Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Bimbingan Teknis Budidaya Lebah Madu Kelulut Di Desa Kiram Kabupaten Banjar Damaris Payung; Normela Rachmawati; Susilawati Susilawati; Yazid Busthami; Mufidah Asyari; Eny Dwi Pujawati; Hafizianor Hafizianor; Arfa Agustina Rezekiah; Abdi Fithria; Trisnu Satriadi; Muhammad Hasbi
Repong Damar: Jurnal Pengabdian Kehutanan dan Lingkungan Vol 3, No 1 (2024): June
Publisher : Magister of Forestry,Department of Forestry, Faculty of Agriculture, University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/rdj.v3i1.7936

Abstract

Kelompok Tani Harapan Maju Desa Kiram membudidayakan lebah madu kelulut sejak tahun 2020, namun dalam perjalanannya banyak menemui kendala antara lain (1) Toping banyak berjamur, kurang terjaga kebersihannya,sehingga lebah madu kelulut kurang produktif, lebah enggan membuat bejana atau kantong madu dalam toping (2) koloni lebah melarikan diri dari stup.  Terkait hal tersebut maka tim pengabdi ULM melaksanakan kegiatan pengabdian berupa (1) bimbingan teknis budidaya lebah madu kelulut terutama tentang pemeliharaan stup lebah madu kelulut, hama penyakit yang menyerang sarang lebah madu kelulut (2) bimbingan teknis pembuatan demplot tanaman pakan lebah madu kelulut. Kegiatan pengabdian yang dilakukan meliputi kegiatan sosialisasi atau penyuluhan, pelatihan dan pendampingan. Selama pelatihan, tim pengabdi diterima dengan baik oleh aparat desa dan mitra serta mereka sangat antusias untuk mengikuti kegiatan pengabdian ini. Kegiatan sosialisasi dilakukan tim pengabdi bersama mahasiswa fakultas Kehutanan ULM dan berjalan dengan baik. Pelatihan yang diberikan kepada mitra meliputi budidaya lebah madu kelulut yaitu manajemen budidaya lebah madu kelulut. Dari hasil kegiatan pengabdian terdapat masalah yaitu koloni lebah, lebah yang tidak berkembang karena terserang jamur, jarak stup kelulut yang terlalu rapat sehingga antar koloni terjadi persaingan, jarak stup dari tanah yang terlalu tinggi sehingga menyulitkan pemanenen madu. Untuk mengatasi masalah ini, tim pengabdi melakukan sosialisasi dan pelatihan mengenai pemecahan koloni lebah kelulut serta perawatan agar koloni berkembang dengan baik dan cara penanaman tanaman pakan. Selain itu, tim juga memberikan motivasi agar semangat dalam membudidayakan lebah madu kelulut.
EDUKASI CERDAS GO GREEN CONCEPT UNTUK GENERASI YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN DI SMPN 2 BATI BATI Susilawati Susilawati; Eny Dwi Pujawati; Hafizianor Hafizianor; Nova Purwanti; Muhammad Rizky Arisandi
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jb.v4i4.6503

Abstract

Pada hakikatnya sumberdaya alam diamanatkan pengelolaannya, pemanfatannya dan pelestariannya kepada manusia.  Pemanfaatan sampah organik dan demplot TOGA untuk mewujudkan Go Green Concept di sekolah diharapkan dapat melestarian lingkungan, menumbuhkan partisipasi dan peran serta masyarakat khususnya siswa generasi muda untuk menjaga lingkungan. Kecamatan Bati-Bati memiliki jumlah penduduk cukup banyak. Pesatnya pertumbuhan permukiman dan penduduk di Bati-Bati berdampak terhadap tingginya produksi sampah rumah tangga, namun tidak didukung oleh ketersediaan armada pengangkut sampah. SMPN 2 Bati-Bati merupakan salah satu sekolah yang berkeinginan mendukung lingkungan hijau dan sehat, namun belum memiliki pengetahuan dan keterampilan mengolah dan memanfaatkan sampah organik. Solusi yang ditawarkan yaitu melalui pelatihan pengolahan sampah organik menjadi kompos dan pemanfaatan sudut halaman sekolah dengan demplot TOGA sehingga dapat mengurangi volume sampah, meningkatkan nilai ekonomi dari sampah, dan mewujudnya go green concept di sekolah. Diharapkan dari pengabdian ini dapat memberikan edukasi tentang lingkungan hidup kepada peserta didik seperti edukasi tentang solusi menjaga kestabilan alam. Kegiatan berwawasan lingkungan pada program pengabdian ini dikemas dalam suatu metode pembelajaran dengan Go Green Concept yang mengajak peserta didik untuk memahami lingkungan dan menjaga kelestariannya dengan beberapa cara seperti pengenalan jenis sampah, pembuatan kompos serta demplot TOGA
Vegetation Health of Pioneer Species in the Natural Succession of a Burned Peatland Ecosystem in Liang Anggang SUSILAWATI SUSILAWATI; Yasinta Nur Shiba; Normela Rachmawati; Mufidah Mufidah; Eny Dwi Pujawati; Eva Prihatiningtyas; Hadi Rosadi
Jurnal Hutan Tropis Vol 14, No 2 (2026): Jurnal Hutan Tropis Volume 14 Nomer 2 Edisi Juni 2026
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v14i2.26156

