocultural practice, supported by pragmatic analysis. The findings indicate that at the textual level, news discourse is characterized by the use of evaluative diction, as well as explanatory, descriptive, and speculative structures that construct diverse meanings regarding the issue of naturalization. At the level of discursive practice, the media produce discourse in the forms of criticism, normalization, and speculation, reflecting strategic framing of the issue for readers. Meanwhile, at the sociocultural level, the discourse reflects broader social dynamics related to nationalism, identity, and sports policy, particularly the tension between instant performance-oriented approaches and long-term grassroots development. Therefore, the reporting of football naturalization in Indonesia demonstrates that the media do not merely convey information, but actively construct meaning and shape public understanding of the policy. Abstrak Analisis wacana kritis digunakan untuk mengungkap bagaimana bahasa dalam media merepresentasikan ideologi dan relasi kekuasaan, termasuk dalam pemberitaan naturalisasi sepak bola di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi wacana, ideologi, dan praktik kekuasaan dalam pemberitaan naturalisasi sepak bola Indonesia melalui pendekatan Analisis Wacana Kritis model Fairclough. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan sumber data berupa lima teks berita daring dari detik.com dan viva.co.id yang terbit pada periode 2024–2026. Data dikumpulkan melalui teknik simak dan catat terhadap bagian teks yang relevan, kemudian dianalisis menggunakan tiga dimensi Fairclough, yaitu analisis teks (mikro), praktik wacana, dan praktik sosiokultural, serta didukung dengan analisis pragmatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dimensi teks, pemberitaan ditandai oleh penggunaan diksi evaluatif, struktur eksplanatif, deskriptif, dan spekulatif yang membangun makna beragam terhadap isu naturalisasi. Pada dimensi praktik wacana, media memproduksi wacana dalam bentuk kritik, normalisasi, dan spekulasi yang mencerminkan strategi dalam membingkai isu bagi pembaca. Sementara itu, pada dimensi sosiokultural, wacana naturalisasi merefleksikan dinamika sosial yang berkaitan dengan nasionalisme, identitas, dan kebijakan olahraga, khususnya antara orientasi peningkatan prestasi instan dan pembinaan jangka panjang. Dengan demikian, pemberitaan naturalisasi sepak bola Indonesia menunjukkan bahwa media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga berperan dalam mengonstruksi makna dan arah pemahaman publik terhadap kebijakan tersebut.