Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Haji dan Status Sosial: Studi tentang Simbol Agama di Kalangan Masyarakat Muslim Zainuddin, M.
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v15i2.2764

Abstract

Religion as a fact and history has symbolic and sociological dimensions as a structure of abstract realm regardless of space and time. Pilgrimage substantially contains humanity values, such as the doctrines of equality, the necessity to preserve life, property, and honor of others, a ban of oppressing or exploiting the weak people, either economically or others. For example, releasing daily wear and changing it with ihram wear has meaning to erase the social gaps between the rich and the poor. That is the ideal teaching of pilgrimage making one aware that he is a social human. This paper is sociologically intended to see the phenomenon of pilgrimage in the Muslim society of Indonesia, especially in Java. The study showed that the pilgrimage of the majority of Indonesian Muslim is loaded with social attributes. Although the pilgrim is a part of the religion pillars, it has been utilized   by the local ruling elite as a political resource or a mean to establish power legitimacy. Agama sebagai fakta dan sejarah memiliki dimensi simbolis dan sosiologis sebagai struktur sebuah makna yang berada pada ranah abstrak, terlepas dari ruang dan waktu. Ibadah haji secara substansial mengandung nilai-nilai kemanusiaan, seperti ajaran tentang: persamaan, keharusan memelihara jiwa, harta, dan kehormatan orang lain, larangan melakukan penindasan atau pemerasan terhadap kaum lemah, baik di bidang ekonomi maupun bidang-bidang lain. Misalnya, menanggalkan pakaian yang dipakai sehari-hari dan menggantinya dengan baju ihram untuk menghapus kesenjangan sosial antara kaya dan miskin. Itulah harapan ideal ajaran haji untuk membuat pelakunya menyadari bahwa ia adalah makhluk sosial. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap fenomena haji dalam masyarakat Indonesia, terutama di Jawa, secara sosiologis. Studi ini menunjukkan bahwa ibadah haji yang dilakukan oleh mayoritas muslim Indonesia dipenuhi dengan atribut-atribut sosial. Meski merupakan salah satu pilar agama, ibadah haji telah digunakan elit penguasa lokal sebagai sumberdaya politik atau alat membangun legitimasi kekuasaan.
Kebebasan Beragama dan Demokratisasi di Indonesia Zainuddin, M.
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.431

Abstract

The objective of this research is to understand the religious freedom and the process of democratization in Indonesia. The result of this research shows that the religious freedom in Indonesia is regulated by the law. In this sense, religious freedom means freedom to choose and believe in certain religion, it does not mean that people have freedom to be atheism. In fact, the religious freedom in Indonesia has not run well since there is a religion banned by claiming it as a wrong and deviate religion. Furthermore, the violence by a religion to another religion is common in social life. Tujuan penelitian ini untuk memahami kebebasan beragama dan proses demokratisasi di Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebebasan beragama di Indonesia diatur oleh undang-undang. Dalam pengertian ini, kebebasan beragama berarti kebebasan memilih dan percaya pada agama tertentu, tidak berarti orang memiliki kebebasan untuk bersikap ateis. Sebenarnya, kebebasan beragama di Indonesia belum berjalan dengan baik karena ada agama yang dilarang dengan mengklaimnya sebagai agama yang salah dan menyimpang. Selanjutnya, kekerasan oleh agama ke agama lain biasa terjadi dalam kehidupan sosial.
Wanita Muslimah dalam Problema Kehidupan Modern Zainuddin, M.
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v3i1.4713

Abstract

This paper describes how Muslim women face problems in the modern era. Modern life is characterized by technological sophistication and industrial advancement as well as the diminishing of the agrarian sector. The strengthening of rationalism and the emergence of individualism that has implications for the alliance signifies that existence. The problem faced by Muslim women today is a matter of modernization that leads to the demands of emancipation. Emancipation is the result of the demands of western women who feel unaccounted for and eliminated from men. Male dominance and arbitrary acts implicate the emergence of the demands of women's freedom are also excessive. The idea of equality of rights itself also contains a contradiction that is quite confusing in terms of concepts and applications in social laws and policies. Tulisan ini memaparkan bagaimana muslimah menghadapi persoalan di era modern. Kehidupan modern dicirikan oleh sofistikasi teknologi dan kemajuan dibidang industri serta semakin berkurangnya sektor agraris. Menguatnya rasionalisme dan munculnya individualisme yang berimplikasi kepada alinasi menandai adanya itu. Problematika yang dihadapi wanita muslimah kini adalah masalah modemisasi yang mengarah pada tuntutan emansipasi. Emansipasi adalah akibat dari tuntutan kaum wanita barat yang merasa tidak mendapatkan tempat dan teralinasi dari kaum pria. Dominasi kaum pria dan pcrlakuan yang semena-mena berimplikasi munculnya tuntutan kebebasan kaum wanita yang juga berlebihan. Ide persamaan hak (equal rights) sendiri juga mengandung kontradiksi yang cukup membingungkan tern tarn a dalam hal konsep dan aplikasinya dalam undang-undang dan kebijakan sosial.  
EFEKTIVITAS BIMBINGAN KELOMPOK MENGGUNAKAN TEKNIK STORYTELLING UNTUK MENINGKATKAN EMPATI PADA  SISWA SD NEGERI 2 PRINGGAJURANG Zainuddin, M.; Endrasto, Dwi; Zulaifi, Reza; Iman, Nurul
INSIGHT: Jurnal Bimbingan Konseling Vol. 14 No. 2 (2025): INSIGHT: Jurnal Bimbingan Konseling
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009.142.02

Abstract

This study aims to examine the effectiveness of group guidance services using storytelling techniques in enhancing the empathy of sixth grade elementary school students in East Lombok. The research employed a quantitative approach with a quasi-experimental design using pre-test and post-test measurements on ten randomly selected participants. The instrument used was an empathy scale covering four dimensions, while the intervention was carried out through story reading and paired retelling activities. Data were analyzed using comparative tests to determine changes in empathy levels after the intervention. The results indicate a significant increase in empathy with an average score improvement of twelve point three. The greatest increase occurred in the perspective taking dimension, followed by empathic concern, imagination, and personal distress. These findings demonstrate that storytelling is an effective guidance strategy for developing students’ ability to understand the feelings of others.