Abstract

Peatland forests in Liang Anggang, Banjarbaru City, play a vital ecological role as carbon sinks, hydrological regulators, and biodiversity buffers. However, these ecosystems are highly vulnerable to recurrent fires, which occur almost annually. Repeated fire events have led to vegetation degradation, declining ecosystem health, and reduced peat capacity to retain water, maintain soil moisture, and support the regeneration of native vegetation. These conditions elevate the risk of ecological disasters and carbon emissions, highlighting the need for vegetation health assessments as a foundation for sustainable restoration strategies.This study evaluated post-fire vegetation health using the Forest Health Monitoring (FHM) approach. The results indicate that the most severe damage occurred in leaves (72%), followed by damage to shoots and buds (11%), and to both upper and lower stems (4–5%). The most common types of damage were leaf and shoot damage (34%) and leaf discoloration (26%), reflecting physiological stress due to increased temperatures and reduced soil moisture after fire events. Damage severity was predominantly classified as light to moderate (10–29%), accounting for 81% of all observed cases.The pioneer vegetation identified includes galam (Melaleuca cajuputi) and acacia (Acacia sp.), which play a significant role in the early stages of ecological succession, although the regeneration of native peatland species remains limited. Overall, vegetation health was categorized as healthy (94%), indicating a strong potential for ecosystem recovery, particularly if hydrological conditions can be effectively maintained. These findings provide a scientific basis for developing sustainable conservation and restoration strategies for the Liang Anggang peatland forest.
STUDI PERTUMBUHAN TANAMAN SUNGKAI (Peronema Canescens Jack) DI DESA HINAS KIRI KECAMATAN BATANG ALAI TIMUR KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH Eko Budi Setiawan; Eny Dwi Pujawati; Damaris Payung
Jurnal Sylva Scienteae Vol 8, No 3 (2025): Jurnal Sylva Scienteae Vol 8 No 3 Edisi Juni 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v8i3.9569

Abstract

adanya usaha pembudidayaan. Selama ini belum ada usaha-usaha untuk mengembangkan jenis sungkai agar diperoleh bibit yang berkualitas tinggi. Tujuan dari penelitian ini yaitu: (1) Menganalisis pertumbuhan jenis Sungkai yang ditanam pada tahun 2004 (18 tahun) di Desa Hinas Kiri; (2) Menghitung persentase hidup jenis sungkai pada umur 18 tahun di Desa Hinas Kiri. Metode yang digunakan yaitu metode sensus terhadap pohon Sungkai umur 18 tahun yang akan dianalisa diameter, tinggi, dan kondisi tajuknya. Hasil yang didapat yaitu pertumbuhan jenis Sungkai pada 20 tanaman terbaik yang ada di CV. Sejahtera Meratus memiliki kriteria pertumbuhan yang bagus Ketinggian tanaman Sungkai terbaik berkisar antara 17,3 – 26,9 m dengan diameter 20,4 – 27,1 cm dimana kelurusan batang banyak yang lurus. Kondisi tajuk tanaman Sungkai dimana rasio tajuk hidup, kerapata tajuk, dan transparansi tajuk termasuk dalam kriteria bagus dimana diameter tajuk berkriteria sedang dan tajuk mati berkategori bagus dan tanaman Sungkai secara keseluruhan berjumlah 86 tanaman, pada kondisi lurus terdapat 12 tanaman dengan persentase 14% dan merupakan persentase terkecil, pada kondisi agak lurus terdapat 60 tanaman dengan persentase kondisi hidup sebesar 70% merupakan yang paling banyak, pada kondisi bengkok terdapat 14 tanaman dengan persentase 16%.